Self Work & Money

Harga Di Balik Sebuah Popularitas

Greatmind

@greatmind.id

Redaksi

Ilustrasi Oleh: Mutualist Creative

Tak selamanya popularitas menyuguhkan keistimewaan. Kadangkala, popularitas juga menimbulkan luka.

Hari-hari ini, kebanyakan dari kita masih diliputi melankoli Bohemian Rhapsody, film biopic dari Queen, rock band ternama dari Inggris itu. Kita masih baper menyanyikan lagu-lagu hits mereka, masih terharu biru saat terbayang adegan-adegan di dalamnya dan mungkin masih ingin menonton film itu beberapa kali lagi sebelum ia turun dari layar. Sosok sang vokalis utama yang flamboyan menjadi pusat penceritaan, berkelindan dengan kisah perjuangan keempat pemuda itu – Freddie Mercury, Brian May, Roger Taylor dan John Deacon – menapaki satu demi satu anak tangga popularitas mereka. Dalam 134 menit, kita melihat mereka berkejaran dengan jam sewa studio untuk membuat rekaman, melompat dari satu panggung ke panggung lain di berbagai belahan dunia, lalu kembali masuk ke dapur rekaman, membuat album, lalu kembali berkeliling melakukan tur promosi.

Sebagai pusat cerita, hidup Freddie dikisahkan lebih banyak ketimbang tiga personil lain. Bagaimana ia yang berasal dari keluarga Tanzania yang berimigrasi ke London dan kerap merasa tak dipahami keluarganya kemudian menemukan teman-teman sejalan untuk tumbuh besar bersama. Bagaimana saat berada di puncak popularitasnya, Freddie kembali menemui kesepian dan berusaha mencari penawar pada pesta-pesta narkoba. Juga bagaimana ia yang cinta sejatinya tertambat pada mantan kekasih perempuannya Marry Austin belakangan memilih menerima dan mengakui dirinya seorang homoseksual itu harus berpacu antara keinginan untuk terus berkarya dengan keganasan AIDS yang menggerogoti sisa usia dan akhirnya terpaksa menyerah pada virus itu pada 24 November 27 tahun silam.

Cerita ini tak hanya kita dengar dari Freddie. Banyak orang terkenal lain yang juga mengalami kegetiran yang membuat popularitasnya tak mampu membeli kebahagiaan, apa pun profesi mereka. Musisi, aktor film, aktris opera, politisi, ilmuwan, pelukis, istri pangeran, hingga penyanyi dangdut pantura bisa saja mengalami kegetiran hidup yang tak bisa ditawar. Gemerlap popularitas yang begitu cemerlang terkadang memang tak punya penawar rasa sakit. Ia tak bisa menyelamatkan Putri Diana atau Michael Jackson dari masalah yang mereka hadapi, tak pula bisa menyelamatkan keduanya dari kematian yang tragis. Popularitas tak sanggup menghibur Robin Williams, sang komedian, atau Heath Ledger yang begitu dipuja sebagai Joker keluar dari depresi yang membuat mereka memutuskan menghabisi nyawanya sendiri. Setiap orang memiliki luka dan kesedihannya masing-masing. Kita juga tak pernah tahu apa yang dipertaruhkan seseorang demi pengakuan atas kerjanya.

Popularitas mungkin memberi banyak kemewahan, kemudahan, dan berbagai keistimewaan. Tapi itu semua bisa saja harus ditukar misalnya dengan privacy yang tak lagi dimiliki, telinga dan hati yang harus kebal mendengar gunjingan tentangnya, kehilangan hak atas pikiran baik dari orang lain atau hal-hal lain yang tak pernah kita duga. Kita juga tak pernah bisa menakar apakah kemewahan, kemudahan dan keistimewaan yang seseorang peroleh dari popularitasnya benar-benar membawa bahagia bagi empunya, tak pernah ada yang bisa menakar.

Sebab bahagia berada di bagian paling tersembunyi di hati seseorang. Ia sering tak bisa tertangkap kamera, secerah apa pun tawa yang dipasang di wajah seseorang. Kita tak pernah tahu apa yang sesungguhnya dihadapi dan harus dijalani seseorang di balik unggahan-unggahan statusnya di media sosial. Kita tak pernah tahu, sebanyak dan sehebat apa pertengkaran yang terjadi dibalik foto-foto mesra sepasang selebriti di akun instagram mereka. Kita hanya tahu sebatas yang mereka bagikan. Itu mengapa, saya suka sekali kalimat yang entah siapa yang pertama menyatakannya, tapi sering sekali saya baca di kutipan yang dipasang teman-teman di media sosial ini: “be kind, for everyone is fighting battle you know nothing about.”

