Self Lifehacks

On Marissa's Mind: Perfeksionisme

Marissa Anita

Jurnalis & Aktris

Hari ini saya mau bicara tentang perfeksionisme. Tentu, kalau takarannya pas, perfeksionisme bisa jadi motivasi untuk menjalankan sesuatu dengan sangat baik, membuat kita terus maju apapun tantangannya hingga mencapai tujuan. Tapi, ternyata tidak sedikit orang perfeksionis yang sengsara karena berusaha menggapai kesempurnaan.

Perfeksionisme adalah standar pribadi, sikap, atau cara berpikir yang mengharapkan dan menuntut kesempurnaan serta menolak segala sesuatu yang dianggap kurang. Jenis perfeksionisme yang paling umum adalah memaksakan standar tidak realistis pada diri sendiri dan orang lain. 

Orang perfeksionis punya standar yang ketat dan motivasi yang kuat mencapai kesempurnaan dan menghindari kegagalan. Ia adalah penilai terkaku dan hakim tergalak bagi dirinya sendiri dan orang lain. Ia baru merasa berharga ketika ia meraih suatu prestasi dan mendapat pengakuan dari orang lain. Buatnya, cinta itu bersyarat, kasih sayang dan pengakuan dari orang lain itu ada untuknya hanya ketika ia melakukan sesuatu dengan sempurna. 

Pola pikir seperti ini biasanya tumbuh pada ia yang waktu kecil punya figur pengasuh yang lebih mementingkan hasil akhir yang paripurna daripada proses atau upaya. Jika dapat nilai 100 dipuji, jika kurang dari itu, tak ada pujian sama sekali, atau bahkan dikritik. Karenanya, ia tak pernah merasa cukup baik. 

Menurut peneliti Thomas Curran, perfeksionisme bukan soal berjuang mencapai keunggulan melainkan soal menyempurnakan diri yang tidak sempurna.

Tunggu, tunggu, Mar . . . Nggak ada salahnya kan punya standar tinggi dalam hidup?

Nggak ada, tapi ini beda dengan perfeksionisme. 

Bedanya ada pada apa yang kita katakan pada diri sendiri atau orang lain ketika menghadapi tantangan atau kegagalan.

Menurut peneliti Thomas Curran, perfeksionisme bukan soal berjuang mencapai keunggulan melainkan soal menyempurnakan diri yang tidak sempurna. 

Seorang perfeksionis cenderung punya target yang tidak realistis dan risih dengan kesalahan. Baginya, kegagalan adalah bencana. Maka itu ketika menghadapi kegagalan, ia akan mencambuk diri dengan kalimat-kalimat hiperkritis seperti: "Aku gagal berarti aku orang yang gagal secara keseluruhan. Tidak ada hal baik dariku sama sekali. Semua yang aku lakukan nggak pernah cukup". Pola pikir yang tidak membangun.

Sementara seseorang dengan standar tinggi yang sehat punya target tinggi yang realistis dan bisa menerima kesalahan. Ketika hasil dari yang ia kerjakan tidak sesuai harapan, ia akan berpikir, "Aku sudah berusaha sekeras dan sebaik mungkin. Meski hasilnya tidak sempurna, saya mendapat kepuasan dari proses menuju hasil ini. Tidak mencapai target yang diharapkan bukan berarti aku orang yang gagal". Pola pikir ini membantu Anda memperbaiki apa yang perlu diperbaiki sehingga terus berkembang.

Jika sikap perfeksionis Anda rasa sudah mengganggu diri dan orang lain, Anda bisa coba beberapa cara berikut ini:  

Rangkul ketidaksempurnaan. Proses yang jauh dari sempurna untuk meraih sesuatu itu manusiawi. Pola pikir ini tidak membuat kita tertekan, sehingga memberi ruang bagi kita untuk bisa berpikir, bekerja dan berusaha sebaik mungkin. 

Ganti suara kritik diri yang berlebihan dengan suara yang lebih realistis. Ketika suara negatif datang di pikiran, sadari, akui, kemudian tantang suara ini. "Proyek kali ini belum aku berhasil menangkan. Ini bukan berarti aku orang yang gagal. Esok masih ada kesempatan untuk berusaha lagi dan lagi”. Sadari bahwa suatu usaha tetap bermanfaat bahkan ketika usaha itu tidak "sempurna" karena kita belajar dari usaha itu. What is perfection anyway? It doesn't exist. 

Ingat, tidak ada orang yang sempurna. Semua orang pernah membuat kesalahan. Kuncinya, bertanggungjawablah atas kesalahan itu, jadikan pelajaran untuk menjadi lebih baik, move on. 

