Self Planet & People

Yang Muda, Yang Memulai

Bye Bye Plastic Bags

Jika ditanya, “Apa alasanmu menjadi seorang aktivis?”, mungkin saya tidak bisa langsung menjawab. Pertama kali saya dan adik, Isabel Wijsen, memulai Bye Bye Plastic Bags, saya tidak tahu apa arti menjadi seorang aktivis. Ketika itu saya hanya berpikir untuk berbuat sesuatu demi pulau Bali tercinta bebas kantong plastik. Seiring berjalannya waktu, saya mulai memahami tentang aktivisme dan berbagai pemahaman tentang menjadi aktivis. Menurut saya, label “aktivis” bukanlah yang utama dalam menciptakan perubahan. Yang lebih penting dari membuat perubahan adalah aksi yang dilakukan. Ia bukan sekadar orang yang berada di jalan-jalan, menyuarakan isu dengan pengeras suara. Tidak ada kriteria khusus yang mendeskripsikan seorang aktivis. Setiap orang bisa menjadi aktivis dengan caranya sendiri-sendiri selama ia mendorong terjadinya perubahan dan memimpin dengan memberikan contoh atau pengaruh pada orang lain untuk membuat perubahan yang lebih baik. 

Menurut saya, label “aktivis” bukanlah yang utama dalam menciptakan perubahan. Yang lebih penting dari membuat perubahan adalah aksi yang dilakukan.

Saya ingat dulu sering ada yang mengingatkan, “Jangan bilang kamu aktivis, ya. Bilang saja kamu young leader.” Ini seolah-olah memberikan gambaran bahwa seorang aktivis adalah seseorang yang agresif dalam menyuarakan isu-isu di masyarakat Padahal seseorang yang melakukan aktivisme tidaklah selalu begitu. Saya tahu, sebagian orang seringkali berpikir generasi Z dan milenial tampak seperti generasi yang pemarah, selalu protes, dan menyalahkan generasi sebelumnya. Tapi kalau kita mau menelaah lebih dalam, bukankah wajar jika kami yang berada di generasi ini melakukan hal tersebut? Kami memiliki banyak sekali pertanyaan tentang masa depan mengetahui bahwa kami ditinggalkan beragam permasalahan di masa sekarang. 

Ini adalah salah satu tantangan yang saya alami selama menjalankan Bye Bye Plastic Bags. Saya dan Isabel yang berharap menciptakan perubahan dengan membuat Bali bersih dari kantong plastik menemukan bahwa perubahan tidak bisa terjadi secara kilat. Kami harus melewati upaya yang sampai membuat burn out, frustasi, dan seolah melangkah sendiri. Seringkali kami mempertanyakan orang-orang yang tidak sepakat atau para pembuat kebijakan, “Mengapa kebijakan tidak bisa dibuat dan diterapkan dengan cepat? Apa masalah dari inisiatif kami?”. Tidak jarang kami tidak percaya diri pada pesan dan visi yang ingin disebarkan. Namun, kami yang lahir dan dibesarkan dekat dengan alam merasa bertanggung jawab untuk membuat perubahan tersebut. Apalagi setelah tahu bahwa sudah ada 40 negara di dunia yang bisa meniadakan penggunaan plastik sekali pakai, lalu mengapa kita tidak bisa?

Kami pun tidak berhenti belajar dari kesalahan dan terus berupaya untuk memahami bahwa perubahan hanya akan terjadi ketika kami bisa menyentuh pikiran mereka yang tidak sepakat. Ketika menemukan komentar negatif di media sosial, misalnya, kami menjadikannya pembelajaran untuk mengerti apa perspektifnya. Maka, kami bisa menyesuaikan narasi agar dapat terhubung dengan mereka, menyadari apa yang mereka butuhkan, inginkan, dan pikirkan. Saya percaya suara kita akan didengarkan saat kita juga mau berubah dan belajar memahami audiens sehingga mereka dapat merasa bahwa pesan yang disampaikan adalah solusi bersama. Kerap kali setiap kami menyampaikan pesan untuk melestarikan dunia, para pelaku bisnis dan pemerintahan berpikir bahwa ada yang harus dikorbankan atau dirugikan karena adanya perubahan. Saat itulah kami berproses dalam menyesuaikan narasi yang ingin disampaikan. Kita perlu memahami dan mau mendengarkan orang lain untuk didengar. 

Kita perlu memahami dan mau mendengarkan orang lain untuk didengar. 

