Self Lifehacks

On Marissa's Mind: Bertengkar Sehat

Marissa Anita

Jurnalis & Aktris

Fotografi Oleh: Andrew Trigg

Kita semua pasti pernah bertengkar, apalagi dengan orang rumah. Saya, dulu kalau marah atau bertengkar dengan orang rumah bisa meledak tidak karuan. Kini, kadang ada kesal dan pertengkaran, tapi sekarang berusaha untuk bertengkar secara sehat dan konstruktif. Bertengkar kadang-kadang itu tidak apa-apa. Menurut ilmu psikologi, kalau kita sama sekali tidak pernah bertengkar dengan orang dekat, ini pertanda kita tidak lagi peduli, dan biasanya berujung pada perpisahan (Grody, 2018). Seperti kata filsuf modern Alain de Botton, "Mencintai seseorang tidak akan pernah bebas dari rasa frustrasi."

Kenapa kita bertengkar? Kita bertengkar ketika merasa insecure — merasa tidak punya kendali, tidak dimengerti, dipedulikan, dihormati, dihargai, dan dicintai (de Botton, 2017; Perel, 2017).

Ketika dua orang bertengkar, biasanya saling menyalahkan, sambil membela diri habis-habisan — berhenti mendengarkan satu sama lain. Pertengkaran bisa terasa seperti medan perang dimana dua orang saling menembakkan peluru dengan tujuan: “Aku akan membuatmu menderita sebagaimana kamu telah membuat aku menderita” — apakah dalam bentuk teriak-teriak, banting pintu, atau diam seribu bahasa dan melengos beku seakan dia tidak ada. Kita mungkin berpikir bentuk amarah seperti ini akan membuat kita merasa lega, tapi sejujurnya, ketika kita rasakan betul tubuh kita tersiksa: jantung berdegup cepat, napas pendek-pendek, tahu-tahu sudah sakit kepala karena tekanan darah naik.

Bentuk-bentuk amarah seperti ini adalah ramuan menuju bencana yang hanya akan menciptakan lingkaran setan yang bikin capek secara emosi dan fisik diri sendiri dan orang lain. Kita perlu belajar bertengkar secara sehat dan konstruktif. Karena pertengkaran itu bisa berguna untuk membawa perbaikan — membuat kita dan orang lain menjadi versi diri yang lebih baik.

Kita bisa belajar bertengkar dengan sehat ketika terlebih dulu menyadari hal-hal berikut:

Sadar bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Ketika orang lain bikin kesal, kita juga bisa mengesalkan untuk dia. Musuh dari pertengkaran sehat adalah ketika seseorang merasa dirinya selalu yang paling benar tanpa cela.

Sadar bahwa seseorang akan lebih kooperatif dan lebih mau mengakui kekurangan atau kesalahannya ketika dia merasa tidak sedang dibenci, diserang, dan dipojokkan. Kritik itu baik untuk perbaikan. Namun kritik akan lebih mudah diterima ketika terbalut kata dan nada yang penuh pengertian. Ketika seseorang sudah mengakui kekurangan atau kesalahannya, jangan pernah kerapuhan yang jujur ini kita jadikan senjata untuk memukulnya lebih lanjut.

Sadar bahwa dua orang yang bertengkar itu sesungguhnya adalah dua orang yang sedang sedih. Namun dalam pertengkaran, seringkali hal terakhir yang kita ungkapkan adalah mengakui kita sedang sedih dan terluka. kita bisa akui ini dengan bermartabat: “Kita tidak marah-marah atau memohon, tidak kuat dan tidak lemah, kita hanya berdiri dan mengungkapkan kesedihan dan kerapuhan kita” (de Botton, 2017).

Sadar bahwa kita semua punya bagasi emosi yang terkumpul sejak kecil, biasanya dalam bentuk luka. Reaksi manusia terhadap apa pun punya akar yang seringkali bisa ditelusuri dari masa kecil atau masa lalu.

Sadar bahwa manusia yang kurang tidur pasti lelah. Penelitian menunjukkan, kurang tidur membuat kita sulit mengendalikan emosi, jadi cepat tersulut (BBC, 2017).

Pertengkaran itu bukan kompetisi debat. Tidak akan ada piala. Tujuan akhir pertengkaran sehat adalah untuk menciptakan hubungan dan hidup yang lebih baik dengan orang yang kita sayangi.