Bagi Anda figur pengasuh, hindari mengaitkan kasih sayang dengan kinerja alias memberi cinta bersyarat pada anak. Ketika anak berusaha meraih sesuatu, puji prosesnya, usaha dan kerja kerasnya. Bahwa ia tidak harus jadi sempurna untuk dicintai

Ketika pikiran-pikiran perfeksionis yang menyesakkan datang, ulangi mantra, "saya cukup baik, dan itu cukup"

 

Referensi: 

Curran, T. (2019, April 1). TED: Our Dangerous Obsession with Perfectionism is Getting Worse. [Video] YouTube. https://youtu.be/lFG1b1-EsW8

Fileva, I. (2020, June 14). The Dark Side of Perfectionism. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-philosophers-diaries/202006/the-dark-side-perfectionism

Hall, K. (2019, November 4). Are You a Perfectionist?. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/pieces-mind/201911/are-you-perfectionist

Hendriksen, E. (2017, June 23). 9 Hidden Signs of Perfectionism. Quick and Dirty Tips Do Things Better. https://www.quickanddirtytips.com/health-fitness/mental-health/9-hidden-signs-of-perfectionism

Leahy, R.L. (2021, April 14). How to Overcome Perfectionism. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/anxiety-files/202104/how-overcome-perfectionism

Maxwell, V. (2019, December 19). Curb Your Perfectionism. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/crazy-life/201912/curb-your-perfectionism

Psychology Today. (n.d.). Perfectionism. Retrieved September 14, 2021, from https://www.psychologytoday.com/intl/basics/perfectionism#:~:text=Perfectionism%20is%20a%20personality%20trait%20characterized%20by%20high%20expectations%20and,be%20a%20symptom%20of%20OCD

Razzetti, G. (2019, February 9). How to Conquer Perfectionism Before It Conquers You. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-adaptive-mind/201902/how-conquer-perfectionism-it-conquers-you

Ruggeri, A. (2018, February 21). The Dangerous Downsides of Perfectionism. BBC. https://www.bbc.com/future/article/20180219-toxic-perfectionism-is-on-the-rise

The School of Life. (2017, April 28). Good Enough is Good Enough. [Video] YouTube. https://youtu.be/RbtflLkVv4E

The School of Life. (2017, July 6). The Problem with Perfectionism. [Video]. YouTube. https://youtu.be/g8pti-Swh_E

The School of Life. (n.d.). Reasons to Give Up on Perfection. Retrieved September 14, 2021, from https://www.theschooloflife.com/thebookoflife/reasons-to-give-up-on-perfection/

Shapiro, J. (2020, December 31). The Thought Process Underlying Perfectionism. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/thinking-in-black-white-and-gray/202012/the-thought-process-underlying-perfectionism

 

Related Articles

Card image
Self
Manusia Makhluk Egois

Kita itu egois. Manusia pada dasarnya memiliki karakter dan sifat yang berbeda-beda, ada yang baik hati, ramah, penyayang dan ada juga yang pemarah, kasar, dan egois. Orang yang egois pada umumnya adalah orang yang sulit untuk dihadapi dan diajak berkomunikasi. Sadarkah kita bahwa sebenarnya setiap orang memiliki sisi egosi, hanya kadarnya saja yang beragam. Ada yang halus ada juga yang dominan.

By Ardy Wu
09 October 2021
Card image
Self
Memahami Beragam Dimensi Dalam Diri

Diri kita sebenarnya adalah gabungan dari banyak hal. Self concept sangat bersifat multidimensional. Diri kita bukan hanya sebatas aspek-aspek yang bisa kita lihat. Sebenarnya ini menenangkan, dalam artian jika kita merasa belum maksimal dalam satu dimensi, bisa jadi pada dimensi-dimensi lain lebih positif.

By David Irianto
09 October 2021
Card image
Self
Menafsirkan Penantian dan Rasa Sepi

Penafsiran rasa sepi bagi setiap orang bisa saja berbeda-beda. Spektrum rasa sepi juga sebenarnya sangat luas. Menurutku rasa sepi sangat bergantung kepada bagaimana kita memosisikan diri kita sendiri. Tanpa rasa sepi juga kita tidak akan bisa memahami apa itu rasa rindu dan tidak menghargai waktu menunggu saat kita menginginkan hal ataupun kehadiran orang yang kita butuhkan dalam hidup. Menurutku dalam kadar yang cukup, sebenarnya rasa sepi bisa dinikmati.

By Caldera
02 October 2021