Sembari menjalani keseharian bekerja di salah satu perusahaan e-commerce pertama Indonesia, mantan redaktur pelaksana koran terbesar di Kalimantan Timur ini tengah belajar mengalami dan mengamati setiap momen kehidupannya dengan lebih cermat. Sebab, menurutnya, hidup ini terlampau singkat untuk digulirkan begitu saja dalam ketidaksadaran.
Dragono Halim
@dragonohalimArticles By This Author
Secawan Teh: Siap Menerima vs Pasrah
Amatlah manusiawi, ketika kita hanya mengharapkan hal-hal baik terjadi dalam hidup kita, karena memberikan perasaan menyenangkan), serta dijauhkan dari segala keburukan dan kesulitan yang tentu saja memberikan perasaan tidak menyenangkan.
Secawan Teh: Avatar
Agak berbeda dari topik bahasan Secawan Teh biasanya, kali ini kita akan berbincang tentang “avatar”, bahasan yang makin sering muncul dalam beberapa tahun terakhir, khususnya terkait digital lifestyle, atau interaksi virtual melalui jagad digital.
Secawan Teh: Mencintai dengan Sadar
Dalam kebahagiaan ketika kita mencintai seseorang, sekelompok orang, atau sesuatu, kita menginginkan situasi tersebut dapat berlangsung langgeng dan berkepanjangan, atau malah selamanya. Padahal, perubahan secara fisik dan mental pasti selalu terjadi, dan bisa merenggut mereka yang kita kasihi.
Secawan Teh: Mempertanyakan Diri Sendiri
Karena segala sesuatunya, apa pun itu, pasti tidak akan luput dari perubahan. Ada yang baik pada awalnya, lalu berubah menjadi kurang baik. Sebaliknya, ada pula yang buruk di awal, kemudian malah menjadi lebih baik.
Secawan Teh: Kematian
Manakala menghadapi kematian orang lain, melalui perenungan ini, para pembelajar Buddhisme diharapkan bisa melihat dan menyikapi kematian sebagaimana adanya. Paling tidak, membuat kita memiliki kekuatan mental untuk mampu bersedih secukupnya, lalu kembali berpikiran jernih dalam bertindak, terus menjalani hidup dengan belajar dari pengalaman, dan berhati-hati.
Secawan Teh: Komparasi Diri
Perspektif Buddhisme memandang kesombongan dihasilkan dari kecenderungan kita (ego) membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Dalam proses membanding-bandingkan diri tersebut, secara alamiah kita akan menemukan orang-orang yang kondisinya di atas kita, maupun yang di bawah.
Secawan Teh: Kesombongan
Kita tentu sudah tahu, bahkan sangat paham tentang salah satu sikap mental ini. Sejak kecil, kita telah diperkenalkan dan diajarkan tentang kesombongan sebagai sesuatu yang buruk. Meski demikian, kita seringkali tidak sadar ketika sebenarnya sedang tinggi hati, ketika kita sedang menunjukkan keangkuhan–ketika kita sedang bertindak sombong dalam bentuknya yang paling halus.
Secawan Teh: Kemarahan
Kemarahan terjadi ketika kita merasa tidak nyaman, terusik, tidak terima, maupun terganggu. Yang pasti, munculnya kemarahan berasal dari dalam diri sendiri, sebagai reaksi atas sesuatu.
Secawan Teh: Keinginan
Dalam banyak referensi, baik spiritual maupun populer, keinginan kerap disebut sebagai biang kerok penderitaan. Ada yang menerimanya mentah-mentah, sehingga akhirnya menjadi sangat benci pada kehidupan karena mustahil menjalani hidup tanpa keinginan sedikit pun. Selebihnya, banyak pula yang langsung menolak pandangan tersebut, menganggapnya merupakan pemikiran orang-orang pesimistis yang malas berusaha.
Secawan Teh: Bahagia & Derita
Selama ini, kita terbiasa beranggapan bahwa kebahagiaan dan penderitaan berada di dua kutub yang saling berseberangan; keberadaan yang satu akan menghilangkan yang lain, saling menegasikan, saling menghancurkan. Padahal, tanpa kita sadari, kebahagiaan dan penderitaan muncul silih berganti; keduanya saling menggantikan dalam proses yang teramat cepat.
Sadar Untuk Bersiap
Pada akhirnya, kemungkinannya hanya dua; sembuh, dan tidak sembuh. Saat perawatan tengah berlangsung, bagaimana sikap mental Anda ketika menjalaninya? Apabila itu berujung pada kematian, bagaimana cara Anda “menyambutnya”? Tak hanya terkait Covid-19, seperti inilah yang juga terjadi dalam kehidupan kita, apa pun faktor penyebabnya.
Sains Semu Yang Menyamankan
Melekat dengan yang terjadi di masa lalu; menduga-duga apa yang akan terjadi di masa depan. Demikianlah cara kita, para manusia, melihat hampir segala hal dalam kehidupan yang dijalani. Disadari atau tidak, keduanya berpengaruh besar dalam pertimbangan dan pengambilan tindakan.
Kesadaran Yang Membebaskan
Menjadi sadar – being mindful, ialah batin yang siuman, batin yang awas terhadap segala stimulus dan sensasi yang muncul baik dari luar maupun dalam tubuh kita sendiri, batin yang terjaga dalam setiap sekon keberadaannya. Karena itu, kesadaran batin selalu berorientasi pada saat ini, pada detik ini. Sebab ibarat benda yang terlampau cair, batin terus berubah. Keadaan batin kita saat ini sudah jauh berbeda dibanding sedetik yang lalu, begitu pula kondisinya sedetik mendatang.