Self Lifehacks

Nilai Sebuah Ke(tidak)puasan

Aulia Meidiska

@auliamei

Penulis

Ilustrasi Oleh: Hwang T (Atreyu Moniaga Project)

Semua makhluk hidup di semesta baik manusia, hewan, maupun tumbuhan hidup berdampingan. Satu dan lainnya diciptakan untuk saling membantu dalam bertahan hidup. Satu dan lainnya pun diciptakan untuk saling mempengaruhi dalam bertindak maupun berpikir (meski mungkin tidak dengan tumbuhan). Secara tidak sadar saat kita manusia memutuskan sesuatu banyak faktor eksternal diri berkontribusi dalam proses berpikir dan memilih. Seringkali keputusan tersebut berhubungan dengan pihak-pihak lain di luar pribadi kita. Secara tidak sadar pula ketidakpuasan kita berasal dari keinginan-keinginan yang bukan lahir murni dari dalam diri. Tuntutan untuk menjadi seseorang yang lebih pintar, elok, kaya, dan sebagainya, seringkali bermuara dari orang-orang sekitar kita. 

Ketidakpuasan kita berasal dari keinginan-keinginan yang bukan lahir murni dari dalam diri.

Sejak lahir kita tidak dibiarkan untuk mudah puas begitu saja, atau sebenarnya mungkin tidak dibiarkan untuk memuaskan orangtua atau keluarga kita. Semisal ketika masih balita. Banyak orangtua akan mulai gusar saat kita belum bisa berjalan atau berbicara padahal anak orang lain sudah lebih dulu. Sebisa mungkin kita dilatih terus-menerus untuk bisa mencapai target tersebut. Dilanjutkan dengan kehidupan sekolah dengan tuntutan harus pintar matematika, harus mendapat banyak bintang, nilai sempurna, hingga ranking paling tidak lima besar. Kala nilai jelek kita tidak diberikan sanjungan dan tidak diapresiasi. Malah dipertanyakan, “Kok, nilainya jelek? Kamu malas belajar, ya? Main terus setiap hari, ya?” Padahal mungkin memang kita kurang memahami mata pelajaran tersebut atau kurang suka. Bukan berarti kita memang harus menguasai semua mata pelajaran yang ada di sekolah bukan? Tapi begitulah pemikiran kita akan ketidakpuasan dibentuk dari kecil. 

Seorang ilmuwan asal Inggris, James Lovelock pun berteori bahwa manusia modern masih mewarisi residu pola pikir purba yang ingin berkuasa dan mengutamakan kepuasan anggota tribanya semata. Sehingga tidak peka terhadap kepentingan yang sifatnya lebih besar. Rasa ingin berkuasa akan orang lain, akan situasi tertentu membuat kita tidak mudah puas. Ketidakpuasan kemudian mengakar di kehidupan kita. Turun temurun dari generasi ke generasi, ketidakpuasan menjadi kebiasaan dan lama-kelamaan jadi kebutuhan. Kita seolah butuh untuk merasa tidak puas agar bisa memperlihatkan peningkatan hidup. Selama kita masih bermukim dengan manusia lainnya, kebisingan akan rasa tidak puas pasti akan tetap hidup dalam benak. Bahkan terkadang menjadi motivasi untuk bertahan hidup. Faktanya memang lebih banyak orang yang belum dapat menguasai ilmu penerimaan diri. Sehingga akan sulit baginya untuk juga menerima orang lain dan keadaan.

Kita seolah butuh untuk merasa tidak puas agar bisa memperlihatkan peningkatan hidup.

Lalu apakah jawabannya adalah untuk hidup sendiri di tengah area tanpa peradaban? Pernah dilakukan oleh seorang pecinta alam dari Amerika, Chris McCandless, mengasingkan dirinya dari peradaban dan menjalani hidup di tengah hutan belantara. Dalam buku Into The Wild yang juga diadaptasikan ke dalam film berjudul sama, sang penulis autobiografi menceritakan bagaimana Chris mencoba untuk mencari alternatif hidup. Sebagai manusia yang terbebas dari segala kenyamanan, materi dan tuntutan “ketidakpuasan”. Secara singkat, dia digambarkan sebagai pribadi yang lelah akan materi, akan target, kesempurnaan dan hal-hal duniawi lainnya. Dia akhirnya memilih jalan kesendirian, tanpa materi, tanpa berbekal apapun demi mencapai sebuah kebahagiaan sejati tanpa pengaruh dari pemikiran dan keinginan orang lain terhadap dirinya. Sayangnya, bukannya merasa bahagia, Chris justru menyadari bahwa bahagia itu ketika kita bisa membaginya dengan orang lain. Jadi tidak, menjauhkan individu lain dari hidup kita, tinggal sendirian tanpa apapun bukan solusi untuk akhirnya kita bisa menerima diri sendiri, puas akan hidup dan bahagia. Kita tetap butuh orang lain untuk merasa puas, untuk bahagia.

