Self Lifehacks

Hidup Hanyalah Soal Perspektif

Ada yang bilang hidup itu hanyalah soal perspektif. Kita bisa melihat sebuah gelas setengah terisi atau setengah kosong. Tergantung dari perspektif apa kita melihatnya. Sayangnya, manusia sering kurang bijak dalam melihat satu hal. Kita hanya melihat dalam satu perspektif saja kemudian enggan menghadirkan perspektif lain yang mungkin saja cukup signifikan. Seakan memakai kacamata kuda, kita hanya berjalan lurus saja dengan satu pandangan. Lama-kelamaan kita pun bisa menjadi seseorang yang tertutup dan eksklusif. Enggan membuka diri dengan berbagai kemungkinan sehingga mudah kecewa apabila sesuatu tidak terjadi sesuai ekspektasi.

Manusia sering kurang bijak dalam melihat satu hal. Kita hanya melihat dalam satu perspektif saja kemudian enggan menghadirkan perspektif lain yang mungkin saja cukup signifikan.

Sebuah perspektif yang kita percaya menjadi satu-satunya prinsip yang harus dijalankan bisa membuat kita memiliki ekspektasi tinggi akan hal tersebut. Misalnya saja perspektif kita tentang bekerja di luar negeri sebagai jalan terbaik untuk ditempuh. Kita berpikir bahwa itulah satu-satunya cara untuk sukses. Kita bekerja keras mengorbankan banyak hal karena satu perspektif tersebut sampai memiliki ekspektasi tinggi yang bahkan melewati batas pikiran realistis. Lalu saat tidak ada celah yang terbuka, akhirnya kita mempertanyakan potensi diri. Apakah saya memang tidak mampu? Apa kekurangan saya? Apakah setelah ini masa depan saya akan suram? Dan sederetan pertanyaan lainnya yang memunculkan energi negatif dalam benak. Lama kelamaan kita pun akan mencari kesalahan dalam diri dan bukannya tidak mungkin menyalahkan orang lain atau malah semesta. Mengumpat semesta yang tidak adil pada hidup. Seperti halnya melihat setengah gelas kosong bukan setengah gelas penuh. Akhirnya rasa bersyukur pun terkikis, tergantikan dengan perasaan tak pernah puas.

Padahal sebenarnya kuncinya hanyalah dengan mengubah perspektif saja. Contohnya dengan perspektif bekerja di luar negeri tadi. Sah-sah saja memiliki kehendak bekerja di luar negeri. Tidak ada salahnya. Tapi ingat untuk tidak menetapkan bahwa jalan tersebut hanyalah jalan satu-satunya. Agar tidak terlalu berekspektasi cobalah untuk melihat perspektif tersebut dengan perspektif lain. Semisal dengan beranggapan bekerja di luar negeri itu memang bisa membantu jenjang karier. Kalau dapat syukurlah, kalau tidak dapat ya tidak apa pasti ada pekerjaan lain di dalam negeri yang tak kalah bagusnya. Toh, tinggal di Indonesia juga banyak keuntungannya. Biaya hidup yang relatif rendah dan sumber daya alam yang melimpah dapat menjadi aspek yang kita syukuri dengan menetap di negara sendiri. Kalau tidak melihat betapa besar potensi negara ini mana mungkin dulu Belanda menjajah bukan?

Pada dasarnya untuk mendapatkan solusi dari sebuah masalah kita bisa menghadirkan beragam perspektif agar bisa menilai dengan adil. Asal kita mau menggali lebih dalam jawabannya di dalam diri, menghidupkan berbagai suara dengan opini yang berlawanan. Kuncinya adalah tidak menyangkal bahwa ada pandangan lain yang bisa digunakan untuk menelaah sebuah perkara. Biarkan kedua sisi yang berlawanan dalam diri tersebut saling bergumul memberikan argumennya. Biarkan kata “tapi” jadi sering disebutkan dalam hati. Asal jangan lupa memunculkan penengah di antara keduanya agar bisa menerima kedua belah pihak tanpa memiliki kecenderungan. Jika terus melatih diri untuk menerima kedua sisi ini kita bisa belajar lebih bersyukur dengan segala kondisi yang terjadi. Mengendalikan diri untuk bisa memandang segalanya lebih luas sehingga tidak mudah menetapkan satu perspektif menjadi perspektif yang benar. Meninggalkan perspektif lainnya yang mungkin saja sebenarnya tidak salah. Ingatlah bahwa di dunia ini tidak ada yang absolut. Tidak ada kebenaran atau kesalahan yang 100%. Sesuatu yang kita anggap benar mungkin saja salah dan sebaliknya sesuatu yang kita anggap salah mungkin saja benar. Dan jika kita sudah bisa menerapkan pemikiran ini, kita jadi bisa lebih bijak dalam menghadapi kesulitan. Lebih mudah merasa puas karena apapun yang kita lakukan sebenarnya tidak ada yang sia-sia. Pasti ada maknanya.

Untuk mendapatkan solusi dari sebuah masalah kita bisa menghadirkan beragam perspektif agar bisa menilai dengan adil.

Related Articles

Card image
Self
Jujur dalam Bersyukur

Rasa syukur adalah perasaan berterima kasih atas apa yang telah kita terima. Tetapi, kecenderungan kita adalah untuk bersyukur dengan membandingkan diri akan apa yang kita alami terhadap kemalangan yang terjadi pada orang lain. Sehingga, alih-alih rasa syukur membantu membebaskan diri dari perbandingan sosial, kebutuhan akan rasa syukur malah menjebak kita dalam perbandingan.

By David Irianto
04 July 2020
Card image
Self
Perempuan Punya Pilihan

Pembekuan sel telur di Indonesia belum banyak diperbincangkan di masyarakat. Padahal pembekuan sel telur sebenarnya dapat menjadi sebuah pilihan bagi para perempuan untuk merencanakan masa depannya. Terlepas sudah atau belum menikah.

By Andini W. Effendi
04 July 2020
Card image
Self
Mengarungi Naik Turun Kehidupan

Dunia terus berputar layaknya roda kehidupan kita. Terkadang ketika kita sedang berada di atas bisa saja tiba-tiba harus berada di bawah karena kondisi yang tidak bisa dihindari. Wajar jika berbagai emosi hinggap dan memicu pertempuran batin. Namun pada akhirnya apapun keputusan yang diambil kita harus belajar menerima dan mensyukuri prosesnya. Sebab bisa saja di situasi tersulit yang dihadapi kita justru menemukan misi hidup yang sebenarnya. 

By Yan Budi Nugroho
04 July 2020