Self Love & Relationship

Mencintai Diri Untuk Mencintai Sesama

Rasanya kata self-love atau mencintai diri sendiri sudah tidak asing kita dengar dalam keseharian. Kampanye untuk mencintai diri sendiri hadir di berbagai saluran media sosial. Mencintai diri sendiri seakan menjadi sebuah premis yang menjamin kebahagiaan kita. Tidak jarang, sebagian dari kita juga tidak sadar menggunakan premis tersebut untuk mendahulukan kepentingan pribadi alih-alih kesehatan mental. Tanpa benar-benar memahami apa tujuan utama yang sebenar-benarnya tentang mencintai diri sendiri.

Benar, mencintai diri sendiri adalah sesuatu yang amat penting. Tapi tanpa memahami apa motivasinya, kita bisa terperangkap dalam ruang keegoisan (selfish). Pemahaman tentang mencintai diri sendiri bisa dijelaskan dengan teori Abraham Maslow, Hierarchy of Needs. Menurutnya, manusia memiliki lima tingkatan kebutuhan. 

Benar, mencintai diri sendiri adalah sesuatu yang amat penting. Tapi tanpa memahami apa motivasinya, kita bisa terperangkap dalam ruang keegoisan.

Pertama, kebutuhan fisik yang mendasar seperti makan, minum, tempat tinggal, kesehatan. Kedua adalah kebutuhan keamanan seperti kestabilan pekerjaan dan keuangan. Ketiga adalah kebutuhan emosional seperti hubungan pertemanan, percintaan dan keluarga. Di tingkatan ini manusia butuh merasa dicintai dan diterima di satu komunitas atau kelompok tertentu. Keempat adalah kebutuhan akan rasa penghargaan atau penghormatan. Di level ini kita butuh rasa hormat dari dalam diri maupun dari orang lain dalam rangka mendapat kepercayaan diri, kebebasan, dan validasi. Yang terakhir dan tingkat paling tinggi adalah kebutuhan aktualisasi diri. Pada tingkat terakhir mereka butuh untuk menyalurkan segala kemampuan dan potensi diri kepada orang lain. Bukan lagi untuk mendapatkan validasi tapi untuk kepuasan diri.

Dalam pemenuhan kebutuhan tingkat paling dasar hingga ketiga biasanya kita seringkali masih berkutat dengan diri sendiri. Sebelum kebutuhan fisik, keamanan, dan emosional terpenuhi kita tidak jarang rela untuk menanggalkan kepentingan pribadi (self-lack). Tidak jarang juga kita menjadi people pleaser atau menyenangkan orang lain asal dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Namun, ketika kebutuhan ketiga kebutuhan pertama sudah terpenuhi kita beranjak dari self-lack menjadi selfish karena tidak ingin kehilangan kebutuhan-kebutuhan tersebut. 

Namun seiring berkembangnya diri, setelah kebutuhan emosional kita terpenuhi yaitu merasa dicintai dan mencintai, kita akan butuh rasa dihormati dan dihargai atas kemampuan diri. Abraham Maslow membagi kebutuhan tingkat keempat ini menjadi dua yaitu penghargaan dari luar dan dari dalam diri. Kita butuh mencintai diri sendiri agar bisa menghormati diri sendiri. Kita juga butuh dihargai oleh orang lain untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan martabat. Di sinilah kita sampai pada self-love.

Sayangnya, sebagian dari kita berhenti di sini. Berhenti di tahap mencintai diri sendiri di mana sebenarnya dia kembali pada tahap sebelumnya: selfish. Dengan alasan memberikan prioritas pada diri sendiri, mencintai diri sendiri, kita mengesampingkan orang lain yang mungkin juga butuh perhatian kita. Kita mengutamakan kepentingan diri sendiri dengan berlindung di bawah payung self-love. Membuat batas dengan orang lain tanpa harus dikatakan egois. Padahal jika kita mau untuk terus mengembangkan diri dan mengetahui tujuan hidup yang sebenarnya kita butuh memenuhi kebutuhan yang terakhir: aktualisasi diri.

