Self Lifehacks

Keluar Dari Zona Nyaman

Nike Prima

@nikeprima

Pendiri Platform Kreatif

Miranti Andi Kasim

@mamiraz

Pendiri Platform Kreatif

Fotografi Oleh: Reita Devita

Mendengar kata ‘pindah rumah’, mungkin yang terbayang di benak banyak orang adalah sebuah babak hidup baru dan segala kerepotan hal teknis yang mengikuti. Namun, terlepas dari apapun faktor di baliknya, apakah karena keinginan sendiri atau bukan, pindah rumah mendorong kita untuk menemukan sisi terbaik diri dengan memaksa kita keluar dari zona nyaman.

Berbicara mengenai pindah rumah, kami berdua memiliki pengalaman yang sama sekali berbeda. Sejauh ini, Miranti hanya pernah sekali mengalami pindah rumah saat masih kecil. Itu pun masih sama-sama di wilayah Jakarta. Sementara itu, Nike dari kecil hingga saat ini sudah pernah pindah rumah hingga lima kali. Tidak sebatas hanya pindah rumah di kota atau daerah yang sama. Tapi, benar-benar pindah dari satu pulau ke pulau lainnya. Dari Jakarta, ke Kepulauan Riau, lantas Sulawesi, lalu kembali lagi ke Jakarta dan berpindah rumah hingga dua kali setelahnya. Cukup membingungkan, ya!

Menurut kami, pindah masih di satu kota yang sama seperti Miranti atau pindah dari satu kota besar ke kota besar lainnya, biasanya cenderung lebih mudah karena berkat globalisasi, secara umum karakter orang dan budaya di kota besar di manapun di dunia hampir kurang lebih sama. Namun, bila pindah dari daerah ke kota atau sebaliknya, terutama yang berjauhan dan belum terasa familiar, tentu perlu waktu untuk melalui proses penyesuaian.

Pindah rumah mendorong kita untuk menemukan sisi terbaik diri dengan memaksa kita keluar dari zona nyaman.

Bagi Nike sendiri, dari seluruh proses pindahan, momen kembali ke Jakarta saat berusia sepuluh tahun adalah yang paling terasa cukup berat. Menjadi seorang remaja atau preteen saja sudah menantang dengan segala perubahan emosional dan fisik yang dialami. Apalagi dengan adanya momen pindah tempat tinggal. Bayangkan dari SD inpres di daerah kecil ke SD swasta di Jakarta. Tentu sebuah perubahan besar. Mulai dari aspek akademis seperti pelajaran bahasa Inggris yang belum diajarkan di sekolah lama lalu tiba-tiba menjadi sebuah pelajaran yang harus dikejar untuk dikuasai di sekolah baru, hingga aspek psikologis dengan sikap anak-anak di kota yang cenderung agak merendahkan anak-anak baru yang berasal dari daerah. Perlu waktu dua hingga tiga tahun dahulu untuk pada akhirnya merasa betah. Selama dua tahun itu, Ibu dan orang-orang rumah menjadi support system bagi Nike untuk melalui masa berat. Ibu selalu menunggu di depan sekolah untuk memastikan Nike merasa tenang. Padahal, saat itu Nike sudah kelas lima. Secara usia, sebenarnya sudah tidak perlu lagi ditunggui orangtua. Selain itu, apa yang akhirnya menolong Nike untuk merasa tenang  juga adalah dengan menulis cerita yang dialami sehari-hari dalam buku harian. Rasanya, emosi negatif menjadi dapat teralihkan dengan menulis.

Kami setuju, pindah rumah, apapun itu alasannya, pasti ada sisi positif dan negatifnya. Menurut penelitian, manusia sendiri adalah makhluk yang senang akan sesuatu dimana ia telah merasa terbiasa, atau merasa nyaman. Kita semua senang akan kenyamanan, dan oleh karena itu kita memiliki istilah zona nyaman. Tapi, zona nyaman setiap orang sendiri berbeda-beda tingkat fleksibilitasnya. Ada yang sama sekali merasa tidak nyaman untuk keluar darinya, ada juga yang berani untuk mencoba keluar dan pada akhirnya dapat menciptakan zona nyaman barunya. Semua tergantung keputusan, tidak ada yang benar atau salah. Namun, setiap harinya kita pasti mengalami perubahan. Meskipun bisa saja perubahan yang dialami karena merupakan pilihan, tetap saja sedikit banyak pasti ada semacam ‘stress’ di situ. Nah, bagaimana kita dapat handle the stress inilah yang akan membuat kita berkembang.

Rumah yang kita tempati  memberi pengaruh akan bagaimana kita berkegiatan sehari-hari.

Rumah sebagai tempat dimana kita tumbuh, pulang, dan menjadi diri sendiri, tentu menjadi salah satu tempat dimana kita merasa nyaman untuk berlama-lama tinggal. Dari pengalaman kami, saat pada akhirnya kami harus pindah rumah atau keluar dari zona nyaman yang telah lama dikenal, kami menemukan hal-hal positif yang justru membuat proses pindahan serta adaptasi di lingkungan baru terasa menyenangkan.

