Self Work & Money

How To: Meraih Mimpi Dengan Peta Ekspektasi

Indah Ariani

@indahariani

Penulis

Fotografi Oleh: Brooke Cagle

Membuat peta ekspektasi merupakan langkah yang perlu dilakukan di awal tahun
agar akhir tahun nanti kita bisa mengetahui apa harapan dan keinginan yang
terwujud.

Tahun baru, acap dijadikan awal untuk memulai sesuatu yang baru. Dalam dunia
kerja, pindah profesi atau pindah kantor di awal tahun merupakan sesuatu yang
sangat lazim terjadi. Keinginan untuk mencapai sesuatu yang lebih baik dari apa
yang sebelumnya telah diraih menjadi alasan yang banyak melandasi keputusan
untuk memulai sesuatu yang baru itu.

Harapan atau ekspektasi untuk meraih sesuatu yang lebih baik tentu saja sangat
wajar. Tak ada manusia yang ingin bergerak mundur dan pasti selalu berusaha
mencapai kemajuan. Hanya saja, kita pun perlu meletakkan dan menata ekspektasi
tersebut secara tepat agar ia tak menjadi angan-angan semu tak kerjangkau saking
tingginya diletakkan.

Sebuah artikel menarik berjudul Seven Steps to Setting Clear Expectation yang
ditulis oleh pakar kepemimpinan Kevin Eikenberry, barangkali bisa kita gunakan
sebagai salah satu acuan untuk menata dan meletakkan ekspektasi di tempat yang
cukup tinggi namun tetap mudah kita jangkau.

Sebenarnya, Kevin memaksudkan tujuh langkah menata ekspektasi dalam
tulisannya itu untuk mereka yang berada di posisi pemimpin atau pengambil
keputusan. Namun, tulisan ini tentu saja perlu dibaca oleh siapa saja, apa pun posisi
karier kita, mengingat kita adalah pula “pengambil keputusan” bagi diri dan hidup
kita. Tentu tak ada salahnya untuk berkenalan dengan tujuh langkah ini agar kita
bisa memiliki ekspektasi sebening kristal yang bisa menjadi pemandu kita memulai
tahun baru ini.

1. Buatlah ekspektasi kita dengan jelas. Sangat sulit membangun ekspektasi
yang jelas secara jernih bila kita tak secara jelas mengenal mereka. Bila kita
tidak dapat mengartikulasikan ekspektasi kita dengan baik secara verbal
maupun tertulis, artinya kita belum siap untuk melakukan percakapan
mengenai ekspektasi tersebut.

2. Ketahui di mana Anda membutuhkan ekspektasi tersebut. Pikirkan di mana
terjadi kesenjangan antara ekspektasi dan kenyataan. Bagaimana kita
mengkomunikasikannya, kapan waktu yang kita inginkan bagi ekspektasi itu
terwujud, apa saja ekspektasi kita yang sudah tercakup dalam budaya kerja di
perusahaan tempat kita bekerja, dan perhatikan dengan benar apakah
ekspektasi yang Anda ingin capai telah terdapat dalam area tersebut dan
apakah hal itu bisa dengan jelas kita ketahui.

3. Ketahui kenapa. Memiliki ekspektasi yang jelas tentu saja merupakan langkah
yang baik karena akan memudahkan kita memberi konteks dan intensi pada
orang lain sehingga bisa lebih jelas melihat dan lebih mudah mengikuti serta
mewujudkannya bersama kita. Soal ekspektasi ini memang soal justifikasi
bagi orang lain. Hal ini bisa membuat orang lain melihat gambar besar dari
harapan yang ingin kita capai, dan dalam keadaan lebih jelas dilihat, ekspektasi ini akan lebih mudah dipahami sehingga orang-orang di sekitar kita akan dengan mudah pula tergerak untuk mendukung.

