Self Lifehacks

Kembali Ke Titik Nol

Adjie Santosoputro

@adjiesantosoputro

Praktisi Kesadaran Batin

Fotografi Oleh: Nadine Shaabana (Unsplash)

Pernahkah terlintas di pikiran tentang bagaimana cara kerja memori dalam benak? Mengapa setiap kali mengingat masa lalu yang pahit dada kita terasa sesak dan terenyuh? Bahkan kadang tidak hanya kenangan pahit saja yang membuat mata berkaca-kaca. Kenangan indah yang membawa nostalgia juga sering membuat kita termenung sejenak, mengingat kembali perjalanan kala itu. Kenyataannya memang pikiran kita terbentuk begitu adanya dengan fitur untuk mengingat. Tugas utamanya adalah untuk mengingat dan tidak bisa dihilangkan begitu saja. Di luar sana sebenarnya banyak sekali referensi untuk mempelajari cara kerja otak dan pikiran. Namun sayangnya banyak dari mereka yang enggan untuk mencari tahu. Hingga pada saat beranjak move on mereka pun merasa kesulitan sebab ingatan-ingatan tersebut terhimpit di tengah-tengah keseharian.

Sebenarnya wajar saja mengingat masa lalu asal tidak berlebihan. Terus-terusan mengingat masa lalu bisa membuat kita meninggalkan emosi-emosi dalam diri yang membuat kita kesulitan menjalani masa kini. Perasaan cemas, takut, marah, kembali seiringnya ingatan tersebut terlintas di kepala. Emosi-emosi yang muncul ini perlahan mempersulit langkah kita menjadi pribadi yang tangguh menghadapi tantangan di masa depan. Tidak hanya kenangan pahit saja yang bisa membuat kita terpuruk tapi juga kenangan indah. Kenangan indah di tahun lalu yang terus diingat sampai detik ini bisa membuat kita terus membandingkan kondisi di waktu itu dengan di masa sekarang. Akhirnya sama saja. Kita terjebak dalam pikiran masa lalu yang menghambat langkah maju.

Terus-terusan mengingat masa lalu bisa membuat kita meninggalkan emosi-emosi dalam diri yang membuat kita kesulitan menjalani masa kini.

Tidak ada waktu yang spesifik dan cara yang ampuh untuk move on kecuali kesadaran diri. Utamanya kita harus tahu dulu apa penyebab ingatan masa lalu sulit dilupakan. Sejak kecil secara tidak sadar kita sudah dididik untuk menolak pikiran kita. Sering kali saat sedang sedih atau kesal kita didorong untuk melupakan rasa sedih atau kesal itu. Padahal semakin kita menolak pikiran tersebut semakin kita akan mengingat dengan kuat. Hingga akhirnya kita melampiaskan ingatan tersebut yang justru tidak bisa memulihkan luka batin. What you resist persists. Cara kerja pikiran kita memang unik. Apa yang berusaha kita lupakan malah akan terus teringat sebab pikiran memang tidak bisa dinegasi. Merupakan usaha yang sia-sia ketika kita memberikan perintah pada otak untuk lupa. Kita hanya akan bertarung dengan pikiran sendiri dan membuat ingatan itu jadi lebih kuat tertanam dan terpendam.

Semakin kita menolak pikiran tersebut semakin kita akan mengingat dengan kuat.

Penyebab susah move on lainnya adalah adanya kenikmatan akan luka. Ya, banyak dari kita manusia suka sekali dengan masalah. Tanpa sadar kita punya adiksi untuk membuat drama. Mungkin sebenarnya dari dalam diri ingin sekali move on tapi di sisi lainnya terdapat keinginan untuk tidak move on karena adiksi drama tersebut. Drama dalam hidup seolah menjadi validasi diri. Selama kita punya drama kita punya sesuatu untuk diceritakan ke orang lain, ke media sosial. Banyak perhatian yang akan ditujukan pada kita dengan adanya drama. Kalau dulu filsuf Rene Descartes berkata Kita Berpikir Maka Kita Ada, di era ini ucapannya berubah menjadi Kita Drama Maka Kita Ada. Lambat laun tentu saja kita jadi enggan untuk move on karena kalau sudah tidak ada masalah kita seakan merasa tidak lagi dianggap, diperhatikan.

Penyebab susah move on lainnya adalah adanya kenikmatan akan luka.

Lalu bagaimana? Untuk kembali ke titik nol, kita harus bisa memberikan diri sendiri ruang sejenak untuk pengalihan. Cari tahu apa mekanisme coping diri. Misalnya berbelanja. Berikan ruang untuk diri berbelanja asal tidak sampai berlebihan. Kemudian berikan ruang untuk bertemu dengan perasaan yang ada di dalam diri. Menerima segala pengalaman dan ingatan di masa lalu kemudian biarkan diri ekspresikan apa yang dirasakan. Jika memang sedih, menangislah. Jika marah biarkan berteriak. Jangan sampai dipendam lalu akhirnya membuat kita membenci rasa sedih dan malah membuat kita menyangkal perasaan tersebut. Seiring berjalannya proses tersebut ingatkan diri bahwa ingatan hanyalah sebuah ingatan. Kesadaran akan ingatan tak berarti apa-apa bagi diri kita adalah cara utama membuat kita tidak lagi terpengaruh akan memori masa lalu. Pisahkan ingatan masa lalu dengan diri kita di saat ini. Jangan berusaha dilupakan tapi berusaha diikhlaskan.

Pisahkan ingatan masa lalu dengan diri kita di saat ini. Jangan berusaha dilupakan tapi berusaha diikhlaskan.

Related Articles

Card image
Self
Seni Melepas ala Rumi

Rumi adalah seorang penyair besar beraliran sufi yang hidup di abad ke-13. Ia banyak menulis syair yang dipercaya memiliki kekuatan kata-kata sebab tidak hanya indah, namun juga kedalaman. Salah satunya, adalah tentang melepaskan, dimana kita akan berbicara mengenai keberserahan, penerimaan, mengikhlaskan, dan memaafkan - yang semuanya adalah sifat yang dimiliki oleh hati.

By Pujiastuti Sindhu
23 May 2020
Card image
Self
Menemukan Keyakinan

Sebenarnya ketimbang dibilang religius saya lebih memilih untuk diingat sebagai seseorang yang toleran. Mengapa? Sebab saya besar dengan beragam pengalaman yang menuntun saya untuk menaruh nilai toleransi setinggi-tingginya.

By Narendra Pawaka
16 May 2020
Card image
Self
Belajar Mengenali Diri

Awal tahun ini banyak kejadian yang secara bertubi tubi seolah membebani diri. Baik pikiran maupun tubuh. Perlahan tapi pasti saya menerima segala kekurangan untuk menyadari sikap panik tidak akan berbuah apapun. Saya butuh dekat dengan diri dan mengenalinya. Sehingga apapun yang dirasakan dapat menjadi pembelajaran untuk dapat disikapi dengan tepat. 

By Nur Tejo
16 May 2020