Self Lifehacks

Dear, Aku Yang Dulu: Menjadi Petty

Lalitia Apsari

@lalitia

Kurator Konten & Praktisi Humaniora Digital

Ilustrasi Oleh: Salv Studio

Kamu tahu perasaan di saat ada orang lain yang berhasil melakukan sesuatu tapi alih-alih turut bahagia, kamu justru mencari-cari cela? Kadang dalam hati kita berpikir, “Ah, ya jelas dia bisa, kan dia punya ini dan itu.” Atau seribu alasan lainnya yang kita gunakan hanya untuk membuktikan bahwa orang itu tidak pantas sukses. Nyatanya, bukti ini pada akhirnya tidak muncul. Yang jelas terlihat justru bukti bahwa kita berpikiran picik, iri ... petty.

Tapi, setelah aku pikir-pikir, apakah ini hal yang buruk?

Aku, kamu, dan sebagian besar generasi kita, dibesarkan dengan tough love. Tidak jarang kita dibandingkan dengan orang-orang hebat dan dipertanyakan, “Kenapa kamu tidak bisa seperti mereka?” Atau lebih buruk lagi, diremehkan, “Yah, kamu mana bisa jadi seperti mereka.” Saking seringnya mendengar ini, kamu menjadi percaya bahwa kamu akan selalu gagal jika tidak bisa mencapai persis seperti mereka. Lalu semua jalan yang tadinya bisa kamu terawang menjadi buntu.

Aku tahu kamu sering melampiaskan tekanan ini dengan menjadi petty dan tidak menerima pencapaian mereka. Tapi seiring waktu, kamu akan sadar bahwa yang sebenarnya terjadi adalah kamu tidak bisa menerima kegagalanmu sendiri. Kegagalanmu dan kesuksesan mereka tidak relevan. Kegagalanmu bukan tanggung jawab mereka, dan kesuksesan mereka bukan halangan untukmu maju.

Jujur, sampai sekarang aku juga masih suka merasa petty, bergosip dengan teman dekat membahas kesuksesan orang. Apa boleh buat, aku hanya manusia, bukan malaikat. Bedanya, aku sudah mulai bisa menyayangi kegagalanku. Jadi perasaan ‘iri’ ini sekarang bisa aku tertawakan. Sedikit demi sedikit aku mulai mendapat jalan keluar yang lebih positif. Saat sudah dua-tiga kali muncul dalam pikiran, atau mulai menjadi tekanan dalam hati, itu berarti rasa iri tersebut sudah tidak lagi berguna. Titik ini menjadi tanda saatnya aku menuntut diriku untuk menjadi produktif.

Kegagalanmu bukan tanggung jawab mereka, dan kesuksesan mereka bukan halangan untukmu maju.

Tugas-tugas proyek yang mendekati tenggat waktu?

Hasil rapat yang harus di-email ke klien?

Baju-baju hasil setrika yang harus dimasukkan ke dalam lemari ala Marie Kondo?

Kecil, besar, apapun jadi.

Kamu harus tahu bahwa kegagalan dan kesuksesan merupakan spektrum yang subyektif. Kesuksesanmu mendapatkan nilai A, kesuksesan anakku melewati potty training, dan kesuksesan mereka yang masuk Forbes 30 Under 30. Di mata siapa? Semua bisa tampak sukses, tapi juga bisa tampak tidak penting. Pertanyaan-pertanyaan seperti “Apa ini keputusan yang tepat?”, “Apa aku sudah cukup mendapat apresiasi?”, “Apa yang aku lakukan cukup berarti?”, itu juga tidak pasti. Apa yang pasti? Perasaan di akhir hari setelah kamu berhasil mendorong dirimu untuk menyelesaikan pekerjaan dan mengetahui bahwa kamu sudah melakukan yang terbaik.

Kegagalan dan kesuksesan merupakan spektrum yang subyektif.

So, this pettiness? It’s not so bad.

Kamu bisa gunakan untuk tertawa selama beberapa menit, tapi kemudian penuhi pandanganmu dengan hal-hal yang harus kamu kerjakan. Dengan begitu, akan selalu ada jalan yang kamu cari, temukan, dan (sukses) selesaikan satu persatu.

Related Articles

Card image
Self
Tinggal Dalam Pluralisme

Keberagaman berpotensi memiliki dampak negatif dan positif. Pertama, membuat masyarakat yang tinggal dalam keberagaman memiliki toleransi tinggi. Tapi di satu sisi lain bisa membuat sebagian menjadi etnosentris, atau masyarakat yang cenderung memiliki sikap dan pandangan yang berpangkal pada budayanya sendiri.

By Wisnu Ikhsantama
17 April 2021
Card image
Self
Menilai Kesalahan

Takaran kesalahan setiap orang pasti berbeda-beda. Akan tetapi, menurutku pribadi kesalahan bisa diartikan jika kita melakukan sesuatu yang merugikan orang lain atau diri sendiri. Sebuah tindakan yang melewati batas-batas aturan tertentu.

By Ghaniyya Ghazi
17 April 2021
Card image
Self
Microflow: Menikmati Hal-Hal Sederhana

Saat masa pandemi ini, banyak orang mengeluh betapa bosannya mereka. Banyak aktivitas dilakukan untuk mengurangi rasa bosan, mulai dari menonton drakor berseri, membaca buku, bahkan memiliki hobi baru. Bisa jadi aktivitas tersebut memang menghilangkan kejenuhan kita, di satu sisi bisa jadi hal tersebut hanya pengalihan sementara. Bagaimana sebenarnya berdamai dengan situasi seperti ini? 

By Dr. Clara Moningka
17 April 2021