Self Work & Money

Memulai Hidup Sederhana

Setiap orang memiliki pandangan berbeda-beda akan gaya hidup yang dipilihnya. Namun bagi saya, pilihan untuk meninggalkan Jakarta dan hidup sederhana di Bali, sejauh ini adalah yang saya rasa terbaik. Kebetulan, saya memiliki anak yang masih kecil, dan saya ingin ia dapat tumbuh dekat dengan alam seperti bermain pasir tiap hari dan menikmati penghijauan di setiap saat.

Tinggal di kota besar seperti Jakarta, bagi saya tidak lagi menyediakan lingkungan yang baik untuk saya berkembang. Ada satu titik di mana saya merasa sangat penat dan emosional. Saya telah memiliki banyak hal; rumah, kendaraan, serta barang-barang lain yang saya inginkan. Tapi, mengutip sebuah ungkapan ‘enough is never enough’, saya merasa seperti tidak pernah puas. Tiap hari, saya mengumpulkan uang untuk kemudian dihabiskan. Di kota besar, tingkat konsumerisme memang cukup tinggi. Kita dapat menjumpai pusat perbelanjaan, butik, supermarket, minimarket, dan segala macam jenis toko lainnya yang tersebar di tiap sudut. Sedikit-sedikit, terdapat kecenderungan bagi saya untuk mampir serta berbelanja sesuatu. Akibatnya, secara tidak sadar, saya menumpuk banyak barang di rumah. Rumah menjadi berantakan dan tidak memiliki lagi tempat bagi saya menyimpan barang-barang.

Suatu waktu, saat tengah hamil besar, saya merasa rumah yang saya tempati sudah sangat berantakan. Melihat hal ini, saya pun memutuskan untuk membenahinya. Barang-barang yang sudah tidak saya gunakan, saya tempatkan ke dalam kardus-kardus besar untuk kemudian disingkirkan. Hasilnya? Tiga hari saya belum selesai juga melakukan pembersihan ini. Banyak benda yang saya sendiri heran, dari tahun kapan saya menyimpannya karena sudah sangat lama, dan saya sendiri tidak mengingatnya. Emosional sekali rasanya saat itu melihat ‘keberantakan’ ini. Kesehatan pun sedikit terganggu sebab saya mudah batuk karena debu. Tidak baik sebenarnya kondisi ini bagi saya dan janin. Saya pun sedikit-sedikit bertengkar dengan suami karena kami sama-sama merasa penat; keluar rumah menghadapi kemacetan, begitu sampai ke rumah, berhadapan dengan barang-barang yang menumpuk. Saya dan suami pun menyadari, we’re fighting over nothing. Apa-apa menjadi terbawa emosi karena lingkungan yang kami tempati, rupanya sudah tidak terasa baik lagi bagi kami. Berangkat dari sini, kami pun akhirnya memutuskan pindah.

Saya percaya, bila kita telah memiliki niat akan segala sesuatu, biasanya proses menjalaninya akan terasa lebih mudah.

Saya percaya, bila kita telah memiliki niat akan segala sesuatu, biasanya proses menjalaninya akan terasa lebih mudah. Begitu pun dengan proses pindah ke Bali, yang saya bersyukur dilancarkan jalannya. Selain karena alamnya yang masih terjaga, saya menilai Bali sebagai daerah yang masih memiliki kendali dan pegangan atas budaya. Saya ingin mengajarkan pada anak, bila kita sebagai orang Indonesia, terlahir dari banyak keragaman budaya, dan saya ingin ia dapat mengenalinya. Oleh karena itulah, setelah sejumlah pertimbangan, saya dan suami lantas mengambil langkah konkrit untuk mulai hidup perjalanan di pulau ini.

Saat kita ingin mulai menyederhanakan hidup, paling mudah semuanya dimulai dari diri sendiri, serta keluarga kecil kita.

Saat kita ingin mulai menyederhanakan hidup, paling mudah semuanya dimulai dari diri sendiri, serta keluarga kecil kita. Memulai hidup di Bali, saya mendaftar apa saja yang saya dan suami miliki, lalu menentukan target selama tiga bulan untuk hanya memakai segala sesuatu yang telah tersedia. Pemasukan dan pengeluaran pun rutin saya catat untuk melakukan kontrol. Saat pada akhirnya setelah lewat tiga bulan kita dapat melampauinya, maka kita dapat naik ke tingkat selanjutnya. Tidak begitu sulit sebenarnya untuk melakukan perubahan bila telah memiliki niat. Tidak perlu berpikir kita harus memiliki baju, make up, skin care, dan lain sebagainya yang baru di setiap minggu atau bulannya. Habiskan dahulu saja yang ada, baru membeli kembali.

