Self Art & Culture

Kekuatan Membalik Halaman Buku

Greatmind

@greatmind.id

Redaksi

Ilustrasi Oleh: Atreyu Moniaga Project

Seiring perkembangan zaman, teknologi dengan internet super cepat membuat kita terlena dan mulai meninggalkan kebiasaan-kebiasaan di masa lampau. Mulai dari berbelanja di pasar tradisional yang sekarang dapat digantikan dengan pesan-antar online hingga kegemaran membaca buku yang sekarang beralih ke buku elektronik atau bahkan membaca di berbagai situs berjaringan. Tapi ingat tidak perasaan-perasaan menyenangkan ketika baru saja membeli buku? Tidak sabarnya untuk merobek lapisan pembungkusnya kemudian membolak-balik halamannya. Membaui harum kertas yang khas. Apalagi ketika baru saja mendapatkan buku langka yang kertasnya sudah menua. Aromanya sangat berbeda. Lalu mulailah perjalanan kita tenggelam dalam kata demi kata, kalimat demi kalimat yang tertulis di dalamnya. Sampai kita rela membeli pembatas buku yang lucu hanya untuk mengingatkan kembali pada kisah di dalamnya.

Tanpa kita sadari kita perlahan meninggalkan buku karena merasa kurang praktis. Padahal dibalik setiap halaman yang kita buka terdapat berbagai kekuatan yang lebih dibandingkan membaca lewat layar. Hal paling utama adalah membuat kita lebih fokus pada setiap kata yang terbaca. Dalam ilmu linguistik disebut keterbacaan di mana kemampuan otak kita untuk mengingat setiap kata dan pesan di dalam buku meningkat. Ketika membaca buku kita lebih terhindar dari distraksi karena tidak adanya akses untuk melihat email, media sosial, promosi tiket murah atau bahkan godaan untuk membuka tab baru dan menengok situs-situs belanja. Tidak ada notifikasi baterai lemah atau gangguan layar yang kurang terang, dan permasalahan elektronik lainnya. Saat sedang rehat sejenak, buku juga memudahkan kita untuk kembali pada halaman terakhir tidak seperti buku elektronik atau situs yang mengharuskan kita menyalakan gadget terlebih dahulu dan mengulang berbagai langkah untuk masuk ke bacaan.

Ketika membaca buku kita lebih terhindar dari distraksi karena tidak adanya akses untuk melihat email, media sosial, atau bahkan godaan untuk membuka tab baru.

Selain itu penyerapan pesan pun lebih banyak karena adanya unsur perasaan yang dilibatkan saat memegang sebuah buku dan membalik halamannya. Menurut sebuah studi, kala kita memegang buku dan merasakan kertasnya terdapat sebuah sensasi yang memercik indera peraba. Setiap kali kita membalik halamannya kita merasakan adanya progres seakan telah mencapai tingkat berikutnya. Sensasi ini juga membuat kita merasa lebih interaktif dan meninggalkan nostalgia di pikiran. Kita dapat lebih mudah mengingat masa-masa membaca buku tersebut, lagu apa yang didengarkan kala membaca sebuah buku tertentu, berada di tempat seperti apa, bagaimana perasaan kita saat membacanya. Buku elektronik didesain untuk membuat kita membaca lebih cepat, untuk memahami dengan waktu yang singkat. Tetapi buku fisik memberikan sentuhan emosional dan perasaan yang nyata. Kita jauh lebih dapat merasakan emosi pada karakter dalam buku, pada narator dan penulisnya. 

Kala memegang buku dan merasakan kertasnya terdapat sebuah sensasi yang memercik indera peraba yang meninggalkan nostalgia di pikiran sehingga kita dapat lebih mudah mengingat.

Belum lagi karena alasan kesehatan. Membaca buku fisik ternyata lebih sehat ketimbang membaca di layar. Pertama tentu saja untuk kesehatan mata. Terdapat sinar biru pada setiap layar gadget kita sehingga dapat membuat mata cepat lelah dan menurunkan kemampuan membaca dengan baik. Risiko kerusakan fungsi mata pun lebih tinggi. Terlebih karena keseharian kita di era ini sudah begitu banyak melibatkan layar elektronik, bukan? Mulai dari bangun tidur mengecek si ponsel pintar untuk melihat siapa yang meninggalkan pesan kemudian pergi kerja berhadapan dengan layar komputer. Belum lagi di sela-sela kemacetan kota kita pasti berusaha mencari pelarian melihat linimasa media sosial. Berapa jam sehari kita sudah menghabiskan waktu di depan layar jika kita menambahkan aktivitas membaca buku elektronik?

Selain itu ternyata ketika membaca buku kita dapat lebih relaks. Sebuah penelitian menemukan bahwa kita membiarkan diri berada di posisi ternyaman enam menit sebelum mulai membaca. Sehingga otot-otot lebih lemas dan kecepatan detak jantung pun melambat. Ini pun sepertinya yang dapat membuat kita sering tertidur waktu membaca. Keterlibatan emosi dan aktivitas otak saat membaca buku fisik dapat membantu kita lebih cepat tertidur. Kondisi fisik dan mental berada dalam frekuensi rendah sehingga menciptakan ketenangan dalam tubuh dan otak untuk beristirahat. Sebaliknya, membaca buku elektronik justru meningkatkan level stres dan dapat menimbulkan perilaku negatif. Selain efek layar yang dapat mengganggu hormon melatonin yang mengatur siklus tidur.

Related Articles

Card image
Self
Kegagalan Bagian Dari Kebahagiaan

Manusia hidup dalam keseimbangan; seimbang antara berjuang dan beristirahat, maju dan mundur, atau berhasil dan gagal. Sering sekali ketika kita berusaha, kita hanya berfokus pada satu sisi – sisi yang enak saja. Tentu berfokus pada keberhasilan itu baik, namun dengan melupakan sisi lainya perjuangan menjadi mudah melelahkan.

By Jiemi Ardian
19 October 2019
Card image
Self
Mengapa Harus Minder?

Apakah kalian adalah mereka yang duduk di deretan paling belakang ketika mengikuti suatu acara? Berharap tidak terlihat oleh pembicara di depan agar tidak diminta menjawab pertanyaan. Apakah kalian adalah mereka yang mengarahkan pandangan ke bawah ketika berjalan melewati banyak orang? Jika ya, kalian tidak sendirian. Saya pun begitu – dulu.

By Aulia Meidiska
19 October 2019
Card image
Self
Bertanggung Jawab Dengan Pilihan

Setiap orang memiliki perjalanan spiritual yang berbeda-beda. Kisah tiap manusia dalam berhubungan dengan Sang Pencipta, nyatanya, tidaklah memiliki ukuran tertentu. Ketaatan dan kesalehan seseorang adalah tentang totalitas dirinya kepada segala pilihannya dalam hidup. Hanya Tuhanlah yang bisa menilai apakah seseorang bisa dibilang saleh atau tidak.

By Dewi Sandra
19 October 2019