Self Work & Money

Membagi Kebahagiaan

Nurul Idzni

@nurulidzni__

Penulis & Pengusaha Kreatif

Ilustrasi Oleh: Tommy Chandra

Setelah memiliki sejumlah uang, apa selanjutnya?

Sebuah tiket pesawat kelas satu hanyalah selembar kertas yang pada intinya membawa kita melintasi dunia menuju suatu tujuan. Telepon genggam paling mutakhir yang kita miliki saat ini tidak lain adalah alat komunikasi yang sekian tahun lagi akan tergeser kecanggihannya dengan jenis yang lain. Berlian yang melingkari leher, mungkin akan lebih sering disimpan di tempat yang kita rasa aman ketimbang dipakai setiap harinya. Dan gaun pengantin keluaran rumah mode kenamaan yang pernah kita pakai di hari istimewa kita, bisa saja akan berakhir tersimpan di lemari untuk waktu lama sebelum mungkin anak kita mengenakannya kembali suatu saat nanti.

Apa yang pernah kita anggap bernilai dan membuat kita bahagia di masa lalu, lambat laun bisa saja akan terasa tidak istimewa lagi untuk kita. Bahkan, tidak menutup kemungkinan bila saat ini kita merasa semua yang bernilai tersebut sesungguhnya tidak lain tidak bukan hanyalah suatu benda yang tidak memiliki arti lagi. Padahal, mungkin bagi sebagian orang, mereka masih mendamba untuk memilikinya.

Uang memang bukan jaminan kebahagiaan. Namun, kebahagiaan erat kaitannya dengan suatu hal yang ditukar dengan uang terlebih dahulu. Sebut saja mereka yang selalu merasa bahagia bila berkumpul dengan keluarga yang tinggal berjauhan - yang artinya membutuhkan biaya untuk perjalanan bertemu. Atau bagi mereka yang sedang sakit, bahagia dapat berarti sesederhana merasa sehat dan bugar – yang dengan memahami kondisinya saat ini berarti perlu menukar uang untuk biaya pengobatan.

Sayangnya, tidak semua orang memiliki kemampuan finansial yang sama. Menimbang adanya biaya yang perlu dikeluarkan terlebih dahulu untuk hampir semua hal yang kita inginkan sekecil apapun itu, apakah artinya setiap manusia tidak memiliki kesempatan yang sama untuk bahagia?

Sebenarnya, bukan berarti manusia tidak pandai bersyukur dengan mengharapkan sesuatu lebih dari apa yang dimilikinya saat ini. Sesederhana menjanjikan seseorang untuk bertemu di hari esok juga merupakan harapan, bukan? Sebuah harapan agar memiliki usia panjang, paling tidak sampai waktu pertemuan yang dijanjikan - karena usia seseorang tidak dapat ditebak batas akhirnya. Adanya harapan itu sendiri dibutuhkan manusia untuk tetap hidup karena akan menjadi bahan bakar sekaligus alasan bagi dirinya untuk tetap bergairah menjalankan aktivitas harian.

Babak pertama kisah Around the World in Eighty Days karya Jules Verne mendeskripsikan tokoh utama lakon, Phineas Fogg, sebagai sosok yang kaya, misterius, dan dermawan. Sekelumit bait di bawah deskripsi dirinya menjelaskan apa yang menjadi rutinitas hariannya yang selalu berulang:

Satu-satunya kegiatan yang ia lakukan untuk mengisi waktu luang adalah membaca koran dan bermain kartu. Serasi dengan sifat pendiamnya, ia sering menang dalam permainan ini. Ia tidak menyimpan sendiri kemenangannya, tetapi ia mengelolanya sebagai dana amal. Mr. Fogg bermain bukan untuk menang, melainkan demi permainan itu sendiri.

Ketimbang untuk menang mendapatkan uang, Mr. Fogg bermain kartu lebih untuk mengisi hidupnya yang tinggal seorang diri. Ia bukan orang yang boros, tetapi juga tidak kikir. Kapan pun uangnya diperlukan untuk tujuan mulia, bermanfaat, atau demi kebaikan, ia segera menyumbang - dan kadang-kadang secara anonim.

