Self Health & Wellness

On Marissa's Mind: Mindfulness

Marissa Anita

Jurnalis & Aktris

Saya pernah depresi. Lima tahun lalu, pada 2015, ada hari-hari dimana saya menangis tanpa mengerti apa alasannya. Saya juga pernah putus asa dan berpikir untuk mengakhiri semuanya. Akar derita? Trauma masa kecil yang terbawa hingga dewasa. Sekarang, saya masih di sini, merasa lebih baik. Untuk sampai di sini, saya melewati proses, salah satunya dengan mindfulness.

Mindfulness adalah kesadaran dan perhatian penuh terhadap apa yang terjadi dalam diri kita dan di sekitar kita, di saat ini. Kita hadir — tubuh dan pikiran — di saat ini, sadar sepenuh-penuhnya dimana kita berada dan apa yang sedang kita lakukan. 

Seringkali kita tidak mindful. Tubuh kita di sini, tapi pikiran kita lari kemana-mana — penuh dengan berbagai kecemasan, apakah itu seputar keluarga, pekerjaan, kesalahan di masa lalu, berita buruk hari ini, masa depan kita, masa depan bumi atau konflik, gosip dan kekejaman yang kita lihat di media sosial. Ketika kita membiarkan kecemasan ini mendominasi, maka kita menderita.

Kita bisa libur dari rasa cemas dan merasa lebih damai dengan mengambil waktu untuk mindful, menyatukan pikiran dan tubuh kita, memberikan perhatian penuh kita, pada apa yang terjadi di saat ini. Mindfulness membantu kita mengolah cara pandang sehingga kondisi mental lebih damai.

Maka itu, ketika kita mindful, kita tidak lagi reaktif berlebihan terhadap apa pun yang terjadi di sekitar kita. Jadi nggak mudah terprovokasi, marah atau cemas — jauh dari stres. 

Mindfulness seperti otot, memang harus dilatih setiap hari. Anda bisa latih mindfulness dengan sejumlah cara berikut ini:

Meditasi duduk. Jika dilakukan secara benar dan teratur, meditasi duduk punya efek menyembuhkan. Durasi meditasi duduk bisa lima menit hingga setengah jam.

Anda bisa duduk bersila di lantai, atau duduk di kursi. Duduk nyaman, punggung lurus. Perhatikan nafas yang masuk dan keluar dari lubang hidung kita. Sadari nafas ini sepenuhnya. Seperti teknik dari Thich Nhat Hanh berikut ini: 

“Nafas masuk, saya sadari saya nafas masuk. Nafas keluar, saya sadari saya nafas keluar.”

“Nafas masuk, nafas keluar.”

“Masuk, keluar.”

Jika sulit memperhatikan hembusan nafas, Anda bisa rasakan naik turunnya perut. Sadari perut naik turun ketika bernafas. Nikmati nafas ini. Jangan lupa sambil setengah senyum karena ini merelaks-kan otot wajah, otak dan tubuh. 

Ketika meditasi duduk, tidak jarang pikiran lari kemana-mana. Ketika ini terjadi, izinkan, amati saja pikiran-pikiran ini tanpa menilai apakah ini baik atau buruk. Setelah itu, relakan, lepaskan. 

Meditasi mindfulness melatih kita untuk menahan keinginan untuk menghakimi atau menilai; membuat kita ingin tahu cara kerja pikiran kita; dan memiliki pendekatan welas asih terhadap apa pun dan siapa pun, termasuk terhadap diri sendiri. 

Selain meditasi duduk, bisa juga meditasi jalan. Ketika Anda meditasi jalan, rasakan betul kaki Anda menapak tanah.  Sinkronkan nafas dengan langkah. Selangkah, nafas masuk. Selangkah, nafas keluar. Nikmati nafas ini. Nafas ini tanda bahwa Anda hidup.

Bisa juga mindful eating. Ketika makan, perhatian penuh pada apa yang kita makan. Lihat, ucap syukur untuk makanan hari ini dan orang-orang yang telah membantu menghadirkan makanan ini, kunyah hingga lumat, nikmati setiap rasanya.

Anda bisa praktekan mindfulness kapan saja dan setiap hari. Salah satu kegiatan mindfulness kesukaan saya adalah beberes rumah, cuci piring, nyapu, ngepel atau masak. Semua saya lakukan dengan konsentrasi penuh, dan saya nikmati.

Buat saya, meditasi dan mindfulness adalah bagian dari mengenal diri. Sejak semakin kenal diri sendiri, pikiran, hati dan hidup saya menjadi lebih tenang.

Dengan mindfulness, kita bisa mengakui penderitaan kita dan belajar bagaimana mengatasinya. Kita tatap derita secara dalam dan cari akarnya. 

Stres karena derita berkepanjangan hanya membuat kita sakit. Selalu ambil waktu untuk kembali ke diri sendiri dengan memperhatikan nafas kita, di saat ini, demi kesembuhan luka batin. 

Dengan mindfulness, semoga Anda juga merasakan ketenangan yang sama.

***

Untuk bacaan lanjutan: 

Thich, N. H. (2014). The Mindfulness Survival Kit. Paralax. 

Related Articles

Card image
Self
Tantangan Meregulasi Emosi

Pada dasarnya bukan emosi yang membuat kita melalui turbulensi perasaan melainkan cara kita menafsirkan emosi sehingga kita merasa tidak sanggup menoleransi emosi yang dirasakan. Intensitas emosi yang kita rasakan bisa dipengaruhi berbagai hal seperti trauma masa kecil atau kondisi fisik yang sedang memburuk. Kondisi-kondisi ini dapat memperparah situasi, ditambah dengan regulasi emosi yang belum optimal.

By David Irianto
11 September 2021
Card image
Self
Mengapresiasi Setiap Kehadiran

Memang lebih rumit rasanya untuk bisa menghabiskan waktu bersama orang terdekat terutama teman dan sahabat belakangan ini. Aku sendiri sebisa mungkin berusaha untuk tetap menjalin hubungan dengan menanyakan kabar teman-temanku melalui aplikasi chat ataupun video call. Tidak dapat dipungkiri bahwa rasa rindu berkumpul bersama teman-teman memang semakin terasa terutama saat masa PPKM mulai diberlakukan. 

By Amindana Chinika
11 September 2021
Card image
Self
Musik Sebagai Medium Bercerita

Apapun yang kita lalui dalam hidup entah itu sangat menyiksa atau sangat membahagiakan, melalui musik kita selalu dapat menyajikannya menjadi sesuatu yang indah. Musik mampu menghantarkan kejadian yang sangat buruk sekalipun menjadi sesuatu karya yang menawan. Sekelam apa pun pengalaman yang kita rasakan, aku percaya itu tetap bisa disampaikan dari perspektif yang artistik. 

By FLØRE
11 September 2021