Self Lifehacks

On Marissa's Mind: Sindrom Penipu

Marissa Anita

Jurnalis & Aktris

Fotografi Oleh: Andrew Trigg

Saya punya cerita. Beberapa tahun lalu penulis Neil Gaiman diundang ke sebuah acara penuh dengan orang-orang hebat: seniman, ilmuwan, penulis, dan penemu. Melihat mereka semua, Gaiman merasa semua orang hebat ini tidak lama lagi pasti akan menyadari bahwa Gaiman tidak pantas berada di antara mereka.

Gaiman nyempil di aula sisi paling belakang ketika hiburan musik berlangsung. Di sampingnya berdiri seorang lelaki tua. Lelaki ini ramah dan sopan. Mereka bicara banyak hal termasuk fakta bahwa Gaiman dan lelaki tua ini punya nama depan yang sama – Neil. Lelaki tua ini menunjuk ke kerumunan orang orang hebat dan berkata, “Saya melihat sekumpulan orang ini, saya berpikir, sedang apa saya di sini? Semua orang orang itu sudah menorehkan prestasi luar biasa. Sementara saya bisa berada di luar angkasa hanya karena saya menjalankan tugas.” Mendengar ini Gaiman berkata pada si lelaki tua, “Ya. Tapi anda adalah manusia pertama di bulan. Saya rasa itu punya arti.”

Neil Armstrong dan Neil Gaiman adalah salah dua dari orang-orang yang mengalami imposter syndrome atau sindrom penipu.

Sindrom penipu adalah pola psikologis di mana seseorang meragukan prestasinya sendiri dan mengalami rasa takut terus menerus bahwa suatu hari dia akan terungkap sebagai penipu. Seseorang dengan sindrom penipu merasa ia mencapai sukses hanya karena kebetulan atau keberuntungan semata, bukan karena keterampilan dan pengalamannya (Wikipedia/Pauline Rose Clance & Joe Langford, 1993).

Seseorang dengan sindrom penipu merasa ia mencapai sukses hanya karena kebetulan atau keberuntungan semata, bukan karena keterampilan dan pengalamannya.

Selain Gaiman dan Armstrong, mereka yang mengalami sindrom penipu di antaranya: Albert Einstein, Tom Hanks, Natalie Portman, Lady Gaga, Serena Williams, Maya Angelou, Michelle Obama, dan David Bowie. Semua orang pernah mengalami sindrom penipu setidaknya sekali dalam hidup. Jika Anda pernah punya perasaan Anda tidak pantas mendapatkan kesuksesan Anda dan khawatir suatu hari semua orang akan mengetahuinya, itu adalah sindrom penipu. Saya sendiri pun pernah mengalaminya beberapa kali.

Perasaan ini kerap muncul ketika kita meraih pencapaian yang menonjol, misal ketika masuk universitas bergengsi, mendapatkan promosi pekerjaan, memenangkan penghargaan, mendapat pujian, atau pengakuan publik. Hingga kini penelitian belum bisa membuktikan penyebab pasti sindrom ini. Sebagian ahli menyimpulkan ada kaitannya dengan sifat perfeksionis seseorang atau masa kecil di mana ia tumbuh besar dengan orang sekitar yang membuat ia merasa tidak pernah merasa cukup baik.

Media sosial juga bisa memicu sindrom penipu. Gambar di media sosial kebanyakan menunjukkan hidup yang “sempurna”; jalan-jalan ke pojok-pojok dunia nan eksotis, kulit mulus sempurna, pasangan romantis, atau keluarga harmonis dengan caption yang selalu manis. Tanpa kita sadari, kita mulai membandingkan laman media sosial orang sekitar yang kelihatannya tak bercela dengan hidup kita yang jauh dari sempurna.

Tanpa kita sadari, kita mulai membandingkan laman media sosial orang sekitar yang kelihatannya tak bercela dengan hidup kita yang jauh dari sempurna.