Terlebih di era digital seperti sekarang di mana kita bisa mengetahui hampir segala hal, nyaris di detik yang sama saat sebuah peristiwa terjadi. Kita dengan mudah terpapar dan memamah drama hidup yang sama picisannya seperti sinetron ratusan seri yang tak jelas ujung pangkalnya yang dilakoni mereka yang berlabel selebriti. Di negeri ini, drama-drama itu berseliweran bebas di berbagai kanal media sebebas sampah plastik yang bergulung-gulung menuju laut, melesak masuk ke perut paus tak berdosa, yang bahkan tak paham apa guna sampah-sampah itu selain untuk membunuhnya. Drama itu bisa muncul di lini masa media sosial kita, atau di infotainment televisi yang sudah jarang kita sambangi. Umumnya, drama-drama itu tak penting, namun berbahaya seperti sampah plastik yang telanjur merajalela itu. Kita sebenarnya, misalnya, tak terlalu bodoh untuk membedakan luka pemukulan dengan luka operasi plastik. Kita juga tak pernah ingin tahu urusan ranjang seorang perempuan selebriti bersama pria lain kalau tidak karena suami perempuan itu mengamuk kalap di depan kamera infotainment dan mata belasan tetangganya. Atau, kita juga tak punya hak menghakimi siapa yang bersalah saat sepasang pasutri selebriti memutuskan berpisah. Tapi media dan sosial media memaksa kita melihat dan berpendapat tentangnya.

Maka, kita semua, baik sebagai pemirsa dan netizen seperti saya, sebagai selebriti seperti aktris teater yang operasi wajah atau  suami yang merasa dikhianati, atau pasangan yang bersedih karena terpaksa memutuskan berpisah mungkin sebaiknya kembali menelisik peran kita masing-masing dengan penuh kesadaran. Saya, misalnya, perlu belajar untuk menjadi pengamat yang baik, tanpa ikut memperkeruh keadaan dengan komentar-komentar tak penting karena itu tadi, saya tak pernah tahu pertarungan apa yang dihadapi orang lain.

Sementara para selebriti barangkali juga perlu mulai bercita-cita untuk menjadi figur publik yang tenang hati dan kepalanya berisi seperti padi, punya visi dan misi yang berguna yang bisa ditularkannya pada pengikutnya untuk membantu sesama dan menjaga Semesta, yang pikirannya cukup panjang untuk memilih mana soal yang perlu dibagi pada jutaan orang di luar rumahnya mana yang tidak, juga memiliki kesadaran tinggi, bahwa popularitas memang berhak merenggut privacynya, sehingga tak cengeng manakala pemirsa dan netizen geram pada tingkah lebaynya dan kemudian merengek-rengek playing victim bilang bahwa dia dijahati.   

Untuk soal yang terakhir ini, tampaknya sebuah kutipan dari Freddie berikut ini bisa menjadi inspirasi: “I love the fact that I can make people happy, in any form. Even if it’s just an hour of their lives, if I can make them feel lucky or make them feel good, or bring a smile to a sour face, that to me is worthwhile.”

Related Articles

Card image
Self
On Marissa's Mind: Stoikisme, Filosofi Anti Cemas (Bagian 2)

Stoikisme adalah kerangka berpikir dalam hidup yang sangat berguna terutama ketika menghadapi situasi yang sangat menantang atau stress, kecemasan atau amarah. Stoikisme membantu kita tetap tenang sehingga mampu berpikir jernih, mengambil keputusan terbaik dan menghindari stress. 

By Marissa Anita
08 May 2021
Card image
Self
Passion Untuk Merasa Lebih Hidup

Bayangkan jika hidup ini dilalui begitu saja tanpa tahu apa motivasi menjalaninya. Hidup bisa terasa hambar jika kita tak tahu apa yang benar-benar disukai atau diinginkan, tanpa ada hal-hal yang mendorong untuk terus semangat dan maju. Kita butuh passion untuk merasa hidup. Untuk memiliki tujuan dalam menjalani keseharian sehingga kita bisa merasa terdorong untuk sampai di sana.

By Radhini
08 May 2021
Card image
Self
Memilih Dengan Tujuan

Buatku, memiliki passion amatlah penting. Passion bisa mengarahkan tujuan hidup kita. Aku sendiri bisa dibilang mengejar tujuanku dengan passion. Aku berupaya mencapai tujuan hidup dengan apa yang disenangi. Rasanya kalau tidak ada passion, aku tidak tahu akan ke mana arah hidup ini karena ia adalah salah satu hal yang memberikan kesenangan dalam melakukan sesuatu.

By Ankatama
08 May 2021