Self Lifehacks

Weak Ties: Masa Depan

“Masa depan”,  kalau mendengar kata-kata itu, apa sih yang langsung terpikirkan? Apa kira-kira hubungan kita dengan masa depan?

By the way, sebelum menjawab pertanyaan ini, tentunya perlu juga dipikirkan, apa sih hubungan kita dengan masa lalu? Dan untuk itu saya selalu teringat quote;  Masa lalu itu seperti budaya negara lain. Mereka punya kebiasaan yang asing buat kita. “The past is a foreign country. They do things differently there."

Anyway, kalau lagi mikirin masa depan, ada orang yang menganggap masa depan itu seperti mengocok dadu. Ada sejumlah kemungkinan, tapi hasilnya yaaa tergantung yang mengocok. Dan ada faktor keberuntungan, bisa jadi dapat hasil bagus, bisa juga tidak.

Ada juga yang menganggap masa depan seperti duduk di roller coaster. Jadi, jalurnya sih sudah kelihatan, dan kita deg-degan karena pasti bakal menakutkan, tapi yang penting kita duduk diam, dan pasangkan sabuk pengaman.

Ada juga yang menganggap masa depan seperti kita lagi mendayung perahu mengarungi sungai. Jalurnya tidak akan berakhir, dan kita mau bergerak sejauh mana, itu terserah kita. Dan juga, setiap hari angin dan arusnya berbeda. Yang penting, kita mendayung perahu dengan mengikuti kondisi alam, supaya terus bergerak.

Ada sebuah quote dari filsuf Seneca: Jika kamu tidak tahu mau berlayar kemana, arah angin manapun akan terasa menghambat.

Saya mendengar quote ini saat pertama kali belajar tentang Foresight, atau Futures Thinking, alias...belajar berpikir tentang masa depan. Dan ini sulit sekali, yang pertama karena dalam bahasa Inggris dan banyak istilah yang belum ada terjemahannya, tapi juga karena ada mental block. Bagaimana caranya berpikir tentang masa depan, kan masa depan itu tidak bisa diprediksi?

Ini adalah reaksi yang paling sering didengar kalau lagi membicarakan masa depan. Yang bisa dipelajari dari Foresight adalah, walaupun masa depan tidak bisa diprediksi, tapi bisa diantisipasi. Dan itu bisa dilakukan secara sistematis.

Yang bisa dipelajari dari Foresight adalah, walaupun masa depan tidak bisa diprediksi, tapi bisa diantisipasi. Dan itu bisa dilakukan secara sistematis.

Ada beberapa istilah di dunia foresight yang mungkin sudah familiar, misalnya black swan atau scenario building, dan ada juga yang masih asing, misalnya causal layered analysis, postnormal futures, Polak game, backcasting...Tapi secara umum, ada beberapa hal yang bisa dipelajari dari foresight:

1. The future doesn't come from nowhere. Sebenarnya ada arus-arus kecil yang menunjukkan kita lagi menuju ke mana. Kadang sebelum kita buru-buru memecahkan masalah, kita perlu mendengarkannya. Apakah ini isu berulang, dan ada nggak ya trend yang bisa dibaca?

2. Ada lebih dari satu masa depan. Karena itu studinya sering disebut Futures Studies, jamak. Nah, dalam membicarakan alternatif masa depan, kita harus berani membicarakan bukan cuma skenario yang bagus-bagus, tapi juga skenario yang tidak diinginkan, atau istilahnya disowned future. Misalnya, yang bayar cicilan rumah, gimana kalau Jakarta tenggelam atau harus pindah ke ibukota baru? Mungkin ini pertanyaan yang tidak nyaman, tapi kalau kata seorang ahli foresight, bertanya "what if" sekarang, akan mencegah bertanya "what now?" di masa depan 

Masa depan tidak bisa diprediksi, tapi bisa dibicarakan bareng.

3.  Masa depan tidak bisa diprediksi, tapi bisa dibicarakan bareng. Kata seorang teman, bahasa Indonesianya "foresight" itu kan bukan ramalan, melainkan prakiraan. Futures thinking mengajarkan untuk bersama-sama memikirkan masa depan macam apa yang ingin kita tinggali, alias preferred future. Makanya foresight itu sering dipakai sebagai bentuk mengumpulkan aspirasi masyarakat dalam membentuk kebijakan publik. Karena belum cukup untuk mengatakan, di 2045 masyarakat mau hidup enak. Kita harus bisa mengartikulasikan, mau hidup yang seperti apa? Hubungan sosial apa yang dicari? Bagaimana kita berinteraksi dengan teknologi dan alam? Baru-baru ini Jakarta melarang penggunaan kantong plastik, which is great news. Tapi sudah cukup gak untuk mencegah kota ini tenggelam dari masalah lain? Atau dari sekarang semua sekolah perlu mengajarkan murid untuk membuat biopori di rumah? Dengan membayangkan masa depan, kita bisa menarik garis ke perilaku yang perlu kita lakukan hari ini.

Seperti kata Alan Kay, the best way to predict the future, is to invent it.

Related Articles

Card image
Self
Weak Ties: Time Travel

Mungkin ada yang bilang, untuk apa berandai-andai soal ke depan? Kan kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Buat saya, mantranya seperti ini: langkah awal dalam memecahkan masalah adalah melihat masalah itu sebagai hal yang bisa dipecahkan. Saat ini kita hidup dalam masa di mana mudah sekali merasa helpless, seolah kita tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi, bermainlah dengan masa depan, karena sekarang waktunya.

By Kartika Anindya
27 February 2021
Card image
Self
Nyaman Dengan Diri Sendiri

Kita sebagai manusia pasti punya mimpi atau hasrat yang ingin dicapai. Namun terkadang ketika mimpi itu ternyata belum bisa diraih, ada kekecewaan yang mendorong kita untuk tidak menerima diri sendiri. Ini sebenarnya bisa jadi karena kita kurang mengenal diri sendiri. Kita belum bisa memahami siapa diri kita sebenarnya sehingga sulit menerima diri sendiri.

By Feby Jabrik
27 February 2021
Card image
Self
Musik Menyelamatkan Hidup

Musik adalah bagian dari hidup kita sehari-hari. Tanpanya, hidup ini mungkin akan terasa biasa-biasa saja. Namun lebih dari itu, musik sebenarnya punya peran penting dalam membantu kita melewati masa-masa sulit. Ia bisa menjadi penyemangat ketika kita sedang merasa sedih, menghibur perasaan-perasaan negatif yang muncul dalam diri.

By Adryanto Pratono
27 February 2021