Self Lifehacks

Memulai Tahun dengan Segala yang Baik

Greatmind

@greatmind.id

Redaksi

Fotografi Oleh: Danil Aksenov (Unsplash)

Menjelang akhir tahun banyak dari kita mulai meninjau kembali apa saja yang sudah dilakukannya sepanjang tahun. Apa yang sudah dipersiapkannya untuk tahun depan. Terkadang malah kita menoleh ke kanan-kiri untuk membandingkan apa yang sudah mereka lakukan namun kita belum. Bahkan tak jarang kita seakan mencontek apa yang mereka akan lakukan di penghujung tahun untuk bersenang-senang. Seolah-olah perayaan yang dilakukan mereka adalah aktivitas yang harus dilakukan. Tidak peduli apakah kita mampu atau tidak, benar-benar suka atau tidak. Yang terpenting kita menyiarkan kesenangan yang “taraf”-nya setingkat dengan mereka. Tahu teman A akan merayakan tahun baru di salah satu negara bermusim salju kita langsung cek situs pesawat dan hotel di negara serupa. Tak mau kalah. Melihat teman B merayakan Hari Natal bersama keluarga di restoran mewah kita pun langsung melakukan reservasi di tempat yang sama. Sepekan sebelum tahun baru seakan menjadi waktu yang krusial untuk kita menjaga eksistensi dalam sebuah perayaan yang tak biasa. Tidak mau ketinggalan momen.

Tapi apakah kita sudah memikirkan seberapa meningkatnya taraf kebahagiaan kita? Sudahkah kita cukup merasa puas sepanjang tahun akan apa yang kita kerjakan, lakukan, pikirkan?

Terkadang kita fokus pada sesuatu yang wah ketika menghadapi tahun baru. Sesuatu yang tampak dari kulit luarnya saja. Sampai-sampai kita melupakan hal-hal lain yang lebih harus dipersiapkan untuk menyongsong tahun baru. Kita melupakan kondisi kesehatan fisik dan mental. Mentang-mentang liburan lalu tidak lagi menjaga pola makan. Mentang-mentang liburan lalu konsumsi berlebihan. Mentang-mentang liburan lalu langsung bergabung dalam hingar-bingar pesta sana-sini padahal mungkin kita tidak berada dalam kondisi yang memungkinkan. Mengapa tidak kita gunakan waktu yang ada justru untuk menutup tahun dengan sesuatu yang baik? Merefleksikan kembali apa yang sudah kita lakukan setahun ini, melakukan evaluasi diri. Kemudian menutup tahun dengan memulai kebiasaan baik untuk diteruskan di tahun depan.

Hal paling utama untuk dilakukan adalah memicu kesadaran dalam diri akan apa yang kurang baik terjadi selama ini. Misalnya melakukan evaluasi pada pola makan. Ketimbang menghabiskan banyak uang di liburan akhir tahun dengan pergi dari satu restoran ke restoran lain, lebih baik merencanakan pola makan mindful sebagai resolusi tahun depan. Rasanya memulai tahun baru dengan kondisi tubuh yang sehat jauh lebih bermakna dari pada kelebihan berat badan di awal tahun baru bukan? Tidak hanya berhenti di sana, akhir tahun sebenarnya dapat dijadikan waktu paling baik untuk beristirahat panjang. Melakukan berbagai aktivitas berkualitas untuk mengembalikan seluruh energi satu tahun ini. Coba ingat lagi seberapa banyak waktu lembur yang telah mengurangi waktu berelaksasi. Waktu-waktu yang seharusnya bisa dihabiskan untuk tidur, meningkatkan elemen spiritual atau untuk berkumpul bersama keluarga dan orang-orang yang disayangi. Selagi berlibur, cobalah memaksimalkan waktu yang ada untuk menata kembali waktu istirahat, waktu berkualitas bersama diri sendiri dan orang-orang terdekat. Nantinya, kita jadi bisa membuka lembaran baru dengan suasana hati yang lebih baik. 

Bayangkan kalau sebaliknya kita sudah menghabiskan banyak uang dan tenaga untuk bersenang-senang di akhir tahun. Lalu tiba-tiba kita baru teringat bahwa masih ada satu bulan untuk berjuang dengan uang yang ada di kartu atm tersebut. Bukannya bahagia kita malah akan stres di awal tahun memikirkan bagaimana melalui hari-hari setelah perayaan besar-besaran kemarin. Memang, sebagian dari kita adalah pribadi yang menjunjung tinggi momentum. Apabila ada hari-hari besar kita rela mengorbankan banyak hal agar tidak ketinggalan yang lain. Tapi kalau dipikirkan kembali, kebahagiaan yang kita buat saat momentum itu hanya bersifat sementara. Paling hanya seminggu dua minggu. Setelah momennya lewat lalu apa? Bukannya lebih baik kita menginvestasikan waktu dan tenaga untuk kebahagiaan jangka panjang? 

Sah-sah saja memang merayakan hari-hari besar dengan sesuatu yang berbeda. Situasi yang hingar-bingar. Namun kita harus tetap bisa mengendalikan diri. Harus tetap bisa berpikir panjang, tidak impulsif mencari kesenangan sesaat. Nyatanya, tetap berada dalam kesadaran penuh, berada dalam kondisi yang mindful tidak hanya diperlukan di rutinitas di hari-hari normal saja. Pun di hari-hari besar yang penuh dengan gejolak perayaan. Toh kita bisa tetap bahagia meski tidak dengan cara yang sama seperti orang lain. Perasaan bahagia datangnya dari hati dan pikiran sendiri. Bukan dari seberapa banyak pengakuan dan komentar orang lain terhadap postingan media sosial kita di malam tahun baru.

Related Articles

Card image
Self
On Marissa's Mind: Stoikisme, Filosofi Anti Cemas (Bagian 2)

Stoikisme adalah kerangka berpikir dalam hidup yang sangat berguna terutama ketika menghadapi situasi yang sangat menantang atau stress, kecemasan atau amarah. Stoikisme membantu kita tetap tenang sehingga mampu berpikir jernih, mengambil keputusan terbaik dan menghindari stress. 

By Marissa Anita
08 May 2021
Card image
Self
Passion Untuk Merasa Lebih Hidup

Bayangkan jika hidup ini dilalui begitu saja tanpa tahu apa motivasi menjalaninya. Hidup bisa terasa hambar jika kita tak tahu apa yang benar-benar disukai atau diinginkan, tanpa ada hal-hal yang mendorong untuk terus semangat dan maju. Kita butuh passion untuk merasa hidup. Untuk memiliki tujuan dalam menjalani keseharian sehingga kita bisa merasa terdorong untuk sampai di sana.

By Radhini
08 May 2021
Card image
Self
Memilih Dengan Tujuan

Buatku, memiliki passion amatlah penting. Passion bisa mengarahkan tujuan hidup kita. Aku sendiri bisa dibilang mengejar tujuanku dengan passion. Aku berupaya mencapai tujuan hidup dengan apa yang disenangi. Rasanya kalau tidak ada passion, aku tidak tahu akan ke mana arah hidup ini karena ia adalah salah satu hal yang memberikan kesenangan dalam melakukan sesuatu.

By Ankatama
08 May 2021