Sebelum ke Bali, persiapan menyortir barang sudah saya lakukan sejak di Jakarta. Barang-barang yang sudah tidak saya gunakan ini, ada yang saya berikan pada orang lain atau disumbangkan. Saya jadi merasakan betapa nikmat dan indahnya sikap berbagi itu. Kadangkala, karena kita tidak pernah berbagi sebelumnya, kita menjadi tidak tahu kalau ada orang lain yang ternyata membutuhkan apa yang kita miliki namun tidak perlukan. Rupanya, ada orang lain yang lebih membutuhkan dibanding kita.

Kadangkala, karena kita tidak pernah berbagi sebelumnya, kita menjadi tidak tahu kalau ada orang lain yang ternyata membutuhkan apa yang kita miliki namun tidak perlukan.

Tantangan saat proses sortir barang ini dilakukan, pasti ada kalanya kita dihinggapi sejumlah pikiran seperti, “kayaknya bajunya masih bisa dipakai nanti” atau “aduh, masih bagus, sayang ya disingkirkan.” Selalu ada alasan yang akan meruntuhkan niat awal saat memulai sesuatu. Menyikapi hal ini, apa yang saya lakukan biasanya adalah, pertama kembali berpikir ulang apakah saya benar-benar membutuhkan barang tersebut. Kedua, saya akan berpikir mengenai keberlanjutan. Bisakah barang ini dapat dipakai hingga seminimnya lima kali ke depan?

Bila dipikir-pikir, saat ini, perubahan yang paling saya rasa dari hidup lebih sederhana, salah satunya adalah malas dandan berlebihan. Padahal saya dulu seorang model. Sempat terlintas dalam benak bila saya pergi atau pulang ke Jakarta lalu tidak menggunakan make up seperti dahulu, apakah tidak apa-apa? Saya sudah tidak memiliki make up lagi, jadi apa yang bisa saya gunakan?  Bila sudah begini, saya akan kembali mengingatkan diri. Di Bali, saya cuek dan percaya diri saja tampil apa adanya walaupun tanpa make up serta mengenakan baju seadanya. Malah, saya jadi belajar bagaimana bisa memaksimalkan penampilan melalui padu padan pakaian. 75% baju saya sudah saya sumbangkan sejak dari kepindahan awal. Oleh karenanya, kini, saya mungkin hanya memiliki kurang dari 50 potong pakaian untuk digunakan setiap harinya.  Namun, dengan itu semua saja, saya telah merasa cukup sekali.

 

 

 

 

 

Related Articles

Card image
Self
Mengurai Keterikatan

Manusia seringkali ingin terikat dengan hal-hal yang berupa material karena sebagai manusia, kita cenderung tidak mau atau menghindari diri dari risiko. Termasuk risiko tertinggal yang menghadirkan FOMO (Fear Of Missing Out). Ketika kita terlalu terikat dengan benda, kita sebenarnya sedang mengurangi kepercayaan diri karena cenderung tidak bisa mandiri tanpa benda tersebut. Akhirnya, jadi bergantung dengan benda tersebut.

By Cynthia S. Lestari
12 June 2021
Card image
Self
Cinta Lebih Dari Sekadar Kata

Cinta adalah sesederhana menghadirkan kasih, mengimani kehadirannya sebagai energi untuk kita beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Ia adalah sebuah tindakan di mana bisa dirasakan semua orang, sekalipun ia tidak bisa melihat atau tidak bisa menulis. Jadi sebenarnya, cinta melebihi kata-kata dan definisinya.

By ASHKAN
12 June 2021
Card image
Self
Setiap Momen Berharga

Kalau kita tidak bisa menikmati waktu, kita bisa tiba-tiba melupakan apa yang terjadi begitu saja. Dan jika kita tidak mencintai apa yang dilakukan saat ini, lalu apa yang sebenarnya sedang kita lakukan?

By noui
05 June 2021