Akan tetapi kata “puas” sendiri sering dikonotasikan negatif. Berangkat dari ilmu ekonomi yang menjelaskan bahwa sebagai makhluk ekonom, manusia tidak pernah puas, kata puas kebanyakan dikaitkan dengan materi, harga, nama baik, dan segala sesuatu yang sifatnya duniawi. Setiap hari kita mendasari kepuasan atas apa yang sudah orang lain tentukan. Jika kita belum punya rumah seperti si A, berarti kita belum boleh puas. Jika kita belum menikah seperti si B, berarti kita belum boleh puas. Jika kita belum memiliki jumlah followers seperti si C, berarti kita belum boleh puas. Bahkan secara tidak sadar bukannya jarang kita belum boleh puas sampai kita melihat orang lain puas akan kemampuan atau usaha kita. Itu semua kembali kepada pengertian kata “puas” yang kita serap sedari kecil sehingga kita tidak lagi dinutrisi untuk mendeskripsikan kata “puas” dengan arti lainnya.

Bahagia itu ketika kita bisa membaginya dengan orang lain.

Kalau dilihat dari konteks ini memang seakan-akan ketidakpuasan menjadi amat salah juga tersirat bahwa manusia harus cepat puas. Begini, tidak ada salahnya merasa tidak puas. Tapi mengapa kita tidak mencoba mengalihkan pengertian tidak puas ke hal yang tak selalu materi. Mencari kepuasan batin. Kepuasan untuk pengembangan diri tanpa embel-embel keinginan lebih dari makhluk hidup lainnya. Contohnya tidak cepat puas melestarikan lingkungan. Biarkanlah kita memberikan apresiasi pada diri sendiri tanpa orang lain perlu tahu. Misalnya hari ini kita sudah tidak menggunakan sedotan plastik sekali pakai. Jangan cepat puas untuk melakukan satu hal itu saja. Tingkatkan dengan tidak lagi menggunakan botol plastik sekali pakai. Terus lakukan hal lain dari waktu ke waktu. Jika memang orang lain mengetahui aktivisme ini dan mencontoh, jadikan itu sebagai bonus tanpa perlu menyombongkan diri dan merasa lebih baik dari orang lain. Cukup merasa puas ternyata kehadiran kita berguna untuk menginspirasi orang lain. Jadikan apresiasi orang lain sebagai penghargaan diri tanpa perlu memercik ambisi dan menyulutnya menjadi obsesi. Seakan apresiasi orang lain -pengakuan orang lain, lebih penting untuk didapat ketimbang kepuasan batin akan perilaku baik yang sudah dilakukan.

Ingat tidak dengan film Leonardo DiCaprio, The Wolf of Wall Street, yang juga berasal dari kehidupan nyata? Pelajaran berharga dari film tersebut adalah ketidakpuasan materi, duniawi, hanya akan menuntun kita dalam kerakusan, konsumerisme, krisis hidup dan berakhir pada kehilangan. Sejatinya, sesuatu yang berlebihan, apapun itu, hanya akan menjadi bumerang untuk hidup kita. Boleh tidak cepat puas, asal jangan berlebihan. Asal kita tahu bagaimana bisa mengendalikan ego akan ketidakpuasan itu. Tahu membedakan apakah ketidakpuasan itu untuk kebutuhan atau untuk kesombongan kita. Dan asal tahu batas dan tahu kapan akhirnya harus berkata: “Sudah cukup”.

Kita tetap butuh orang lain untuk merasa puas, untuk bahagia.

Related Articles

Card image
Self
Tetap Berada Di Lingkaran

Terkadang kita lupa kalau bumi itu bulat. Terkadang kita lupa akan konsep alfa dan omega di mana keduanya berpusat pada satu titik. Terkadang kita lupa bahwa hidup itu polanya adalah sirkular (melingkar) bukan linear (garis lurus). Berawal dan berakhir di sebuah titik yang sama.

By Era Soekamto
14 September 2019
Card image
Self
Titik Keseimbangan Hidup

Dunia olahraga pun mengajarkanku banyak hal termasuk keseimbangan hidup. Kala aku harus melatih seseorang sebenarnya aku pun terbantu memahami diriku sendiri. Tidak hanya mereka yang terbantu untuk mencapai gol kebugaran mereka, proses berlatih dan melatih pun mengajarkanku untuk memahami gol kebugaranku sendiri. Hingga aku mengerti bahwa hidup itu harus berada tengah, seimbang.

By Dinda Utami
14 September 2019
Card image
Self
Membangkitkan Energi Dalam Diri

Percaya tidak bahwa setiap orang itu pasti punya masa di mana kita merasa berada pada titik paling bawah hidup dan hampir merasa tidak lagi kuat menghadapi tantangan? Sebagian dari kita pasti pernah berada dalam masa-masa “kegelapan” yang mencampurkan segala emosi, dan pikiran sampai menghasilkan sebuah energi negatif lalu berperilaku negatif.

By Mutia Nandika
14 September 2019