Self Science & Tech

On Marissa's Mind: Digital Minimalism

Marissa Anita

Jurnalis & Aktris

"Di dunia yang banjir informasi tidak relevan, kejernihan berpikir adalah kekuatan", kata Yuval Noah Harari.

Maka itu saya jadi digital minimalist. Sudah dua tahun saya jalankan dengan konsisten dan rasakan manfaatnya.

Menurut penulis buku Digital Minimalism, Cal Newport, Digital minimalism adalah filosofi penggunaan teknologi dimana seseorang memusatkan waktu online-nya hanya pada segelintir aktifitas yang telah ia pilih dengan cermat dan membawa manfaat optimal bagi dirinya. 

Dengan kata lain, seorang digital minimalist dengan senang hati mengabaikan semua aktifitas online yang tidak memberi nilai tambah bagi dirinya. 

Saya memilih digital minimalism karena ingin punya kualitas hidup yang lebih baik, dengan mengembalikan kemampuan konsentrasi dan atensi pada apa yang penting.

Ketika Anda menerapkan minimalisme pada rumah Anda, Anda tanya diri, ‘Apakah barang berguna bagi saya?’ Kalau jawabannya tidak, Anda ucapkan selamat tinggal pada barang itu. Prinsip yang sama saya terapkan pada aplikasi di ponsel. Saya tanya diri, ‘Apakah app ini membawa nilai tambah ke hidup saya? Apakah app ini berguna dalam hidup saya?’ Jika jawabannya tidak, saya hapus app-nya. Tapi kalau punya kegunaan yang besar, ya saya pakai. Penggunaan aplikasi jadi sangat jelas dan spesifik.

Makanya, di ponsel, ada aplikasi berikut: browser, chat, email, e-commerce, bahasa asing, peta, transportasi. Meski punya Twitter tapi tidak ada aplikasinya di sini untuk menghindari kecanduan dan akhirnya buang waktu.

Twitter juga saya gunakan secara spesifik: tidak mengikuti akun mana pun karena tidak merasa perlu. Twitter hanya untuk berbagi info tentang apa yang sedang saya kerjakan, atau sharing referensi film.

Kenapa saya begitu protektif terhadap atensi saya? Karena apa yang kita lihat atau dengar dalam keseharian sangat berpengaruh pada cara pandang dan kualitas hidup yang kita miliki.

Apa yang kita lihat atau dengar dalam keseharian sangat berpengaruh pada cara pandang dan kualitas hidup yang kita miliki.

Menggunakan teknologi digital yang sembrono membuat pikiran penggunanya keruh, sulit fokus. Penelitian mengungkap orang yang yang kesulitan fokus, pikirannya cenderung negatif — berkutat pada apa yang salah dalam hidup, melupakan apa yang sebenarnya berjalan baik. Ia juga lebih sering cemas, lelah mental, bahkan depresi. Kalau sudah begini, bagaimana mau menjadi individu yang fungsional, produktif dan tenteram?

Jadi, masuk akal ketika CEO perusahaan teknologi sillicon valley  seperti Steve Jobs dan Bill Gates tidak memperboleh anak-anak mereka pakai iPad atau ponsel pintar di rumah atau di sekolah. Jack Dorsey meditasi satu jam setiap hari untuk jaga kejernihan pikiran. Mereka semua tahu betul dampak buruk penggunaan teknologi yang tidak cermat dan bijak.

Atensi adalah emas, mahal. Maka itu, baiknya kitalah yang menggunakan teknologi, jangan sampai kita biarkan teknologi memanfaatkan kita. Kita yang meraup manfaat sebesar-besarnya dari teknologi, bukan sebaliknya.

Kalau mau, Anda bisa bawa hubungan Anda dengan teknologi digital ke arah baru. Caranya, salah satu yang efektif adalah tips digital declutter atau beberes digital ala Cal Newport.

Selama 30 hari:

(1) Cermati betul, kemudian babat aplikasi yang tidak memberi manfaat maksimal bagi Anda. Saya memang tidak punya app medsos di ponsel karena bagi saya hanya jadi sumber distraksi. Tapi jika Anda butuh medsos hanya untuk keperluan bisnis saja dan memang membawa manfaat besar bagi Anda, ya tidak perlu dihapus. Cermati dan putuskan apa yang terbaik untuk Anda.

(2) Ganti waktu Anda yang dulu terisi main gadget, dengan aktifitas santai analog yang Anda sukai, apakah itu kerajinan tangan, ngulik sesuatu, main alat musik, melukis, menulis puisi, main board game, baca buku, olah raga, atau gabung komunitas. Langkah ini penting. Karena kalau kita tidak mengisi waktu luang ini dengan kegiatan offline menyenangkan, kemungkinan besar kita akan kambuh.

(3) Kembalikan kesendirian dalam hidup Anda. Ciptakan kembali ruang “bosan” dalam hidup Anda, dan biarkan pikiran Anda berkelana ke sudut-sudut kreatif.

Setelah bereksperimen 30 hari (beberes digital), menikmati pikiran yang lebih jernih dan hari-hari yang lebih produktif, boleh kok Anda unduh kembali aplikasi yang tidak esensial ke ponsel Anda. Kemungkinan besar selera Anda terhadap aplikasi ini sudah hilang, sehingga akhirnya Anda nggak pakai lagi secara permanen.

Tertarik merebut kembali atensi yang berharga ini? Kalau iya, selamat mencoba.

 

 

Related Articles

Card image
Self
Sensasi Nostalgia

Nostalgia dalam dosis dan konteks yang tepat merupakan sesuatu yang menyenangkan. Nostalgia dapat membuat kita mensyukuri apa yang kita miliki sekarang, apa yang telah kita lalui, dan membuat kita menghargai proses kehidupan.

By Dewi Lestari
20 February 2021
Card image
Self
Bercakap Bersama Muhammad Khan: Meninggalkan Smartphone

Saya bercakap bersama seniman Muhammad Khan, mendengarkannya berbagi tentang keuntungan dan kerugian meninggalkan smartphone; fenomena pertemanan yang nyata dan tidak nyata di medsos; pencitraan manusia secara virtual; dan bagaimana ia merebut kembali waktu yang dulu terbuang di dunia maya untuk hal-hal yang membawa kenikmatan nyata dalam hidupnya.

By Marissa Anita
13 February 2021
Card image
Self
Hubungan dengan Diri

Sejak kecil kita sudah diajarkan bagaimana caranya berinteraksi dengan orang lain. Pelajaran ini sudah kita dapatkan dan lakukan dalam lingkungan keluarga. Pada akhirnya, ketika kita cukup ahli untuk berinteraksi pada orang lain, yang disayangkan adalah kadang kita lupa akan hal yang ternyata lebih penting, yaitu bagaimana berinteraksi kepada diri sendiri.

By Diyah Deviyanti
13 February 2021