Self Planet & People

Yang Kita Percayai Belum Tentu Benar

Greatmind

@greatmind.id

Redaksi

Ilustrasi Oleh: Salv Studio

Dewasa ini, internet mengambil peranan penting dalam kehidupan sehari-hari kita. Selama berjam-jam kita bisa berada dalam dunia sendiri, menatapi layar ponsel untuk menikmati konten visual Instagram, Facebook atau celotehan di Twitter. Belum lagi dengan hiburan YouTube yang tak bisa dihapus dari jadwal. Jika kita mengembalikan ingatan pada masa lalu, merasa tidak kalau kita sebenarnya bisa baik-baik saja tanpa media sosial? Bisa bercengkrama dan bersosial secara dengan orang-orang di luar dunia maya. Ya, tetap di sana pasti ada juga bumbu-bumbu bergosip atau diskusi negatif, tapi paling tidak pembicaraan tersebut tidak memiliki potensi untuk dikonsumsi masyarakat satu kota besar, kan?

Merasa tidak bahwa selama ini saat kita mengunyah informasi yang didapat dari media sosial atau situs di internet, seringkali langsung kita telan bulat-bulat? Merasa tidak seringkali kita cepat sekali percaya pada satu sumber kemudian langsung mengubah perilaku hanya karena banyaknya orang yang percaya akan sumber tersebut? Merasa tidak kalau secara tidak sadar kita berada dalam echo chamber atau ruang gema? Mungkin terminologi ini belum benar-benar meluas dan membuat kita paham seperti apa konsep terminologi ini. Padahal, terminologi ini dapat membuat kita menjadi sadar dan berkata, “Oh iya, ya. Saya berarti harus lebih bijaksana dalam mengolah informasi yang ada di dunia maya mulai sekarang.”

Seringkali kita terlalu cepat percaya pada satu sumber kemudian langsung mengubah perilaku hanya karena banyaknya orang yang percaya akan sumber tersebut

Untuk memahami konsep echo chamber atau ruang gema, kita bisa membayangkan pengertian harafiahnya. Bayangkan kita berada dalam satu ruangan yang bergema, sendirian. Kemudian kita meneriakan kata-kata saat berada di dalam sana. Apa yang didengar? Suara kita sendiri, bukan? Suara kita bergaung dan memantul di sekitar ruangan. Sama saja dengan fenomena ruang gema di ilmu komunikasi yang saat ini diaplikasikan (secara sengaja atau tidak) di media sosial. Fenomena ruang gema sendiri sebenarnya sangat berkaitan dengan polarisasi masyarakat di mana jika terjadi penyebaran suatu informasi yang menciptakan ruang gema maka akan terbagi sejumlah kelompok yang berkubu. Nantinya, kemungkinan konfrontasi kubu-kubu tersebut adalah hasil dari “pembuatan” ruang gema di media sosial tersebut.

Seperti yang diungkapkan oleh beberapa pakar psikologi, Walter Quattrociocchi, Antonio Scala, dan Cass Sunstein, kelompok masyarakat yang berada dalam ruang gema dan mengalami kondisi polarisasi akan memiliki kecenderungan untuk menyebarkan informasi-informasi yang terkait dengan keyakinan mereka saja dan mengabaikan informasi lain yang tidak sesuai dengan kepercayaan mereka. Bukan justru bersikap obyektif dan mencoba untuk melakukan analisa lebih dalam pada sebuah isu yang sedang terjadi. Sehingga ruang gema dapat mengakibatkan provokasi dan perpecahan antar kelompok karena menguatnya satu golongan dengan informasi yang dikonsumsi secara berulang-ulang tersebut dalam satu ruang lingkup lingkungan yang sama. Pemikiran yang sempit itu pula yang dapat berdampak negatif pada harmonisasi masyarakat.

Lalu bagaimana ruang gema ini bisa terjadi? Utamanya karena adanya algoritma pada media sosial di mana menampilkan lebih banyak konten yang sering dilihat, akun-akun yang sering berinteraksi. Alhasil, kita akan lebih banyak mengkonsumsi konten yang sejenis dari kelompok atau individu tertentu yang memiliki ketertarikan yang sama. Sehingga terjadilah sebuah ruang lingkup yang disebut ruang gema tersebut. Informasi yang ada dipantulkan dalam satu ruang saja dan tidak berkembang. Kemudian karena sifatnya yang berulang, secara tidak sadar informasi atau data tersebut mencuci otak kita. Selanjutnya kita akan memperkuat apa yang diyakini karena terciptanya confirmation bias atau bias konfirmasi. Secara tidak sadar, kita akan berporos pada satu hal saja dan tidak membuka peluang untuk informasi lain masuk dalam pemikiran.