Nah, bagaimana bertengkar secara sehat? Ini kiat yang bisa dicoba:

  1. Dengarkan diri. Ketika Anda merasakan emosi yang mengganggu, cari tahu sumber perasaan ini — Apakah kita sedang merasa tidak dimengerti, dipedulikan, dihormati, dihargai dan dicintai atau kurang tidur. (Thich Nhat Hanh, 2017; de Botton, 2017; Perel, 2017). 
  2. Ketika cekcok dengan pasangan misalnya, hanya bahas PERILAKU pasangan yang kita anggap mengganggu, bukan malah mengungkit apa yang salah dengan KARAKTER pasangan (Perel, 2017). Tidak ada manusia yang suka karakternya dicap jelek. 
  3. Ungkapkan apa yang Anda rasakan dengan hati hati memilih kata, pakai pula nada yang tenang. Ketika dua orang bertukar kalimat seperti ini, mereka akan bisa memahami dan dipahami satu sama lain lebih baik (Thich Nhat Hanh, 2017). 
  4. Hindari menggunakan kata ‘kamu selalu’ atau ‘kamu nggak pernah’. karena kita tahu kenyataannya tidak demikian.
  5. Berusaha mendengar lebih baik untuk mengurangi kesalahpahaman. Saat dalam situasi konflik dan ketegangan meningkat, kita hanya mampu mendengar 10 detik saja atau tiga kalimat sebelum kemudian berhenti mendengarkan untuk menyiapkan kalimat balasan (Perel, 2017).
  6. Ketika ketegangan meningkat, ambil jeda untuk dinginkan kepala, sebelum menyesal terlanjur mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Katakan pada pasangan Anda butuh jeda dan memisahkan diri ke ruangan lain untuk sementara. Tapi Anda janji akan kembali dengan tujuan memperbaiki situasi dengan kepala dingin (Thich Nhat Hanh, 2017). 
  7. Jika perlu, tulis surat kepada pasangan. Menulis surat bisa jadi momen reflektif bagi diri sendiri dan bagi orang yang membacanya.
  8. Ketika salah, jangan tunda minta maaf. Permintaan maaf yang tulus bisa membawa lega bagi yang menerimanya (Thich Nhat Hanh, 2017) dan yang memberi.

Contoh situasi: Anda sering menemukan baju kotor pasangan tergeletak di sembarang tempat. Anda dan dia sama-sama sibuk dan tidak punya asisten rumah tangga. Anda suka dengan kondisi rumah yang bersih maka itu Anda lebih sering bersih-bersih dibandingkan pasangan. Namun dalam hati, Anda sebetulnya berharap pasangan juga ambil bagian merawat rumah.

Ada dua skenario pertengkaran:

A: Duh, sumpek ngeliat baju kotor kamu di mana-mana. Kenapa sih kamu tuh SELALU nggak bisa rapi?

B: Selalu?

A: Aku NGGAK PERNAH liat kamu bersih-bersih sama sekali. Aku tuh capek tiap kali aku TERUS yang ngurusin urusan rumah.

B: Kamu terus yang ngurusin rumah?

A: Aku kan udah bilang berkali-kali, kenapa sih kamu nih susah banget kalo dibilangin?

B: Yang selalu buang sampah dan bersihin toilet siapa? Kamu tuh kenapa sih?

Atau

A: Sayang, kita berdua kan selalu ngerasa nyaman kalau rumah bersih dan rapi.

B: Ya?

A: Aku beberapa kali liat baju kotor kamu dimana-mana. jujur aku ngerasa sumpek kalau rumah berantakan.  Boleh nggak, please, kamu langsung taruh baju kotor di keranjang cucian?

B: Oh ya, sori sayang, aku bakal taruh baju kotor di keranjang cucian. 

A: Makasih ya sayang udah mau ngerti.

Ketika kita bertengkar dengan sehat, ini tidak hanya membantu kita dan orang lain menjadi manusia yang lebih baik, tapi juga membantu kita mencintai dan dicintai lebih baik.

Related Articles

Card image
Self
On Marissa's Mind: Susah Tidur?

Dalam buku Why We Sleep (Mengapa Kita Tidur), Profesor Matthew Walker merangkum 17.000 lebih laporan ilmiah yang membuktikan bahwa tidur 7-8 jam sehari secara rutin adalah salah satu cara terbaik untuk menjaga kesehatan fisik dan mental Anda. Dengan tidur sehat, Anda menjaga kesehatan otak anda. Jadi lebih mudah menyerap dan menyimpan informasi baru dan menurunkan resiko demensia.

By Marissa Anita
01 August 2020
Card image
Self
Ekspresi Jiwa

Retreat adalah momen kita memberikan jeda pada keseharian untuk membuat air yang keruh tadi berproses menjadi jernih. Sehingga kita bisa berpikir lebih jernih tentang hidup dan diri kita sendiri.

By Zia Kusumawardini
01 August 2020
Card image
Self
Menghidupkan Hidup

Manusia hanya mampu mengalami jiwa dan raganya semata-mata lewat panca indranya. Data yang diterima dari kelima indra menghasilkan stimuli yang akan diterima oleh otak. Umumnya, otak akan otomatis merespon dengan memunculkan persepsi, yang biasanya begitu cepat dan rapat, sehingga manusia selalu bereaksi dengan tidak sadar. Celakanya, karena ketidaksadarannya ini, manusia seringkali jatuh dalam kondisi tegang dan stres.

By Greatmind x Mindfulproject
01 August 2020