Kita sebagai orang muda di generasi ini memiliki banyak sekali akses untuk melakukan perubahan. Bahkan perubahan secara global sekalipun. Tidak seperti generasi-generasi sebelumnya yang butuh proses panjang untuk melakukan perubahan. Di masa ini ada teknologi yang bisa jadi kendaraan kita untuk menggerakan aksi-aksi. Kita tidak punya privilese waktu untuk bilang, “Biar generasi selanjutnya yang melakukan perubahan”. Kita tidak bisa menunggu sampai dewasa baru melakukan sesuatu. Kita tidak punya pilihan lain dan ini menjadi keharusan untuk dilakukan demi masa depan kita semua. Memang, salah satu tantangan terbesar dalam langkah melakukan perubahan adalah mendapat investasi. Entah itu investasi tenaga, pengetahuan, atau pelatihan kemampuan. Maka sangatlah penting untuk kita para orang muda saling memotivasi dan terhubung demi menciptakan perubahan secara global. Kita harus bisa melakukan sebuah perubahan bukan karena ikut-ikutan atau sekadar untuk mempercantik profil CV. Kita harus bisa membuat perubahan sebagai gaya hidup, bukan sebuah tren.

Maka sangatlah penting untuk kita para orang muda saling memotivasi dan terhubung demi menciptakan perubahan secara global.

Menurut saya, orang muda yang ingin membuat perubahan nyata harus tetap otentik dalam menyampaikan pesan. Mulailah dengan pertanyaan: 

Apa yang benar-benar ingin kamu ubah? 

Isu apa yang benar-benar mengganggumu? 

Apakah topik tersebut membuatmu bersemangat untuk melakukan sesuatu?

Sebagai contoh, Bye Bye Plastic Bags memiliki visi untuk membuat Pulau Bali terbebas dari kantong plastik. Semakin spesifik isu yang ingin diangkat, semakin baik. Para orang muda harus memikirkan isu apa yang berkaitan erat dengan hidupnya dan memengaruhi kesehariannya. Perubahan baru akan terjadi ketika kita percaya permasalah tersebut harus diubah dan percaya bahwa perubahan dapat terjadi jika kita mau bergerak. Oleh sebab itu pula, lahirlah Youthopia, sebuah platform komunitas yang mewadahi para orang muda untuk membuat perubahan dengan caranya masing-masing. Di sana, mereka bisa mendapatkan saran, petunjuk dan informasi untuk memulai projek perubahan. Sebagai salah satu orang muda yang menginginkan perubahan sejak umur 12 tahun, saya ingin mendorong orang-orang muda lainnya untuk juga mulai melakukan perubahan. Karena kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Related Articles

Card image
Self
Terus Berkembang di Masa Menantang

Secara kasat mata, tahun 2020 rasanya seperti “rumah hantu” versi nyata. Hanya saja rumah hantu ini tidak ada jalan keluarnya. Segala hal-hal menakutkan yang tidak pernah kita pikirkan, atau kita hindari untuk pikirkan terjadi di tahun ini.  Tahun 2020 bagi saya seperti terjebak di situasi yang stagnan tanpa tahu kapan akan selesai tapi di satu sisi lain saya merasa inner self saya “bergerak” maju.

By Stephany Josephine
28 November 2020
Card image
Self
Seni Refleksi Diri

Masing-masing orang punya caranya sendiri-sendiri dalam mengatasi benang kusut yang ada di dalam benaknya. Ada orang-orang yang menenangkan pikirannya lewat meditasi atau bahkan lewat memasak. Sementara aku, aku adalah orang yang sulit untuk menumpahkan pikiran atau perasaan dengan kata-kata. Cara yang paling membuatku nyaman adalah melukis. Seperti ketika aku kehilangan Bapak, aku tidak bisa mengutarakan perasaan dengan kata-kata atau dengan cara lainnya.

By Salvita De Corte
28 November 2020
Card image
Self
Belajar Beradaptasi

Dengan banyaknya orang yang selama di rumah saja ikut sejumlah kelas virtual, mendalami hobi baru, hingga mungkin mulai membuat usaha rumahan sendiri, aku sempat merasa diriku rasanya ‘begini-begini saja’ karena tidak melakukan hal yang sama dengan yang lain. Akan tetapi, pelan-pelan aku pun menyadari pengalaman demi pengalaman mengajariku untuk mengenal diriku sendiri – lebih baik dari sebelumnya. Bukankah ini juga berarti aku telah belajar suatu hal baru?

By Diyah Deviyanti
21 November 2020