Self Art & Culture

Food For Thought: Dengan Hati

Greatmind

@greatmind.id

Redaksi

Ilustrasi Oleh: Dwi Febryan

Mencari Impian Yang Hilang

Sandi Tan bukan lah sosok remaja Singapura kebanyakan di era awal ’90-an. Pada tahun 1992, ia dan sahabat-sahabatnya menjadi remaja yang rebel dengan membaca teks-teks, mendengarkan musik-musik, dan menonton film-film yang pada masa itu dilarang oleh pemerintah Singapura yang konservatif. Manifestasi ke-rebel-an mereka salah satunya adalah dengan nekat membuat film independen yang terinspirasi karya-karya auteur semacam Jim Jarmusch atau Werner Herzog.

Dengan dibantu oleh seorang sutradara ekspatriat yang juga ‘mentor’ mereka di kursus film bernama Georges Cardona, Sandi dan sahabat-sahabatnya bergerilya menyelesaikan produksi film yang ia berikan judul Shirkers itu. Sayangnya, perjuangan mereka malah berakhir kesedihan karena Georges yang semestinya menyelesaikan editing di Singapura menghilang begitu saja tanpa motif yang jelas saat Sandi dan sahabatnya harus melanjutkan studi mereka di luar negeri. Seketika impian mereka bertiga musnah.

Dalam dokumenter Shirkers (judul yang sama seperti film yang ia buat tahun 1992 – red.), Sandi yang sekuat apapun berusaha melupakan tragedi tersebut nyatanya tak mampu membendung passion-nya yang ia tuangkan dalam film. Berbeda dengan sahabat-sahabatnya yang memilih untuk move on dan menjalani hidup seperti biasa, Sandi nampaknya sulit untuk lepas dari bayang-bayang Shirkers. Setelah puluhan tahun, ia pun kemudian berusaha menyingkap misteri di balik hilangnya rol-rol film yang lenyap bersama sang ‘mentor’.

Kalau bukan karena passion, mungkin Sandi tak akan membuang waktunya untuk tujuan yang belum tentu membuahkan hasil. Apa yang dilakukan Sandi pun tak tanggung-tanggung, demi mengejar impiannya yang sempat hilang itu ia rela terbang jauh ke Amerika Serikat dan mencari jejak-jejak Georges Cardona hanya berbekal petunjuk-petunjuk kecil.

Shirkers

2018

Sutradara: Sandi Tan

Dapat disaksikan di Netflix

Mengemas Sebuah Dedikasi

Toji Yamamoto telah mendedikasikan seluruh waktu dalam hidupnya untuk mengolah beras menjadi sake – dengan tangan. Pada usia 68 tahun, ia menjadi seorang brewmaster di Yoshida Brewery di prefektur Ishikawa di Jepang. Perusahan berusia 144 tahun ini menjadi satu-satunya brewery sake yang masih membuat produk olahan fermentasi beras ini dengan cara tradisional, suatu proses langka dan padat karya yang dilakukan selama 24 jam sepanjang bulan Oktober hingga April tahun berikutnya. Selama enam bulan tersebut, para pekerja – termasuk Toji – tinggal, tidur, makan, bekerja, beristirahat, dan bersenang-senang bersama. Mereka bahkan tidak dapat menemui keluarga mereka sendiri. Jika proses tersebut terdengar ekstrim, well, itulah kenyatannya.

Sutradara Erik Shirai yang sebelumnya malang melintang sebagai cameraman untuk acara televisi Anthony Bourdian No Reservation, berhasil menyampaikan kisah dedikasi para pekerja pabrik sake tersebut lewat sudut pandangnya dalam film dokumenter ini. Begitu menawan dan menyentuh saat mengetahui bahwa sake ternyata tidak dipandang oleh para pekerjanya sebagai sebuah produk semata. Bagi mereka, sake sudah seperti anak sendiri yang harus dijaga dan dirawat dengan baik layaknya sorang bayi.

Menarik untuk mengetahui bahwa masih ada orang-orang di dunia modern – yang penuh dengan instant gratification ini – yang benar-benar mendedikasikan dirinya untuk apa yang mereka kerjakan. Tak heran jika pada akhirnya, sesuatu yang dikerjakan dengan hati tersebut kemudian memiliki nilai yang jauh lebih tinggi.

The Birth of Sake

2015

Sutradara: Erik Shirai

Dapat disaksikan di Netflix

Ubah Perspektif Untuk Hidup Yang Baru

“To see the world, things dangerous to come to, to see behind walls, draw closer, to find each other, and to feel. That is the purpose of life.”