Pertama, kita bisa memulai hidup atau kebiasaan baru. Memang benar, kitalah yang mengatur dan menata rumah kita. Namun, di sisi lain, rumah yang kita tempati pun memberi pengaruh akan bagaimana kita berkegiatan sehari-hari. Contoh sederhananya, salah satu teman kami, Astri Puji Lestari, sengaja menata rumahnya secara minimalis, sehingga memaksa ia untuk hidup seteratur mungkin serta melimitasi dirinya untuk membeli barang yang tidak ia perlukan. Padahal jika kalian tahu perjalanan hidupnya, ia dahulu tinggal di sebuah rumah besar dengan gaya hidup yang sama sekali berbeda dengan gaya hidup yang ia jalani sekarang. Momen saat pindah rumah inilah yang menjadi titik baliknya.

Kedua, dengan pindah rumah, kita bisa menemukan atau mengembangkan potensi baru yang mungkin sebelumnya tidak kita sadari. Suami Nike contohnya. Saat di rumah lama, ia jarang memasak karena tempat yang ada terbatas. Namun, di rumah baru, dengan desain dapur yang sengaja dibuat lapang dan nyaman, ia menjadi sering melakukan eksplorasi masakan. Ibarat sekolah, rumah lama adalah kelas di jenjang sebelumnya yang memberi pelajaran atas apa yang baik dan kurang dari kehidupan kita. Di rumah baru, berkat pelajaran yang diperoleh dari rumah atau ‘kelas’ sebelumnya, kita menjadi bisa melakukan evaluasi untuk membuat kehidupan baru kita terasa lebih baik.

Ibarat sekolah, rumah lama adalah kelas di jenjang sebelumnya yang memberi pelajaran atas apa yang baik dan kurang dari kehidupan kita.

Ketiga, kita bisa lebih mengenal diri kita sendiri. Saat pindah rumah, kita dipaksa untuk mengatur ulang kehidupan. Mulai dari proses merancang hingga eksekusinya, kita pasti melakukan banyak refleksi akan apa saja yang kita senangi dan butuhkan. Bila kita memiliki anak, pasti kita akan merancang sebuah rumah yang ramah bagi tumbuh kembang mereka. Baik melalui pemilihan warna hingga desain perabot, semuanya akan kita pikirkan untuk kenyamanan kita sebagai orangtua, juga si anak. Sesederhana menyortir kembali barang mana yang akan kita tetap simpan dan singkirkan pun telah mendorong kita untuk memahami kembali kebutuhan diri.

Keempat, pindah rumah dapat melatih kita menjadi lebih teratur dan disiplin. Untuk merasa betah di rumah baru, tentu perlu melakukan persiapan dari jauh-jauh hari. Sebelum melakukan pindahan, beri persiapan bagi diri untuk mempelajari lingkungan rumah baru. Bila perlu, berkenalanlah dengan tetangga sekitar untuk membangun koneksi. Saat akhirnya pindah dan melakukan unpacking, tentukan target sesuai kemampuan diri untuk menata ulang barang-barang dari rumah lama di rumah baru. Tidak perlu tergesa, namun memiliki target untuk kapan harus selesai itu penting untuk agar kita dapat segera merasa kerasan di lingkungan baru. Memang cukup memakan waktu dan tenaga. Namun, memang begitulah yang namanya proses. Kita tidak perlu melakukannya semua dalam sekejap, cukup mengambil langkah sedikit demi sedikit secara teratur, untuk pada akhirnya merasa terbiasa.

Begitulah yang namanya proses. Kita tidak perlu melakukannya semua dalam sekejap, cukup mengambil langkah sedikit demi sedikit secara teratur, untuk pada akhirnya merasa terbiasa.

Related Articles

Card image
Self
Secukupnya Saja

Masyarakat modern saat ini punya banyak pilihan. Setiap hari kita dihadapkan dengan beragam pilihan mulai dari pagi hari mau baca apa sampai keluar rumah mau pergi ke mal yang mana. Tanpa sadar banyaknya pilihan ini sebenarnya bisa jadi masalah. Terlalu banyak pilihan membuat kita memiliki banyak keinginan.

By Raditya Dika
15 August 2020
Card image
Self
Weak Ties: Masa Depan

Ada sebuah quote dari filsuf Seneca: Jika kamu tidak tahu mau berlayar kemana, arah angin manapun akan terasa menghambat. Saya mendengar quote ini saat pertama kali belajar tentang Foresight, atau Futures Thinking, alias...belajar berpikir tentang masa depan. Bagaimana caranya berpikir tentang masa depan, kan masa depan itu tidak bisa diprediksi?

By Kartika Anindya
08 August 2020
Card image
Self
Sejenak Mencari Bahagia

Sejatinya kita pasti ingin hidup bahagia. Rasanya tidak ada orang yang sengaja menyakiti dirinya agar tidak bahagia. Tapi menurut saya terkadang kita ingin hidup bahagia tanpa sebelumnya mengetahui benar apa yang membuat kita bahagia. Pencarian kebahagiaan itu sendiri sepertinya tidak akan berhenti dalam satu masa hidup. Seiring berjalannya waktu, makna bahagia yang kita percaya bisa berubah.

By Aulia Meidiska
08 August 2020