Self Lifehacks

Menjadi Subjek Dalam Diri Ketimbang Menjadi Objek

Setiap akhir tahun selalu ada era dimana resolusi atau target menjadi topik utama dalam sosial media atau bahkan menjadi topik pembicaraan dalam makan malam pergantian tahun. Beragam target dipaparkan dan menjadi motivasi utama. Entah itu konsisten atau hanya bertahan beberapa saat. Saya pun sering melupakan target awal tahun – apalagi yang berkaitan dengan olahraga.

Namun baru tahun 2019 saya tidak menuliskan resolusi dan target pencapaian seperti tahun-tahun sebelumnya. Saya cuma menulis dua prinsip dan berpegang pada ‘falsafah’ dua kata dalam Bahasa Jawa.

Ketika menyinggung mengenai resolusi tahun baru, ada kalanya orang yang mengatakan bahwa resolusi bisa menjadi sebuah motivasi menyongsong hari mendatang. Tidak sedikit pula ada penganut prinsipYou Only Live Once yang mengedepankan prinsip ‘kesempatan hanya datang kali ini, ambil!’ Tidak ada yang salah dengan keduanya, kita bisa memilih salah satunya jika memang sesuai dengan prinsip diri kita – plus kemampuan.

Ojo Ngoyo – itu adalah dua kata bahasa jawa yang terus saya pegang saat ini. Sedikit mirip dengan ucapan Alm. Gus Dur, “Gitu aja kok repot.” Kedua kalimat tersebut menurut saya memiliki kesamaan dalam hal mengatur mindset kita.

Ojo Ngoyo ini yang terus saya pikirkan di kala semangat saya menggebu, ketika target pekerjaan atau apresiasi terhadap saya terlampau tinggi. Saya diingatkan untuk jangan menggemborkan kegembiraan atau selebrasi keberhasilan itu terlalu jauh, sebab mawas diri itu perlu. Sementara Ojo Ngoyo yang lain terpatok waktu kekecewaan terhadap sesuatu menimpa saya. Saya diingatkan untuk jangan terlalu hanyut dalam kekecewaan dan kebencian pada diri sendiri, namun biarkan saja terjadi, terima, dan perlahan bangkit dari kekecewaan itu.

Ojo ngoyo. Saya diingatkan untuk jangan menggemborkan kegembiraan atau selebrasi keberhasilan itu terlalu jauh, sebab mawas diri itu perlu.

Begitu pun dengan target saya setiap saya ‘diminta’ membuat resolusi tahun depan. Memang menyenangkan, sih, membuat sejumlah wishlist apa yang ingin kita capai. Mimpi-mimpi yang belum tercapai di tahun-tahun sebelumnya, bahkan mimpi yang jauh tak terbayangkan sebelumnya. Saya suka menuliskan dan menggantungkannya di magnet kulkas sebagai reminder. Saya jadikan itu sebagai pengingat bahwa, "Oh, ternyata saya punya mimpi itu." Paling tidak itu saya lakukan dua tahun lalu.. Sementara tahun lalu saya mencoba untuk tidak menuliskan target besar dalam hidup.

Tidak jarang saya lihat terlalu tinggi mimpi itu untuk dicapai. Apakah kita akan menyerah dan membiarkan mimpi itu menjadi tulisan belaka? Tidak, mari lihat kembali mimpi itu, terima keadaan kita sekarang, dan atur strategi untuk bisa menggapai mimpi itu sesuai kemampuan.

Tidak jarang saya lihat terlalu tinggi mimpi itu untuk dicapai. Apakah kita akan menyerah dan membiarkan mimpi itu menjadi tulisan belaka?

Motivasi dari resolusi itu benar positif adanya. Bahkan itu mendorong kita agar semakin mengejar target kehidupan kita ke depan. Namun ada kalanya banyak orang yang terjebak dalam pemikiran ketimbang pelaksanaan. Hal itu karena secara tidak sadar kita belum menjadi ‘subjek’ dalam goals kita, sedangkan yang ada kitalah yang hanya menjadi ‘obyek’ dalam arus jalan hidup. Jadilah subjek dalam perjalananmu, bukan obyek yang mengikuti arus.

Ketika lengah, ada kalanya kita melihat ukuran ‘ideal’ goals orang adalah setara dengan goals kita. Ketika tidak tercapai, tidak sedikit kekecewaan itu memuncak dan kita merasa gagal pada diri sendiri. Mari kita ingat, bahwa setiap orang memiliki finish-nya masing-masing. Kalau kita salah memilih finish atau bahkan ‘perlombaan’ itu, kegagalan akan selalu menjadi finish kita.

Mari kita ingat, bahwa setiap orang memiliki finish-nya masing-masing.

Perjalanan 2019 pula mengajarkan saya mengenai berzona nyaman. Apakah berbahaya? Ada artian, kita hanya akan mengikuti arus sambil menunggu waktu – maka talenta kita dinilai tidak akan berkembang atau bahkan stagnan. Artinya dari pendapat itu, kita harus berani keluar dan berkomitmen di medan lain.

Tapi ada tanggapan yang memaparkan bahwa tidak ada salahnya berkutat di zona nyaman kita. Dalam artian, karena ‘nyaman’ berarti kita sudah mengenal segala sisi dalam zona tersebut. Atau kita bisa lebih mudah mengembangkan segala potensi dalam zona tersebut. Kita pun bisa berkembang.

Namun ada benang merah yang menyatukan dua kutub tersebut. Yakni ‘kita’ sebagai subyek dalam zona nyaman tersebut. Semua bergantung dalam diri kita, apakah kita memang bisa berkomitmen dalam upaya mengembangkan diri tersebut, atau sekedar mau saja. Strategis atau taktis. Mau atau bisa. Semua ada di kita.

Selamat tahun baru, semoga kita semakin dewasa dan semakin mengenal diri kita sendiri.

Related Articles

Card image
Self
Jujur dalam Bersyukur

Rasa syukur adalah perasaan berterima kasih atas apa yang telah kita terima. Tetapi, kecenderungan kita adalah untuk bersyukur dengan membandingkan diri akan apa yang kita alami terhadap kemalangan yang terjadi pada orang lain. Sehingga, alih-alih rasa syukur membantu membebaskan diri dari perbandingan sosial, kebutuhan akan rasa syukur malah menjebak kita dalam perbandingan.

By David Irianto
04 July 2020
Card image
Self
Perempuan Punya Pilihan

Pembekuan sel telur di Indonesia belum banyak diperbincangkan di masyarakat. Padahal pembekuan sel telur sebenarnya dapat menjadi sebuah pilihan bagi para perempuan untuk merencanakan masa depannya. Terlepas sudah atau belum menikah.

By Andini W. Effendi
04 July 2020
Card image
Self
Mengarungi Naik Turun Kehidupan

Dunia terus berputar layaknya roda kehidupan kita. Terkadang ketika kita sedang berada di atas bisa saja tiba-tiba harus berada di bawah karena kondisi yang tidak bisa dihindari. Wajar jika berbagai emosi hinggap dan memicu pertempuran batin. Namun pada akhirnya apapun keputusan yang diambil kita harus belajar menerima dan mensyukuri prosesnya. Sebab bisa saja di situasi tersulit yang dihadapi kita justru menemukan misi hidup yang sebenarnya. 

By Yan Budi Nugroho
04 July 2020