4. Pertemuan dan diskusi. Bila tiga langkah di atas telah dipenuhi, duduklah
dengan orang lain untuk mendiskusikan ekspektasi-ekspektasi kita. Kenapa
harus menunggu hingga tiga langkah sebelumnya kelar dahulu? Sebab bila
belum selelsai, ada risiko ekspektasi masih belum benar-benar jelas atau
belum komplit saat dikembangkan. Bila tiga hal di atas sudah selesai sebelum
diskusi dilakukan, tak hanya bisa mendapat masukan yang memuaskan,
Anda akan bisa pula memberdayakan orang lain untuk pula menyiapkan
ekspektasi mereka.

5. Jadikan ekspektasi kita sebagai ekspektasi bersama. Sebagai seorang
“pemimpin”, kita tentu saja memiliki ekspektasi atas orang lain yang perlu pula
mereka ketahui agar dapat mereka capai dengan baik. Begitu pula mereka,
tentu memiliki ekspektasi atas kita. Percakapan tentang ekspektasi masing-
masing ini akan menjadi percakapan dua arah yang membangun bila
keduabelah pihak saling mengerti ekspektasi masing-masing sehingga
bagaimana kesepakatan yang akan diambil akan bisa lebih cepat dibicarakan.

6. Catat ekspektasi-ekspektasi kita. Catatan yang dimaksud di sini bukan berupa
catatan hukum seperti perjanjian kerja sama dan sebagainya. Melainkan
sekadar catatan kecil yang boleh saja kita simpan sendiri. Fungsinya untuk
menuangkan harapan-harapan kita secara lebih detail dan jelas. Bisa saja
kita mengandalkan ingatan dan mencatatnya dalam benak. Tapi catatan fisik
tentu saja akan lebih memudahkan kita untuk bersama-sama memahami
ekspektasi kita.

7. Buat perjanjian dan komitmen. Bila kita membuat harapan dan tujuan yang
ingin dicapai secara bersama-sama dengan pihak lain, begitu harapan itu
sudah dicatat, semua pihak perlu membaca lagi hingga paham dengan baik
dan menyetujuinya bersama. Semua pihak yang terlibat perlu juga memberi
komitmen bahwa mereka menyetujuinya dan akan menjalankan langka-
langkah yang dibutuhkan untuk membuat ekspektasi tersebut menjadi nyata.

Related Articles

Card image
Self
Usaha Menciptakan Ruang Dengar Tanpa Batas

Aku terlahir dalam kondisi daun telinga kanan yang tidak sempurna. Semenjak aku tahu bahwa kelainan itu dinamai Microtia, aku tergerak untuk memberi penghiburan untuk orang-orang yang punya kasus lebih berat daripada aku, yaitu komunitas tuli. Hal ini aku lakukan berbarengan dengan niatku untuk membuat proyek sosial belalui bernyanyi di tahun ini.

By Idgitaf
19 May 2024
Card image
Self
Perjalanan Pendewasaan Melalui Musik

Menjalani pekerjaan yang berawal dari hobi memang bisa saja menantang. Menurutku, musik adalah salah satu medium yang mengajarkanku untuk menjadi lebih dewasa. Terutama, dari kompetisi aku belajar untuk mencari jalan keluar baru saat menemukan tantangan dalam hidup. Kecewa mungkin saja kita temui, tetapi selalu ada opsi jalan keluar kalau kita benar-benar berusaha berpikir dengan lebih jernih.

By Atya Faudina
11 May 2024
Card image
Self
Melihat Dunia Seni dari Lensa Kamera

Berawal dari sebuah hobi, akhirnya fotografi menjadi salah satu jalan karir saya hingga hari ini. Di tahun 1997 saya pernah bekerja di majalah Foto Media, sayang sekali sekarang majalah tersebut sudah berhenti terbit. Setelahnya saya juga masih bekerja di bidang fotografi, termasuk bekerja sebagai tukang cuci cetak foto hitam putih. Sampai akhirnya mulai motret sendiri sampai sekarang.

By Davy Linggar
04 May 2024