Self Health & Wellness

Sembuhkan Trauma Dengan Bernapas

Apa yang menjadi penanda bahwa kita masih hidup? Napas? Ya, tepat sekali. Pertanyaan berikutnya, berapa banyak dari kita yang benar-benar menyadari keberadaannya?

Sebagai elemen tak terpisahkan dari hidup seseorang, kehadiran napas kerapkali tidak disadari dan lebih dianggap sebagai sebuah gerak mekanis tubuh belaka. Padahal, dengan membubuhi sedikit kesadaran pada udara yang masuk dan keluar dari paru-paru, ada begitu banyak manfaat yang bisa didapat.

Berbagai teknik olah napas yang diyakini memiliki kebaikan bagi kesehatan terus ditemukan dan dikembangkan terus menerus sepanjang umur dunia. Salah satu yang kini tengah mencuri perhatian adalah Transformational Breathing yang ditemukan dan dikembangkan oleh Dr. Judith Kravitz. Dikembangkan dari pengalamanannya mempelajari teknik pernapasan bernama Rebirthing di pertengahan dekade 70an, Transformational Breathing ini dirancang untuk melepaskan beragam trauma yang dirasakan seseorang sejak hari ia dilahirkan.  

Teknik pernapasan ini merupakan sebuah bentuk penyembuhan diri sendiri yang secara dinamis menggunakan kekuatan vibrasi energi melalui pola pernapasan yang spesifik. Kravitz membagi tiga tingkatan Transformational Breathing ini. Pada tingkatan pertama, teknik pernapasannya difokuskan pada bagaimana bernapas dengan mudah dan efektif dengan membuka dan membersihkan pola pernapasan yang terhalang. Kebanyakan dari kita mendapat sedikit sekali udara karena terhalangnya dan tertutupnya pola pernapasan.

Berlatih teknik pernapasan ini, kita akan bisa mengetahui bahwa jumlah udara yang dapat kita bawa masuk ke dalam tubuh sesungguhnya secara langsung terkait dengan jumlah kebaikan yang dapat kita terima dalam hidup. Semakin kita membuka dan mengembangkan pernapasan, kita tak hanya akan mendapat tambahan energi dan dukungan terhadap kemampuan penyembuhan alami yang dimiliki oleh tubuh, tapi juga kita akan dengan baik meingkatkan kapasitas untuk menerima dan mengalami kebaikan.

Kravitz meyakini bahwa aliran kehidupan akan bergerak baik berdasarkan derajat terbukaan dan aliran napas. Hal ini sesungguhnya telah dipahami oleh banyak sekali teknik pernapasan yang berkembang di Timur, yang menjadikan napas merupakan akses utama untuk terhubung dengan tubuh melalui pernapasan. Teknik pernapasan yang dikembangkannya ini berfokus pada energi dan keadaan yang ingin diciptakan. Namun bedanya, bila pola pernapasan lain berusaha memperhatikan, teknik pernapasan ini justru mencoba melepaskan dan membiarkannya. Dengan bernapas pada bentuk dan intensi yang lebih tinggi tersebut, pola-pola pernapasan negatif yang lama akan dengan sendirinya berkurang dan menghilang. Teknik pernapasan ini memang terbilang unik dan merupakan sebuah terobosan dalam teknik pernapasan.   

Di tahap kedua, menurut Kravitz, Transormational Breathing akan bekerja untuk membereskan alasan-alasan utama mengapa kita mengalami penyumbatan energi dalam napas. Tahapan ini amat efektif bekerja untuk kasus-kasus trauma dan negativitas yang ada di pikiran bawah sadar yang kerap meliputi emosi-emosi tak terungkap yang seringkali memang berupa sebentuk represi seperti keyakinan-keyakinan negatif, isolasi masa lalu dan ingatan-ingatan tetang hal yang lampau yang semuanya kerapkali tersimpan atau bahkan terjebak pada sel-sel tubuh.

Semua hal yang ‘tersimpan’dalam pikiran bawah sadar itu acapkali merupakan penyebab yang mematikan atau mengontrol pernapasan kita. Kita dapat membalik keadaan tersebut dengan bernapas, memasuki tempat-tempat tertutup itu dan melepaskan segala yang kita genggam di sana melalui hela napas. Melalui proses ini, kita sesungguhnya tengah membawa kembali emosi-emosi, pikiran juga kenangan lama dan dengan melanjutkan napas, mengintegrasikan tekanan-tekanan tersebut pada bentuk energi yang lebih tinggi, kita dapat menciptakan resolusi yang lebih permanen terhadap energi-energi yang selama ini berada dalam tekanan.

