Self Health & Wellness

Jangan Lepas Ponsel Jika Tidak Ingin Sehat

Greatmind x Wealth Wisdom 2019

@permatabank

Advertorial

Fotografi Oleh: Courtney Clayton (Unsplash)

Jika dahulu orang yang gemar menghabiskan waktu lama untuk menonton televisi selalu dianggap sebagai orang yang ‘pemalas’, kini hal yang serupa pun terjadi pada mereka yang selalu terpaku pada ponselnya. Dalam riset yang dilakukan oleh Jacob Barkley, Ph.D. dari Kent State University, Ohio, ia meneliti hubungan antara penggunaan ponsel dan tingkat keaktifan secara fisik dan kebugaran. Hasilnya? Ada hubungan yang lekat antara faktor tersebut yang mengarah pada kemungkinan obesitas.

Jacob dan tim peneliti dari Kent State University mengambil sampel 300 mahasiswa dan mewawancarai mereka mengenai kebiasaan penggunaan ponsel, aktivitas bersantai, dan aktivitas fisik. Kemudian beberapa yang terpilih diteliti lebih lanjut dengan menggunakan treadmill untuk mengevaluasi kebugaran jantung dan paru-paru mereka.

Dalam kelompok sampel tersebut, mereka yang menggunakan ponsel dalam waktu lama setiap harinya – hingga 14 jam per hari – menunjukkan tanda-tanda kurang sehat atau fit dibandingkan mereka yang rata-rata hanya menghabiskan 1.5 jam dengan ponsel.

Mereka yang menggunakan ponsel lebih lama cenderung lebih sering menghabiskan waktu untuk bersantai dan bermalas-malasan. Selain itu mereka juga akan lebih mudah tertarik dengan media digital dalam bentuk lain seperti televisi, film, komputer, dan permainan video.

Meski begitu, Jacob tidak bisa mengambil kesimpulan serta merta bahwa ponsel membuat kita kurang sehat. Namun memang ada kemungkinan bahwa orang yang kurang sehat cenderung lebih sering menggunakan ponsel setiap harinya.

Seperti yang kita ketahui bersama, ponsel dengan segala teknologinya telah menjadi benda multifungsi yang kemampuannya setara dengan komputer. Berkomunikasi, bersosialisasi, hingga bekerja – semuanya dapat dilakukan dari ponsel. Meski begitu, semua aktivitas yang dilakukan dengan bantuan ponsel ini termasuk aktivitas yang kurang aktif karena bisa dilakukan sambil duduk atau bahkan tiduran.

Menurut pakar kesehatan Nancy Copperman, kemampuan ponsel yang dapat mempermudah hidup punya kecenderungan untuk mengubah gaya hidup dan keaktifan manusia. “Situasi ini kurang lebih sama seperti bagaimana revolusi industri dulu mengubah masyarakat.” Ungkapnya. “Banyak studi dan riset yang telah menjabarkan bahwa penting bagi kita untuk melihat kembali bagaimana teknologi memengaruhi cara kita bergerak, makan, dan tidur karena pada akhirnya ini semua akan berdampak pada kesehatan manusia.”

Lihat saja bagaimana sekarang kita tidak perlu susah-susah pergi secara fisik ke suatu tempat hanya untuk berkumpul dengan sahabat dan saling bercerita. Dengan mudahnya kita bisa membuka percakapan di aplikasi berbagi pesan dan rasa bersosialisasi yang sama sudah bisa kita dapatkan. Atau, dengan beragam tawaran aplikasi untuk memesan makanan, kita bisa dengan mudah membeli makan di mana pun, dan parahnya, di jam berapa pun! Selain itu, kecanduan kita dengan ponsel kadang hingga membuat kita tak jarang tidur larut hanya karena keasikan membaca-baca status atau melihat-lihat foto sahabat-sahabat di media sosial. Bangun pagi pun kemudian menjadi lebih lama karena alih-alih langsung bangun dan berolahraga kita malah lebih suka menghabiskan waktu untuk mengecek berita atau update media sosial lainnya.

Semua kebiasaan ini sesungguhnya akan membuat kita menjadi lebih malas dan kurang aktif yang pada akhirnya dapat membawa kita pada berbagai penyakit – termasuk obesitas. Padahal, jargon “health is wealth” yang seringkali dikumandangkan memang benar adanya. Kesehatan adalah harta yang berharga bagi setiap manusia, karena tanpanya kita tidak akan bisa melakukan apa-apa di dunia ini.

Jadi, menjaga kesehatan tubuh menjadi suatu hal yang sangat penting untuk dilakukan. Salah satu langkah mudahnya adalah dengan memikirkan kembali bagaimana teknologi – terutama ponsel – bisa memengaruhi kita dalam bergerak aktif dan berolahraga. Sempatkan waktu untuk menyisihkan ponsel dan segala macam update di dalamnya untuk berolahraga dan beraktivitas secara fisik untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik.

Related Articles

Card image
Self
Monster Dalam Diri

Aku terlahir tanpa pilihan dan hidup terkurung di dalam kotak-kotak stigma sosial yang sudah diciptakan bertahun-tahun lamanya. Hal tersebut mengaburkan bayanganku tentang jati diri dan siapa diriku sebenarnya. Aku bahkan tumbuh dengan ajaran untuk menjadi pribadi yang lebih mementingkan pendapat orang lain dibandingkan dengan diriku sendiri.

By Evan Aditya
25 May 2019
Card image
Self
Menemukan Jati Diri Dalam Profesi Maskulin

Saat ini, orang awam menggunakan istilah ‘arsitek perempuan’ untuk mendeskripsikan pekerjaan saya. Istilah ini membuat saya tergelitik tidak nyaman. Profesi arsitek dianggap memiliki gender. Saya juga tidak pernah mendengar orang menyebut arsitek laki-laki.

By Gacanti Swastika
25 May 2019
Card image
Self
Hidup dalam Rayuan “Nama Besar”

Faktanya, perkembangan zaman yang tiap harinya memunculkan sesuatu nan baru menyematkan strategi pemasaran yang begitu manipulatif sehingga dapat mengubah cara pandang dan kepribadian kita. Salah satu perencanaan marketing yang tepat sasaran adalah dengan menganalisa perilaku pasar. Dalam proses ini terdapat begitu banyak rencana untuk dapat mempengaruhi pasar memandang inovasi tersebut.

By Greatmind
25 May 2019