Self Lifehacks

On Marissa's Mind: FOMO

Marissa Anita

Jurnalis & Aktris

Sore hari tiba. Setelah melewati hari yang panjang, waktunya santai, buka ponsel dan medsos. Anda lihat teman-teman lagi menikmati island life, merekam temaram jingga matahari terbenam, menikmati hidangan spesial di restoran yang lagi naik daun. Semakin Anda telusuri postingan demi postingan yang terlihat menyenangkan ini, kegelisahan Anda pun terus bertambah.

Emosi ini sulit dijelaskan namun rasanya seperti campuran antara rasa dikucilkan, benci diri dan iri hati — perasaan aneh yang semakin umum di kalangan pengguna media sosial.

Fenomena psikologi ini adalah FOMO, fear of missing out. 

FOMO adalah kecemasan terus menerus ketika tahu orang lain sedang mengalami hal yang menyenangkan dan kita tidak ada di situ atau tidak terlibat di dalamnya.

Ketika seseorang FOMO, ia merasa dikucilkan secara sosial, terisolasi dan cemas karena takut ketinggalan. Demi menghilangkan perasaan nggak nyaman ini, ia bisa meninggalkan apa yang sedang ia lakukan dan menghabiskan waktu lebih lama di medsos demi mendapatkan perasaan ’bergabung’.

FOMO adalah kecemasan terus menerus ketika tahu orang lain sedang mengalami hal yang menyenangkan dan kita tidak ada di situ atau tidak terlibat di dalamnya.

FOMO membuat kita fokus pada apa yang terjadi di luar sana daripada sepenuhnya hadir dalam pengalaman di depan mata. 

Menurut The School of Life, kita bisa lihat fenomena ini dari dua cara pandang: romantik dan klasik. 

Bagi ia yang romantik, merasa ketinggalan sangatlah menyakitkan. Ia percaya di luar sana ada suatu tempat dimana orang-orang berkelas dan menawan menjalani hidup.Orang romantik akan merasa sangat bahagia ketika ia menjadi dari itu -- bekerja di sebuah perusahaan terpandang, berlibur ke tempat yang eksotis dan ekslusif, berada dalam lingkaran orang-orang terpilih. Kalau tidak, rasanya mau mati. Ia menganggap mereka yang bekerja di kota kecil atau menikmati waktu liburan dengan cara sederhana itu sangat membosankan. Maka itu orang romantik cenderung menghindari mereka yang tidak terlihat glamor atau yang ia nilai kurang berambisi. Maka itu orang romantik lebih rentan FOMO. 

Sementara, orang klasik tidak melihat kemewahan sebagai indikator sesuatu itu memukau. 

Baginya, novel terbaik bisa saja bukan di rak best seller, ditulis seseorang yang tinggal di tempat terpencil, dan terlihat biasa saja. Orang klasik sadar betul kualitas bisa banget hadir dalam hal atau orang yang terlihat biasa; bahwa kualifikasi akademis tidak selalu berbanding lurus dengan kecerdasan seseorang; bahwa orang terkenal juga bisa membosankan; dan bahwa orang tidak terkenal bisa sangat luar biasa. 

Ia tahu, di pesta yang paling mewah dengan deretan tamu terpandang pun, ada dari mereka yang merasa bingung, sedih dan cemas. 

Jangan salah, orang klasik juga bisa FOMO, tapi jenisnya lain. Mereka takut kelewatan kesempatan mengenal orang tua mereka, menghargai kekuatan alam dalam menenangkan hati, mendengarkan celotehan lucu seorang anak kecil, mengenal diri. They don’t want to miss the small pleasures in life

 

Apa Penyebab FOMO? 

Kemungkinan besar ponsel pintar.

Ponsel memudahkan kita selalu tahu apa yang terjadi di luar sana. Kita bisa cek cuaca, baca berita, tahu tentang suatu peristiwa, dimana pun kapan pun. It’s great! Tapi, tahu begitu banyak hal di luar sana juga bisa melahirkan perasaan takut kelewatan atau ketinggalan pengalaman penting atau menyenangkan, FOMO. 

FOMO memang bukan hal baru. Dulu, FOMO dipicu halaman koran sehari sekali atau foto-foto wisata atau pesta di album waktu berkunjung ke rumah teman. Sekarang, medsos memudahkan kita melihat apa yang semua teman atau keluarga kita lakukan sepanjang waktu. 

Orang yang sering menggunakan medsos paling rentan kena FOMO. Orang yang FOMO cenderung sering memeriksa feed medsos teman dan keluarga agar tidak kelewatan apa yang terjadi dalam hidup mereka. Tapi, seseorang juga bisa jadi FOMO ketika terus menerus tergoda notifikasi atau umpan medsos orang lain yang menunjukkan orang lain melakukan hal luar biasa sepanjang waktu.

Penelitian juga menunjukkan FOMO rentan terjadi pada mereka yang kesepian, terisolasi, punya pandangan negatif tentang diri sehingga rendah diri, dan kurang mencintai dan menerima diri. 

FOMO berdampak negatif pada suasana hati dan tingkat kepuasaan hidup. Orang yang FOMO-nya tinggi cenderung lebih depresif, cemas, neurotik, bermasalah dengan tidur, dibanding mereka yang FOMO-nya rendah. 

 

Bagaimana mengatasi FOMO? 