Dunia Sophie, sebuah kisah yang mencoba memaparkan filsafat melalui dialog dan kacamata anak berusia 14 tahun, mengawali pembahasan mengenai moralitas dengan sebuah pernyataan pengait, “Kadang-kadang aku mungkin bersikap baik dan mau membantu orang lain hanya karena aku tahu tindakanku itu akan ada balasannya. Itu dapat menjadi cara untuk popular.”

Apa balasannya? Sejumlah riset menyatakan bahwa berbagi dapat membuat orang merasa lebih bahagia. Neuron otak yang berkaitan dengan kemurahan hati, temporal parietal junction, akan mengaktifkan neuron di ventral striatum yang berhubungan dengan rasa bahagia. Berbagi bukan berarti terbatas hanya memberi uang atau benda materialistik lainnya – tetapi lebih dari itu. Waktu, pengetahuan, dan kebahagiaan, adalah contoh lain yang turut bernilai untuk disebarkan. Kebahagiaan sendiri sifatnya menular karena konon, kebahagiaan mampu menyebar melalui pemberi ke penerima, hingga lingkungan sekitar.

Pada akhirnya, bukanlah sebanyak apa uang yang kita miliki yang membuat kita bahagia, melainkan berbagi dan berbuat kebaikan lah yang membuat kita merasa demikian. Begitu pun Mr. Fogg. Pada babak penutup kisah, disebutkan ia berhasil memenangkan uang hasil taruhan dengan membuktikan dapat melakukan perjalanan mengelilingi dunia dalam 80 hari. Meski demikian, mengingat ia banyak mengeluarkan uang dalam perjalanan, keuntungan yang diperolehnya pun tipis. Passepartout, pelayannya, juga lupa mematikan gas di rumah selama kepergian mereka sehingga ia harus membayar hasil pemborosan yang diakibatkannya. Sedikit keuntungan yang diperoleh dari taruhan menjadi milik Passepartout sebab bagi Mr Fogg, pelayannya berhak memperolehnya. Bukan uang atau kemenangan yang kemudian membahagiakannya. Tapi Aouda, putri India yang ia selamatkan dalam perjalananlah yang lantas lebih penting bagi dirinya. Ia telah membagi waktunya yang terbatas dan menyempatkan dirinya untuk menyelamatkan Aouda walaupun ia tahu ia memiliki risiko terlambat memenuhi waktu taruhan karena keputusannya. Dan ia bahagia karenanya.

Related Articles

Card image
Self
Usaha Menciptakan Ruang Dengar Tanpa Batas

Aku terlahir dalam kondisi daun telinga kanan yang tidak sempurna. Semenjak aku tahu bahwa kelainan itu dinamai Microtia, aku tergerak untuk memberi penghiburan untuk orang-orang yang punya kasus lebih berat daripada aku, yaitu komunitas tuli. Hal ini aku lakukan berbarengan dengan niatku untuk membuat proyek sosial belalui bernyanyi di tahun ini.

By Idgitaf
19 May 2024
Card image
Self
Perjalanan Pendewasaan Melalui Musik

Menjalani pekerjaan yang berawal dari hobi memang bisa saja menantang. Menurutku, musik adalah salah satu medium yang mengajarkanku untuk menjadi lebih dewasa. Terutama, dari kompetisi aku belajar untuk mencari jalan keluar baru saat menemukan tantangan dalam hidup. Kecewa mungkin saja kita temui, tetapi selalu ada opsi jalan keluar kalau kita benar-benar berusaha berpikir dengan lebih jernih.

By Atya Faudina
11 May 2024
Card image
Self
Melihat Dunia Seni dari Lensa Kamera

Berawal dari sebuah hobi, akhirnya fotografi menjadi salah satu jalan karir saya hingga hari ini. Di tahun 1997 saya pernah bekerja di majalah Foto Media, sayang sekali sekarang majalah tersebut sudah berhenti terbit. Setelahnya saya juga masih bekerja di bidang fotografi, termasuk bekerja sebagai tukang cuci cetak foto hitam putih. Sampai akhirnya mulai motret sendiri sampai sekarang.

By Davy Linggar
04 May 2024