Sindrom penipu sebetulnya bisa menjaga kita untuk tidak congkak, terus berusaha, dan bekerja keras demi memberikan yang terbaik. Namun jika kadarnya berlebih kita jadi meragukan diri dan takut gagal sehingga akhirnya menunda-nunda menyelesaikan tugas, menumpulkan keberanian kita untuk mengambil kesempatan baru atau mengeksplor hal baru yang sebenarnya bisa meningkatkan keterampilan kita, dan membawa kepuasan dalam hidup.

Bagaimana mengatasi ketika sindrom penipu melanda?

Satu, ubah bingkai pikiran kita. Tidak ada manusia satu pun di dunia ini yang hidupnya sempurna. Ketika kita sedih, cemas, ragu, atau merasa bodoh, ingat bahwa kita tidak sendirian. Hampir semua orang lain juga merasakan hal yang sama, hanya saja tidak selalu mereka perlihatkan.

Dua, ketika kita mulai mempertanyakan kemampuan kita secara berlebih, duduk dan tulis prestasi serta kemampuan apa saja yang kita telah raih dan miliki selama ini. Apakah pencapaian itu menerima sebuah penghargaan prestisius, atau berhasil membuat orang terkasih yang tadinya bersedih, menjadi kembali tenang dan tersenyum. Lihat kembali catatan ini tiap kali rasa ragu diri datang.

Tiga, simpan baik-baik pujian atas kerja keras yang pernah kita terima. Ingat-ingat kembali pujian itu ketika sindrom penipu bertandang.

Keempat, berhenti membanding-bandingkan diri dengan orang lain.

Kembali ke cerita Neil Gaiman, ketika ia tahu seorang astronot Neil Armstrong kadang merasa seperti penipu, Gaiman menyimpulkan, kemungkinan besar masih banyak orang di luar sana yang merasakan hal yang sama. Pada akhirnya mungkin kita semua hanyalah orang-orang yang bekerja keras dan kadang beruntung namun tidak selalu mahir setiap saat. Mungkin kita hanya orang-orang yang berusaha sebaik mungkin dan itu, sebetulnya, sudah cukup.

Mungkin kita semua hanyalah orang-orang yang bekerja keras dan kadang beruntung namun tidak selalu mahir setiap saat. Mungkin kita hanya orang-orang yang berusaha sebaik mungkin dan itu, sebetulnya, sudah cukup.

Related Articles

Card image
Self
Jangan Sampai Lupa Waktu

Dalam melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan manusia biasanya memiliki motivasi tertentu. Kita terkadang sangat menikmatinya sampai bisa-bisa lupa waktu. Akan tetapi yang luput dari perhatian kita saat sedang fokus pada satu hal dengan unsur kenikmatan itu adalah adanya sifat lain yang muncul: adiktif.

By Dr. Rostiana S.Psi., M.Si.
16 November 2019
Card image
Self
Kekuatan Tidur Sejenak

Tidur sebagai salah satu kebutuhan utama manusia belakangan seringkali diabaikan oleh masyarakat urban. Tidur seakan hanya menjadi kebiasaan saja bukan kebutuhan. Padahal hanya pada saat tidurlah semua jaringan dalam tubuh bisa beregenerasi dengan sangat baik. Dengan memprioritaskan kualitas tidur kita dapat meningkatkan performa dalam beraktivitas sehari-hari.

By dr. Andreas Prasadja
16 November 2019
Card image
Self
Bercakap Bersama: Muhammad Khan

Kita berubah dengan berjalannya waktu. Itu pasti. Perjalanan waktu bisa menjadi ruang belajar untuk menerima diri sendiri apa adanya. Itulah setidaknya yang dirasakan Muhammad Khan. Sebagai aktor di layar lebar maupun individu di kehidupan nyata, ia selalu berusaha jujur, keterusterangan yang bagi saya menyegarkan, namun mungkin tidak selalu mudah diterima semua orang.

By Marissa Anita
16 November 2019