Self Lifehacks

Secawan Teh: Mempertanyakan Diri Sendiri

Saya ingin mengawali Secawan Teh kali ini dengan berterima kasih, terutama bagi yang sudah memberikan perhatian lebih terhadap konten atau penyampaian episode sebelumnya di YouTube, melalui komentar berikut. Interaksi ini menjadi bahan koreksi, sekaligus refleksi untuk penyajian Secawan Teh di masa mendatang. Untuk berubah menjadi lebih baik.

Karena segala sesuatunya, apa pun itu, pasti tidak akan luput dari perubahan.

Ada yang baik pada awalnya, lalu berubah menjadi kurang baik. Sebaliknya, ada pula yang buruk di awal, kemudian malah menjadi lebih baik.

Ada yang baik pada awalnya, lalu berubah menjadi kurang baik. Sebaliknya, ada pula yang buruk di awal, kemudian malah menjadi lebih baik.

Seperti yang telah disampaikan dalam episode sebelumnya, perspektif Buddhisme melihat ketidakkekalan dan perubahan sebagai fenomena yang alamiah, pasti akan terjadi, serta tidak dapat kita hindari. Apa pun perubahan yang terjadi pada diri kita, maupun pada hal-hal di sekeliling kita, bisa menimbulkan kesan emosi yang kemunculannya kerap tak kita sadari. Tanpa mencermati apa penyebabnya, tahu-tahu kita terserap dalam perasaan gembira, atau pun menderita. Padahal semuanya terjadi dalam pergantian momen.

Manakala tengah diterpa perubahan, baik atau pun buruk, kita juga seringkali tidak menyadari respons yang kita lakukan dalam menyikapi perubahan tersebut. Salah satunya berupa keraguan; yakni meragukan dan mempertanyakan diri sendiri.

Saat perubahan baik yang terjadi, kita yang meragu bisa mengalami Impostor Syndrome atau Sindrom Penipu. Bertanya: “Apa aku benar-benar pantas mendapatkan ini?” Yang telah dibahas terpisah dengan sangat menarik dalam On Marissa’s Mind: Sindrom Penipu. Momen yang semestinya memberikan kegembiraan dan kesenangan, malah tergantikan dengan keragu-raguan yang tidak nyaman.

Tatkala perubahan buruk yang terjadi, kita pun mempertanyakan diri sendiri justru dengan tujuan untuk menghakimi. Memberikan penekanan yang berulang-ulang atas kesalahan, kekurangan, ketidakmampuan, dan kelalaian yang telah kita lakukan. Pada akhirnya, kita seperti menjegal atau menyabotase diri sendiri.

Inilah mengapa penting bagi kita untuk dapat melihat semua sebagaimana adanya; perubahan, dan perubahan. Apabila kita meresponsnya dengan meragukan diri sendiri, pilihan itu pun tidak akan mencegah terjadinya perubahan-perubahan baru di kemudian hari. Kita pun hanya mandek, larut dalam overthinking, memikirkan hal yang telah berlalu terlampau dalam dan terlampau lama.

Sabbe sańkhārā aniccā.” – Segalanya tidak ada yang kekal, selalu mengalami perubahan.

Mengusahakan yang terbaik, semampunya.

Kita tidak akan tahu apa perubahan yang bisa terjadi, dan bagaimana perubahan itu terjadi. Namun, kita tetap bisa terus berusaha melakukan yang terbaik dalam hidup ini. Kendati demikian, kita harus tetap sadar dengan keterbatasan yang dimiliki. Sehingga dalam mengusahakan yang terbaik, kita tetap melakukannya sesuai kemampuan kita.

Kita tidak akan tahu apa perubahan yang bisa terjadi, dan bagaimana perubahan itu terjadi. Namun, kita tetap bisa terus berusaha melakukan yang terbaik dalam hidup ini.

Jika yang kita lakukan ternyata juga bermanfaat bagi orang lain, itu adalah bonus.

Melihat keraguan diri secara apa adanya.

Setelah mengupayakan yang terbaik, dari titik ini kita belajar menyadari semua yang terjadi dan tidak hanyut dalam gejolak batin yang mengiringi. Apabila kita berhasil, itu karena kita telah berusaha yang terbaik. Sebaliknya, apabila kita gagal, cobalah melihat keraguan terhadap diri sendiri sebagai bahan refleksi, pelajaran dan pengalaman.

Hati-hati dengan ekspektasi.

Memiliki harapan, target, tujuan minimal, atau apa pun namanya, memanglah wajar. Hanya saja, tetaplah berhati-hati dan lihat semua sebagaimana adanya. Perubahan akan terus terjadi. Bila kita berhasil mencapai yang diharapkan, itu akan berlalu dan tergantikan dengan momen-momen lainnya. Begitu juga bila kita gagal mencapai yang diinginkan, itu pun akan berlalu dan berganti.

Janganlah melekat.

Hati-hati dengan ekspektasi. Memiliki harapan, target, tujuan minimal, atau apa pun namanya, memanglah wajar. Hanya saja, tetaplah berhati-hati dan lihat semua sebagaimana adanya.

Related Articles

Card image
Self
Membentuk Rutinitas Dengan Journaling

Kita semakin terbiasa mencatat apa pun di handphone. Namun masih banyak individu yang merasa lebih nyaman untuk mencatat atau menulis di buku menggunakan pulpen. Kegiatan ini, termasuk journaling sebenarnya dapat melatih ingatan kita. Dengan menulis menggunakan tangan, otak kita dapat dengan lebih mudah mengingat apa yang dicatat.

By Greatmind X The Self Hug
15 January 2022
Card image
Self
Live Optimally: 25 Jam dalam Sehari

Sering kali 24 jam dalam sehari rasanya tidak cukup. Bisa jadi karena pekerjaan kita yang terlalu banyak, kemampuan kita yang kurang efisien untuk menggunakan waktu, atau karena kita terkadang suka memprioritaskan hal yang salah. Apa pun alasannya, it seems so hard to make friends with time.

By Rama Satya
15 January 2022
Card image
Self
Menentukan Prioritas dalam Tujuan

Salah satu ajaran dari keluargaku adalah hidup harus jelas, kita harus punya tujuan apa yang ingin dilakukan di masa depan. Kemudian tujuan tersebut dibagi untuk jangka pendek dan jangka panjang. Secara umum, aku merasa mulai butuh menentukan tujuan mulai dari SMA. Saat SMA kita harus mulai menentukan jurusan kuliah yang kita suka karena akan berhubungan dengan karir kita dalam jangka panjang.

By Nadhira Afifa
15 January 2022