Algoritma pada media sosial menampilkan lebih banyak konten yang sering dilihat, akun-akun yang sering berinteraksi. Alhasil, kita akan lebih banyak mengkonsumsi konten yang sejenis dari kelompok atau individu tertentu yang memiliki ketertarikan yang sama.

Mendekati Pemilu 2019 ruang gema semakin banyak terjadi di dunia internet. Banyak sekali terjadi persempitan informasi dan kurangnya analisa yang lebih jauh akan informasi mengenai para calon presiden atau partai yang akan tercetak dalam kertas pemilih. Propaganda yang didistribusikan lewat media sosial terkesan amat bias — memiliki kecenderungan, sehingga memperkokoh perspektif pada pihak tertentu saja. Black campaign pun tak jarang berseliweran di akun-akun yang tiba-tiba eksis di Instagram. Lalu bermainlah sistem algoritma media sosial tersebut, sekali, dua kali kita berinteraksi akan semakin berjamur konten dan akun yang serupa. Perlahan menumpulkan pemikiran kritis kita.

Di sinilah seharusnya kita bisa mulai meningkatkan sifat dan sikap skeptisme yang positif terhadap informasi-informasi tersebut. Selalu tanyakan diri sendiri sebelum mempercayai sesuatu dengan pertanyaan: Dari mana data atau informasi ini berasal?”, “Apakah di dalamnya terdapat unsur politik yang dapat menguntungkan pihak tertentu?, “Apakah ada modus terselubung dalam penyampaiannya?”

Selalu tanya diri sendiri sebelum mempercayai sesuatu

Setelah itu dilanjutkan dengan membuka ruang dialog seluas-luasnya dengan berbagai pihak yang mungkin saja justru berlawanan dengan opini sesaat kita di awal. Jangan biarkan terjadinya narasi tunggal mengarahkan kita pada pemikiran yang sempit. Jangan buat kesimpulan, asumsi dan prediksi yang prematur. Ingatlah bahwa dunia kita itu luas dan untuk menjadi manusia dengan pemikiran luas kita harus terbuka dengan dunia itu sendiri di mana tersimpan banyak pemikiran dari segala kalangan. Tentu saja tidak semuanya diserap begitu saja tapi dijadikan referensi untuk menghasilkan buah pikir yang lebih matang dan keluar dari ruang gema itu sendiri. Berbeda itu perlu tapi kita harus pahami bagaimana pun juga bersatu untuk sesuatu yang lebih baik tanpa memicu perpecahan lebih penting daripada memperjuangkan perbedaan dengan arah yang berpotensi merugikan orang lain. Ingatlah bahwa tujuan kita manusia berevolusi adalah untuk sesuatu yang lebih baik. Jangan biarkan evolusi teknologi mendikte perilaku yang dihasilkan oleh pemikiran instan.

Berbeda itu perlu tapi kita harus pahami bagaimana pun juga bersatu untuk sesuatu yang lebih baik tanpa memicu perpecahan lebih penting daripada memperjuangkan perbedaan dengan arah yang berpotensi merugikan orang lain.

Related Articles

Card image
Self
On Marissa's Mind: Sabotase Diri

Kita manusia secara umum ingin bahagia, biasanya dalam hubungan atau karir. Tapi perhatikan, tidak sedikit dari kita malah (tanpa sadar) berperilaku seakan mau merusak jalan menuju kebahagiaan kita sendiri.

By Marissa Anita
24 July 2021
Card image
Self
Secawan Teh: Kesombongan

Kita tentu sudah tahu, bahkan sangat paham tentang salah satu sikap mental ini. Sejak kecil, kita telah diperkenalkan dan diajarkan tentang kesombongan sebagai sesuatu yang buruk. Meski demikian, kita seringkali tidak sadar ketika sebenarnya sedang tinggi hati, ketika kita sedang menunjukkan keangkuhan–ketika kita sedang bertindak sombong dalam bentuknya yang paling halus.

By Dragono Halim
18 July 2021
Card image
Self
Merasa Melalui Seni

Rasanya memendam perasaan, baik perasaan senang maupun sedih, tidaklah pernah baik. Pada waktu-waktu tertentu, kita butuh untuk bisa mengeluarkannya agar tidak memendam sendiri. Walaupun di satu sisi, kita juga enggan untuk selalu menceritakan pada orang lain karena takut membebani mereka. Itulah yang sering saya rasakan. Segala perasaan tersebut pun akhirnya saya keluarkan melalui gambar dengan medium oil pastel. 

By R. Yuki Agriardi
17 July 2021