Selain menjadi tujuan hidup, slogan tersebut juga merupakan tujuan dari majalah LIFE dalam The Secret Life of Walter Mitty yang terpampang di dinding dan dilewati setiap harinya oleh Walter Mitty (Ben Stiller) – karakter utama dalam film. Sebagai pekerja majalah LIFE yang kerap menampilkan imaji tempat-tempat eksotis, Walter Mitty justru belum pernah sekalipun menyambanginya. Hidupnya seakan berjalan datar.

Walter merupakan pekerja Film Development majalah tersebut yang departemen tempat ia bekerja dianggap kuno, kurang glamor, dan dipandang sebelah mata. Namun Walter adalah sosok yang passionate serta berkomitmen pada pekerjaannya. Bahkan hingga seorang jurnalis foto Sean O’Connell (Sean Penn) hanya mempercayakan Walter untuk mengurus foto-fotonya.

Karakter petualang Sean lah yang kemudian membawa titik balik dalam kehidupan stagnan Walter: ia menjadi sering berkhayal berada dalam sebuah petualangan besar dalam pikirannya – meski dalam dunia nyata ia merasa hidupnya berjalan datar sebab faktor lingkungan sekitar yang tak dapat ia kendalikan. Nyatanya, walau memang ia menghadapi kolega yang tidak menghargainya, ketakutan-ketakutan serta ia yang tidak mampu menghargai diri sendiri justru menjadi hambatan terbesar bagi Walter.

Saat hidupnya benar-benar berubah menjadi sebuah petualangan besar (yang nyata) akibat suatu peristiwa, Walter akhirnya meruntuhkan segala dinding kepasifan dan ketidakpuasan dalam dirinya. Ia beranikan diri menyeberang dunia, menghadapi maut, dan menyingkirkan ketakutan untuk turun dalam ‘medan perang’ menyelamatkan pita negatif sebuah foto milik Sean. Dengan didorong oleh passion-nya yang menggebu-gebu, pekerjaan dan kehidupan Walter seketika memiliki sebuah makna yang baru saat ia mau meninggalkan zona nyamannya.

Mungkin kita tidak bisa benar-benar meniru perjalanan Walter dalam menjelajah berbagai benua, namun setidaknya satu pelajaran penting yang dapat diambil adalah kita hanya perlu mengubah sikap dan perilaku untuk dapat mampu mencapai potensi diri. Tagline film ini, “Stop Dreaming, Start Living” secara jelas menyampaikan pesan itu. Sudahi semua alasan-alasan. Hapus seluruh ketakutan. Hidup ini terlalu pendek; dengan sedikit motivasi dan perubahan cara pandang, kita dapat menemukan passion, kebahagiaan, dan kepuasan dalam pekerjaan, hubungan, dan kehidupan kita. Ingatlah untuk menjadikan mimpi kita sebagai kenyataan – bukannya kenyataan sebagai sebuah mimpi.

The Secret Life of Walter Mitty

2013

Pemain: Ben Stiller, Kirsten Wiig, Sean Penn

Sutradara: Ben Stiller

Dapat disaksikan di Netflix

Related Articles

Card image
Self
Ekspresi Diri dan Gaya Hidup

Saya juga setuju dengan ungkapan bahwa fashion adalah cara mengekspresikan diri. Kalau saya bertemu dengan orang, kita bisa melihat karakternya dari apa yang ia kenakan. Baju adalah salah satu medium kita bisa melihat dan “menilai” orang. Jadi bisa dikatakan bahwa baju yang kita kenakan sebenarnya bisa menjadi ungkapan bahwa kita ini adalah bagian dari komunitas tertentu. Mungkin komunitas skateboard, band, atau komunitas-komunitas lainnya. Urban Sneaker Society juga berusaha menggabungkan banyak komunitas agar bisa bertemu satu-sama lain.

By Jeffry Jouw
04 December 2021
Card image
Self
Merangkul Kegagalan

Kegagalan tentu bukan hasil yang diharapkan bagi semua orang yang sedang berjuang. Banyak diantara kita yang mungkin tengah atau telah melalui masa sulit, baik karena pandemi maupun karena masalah pribadi. Sayangnya kegagalan bukan hal yang bisa kita hindari. Kegagalan akan selalu hadir sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran hidup yang masih akan kita jalani hari ini dan seterusnya.

By Greatmind X Festival Pulih
04 December 2021
Card image
Self
Berjalan Untuk Berubah

Masing-masing manusia punya perjalanan yang berbeda-beda. Katanya, dalam perjalanan itu yang paling penting bukan destinasinya, melainkan proses dan cerita yang terjadi sepanjang perjalanan. Katanya juga, cerita dalam perjalanan lah yang menjadikan siapa kita sekarang ini. Tapi yang pasti, melalui perjalanan kita berubah dan bertumbuh.

By Greatmind x Festival Film 100% Manusia
04 December 2021