Self Lifehacks

On Marissa's Mind: Konsumerisme

Marissa Anita

@.

Jurnalis & Aktris

Konsumerisme, sebuah kata yang sangat familiar di telinga masyarakat. Di Jakarta sendiri, dapat kita jumpai banyak sekali papan iklan di kiri dan kanan jalan, mengisi ruang serta celah kota dengan satu tujuan; menuntun tangan yang kita miliki untuk masuk ke kantong, mengambil dompet, dan mengeluarkan uang untuk ditukar dengan barang yang kita inginkan.

Sebenarnya, apa itu konsumerisme?

Secara umum, terdapat dua definisi yang dapat menjelaskan makna kata tersebut.  Yang pertama, konsumerisme adalah gerakan atau kebijakan untuk melindungi konsumen dengan menata metode dan standar kerja produsen, penjual, dan pengiklan.

Definisi kedua, konsumerisme dijelaskan sebagai paham atau gaya hidup yang menganggap barang-barang mewah sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan, dan sebagainya, yang kurang lebih mengindikasikan gaya hidup yang tidak hemat.

Memang tidak dapat dipungkiri, ketika kita memiliki barang baru, kita akan merasa senang saat memperolehnya. Tentu saja barang yang kini telah kita miliki bisa saja telah kita idamkan sejak lama, atau bahkan kita sudah melakukan banyak pengorbanan untuk memperolehnya. Namun,  apakah itu semua menjamin kebahagiaan yang kita peroleh?

Related Articles

Card image
Self
Hidup Untuk Mati, Mati Untuk Hidup

Hidup seperti permainan video. Kita berjalan menjelajahi alam yang terlihat tak bersahabat, asing, dan keji. Kita berusaha memenangkan pertarungan yang terasa tak adil. Musuh begitu kuat, hebat dan tak terkalahkan. Kemudian, kita akan mati.

By Galih Sakti
18 May 2019
Card image
Self
Puasa, Momentum Sehat Lahir Batin

Puasa yang sejatinya erat dengan menahan diri, kini maknanya cenderung bergeser. Hakikat puasa sebagai ibadah berpindah fokus ke kuliner sebagai alat pemenuhan emosi dan status sosial.

By Inge Tumiwa-Bachrens
18 May 2019
Card image
Self
Berlari Dari Kekosongan Jiwa

Kekosongan dalam hati manusia sering kali diisi dengan sesuatu yang dikira bisa mengisi kekosongan itu. Sering rasanya, lebih baik berlari dari kenyataan pahit, daripada menatap mata kekosongan untuk mengerti mengapa begitu gelap dan sendu. Hidup manusia seringkali tidak sehitam-putih apa yang kita pikirkan atau inginkan.

By Marissa Anita
18 May 2019