Sayangnya, sebagian dari kita berhenti di tahap mencintai diri sendiri di mana sebenarnya dia kembali pada tahap sebelumnya: selfish. Dengan alasan memberikan prioritas pada diri sendiri, mencintai diri sendiri, kita mengesampingkan orang lain yang mungkin juga butuh perhatian kita.

Saat kita sudah memenuhi keempat kebutuhan tadi, dan sudah merasa penuh, inilah saatnya kita menuangkan diri pada orang lain. Seperti aturan di pesawat saat darurat, kita harus memakai tabung oksigen milik kita terlebih dahulu baru membantu orang lain memakainya. Tapi ingat, kita memakainya untuk membantu orang lain. Bukan memakai saja lalu tidak peduli keselamatan orang lain. Inilah bedanya antara self-love yang selfish dan self-love untuk selfless. Kita harus memenuhi rasa cinta untuk diri sendiri agar ketika nantinya berbagi rasa cinta yang dimiliki pada orang lain, semua bukan lagi untuk validasi atau penghormatan. Tapi karena kita merasa butuh memberikannya. Tanpa alasan apapun. 

Inilah bedanya antara self-love yang selfish dan self-love untuk selfless. Kita harus memenuhi rasa cinta untuk diri sendiri agar ketika nantinya berbagi rasa cinta yang dimiliki pada orang lain, semua bukan lagi untuk validasi atau penghormatan. Tapi karena kita merasa butuh memberikannya. Tanpa alasan apapun. 

Aktualisasi diri adalah tujuan hidup kita seutuhnya. Di mana kita tidak lagi hidup untuk diri sendiri, tapi untuk orang-orang di sekitar kita. Di tahap itu, kita sudah mengetahui peran diri di dunia. Menjawab pertanyaan eksistensi kita hidup di dunia. Barulah di saat itu kita bisa memaknai hidup seutuhnya sebab kebahagiaan datang tidak hanya dari dalam diri tapi juga luar diri. Seperti juga yang ada dalam konsep kontraktualisme dari T.M Scanlon tentang moral dan etika bahwa kita manusia sebenarnya saling berhutang kehidupan dengan manusia lainnya. Kita bisa hidup saat ini karena ada manusia sebelumnya sehingga sebenarnya kita hidup untuk "membayar hutang" pada manusia lainnya. Jadi sebenarnya kita baru akan merasa content, puas, penuh, jika sudah memahami tujuan hidup kita di kehidupan ini. Tujuan hidup yang sesungguhnya pun tidaklah hanya berkutat pada diri sendiri. 

Sekarang coba tanyakan pada diri sendiri: Sudah sampai tingkat kebutuhan manakah aku?

Related Articles

Card image
Self
Tinggal Dalam Pluralisme

Keberagaman berpotensi memiliki dampak negatif dan positif. Pertama, membuat masyarakat yang tinggal dalam keberagaman memiliki toleransi tinggi. Tapi di satu sisi lain bisa membuat sebagian menjadi etnosentris, atau masyarakat yang cenderung memiliki sikap dan pandangan yang berpangkal pada budayanya sendiri.

By Wisnu Ikhsantama
17 April 2021
Card image
Self
Menilai Kesalahan

Takaran kesalahan setiap orang pasti berbeda-beda. Akan tetapi, menurutku pribadi kesalahan bisa diartikan jika kita melakukan sesuatu yang merugikan orang lain atau diri sendiri. Sebuah tindakan yang melewati batas-batas aturan tertentu.

By Ghaniyya Ghazi
17 April 2021
Card image
Self
Microflow: Menikmati Hal-Hal Sederhana

Saat masa pandemi ini, banyak orang mengeluh betapa bosannya mereka. Banyak aktivitas dilakukan untuk mengurangi rasa bosan, mulai dari menonton drakor berseri, membaca buku, bahkan memiliki hobi baru. Bisa jadi aktivitas tersebut memang menghilangkan kejenuhan kita, di satu sisi bisa jadi hal tersebut hanya pengalihan sementara. Bagaimana sebenarnya berdamai dengan situasi seperti ini? 

By Dr. Clara Moningka
17 April 2021