Anda bisa hindari FOMO dengan pilihan cara berikut: 

Kurangi waktu main medsos secara signifikan. Coba cuti seminggu penuh dari medsos. Jika merasa jiwa lebih sehat dan mental lebih nyaman dengan kebiasaan baru ini, silahkan dilanjut. Semakin tak terikat Anda dengan medsos atau ponsel, semakin jauh Anda dari FOMO.

Ubah titik perhatian Anda. Kurangi fokus pada apa yang tidak ada dalam hidup Anda, kuatkan fokus pada hal baik yang sudah ada di hidup Anda.

Misal: Daripada ’Duh! Aku kok nggak ada di tempat liburan yang lagi hits itu ya?’ Kita ubah dengan, ‘Aku sekarang di rumah, menikmati angin semilir, suara burung berkicau. Aku sehat, semua makhluk yang kusayangi sehat. I’m grateful. Life is good’. 

Self compassion, tumbuhkan welas asih terhadap diri sendiri. Ketika Anda terhubung dengan diri, Anda akan lebih bisa menerima diri. Anda tidak lagi sibuk membandingkan diri  dan kehidupan Anda dengan orang lain.

Ubah titik perhatian Anda. Kurangi fokus pada apa yang tidak ada dalam hidup Anda, kuatkan fokus pada hal baik yang sudah ada di hidup Anda.

Interaksi dengan orang lain secara teratur, bukan di medsos. Pertemuan tatap muka secara langsung, atau video call, menghadirkan interaksi dan hubungan yang lebih kaya, kompleks dan nyata. Ini mengurangi perasaan kesepian atau terasing.

Ubah pola pikir FOMO menjadi JOMO (Joy of Missing Out). Menurut Kristen Fuller, JOMO adalah "penangkal FOMO yang cerdas karena dengan JOMO kita pada dasarnya hadir dan puas dengan dimana kita berada sekarang dalam hidup". Atau dalam kata lain, mindfulness

Waktu kita terbatas dalam hidup ini. Ketika jeli, kita bisa kok mencari bahagia dari apa dan siapa yang ada di sekitar kita. So, goodbye FOMO, hellooo JOMO! 

Ubah pola pikir FOMO menjadi JOMO (Joy of Missing Out).

 

Referensi:

Davis. T. (2019, January 14). How Do You Overcome FOMO? Psychology Today.  https://www.psychologytoday.com/us/blog/click-here-happiness/201901/how-do-you-overcome-fomo

Emamzadeh, A. (2021, February 14). How to Overcome FOMO. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/finding-new-home/202102/how-overcome-fomo

Fear of Missing Out. (2015, May 18). The School of Life. https://youtu.be/VrC_MSG9zSU

Fuller, K. (2018, July 26). JOMO: The Joy of Missing Out. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/intl/blog/happiness-is-state-mind/201807/jomo-the-joy-missing-out

Hobson, N. (2018, April 23). The Science of FOMO and What We're Really Missing Out On. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/ritual-and-the-brain/201804/the-science-fomo-and-what-we-re-really-missing-out

Ocklenburg, S. (2021, June 13). FOMO and Social Media. Psychology Today. 

https://www.psychologytoday.com/intl/blog/the-asymmetric-brain/202106/fomo-and-social-media

Scared to Stay In: The Psychology of FOMO (2019, September 4). King University Online. https://online.king.edu/news/psychology-of-fomo/

Travers, M. (2020, March, 31). Four Facts About FOMO. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/social-instincts/202003/four-facts-about-fomo

Related Articles

Card image
Self
Memaknai Perempuan Berdaya

Banyak pembahasan mengenai cara menyeimbangkan peran sebagai ibu yang juga pekerja, tapi kita terkadang lupa bahwa kita juga adalah individu yang punya identitas sendiri. Saya bukan hanya ibu dari si A, istri dari si B, atau karyawan kantor C. Saya juga adalah seorang individu yang memiliki minat dan keinginan tersendiri. Terkadang saya tetap butuh meluangkan waktu untuk diri sendiri, mungkin dengan olahraga, baking, menonton drama Korea, atau hobi-hobi lainnya.

By Ellyana Mayasari
27 November 2021
Card image
Self
Bahasa Cinta dari Ayah

Sosok bapak di mataku adalah pemegang hierarki tertinggi di keluarga. Bapak biasanya akan tetap hadir untuk keluarga di akhir pekan atau saat libur panjang. Setiap akhir pekan, ia sering mengajak kita sekeluarga untuk pergi bersama ke Six Flag atau pergi ke tempat rekreasi lainnya. Bapak punya caranya sendiri dalam menyampaikan rasa kasih sayang ke anak-anaknya.

By Adrian Khalif
27 November 2021
Card image
Self
Merancang Hari Baru

Pada titik tertentu dalam hidup mungkin kita merasa sering bingung akan pilihan kita sendiri. Berpikir kenapa, ya, kok kita bisa memiliki perspektif yang mungkin berbeda. Tidak bisa memahami diri sendiri. Sebenarnya ini bisa saja berarti kita belum benar-benar bangun dalam versi organik diri kita. Buatku penting untuk bisa mengenali diri sendiri. Kita orang yang seperti apa, butuhnya apa, inti utama dari diri kita itu apa, hal ini terasa natural tapi juga tidak senatural itu.

By Lala Bohang
20 November 2021