Self Health & Wellness

Lesson Learned: Kecemasan

Trisa Triandesa

Pegiat Neurosains

Di video ini Afgansyah Reza berbagi mengenai kecemasan yang dialaminya.

Tapi apa sih yang sudah kita ketahui tentang kecemasan dari neurosains?

Pertama-tama, rasa cemas itu wajar. Cemas mau presentasi, cemas sebelum ujian,  cemas mulai pekerjaan baru, cemas ketika pertama kali kencan, dan lain lain.

Tapi kalau terus menerus dihantui rasa cemas tanpa ada hal yang sebetulnya perlu dicemaskan sehingga menganggu aktivitas sehari-hari, bisa jadi itu adalah gangguan kecemasan (anxiety disorder). Kalau sudah seperti ini baiknya kamu cari bantuan profesional  atau setidaknya cerita ke orang yang dapat kamu percaya ya.

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi ke-lima (DSM-V), gangguan kecemasan mencakup di antaranya:

  • Fobia

  • Panic disorder

  • Post-traumatic stress disorder

  • Generalised anxiety disorder

Kecemasan ini berkaitan dengan rasa takut. Karena takut ketabrak mobil, bagi orang yang sangat cemas, jadi nggak mau keluar rumah sama sekali. 

Ketika kita cemas biasanya ditandai dengan:

  • Jantung berdegup kencang

  • Berkeringat

  • Gemetar

  • Sulit konsentrasi

  • Cenderung fokus pada hal yang negatif. 

Tapi pengalaman ini tentunya akan berbeda-beda bagi tiap orang.

Menurut WHO, gangguan kecemasan merupakan gangguan mental yang sangat serius dan salah satu penyebab disabilitas terbesar. Diperkirakan 1 dari 5 orang setidaknya akan mengalami gangguan kecemasan dalam hidupnya (Remes, 2016). 

Dan semenjak pandemi ini, semakin banyak orang dari berbagai kalangan mengalami kecemasan. Studi dari Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi) dan Ikatan Alumni Universitas Airlangga Komisariat Fakultas Kesehatan Masyarakat menemukan setidaknya 5 dari 10 orang indonesia mengalami kecemasan (Persakmi & IKA FKM UA, 2020).

Berdasarkan hasil survey dari National Union of Students di Inggris, 5 dari 10 mahasiswa mengatakan kondisi kesehatan mentalnya menurun atau terkena dampak dari Covid-19. Meskipun kebanyakan layanan kesehatan mental seperti konseling disediakan gratis oleh universitas, sayangnya hanya 1 dari 5 orang tersebut yang mencari bantuan profesional. Dan itu adalah saya.

Saya memang tipe orang yang cenderung pencemas, tapi belum pernah saya mengalami kecemasan separah yg saya alami awal tahun 2020. Tinggal di London tanpa teman dan keluarga, kembali ke bangku perkuliahan, lalu pandemi terjadi, 2 minggu mengalami gejala Covid-19, duit pas-pasan karena tempat saya bekerja paruh waktu pun tutup, mengalami pengalaman tidak menyenangkan terkait rasisme, dan laboratorium tutup sehingga penelitian saya terhenti. Dua bulan saya nggak bisa ngapa-ngapain. Untung kampus menyediakan layanan konseling gratis. 

Ketika seseorang cemas, ia akan memusatkan perhatiannya pada hal-hal yang dianggap membahayakan atau mengancam, dan menginterpretasikan apa pun yang terjadi di sekitarnya secara negatif.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa pada orang dengan tingkat kecemasan yang relatif tinggi, bahkan ekspresi wajah netral diinterpretasikan sebagai hal yang negatif atau bahkan mengancam (Lee, Kang, Park, Kim, & An, 2008; Wieser & Brosch, 2012; Phillips et al., 2004). 

Berdasarkan Attentional Control Theory (Eysenck, Derakshan, Santos, & Calvo, 2007), hal ini disebabkan oleh pemrosesan informasi yang tidak efisien di dalam otak sehingga sulit konsentrasi dan mudah terdistraksi oleh hal yang tidak relevan. 

Kalau kondisi ini dialami oleh remaja usia sekolah, akan berdampak pada prestasi di sekolah dan rentan terhadap gangguan mental lainnya (Hadwin, Visu-Petra, Muris, Derakshan & MacLeod, 2017). Karena 75% gangguan mental mulai muncul pada usia remaja dan dewasa muda. Jadi, diperlukan intervensi dini atau upaya pencegahan. Maka dari itu, kesehatan mental perlu menjadi fokus juga dalam dunia pendidikan. Siapa tahu Pak Nadiem Makarim baca tulisan ini. OK, Pak? Kan mens sana in corpore sano.

