Self Lifehacks

Keseimbangan Kunci Pikiran Jernih

Jiemi Ardian

@jiemiardian

Psikiater

Fotografi Oleh: Daniel Mingook

Hidup kita di era modern seakan-akan seperti mie instan. Hanya dalam kurun waktu kurang lebih lima menit, kita bisa merasa kenyang. Sungguh instan, memudahkan dan membantu kita mengatur efektivitas dan efisiensi waktu. Tapi apakah sehat? Tentu tidak. Ya, begitulah kehidupan di tengah-tengah banyaknya gedung pencakar langit dan telepon pintar. Semua orang sering melewati jalan pintas alih-alih mendukung mobilitas tinggi. Namun tetap pertanyaannya: apakah sehat? Dan jawabannya juga tetap sama: tidak.

Perlu kita ketahui bahwa proses berpikir kita manusia memang cepat dan ini membantu kita dalam pengambilan keputusan ketika dalam keadaan mendesak. Akan tetapi dampaknya adalah proses berpikir cepat ini dapat menghilangkan esensi dalam berpikir secara logis ketika menciptakan jalan-jalan pintas tersebut. Proses berpikir cepat tersebut mengandung stresor (hal yang menimbulkan stres) karena otak kita dipaksa untuk melompat pada kesimpulan sehingga memungkinkan untuk menghilangkan kognisi yang sehat. Kurangnya berpikir rasional, adanya disfungsi kepercayaan bisa muncul karena adanya informasi dengan arus yang amat cepat. Faktanya tubuh kita belum dapat beradaptasi dengan kecepatan arus informasi di era modern ini.

Terlalu banyaknya informasi yang diproses di otak serta frekuensi perubahan teknologi akan berdampak buruk bagi kondisi mental dan fisik manusia. Kita bisa mengambil contoh dari banyaknya kasus berita bohong yang bertebaran di internet. Fenomena ini memunculkan emosi pada diri kita yang mana emosi ini adalah bentuk yang paling sering digunakan dari zaman manusia primitif: Rasa Takut. Sebelum manusia bisa bicara atau menulis, emosi yang paling sering muncul adalah Rasa Takut. Emosi ini akan bereaksi sama meski dalam situasi yang berbeda semisal ketakutan melihat singa di hadapan kita dan rasa paranoid pada berita bohong. Reaksi di kedua situasi ini menghasilkan output yang sama. Nah, bayangkan jika stresor akan informasi yang belum dipastikan kebenarannya ini terus dikonsumsi setiap hari. Stres berkepanjangan yang menuntun pada penyakit yang diakibatkan stres seperti darah tinggi dan diabetes bukannya tak mungkin diderita.

Terlalu banyaknya informasi yang diproses di otak serta frekuensi perubahan teknologi akan berdampak buruk bagi kondisi mental dan fisik manusia.

Jeleknya adalah banyak sekali individu yang belum dapat menyadari kemunculan stres yang berasal dari mobilitas tinggi tersebut. Mekanisme pertahanan diri pada diri seseorang yang dapat berupa penyangkalan pada sebuah perasaan terjadi tanpa disadari. Selain itu jarak waktu antara seseorang mulai mengenali gejala stres hingga mencari pertolongan cukup memakan proses yang panjang. Apalagi dengan adanya faktor stigma di mana sebagian orang merasa pencarian pertolongan hanyalah untuk orang lemah, berkonsultasi dengan psikiater akan dianggap orang sakit jiwa, hingga label “kurangnya iman” ketika keinginan mencari profesional untuk mengatasi stres muncul.

Untuk itu jika seseorang ingin tetap dapat memiliki mental yang sehat sehingga dapat berpikir lebih jernih, dia harus dapat mengetahui seberapa tinggi tingkat stres yang dimiliki. Terdapat banyak sekali cara untuk mengatasi. Mulai dari mindfulness yaitu mindfulness eating yaitu mengatur pola makan sehat, atau mindfulness walking, hingga hipnoterapi dan konsultasi profesional yang intens — untuk kadar stres tertinggi di mana keinginan bunuh diri biasanya mulai muncul.

Untuk tetap dapat memiliki mental yang sehat sehingga dapat berpikir lebih jernih, kita harus dapat mengetahui seberapa tinggi tingkat stres yang dimiliki.

