Self Lifehacks

Membungkam Kritik

Laksana sebuah karya yang kemunculannya selalu diiringi dengan opini orang-orang sekitar, begitu pula dengan tindakan dan pemikiran yang muncul dari diri kita sendiri. Tak jarang apa yang kita lakukan atau kita pikirkan akan memicu suara-suara yang mendukung maupun mengkritisi – bukan hanya dari orang lain, namun juga dari dalam batin kita. Ada satu pemeo yang berbunyi, “You are your own worst critic,” yang menyebutkan bahwa diri kita sendiri lah yang sebenarnya merupakan kritikus terburuk. Memang nyatanya, seringkali kita meragukan diri sendiri bukan karena perkataan orang lain namun karena kritik dalam batin yang menyerang kepercayaan diri.

Dalam diri kita terdapat sebuah insting untuk keamanan yang menjaga kita dari segala mara bahaya. Insting tersebut selalu ‘menyala’ dan waspada terhadap apapun kemungkinan yang bisa memberikan rasa sakit bagi tubuh dan jiwa kita. Saat kita berkontemplasi untuk melakukan suatu hal yang mungkin bisa membawa risiko emosional seperti penolakan, kegagalan, rasa malu, atau bahkan yang hasilnya belum kita ketahui, insting ini akan segera menyalakan alarmnya dan mencoba membawa kita kembali ke zona nyaman sebelumnya. Seringnya, insting manusia ini membunyikan alarm dengan menggunakan kata-kata negatif yang kita proses sebagai sebuah kritikan. Psikolog menyebutnya sebagai inner critic atau kritik dalam batin.

Seringnya, insting manusia ini membunyikan alarm dengan menggunakan kata-kata negatif yang kita proses sebagai sebuah kritikan.

Misalnya saja saat kita sedang mempertimbangkan untuk menyampaikan sebuah ide – yang kita anggap cemerlang – dalam sebuah forum, pasti inner critic tersebut muncul dalam kepala dan berkata, “Belum tentu idenya diterima,” atau “Jangan, kamu masih belum berpengalaman.” Pada akhirnya kritik dalam batin itu malah menjadikan kita tidak percaya diri dan meragukan kemampuan diri sendiri. Padahal, hal tersebut alamiah karena merupakan sebuah insting dalam tubuh agar kita tidak ‘terluka’.

Namun berada terus menerus dalam zona nyaman dalam beberapa hal bukanlah hal yang bisa membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik. Contoh sederhananya adalah di kehidupan profesional. Saat kita tidak menantang diri untuk mengambil langkah atau memunculkan pemikiran yang revolusioner, kita tidak akan berkembang. Itulah sebabnya kita harus bisa menyadari kapan inner critic tersebut muncul dan mencoba mengelolanya agar tidak terus-terusan menahan kita di titik yang sama dan menjadikan kita stagnan.

Kita harus bisa menyadari kapan inner critic tersebut muncul dan mencoba mengelolanya agar tidak terus-terusan menahan kita di titik yang sama dan menjadikan kita stagnan.

Meragukan diri sendiri bukanlah perkara sehat atau tidak sehat. Perasaan itu memang sepatutnya selalu ada dalam diri semua orang. Namun yang dapat kita lakukan adalah mengelolanya agar dapat memiliki hubungan yang sehat dengan rasa ragu tersebut. Hubungan yang sehat dengan rasa ragu dalam diri adalah dengan menjadi mindful dan proaktif dalam merespon pikiran saat keraguan itu hadir dalam diri.

Saat kita tengah mindful – atau menyadari seutuhnya – kritik dalam batin yang muncul saat kita meragukan apa yang tengah atau akan dilakukan, bukan berarti kita memasang “kacamata kuda” lalu merasa masa bodoh dan menganggap bahwa kita istimewa dan bisa melakukan apa saja. Justru, dengan menyadari seutuhnya, kita akan bisa menganalisa kekuatan dan kelemahan diri sehingga bisa menjawab kritik dalam batin yang muncul; apakah memang benar yang dikatakan oleh ‘bisikan gaib’ tersebut atau malah salah. Kuncinya terletak pada bagaimana kita memetakan situasi yang tengah dihadapi secara realistis dan bukannya justru mengarang-ngarang skenario terburuk yang bisa muncul dalam kepala.

Dengan menyadari seutuhnya, kita akan bisa menganalisa kekuatan dan kelemahan diri sehingga bisa menjawab kritik dalam batin yang muncul.