Salah satu cara untuk meningkatkan atau melatih kemampuan pemrosesan informasi yang sudah terbukti dari berbagai penelitian yaitu dengan cognitive training, seperti dual n-back training. Studi menunjukkan cognitive training ini bisa mencegah kecemasan pada remaja (Beloe & Derakshan, 2020). 

Kok bisa ya?

Otak memiliki kemampuan untuk mengubah struktur dan fungsinya atau dikenal dengan konsep neuroplasticity

Perubahan ini tergantung pada apa yang kita pikirkan, rasakan, dan lakukan. Nggak percaya? 

Gini deh, dulu mungkin kamu ngga bisa naik sepeda, tapi dengan latihan berulang-ulang akhirnya bisa kan? Atau dulu mungkin ngga bisa Bahasa Inggris, tapi setelah belajar akhirnya bisa juga kan?

Kalau kamu tertarik untuk mencoba, unduh deh aplikasi ini. Bukan promosi berbayar ya. Aplikasi Dual N-Back

Berdasarkan penelitian yang melibatkan lebih dari 2000 orang kembar, menunjukkan bahwa perpaduan antara kondisi genetik dan faktor eksternal seperti pengalaman hidup yang menyebabkan stres (stressful life events) mempengaruhi kondisi kecemasan (Kendler, 2004).

Lalu apa yang terjadi di otak ketika kita mengalami kecemasan?

Dengan menggunakan magnetic resonance imaging (MRI), kita bisa melihat peningkatan aktivitas di amygdala (Bishop, 2007). 

Amygdala adalah bagian otak yang kecil berbentuk seperti almon dan terletak di di bagian dalam otak kiri dan kanan. Amygdala ini berperan dalam pengendalian emosi, motivasi dan daya ingat.

Berbicara soal kecemasan, biasanya berkaitan dengan depresi, karena keduanya memiliki karakteristik yang serupa. Saya akan bahas soal depresi di tulisan berikutnya ya.

Akhir kata, karena setiap orang itu unik dan berbeda-beda sehingga apa yang membuat seseorang cemas bisa berbeda pula. Bagi kamu yang mengerti mesin mobil, buka kap mobil adalah hal yang sepele. Bagi saya yang nggak ngerti apa-apa. Buka kap mobil mikirnya takut meledak. Jadi jangan suka menyepelekan apa yang orang lain rasakan atau alami dengan ngomong:

“Ya elah gitu aja stres” 

“Ah parnoan deh!”

“Cemen lu, disuruh presentasi ga mau”

Omongan kaya gitu sama sekali TIDAK membantu! Karena respon setiap orang terhadap stres itu berbeda-beda. 

So, let’s be kind to one another, and most importantly be kind to yourself.

Jangan ragu, takut, atau malu untuk mencari bantuan profesional. Sudah ada loh layanan konseling daring seperti yang ditawarkan oleh Ubah Stigma dan Lyfe Generation atau Kalm. Stay safe and stay sane

Related Articles

Card image
Self
Tinggal Dalam Pluralisme

Keberagaman berpotensi memiliki dampak negatif dan positif. Pertama, membuat masyarakat yang tinggal dalam keberagaman memiliki toleransi tinggi. Tapi di satu sisi lain bisa membuat sebagian menjadi etnosentris, atau masyarakat yang cenderung memiliki sikap dan pandangan yang berpangkal pada budayanya sendiri.

By Wisnu Ikhsantama
17 April 2021
Card image
Self
Menilai Kesalahan

Takaran kesalahan setiap orang pasti berbeda-beda. Akan tetapi, menurutku pribadi kesalahan bisa diartikan jika kita melakukan sesuatu yang merugikan orang lain atau diri sendiri. Sebuah tindakan yang melewati batas-batas aturan tertentu.

By Ghaniyya Ghazi
17 April 2021
Card image
Self
Microflow: Menikmati Hal-Hal Sederhana

Saat masa pandemi ini, banyak orang mengeluh betapa bosannya mereka. Banyak aktivitas dilakukan untuk mengurangi rasa bosan, mulai dari menonton drakor berseri, membaca buku, bahkan memiliki hobi baru. Bisa jadi aktivitas tersebut memang menghilangkan kejenuhan kita, di satu sisi bisa jadi hal tersebut hanya pengalihan sementara. Bagaimana sebenarnya berdamai dengan situasi seperti ini? 

By Dr. Clara Moningka
17 April 2021