Belakangan konsep mindfulness memang kerap kali menjadi topik utama dalam rangka membenahi gaya hidup yang kompleks. Dipercaya Indonesia adalah negara dengan pembelajar yang cepat akan mindfulness. Mengapa? Karena teorinya pengenalan mindfulness di negara kita seperti mengembalikan kepada habitat awal sebagai masyarakat negara tropis. Secara konsep antropologi, negara dengan empat musim di mana salah satunya adalah musim dingin mengharuskan masyarakatnya memiliki kemampuan berencana. Mereka harus pintar menyiasati persediaan makanan agar cukup untuk bertahan melewati musim dingin. Sedangkan negara tropis memiliki persediaan sepanjang tahun yang tentu saja tidak mengharuskan masyarakatnya untuk banyak memikirkan masa depan. Munculnya masalah pada negara tropis — pada Indonesia, adalah saat pengaruh budaya asing tersebut masuk dan membuat kita menyesuaikan diri pada perilaku tersebut. Pengaruh ini sebenarnya bertentangan dengan karakter genetik kita sehingga memunculkan kecemasan saat memikirkan atau mendiskusikan masa depan.

Situasi negara tropis seperti Indonesia tidak mengharuskan masyarakatnya untuk banyak memikirkan masa depan sehingga memunculkan kecemasan saat kita harus memikirkan atau mendiskusikan masa depan.

Adapun konsep yang saya percayai akan dapat sangat efektif untuk mempertahankan pikiran jernih demi pencapaian mental sehat: Dialektik atau Konsep Keseimbangan. Maksud konsep ini adalah untuk mengalami dua hal yang bertolak belakang namun keduanya sama-sama baik. Konsep ini mengajarkan kita untuk menerima dan mengubah. Biasanya manusia hanya memilih salah satu saja. Entah hanya menerima dan mengakui adanya masalah tetapi tidak mengubah masalah tersebut atau hanya ingin mengubah keadaan tetapi tidak menerima jika situasi tersebut tidak dapat diubah. Konsep Keseimbangan mengajarkan untuk memegang keduanya secara bersamaan. Misalnya pada kondisi: “Saya menerima beratnya pekerjaan ini. Saya berterima kasih pada pengalaman ini tapi saya mau mengubah beberapa hal. Akan tetapi jika ada kondisi yang tidak dapat diubah, saya pun menerimanya.”

Agar pikiran jernih, kita harus menjalankan konsep keseimbangan di mana kita harus menerima dan mengubah situasinya secara bersamaan.

Jadi kita manusia berada dalam titik keseimbangan ketika kita sudah menerima tapi tidak pasrah begitu saja dan tidak melakukan apa-apa pun tidak hanya mau mengubah keadaan tetapi bersikeras untuk menjadikannya sesuai dengan keinginan meski tidak realistis. Mesti kita sadari bahwa kita tidak bisa setiap hari berada dalam suasana mindfulness. Berarti kita tidak realistis. Pun tak bisa mengikuti arus perkembangan yang pesat secara terus-menerus, akan sangat tidak sehat. Berlatih mengontrol diri dalam keseimbangan-lah yang dapat menjadi jawaban untuk pikiran yang jernih dan fokus.

Related Articles

Card image
Self
Sadar Kapan Memulai Dan Mengakhiri

Mengikuti perkembangan zaman sepertinya sekarang ini sedikit terasa tidak mungkin jika harus menghapus media sosial dari kehidupan kita. Apalagi untuk keperluan bisnis-bisnis tertentu yang memang membutuhkan media sosial sebagai ruang pemasaran. Hanya saja semakin berjalannya waktu banyak orang yang akhirnya masuk ke dalam lubang hitam media sosial.

By Nick Yudha
30 November 2019
Card image
Self
Pribadi Tepat Waktu

Saat kita mendapat undangan atau akan datang ke suatu acara dengan keterangan waktu tertentu, pasti dalam benak kita terlintas sejumlah pertanyaan. Apakah acaranya akan dimulai tepat waktu sesuai jadwal? Kira-kira bila datang on time, acaranya akan ngaret nggak ya? Sudah banyak teman yang datang belum ya kalau hadir di awal? Dan lain sebagainya.

By Nurul Idzni
30 November 2019
Card image
Self
On Marissa's Mind: Hari Kematian

Berpikir tentang hari kematian bisa membantu mendorong kita memakai waktu yang kita punya sekarang sebaik mungkin sehingga hidup kita menjadi lebih berkesan dan berarti. Coba Anda bayangkan, minggu ini adalah minggu terakhir Anda hidup, apa yang akan Anda lakukan? Anda tidak akan menyia-nyiakan waktu.

By Marissa Anita
30 November 2019