Self Lifehacks

Ekspektasi Membunuhmu

Primo Rizky

@primorizky

Penulis & Penerbit

Ilustrasi Oleh: Mutualist Creative

Saat dihadapkan pada situasi yang tak jelas juntrungnya, kita cenderung mencoba menerka-nerka – akan seperti apa nanti hasil yang didapatkan. Tak jarang kita menggantungkan impian sangat tinggi untuk apa yang akan diraih. Saat kemudian hasilnya tidak sesuai bayangan, seringnya kita kemudian hancur karena ekspektasi tidak sama dengan realita.

Banyak yang menyalahartikan ekspektasi dan menyamakannya dengan harapan. Padahal ekspektasi dan harapan merupakan dua hal yang berbeda. Seorang psikiatris Amerika, Dr. Gerard May dalam bukunya The Awakened Heart menjelaskan perbedaan antara ekspektasi dan harapan. Jika harapan merupakan sebuah pandangan umum dalam memaknai suatu hasil yang dilihat dari berbagai sudut pandang – mulai dari kepentingan diri sendiri, kepentingan orang lain, hingga efeknya terhadap lingkungan sekitar, ekspektasi berfokus pada keinginan kita secara pribadi. Ekspektasi lebih bersifat egosentris. Saat kita berekspektasi, kita akan sulit untuk bisa mempertimbangkan kepentingan-kepentingan orang lain yang mungkin bisa menjadi faktor-faktor ‘penggagal’ untuk bisa mencapai hasil yang diinginkan. Maka dari itu, acapkali ekspektasi justru membawa kekecewaan karena kita seakan mengenakan kacamata kuda.

Ekspektasi lebih bersifat egosentris. Maka dari itu, acapkali ekspektasi justru membawa kekecewaan karena kita seakan mengenakan kacamata kuda.

Ekspektasi sesungguhnya adalah semacam tebak-tebakan hati dan perasaan yang dibungkus berbagai teori. Terkaan ini berupa opini kita terhadap suatu hal atau peristiwa yang dibubuhi harapan. Jadi, bukan berarti ekspektasi adalah hasil yang sudah pasti didapatkan. Ia tak lebih dari sekadar keinginan.

Manusia cenderung merasa opininya paling benar dan lebih suka memercayainya. Jadi sulit memang untuk tidak memasang ekspektasi pada berbagai hal. Ia kemudian menjadi belenggu yang seakan menggembok cara berpikir kita. Sehingga jika ekspektasi tidak sesuai realita, maka kita akan putus asa karena situasinya tidak sesuai standar yang mengungkung pikiran dan perasaan kita. Sebaliknya, harapan mampu mengubah keputusasaan kita menjadi sebuah tekad. Ia membuka kembali pikiran agar terus maju.

Agar hidup lebih tenang, bukannya kita harus benar-benar menghapus ekspektasi. Namun yang diperlukan hanyalah belajar untuk bisa mengatur dan menyeimbangkannya dengan harapan dan pemikiran logis. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatur ekspektasi agar setidaknya kita tetap utuh saat terjatuh ketika ekspektasi yang dimiliki digilas oleh realita.

Agar hidup lebih tenang, yang diperlukan hanyalah belajar untuk mengatur ekspektasi dan menyeimbangkannya dengan harapan dan pemikiran logis.

Yang harus dipahami secara fundamental adalah bahwasannya jangan pernah berasumsi dalam segala suasana. Saat ragu pada suatu hal atau sebuah situasi – bertanyalah. Minta opini pada orang-orang terdekat seperti sahabat, kolega, atau keluarga. Kita seringkali terjebak pada asumsi-asumsi yang sebenarnya hanya pendapat pribadi dan bukan fakta atas apa yang terjadi. Daripada salah sangka dan hasilnya malah tak karuan, lebih baik bertanya.

Paham seperti stoisisme atau filosofi teras, mengajarkan bahwa hal-hal selain pikiran, tindak-tanduk, dan ucapan kita adalah hal yang ada di luar kendali diri. Jadi apa pun hasilnya yang terjadi, kita harus memasrahkannya – karena semuanya terjadi bukan dalam kendali kita. Dengan begitu, kita tidak perlu memasang ekspektasi apa pun karena alam lah yang telah mengatur jalannya kehidupan.

Selain itu, seringnya ekspektasi muncul karena kita membandingkan diri dengan orang lain. Kemudian kita berkhayal dan bermimpi untuk bisa menyamai atau lebih baik dari itu. Lewat pendekatan mindfulness kita diajak untuk menikmati hidup apa adanya. Tidak perlu untuk membanding-bandingkan diri karena setiap orang punya jalannya masing-masing. Bersyukur atas apa yang dimiliki sehingga tak perlu lagi memasang banyak ekspektasi.

Tidak perlu untuk membanding-bandingkan diri karena setiap orang punya jalannya masing-masing. Bersyukur atas apa yang dimiliki sehingga tak perlu lagi memasang banyak ekspektasi.

Related Articles

Card image
Self
Tantangan Meregulasi Emosi

Pada dasarnya bukan emosi yang membuat kita melalui turbulensi perasaan melainkan cara kita menafsirkan emosi sehingga kita merasa tidak sanggup menoleransi emosi yang dirasakan. Intensitas emosi yang kita rasakan bisa dipengaruhi berbagai hal seperti trauma masa kecil atau kondisi fisik yang sedang memburuk. Kondisi-kondisi ini dapat memperparah situasi, ditambah dengan regulasi emosi yang belum optimal.

By David Irianto
11 September 2021
Card image
Self
Mengapresiasi Setiap Kehadiran

Memang lebih rumit rasanya untuk bisa menghabiskan waktu bersama orang terdekat terutama teman dan sahabat belakangan ini. Aku sendiri sebisa mungkin berusaha untuk tetap menjalin hubungan dengan menanyakan kabar teman-temanku melalui aplikasi chat ataupun video call. Tidak dapat dipungkiri bahwa rasa rindu berkumpul bersama teman-teman memang semakin terasa terutama saat masa PPKM mulai diberlakukan. 

By Amindana Chinika
11 September 2021
Card image
Self
Musik Sebagai Medium Bercerita

Apapun yang kita lalui dalam hidup entah itu sangat menyiksa atau sangat membahagiakan, melalui musik kita selalu dapat menyajikannya menjadi sesuatu yang indah. Musik mampu menghantarkan kejadian yang sangat buruk sekalipun menjadi sesuatu karya yang menawan. Sekelam apa pun pengalaman yang kita rasakan, aku percaya itu tetap bisa disampaikan dari perspektif yang artistik. 

By FLØRE
11 September 2021