Ironisnya, saat kita tengah diserang oleh kritik dalam batin tersebut, alih-alih menjadi lebih peka dengan diri sendiri kita malah cenderung lebih sering menjadi kurang sensitif karena lebih dahulu ‘terpukul’ oleh kata-kata keras yang biasanya muncul. Kita pun akan lebih memilih untuk tidak mendapatkan respon – meski responnya bisa saja tidak buruk seperti yang kita bayangkan.

Namun begitu, solusi agar kita bisa lebih percaya diri ternyata bukanlah dengan menghilangkan kritik dalam batin tersebut secara sepenuhnya. Yang kita perlu lakukan adalah belajar untuk mendengarkannya tapi tidak menjadikan kata-kata kritikan tersebut sebagai penggerak tindak-tanduk kita selanjutnya. Ada tiga langkah mudah yang dapat dilakukan saat kita meragukan diri sendiri dan kritikan dalam batin mulai muncul:

Menyadari Kemunculannya

Bagi kebanyakan orang, suara-suara dalam batin muncul seperti musik latar dalam kepala kita – hadir begitu saja menjadi riuh. Kita tidak terbiasa untuk menyadari suara tersebut sebagai sebuah kritikan dan mempertanyakannya kembali. Sesungguhnya, yang terbaik adalah saat suara-suara tersebut muncul, ucapkan pada diri sendiri, “Oh, ini kritik dalam batinku.” Saat kita melakukan hal ini, seketika kita akan begitu memerhatikannya dan bisa memikirkan secara rasional apakah yang disebutkan kritik tersebut benar adanya atau tidak.

Buat Sebuah Persona Untuknya

Ambil saja karakter dari film atau buku yang kurang lebih kita anggap memiliki kepribadian mirip dengan pemilik suara-suara kritik dalam batin yang sering mengganggu pikiran kita sebagai figur imajiner. Suatu waktu saat kritik dalam batin tersebut muncul, bayangkan bahwa sosok tersebutlah yang muncul. Dengan begitu, kita bisa lebih mudah ‘berdialog’ dengannya sehingga kita bisa memutuskan langkah selanjutnya sebelum terjebak dalam keraguan. Cara ini mengajarkan kita untuk menyadari bahwa kritik dalam batin sesungguhnya bukanlah hal yang benar-benar muncul dari dalam hati, namun berasal dari pemikiran kita.

Cari Tahu Motivasinya

Selalu ingat bahwa kritik dalam batin muncul sebagai alarm saat tubuh ingin melindungi jiwa kita dari sebuah luka, meski caranya terkesan overprotektif dan irasional. Dengan memahami prinsip tersebut, kita bisa menanyakan kembali pada diri sendiri saat kritik itu muncul, “Kira-kira apa yang tidak disukai oleh insting dalam tubuh terhadap situasi ini?” Saat kita berhasil berpikir rasional dalam menjawabnya, kita akan dapat melihat situasi tersebut lewat sudut pandang yang berbeda. Misalnya, “Oh, ternyata insting ini muncul karena trauma pada penolakan dahulu.” Artinya kita bisa mencoba melawan rasa takut tersebut dan menyemangati diri bahwa belum tentu respon yang kita dapatkan sama seperti situasi-situasi sebelumnya.

Related Articles

Card image
Self
On Marissa's Mind: Stoikisme, Filosofi Anti Cemas (Bagian 2)

Stoikisme adalah kerangka berpikir dalam hidup yang sangat berguna terutama ketika menghadapi situasi yang sangat menantang atau stress, kecemasan atau amarah. Stoikisme membantu kita tetap tenang sehingga mampu berpikir jernih, mengambil keputusan terbaik dan menghindari stress. 

By Marissa Anita
08 May 2021
Card image
Self
Passion Untuk Merasa Lebih Hidup

Bayangkan jika hidup ini dilalui begitu saja tanpa tahu apa motivasi menjalaninya. Hidup bisa terasa hambar jika kita tak tahu apa yang benar-benar disukai atau diinginkan, tanpa ada hal-hal yang mendorong untuk terus semangat dan maju. Kita butuh passion untuk merasa hidup. Untuk memiliki tujuan dalam menjalani keseharian sehingga kita bisa merasa terdorong untuk sampai di sana.

By Radhini
08 May 2021
Card image
Self
Memilih Dengan Tujuan

Buatku, memiliki passion amatlah penting. Passion bisa mengarahkan tujuan hidup kita. Aku sendiri bisa dibilang mengejar tujuanku dengan passion. Aku berupaya mencapai tujuan hidup dengan apa yang disenangi. Rasanya kalau tidak ada passion, aku tidak tahu akan ke mana arah hidup ini karena ia adalah salah satu hal yang memberikan kesenangan dalam melakukan sesuatu.

By Ankatama
08 May 2021