Proses pembersihan pikiran bawah sadar dengan Transformational Breathing ini akan bekerja dan melakukan penyembuhan pada area-area utama disfungsi seperti trauma sejak saat kita lahir dan yang terjadi di masa kecil, ketakutan akan kematian yang terjadi dalam pikiran bawah sadar, persoalan dalam hubungan orang tua dan anak serta persoalan-persoalan otoritas, pola-pola sabotase yang kita lakukan terhadap diri sendiri serta berbagai negativitas lain yang bermukim dalam pikiran bawah sadar kita lainnya.

Terbuka dan menjernihnya pikiran bawah sadar, akan menyebabkan terbukanya jalan bagi pikiran kita untuk memasuki kesadaran yang lebih tinggi yang berada pada tingkat jiwa atau kesadaran spiritual. Hal ini akan membuat kita mampu memanfaatkan tahap ketiga dari Transformational Breath ini yang akan dengan sadar menghubungkan kita dengan aspek-aspek yang lebih tinggi dari realitas kesadaran yang kita hadapi.

Pada tahap ketiga, adakalanya kita akan melalui pengalaman-pengalaman transendental –untuk tidak menyebutnya mistis atau supranatural- karena meningkatnya kepekaan kita terhadap dimensi lain dan aspek-aspek yang lebih tinggi. Ketiga tingkatan dari Transformational Breathing ini bekerja secara bertahap, dan tidak ada durasi waktu baku soal berapa lama setiap level itu akan berlangsung berapa lama karena akan sangat tergantung pada kebutuhan-kebutuhan spesifik setiap individu. Satu hal yang bisa dijadikan indikasi bahwa teknik pernapasan ini tengah bekerja dalam tubuh kita adalah perasaan bahwa kita menjadi lebih ringan dan jernih dan kita secara permanen mengalami peningkatan frekuensi vibrasi.

Bila Anda mempelajari cukup banyak teknik pernapasan, pertanyaan yang juga mungkin akan muncul adalah, hal apa yang membedakan teknik Transformational Breathing ini dengan teknik pernapasan lain, seperti teknik pernapasan Rebirthing, misalnya. Pernapasan Rebirthing mengutamakan pemakaian pernapasan dada atas dan bekerja untuk mengurai trauma yang timbul sejak lahir. Transformational Breathing menggunakan pernapasan diafragma secara penuh untuk mengatasi semua trauma terkait dengan kelahiran kembali kita sebagai manusia. Makalah, bunyi-bunyian serta mantra yang dilantunkan dalam kesadaran merupakan sarana yang digunakan dalam Transformational untuk menciptakan keputusan dan jalan keluar yang lebih lengkap dan efektif.

Related Articles

Card image
Self
Ekspresi Diri dan Gaya Hidup

Saya juga setuju dengan ungkapan bahwa fashion adalah cara mengekspresikan diri. Kalau saya bertemu dengan orang, kita bisa melihat karakternya dari apa yang ia kenakan. Baju adalah salah satu medium kita bisa melihat dan “menilai” orang. Jadi bisa dikatakan bahwa baju yang kita kenakan sebenarnya bisa menjadi ungkapan bahwa kita ini adalah bagian dari komunitas tertentu. Mungkin komunitas skateboard, band, atau komunitas-komunitas lainnya. Urban Sneaker Society juga berusaha menggabungkan banyak komunitas agar bisa bertemu satu-sama lain.

By Jeffry Jouw
04 December 2021
Card image
Self
Merangkul Kegagalan

Kegagalan tentu bukan hasil yang diharapkan bagi semua orang yang sedang berjuang. Banyak diantara kita yang mungkin tengah atau telah melalui masa sulit, baik karena pandemi maupun karena masalah pribadi. Sayangnya kegagalan bukan hal yang bisa kita hindari. Kegagalan akan selalu hadir sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran hidup yang masih akan kita jalani hari ini dan seterusnya.

By Greatmind X Festival Pulih
04 December 2021
Card image
Self
Berjalan Untuk Berubah

Masing-masing manusia punya perjalanan yang berbeda-beda. Katanya, dalam perjalanan itu yang paling penting bukan destinasinya, melainkan proses dan cerita yang terjadi sepanjang perjalanan. Katanya juga, cerita dalam perjalanan lah yang menjadikan siapa kita sekarang ini. Tapi yang pasti, melalui perjalanan kita berubah dan bertumbuh.

By Greatmind x Festival Film 100% Manusia
04 December 2021