Self Lifehacks

Dear, Aku Yang Dulu: Di Mana Tempatku?

Lalitia Apsari

@lalitia

Kurator Konten & Praktisi Humaniora Digital

Ilustrasi Oleh: Salv Studio

Ya, memang. Mencari tempatmu di dunia ini tidak semudah itu. Meskipun sudah kodratnya manusia butuh tempat di mana dia bisa bilang, “Ah, memang aku sudah seharusnya di sini.”

Nanti kamu akan sadar kalau tempat ini bisa jadi sesuatu yang fisik, tapi seringnya bukan. Mungkin adalah sebuah kubikel nyata tempat sebuah pekerjaan penting berlangsung, atau mungkin juga berupa sekumpulan orang-orang dalam pergaulan akhir minggu yang sepertinya menarik untuk diikuti.

Aku mendengar curhatan perjalananmu untuk menjadi bagian dari sesuatu. Tidak jarang kamu harus tertawa saat menurutmu pembicaraannya tidak lucu, mengangguk-angguk di saat kamu tidak setuju, membeli barang yang tidak diperlukan hanya untuk mendapatkan sebuah conversation starter. Kadang terlalu tinggi harga yang harus kamu bayar untuk diterima: uang, teman dan keluarga, waktu, kepercayaan, identitas, kebebasan.

Sekarang kamu kembali bertanya: “Apa aku harus begini to belong somewhere?”

Apa sih pentingnya to belong? Aku dan jutaan orang lain akan mengakui hal ini, mengakui bahwa kita semua butuh diterima. Atau lebih tepatnya membutuhkan keterhubungan. Tapi keterhubungan ini sering putus di tengah-tengah. Bisa jadi sepertimu, terlalu banyak yang harus dikorbankan, merasa tidak pada tempatnya lagi, atau justru sebenarnya kita tidak mengerti keterhubungan seperti apa yang kita cari.

Aku dan jutaan orang lain akan mengakui hal ini, mengakui bahwa kita semua butuh diterima. Atau lebih tepatnya membutuhkan keterhubungan.

Umumnya kita beranjak dewasa dengan diselimuti kegelisahan terhadap kesendirian. Mungkin ini yang menjadi sebab kenapa kita selalu berusaha untuk masuk menjadi bagian dari sesuatu. Sebuah konsep yang dapat ditarik ke belakang hingga tahun 1654 saat seorang ilmuwan dan filsuf Perancis, Blaise Pascal, keluar dengan pernyataan, “Semua masalah kemanusiaan berakar dari ketidakmampuannya untuk duduk tenang di sebuah ruangan, sendirian.”

Kesendirian jangan menjadi alasan untuk menyangkal ketergantunganmu pada orang lain. Kesendirian tidak selalu buruk. Kesendirian dapat menjadi kesempatan untukmu menjalin keterhubungan dengan dirimu sendiri. Setidaknya buat aku, kesendirian menunjukkan di mana aku merasa dimiliki.

That I belong to myself first, before anything else.

Umumnya kita beranjak dewasa dengan diselimuti kegelisahan terhadap kesendirian.

Aku belajar dari pengalaman terlibat sebagai bagian dari sesuatu selama hampir satu dekade, tetapi aku masih merasa tidak pada tempatnya. Stigma selalu menempel pada orang seperti kamu dan aku. Anti sosial, introvert, labil, aneh, tidak konsisten, tidak jelas. Bukan salah siapa-siapa, karena meskipun semua orang telah membuka tangan lebar-lebar untukku, aku tidak akan merasa pada tempatnya hingga aku bisa memutuskan kalau aku memang patut berada di situ.

Aku melihat ternyata itu karena aku tidak membawa diriku dengan bangga. Diriku yang aku terima, dan bukan diriku yang sepertinya diterima semua orang. Sedikit demi sedikit aku belajar to enjoy my own company. Mungkin dari luar, watak dan perawakanku tidak ada yang berubah, sehingga segala stigma tadi masih akan ditujukan untukku. Mungkin orang tidak akan mengerti proses pendewasaanku ini.

Tidak apa-apa.

Ada sensasi yang melegakan untuk menerima bahwa mungkin aku memang tidak akan dimiliki oleh tempat manapun, apapun, atau siapapun… I belong no place. Atau mungkin juga, semua akan menerimaku… I belong every place. Sentimen ini pertama aku dengar dari seorang penulis bernama Maya Angelou yang menunjukkan bahwa kebebasan ini sepenuhnya bisa menjadi milikku, selama aku menyukai diriku sendiri.

Bayangkan betapa menyenangkannya untuk menanamkan sedikit Maya dalam diri kita, sehingga kita dapat memulai setiap pagi dengan sebuah mantra:

I see me, I do me, I take care of me,

because I like me.

I like me very much.

Related Articles

Card image
Self
Usaha Menciptakan Ruang Dengar Tanpa Batas

Aku terlahir dalam kondisi daun telinga kanan yang tidak sempurna. Semenjak aku tahu bahwa kelainan itu dinamai Microtia, aku tergerak untuk memberi penghiburan untuk orang-orang yang punya kasus lebih berat daripada aku, yaitu komunitas tuli. Hal ini aku lakukan berbarengan dengan niatku untuk membuat proyek sosial belalui bernyanyi di tahun ini.

By Idgitaf
19 May 2024
Card image
Self
Perjalanan Pendewasaan Melalui Musik

Menjalani pekerjaan yang berawal dari hobi memang bisa saja menantang. Menurutku, musik adalah salah satu medium yang mengajarkanku untuk menjadi lebih dewasa. Terutama, dari kompetisi aku belajar untuk mencari jalan keluar baru saat menemukan tantangan dalam hidup. Kecewa mungkin saja kita temui, tetapi selalu ada opsi jalan keluar kalau kita benar-benar berusaha berpikir dengan lebih jernih.

By Atya Faudina
11 May 2024
Card image
Self
Melihat Dunia Seni dari Lensa Kamera

Berawal dari sebuah hobi, akhirnya fotografi menjadi salah satu jalan karir saya hingga hari ini. Di tahun 1997 saya pernah bekerja di majalah Foto Media, sayang sekali sekarang majalah tersebut sudah berhenti terbit. Setelahnya saya juga masih bekerja di bidang fotografi, termasuk bekerja sebagai tukang cuci cetak foto hitam putih. Sampai akhirnya mulai motret sendiri sampai sekarang.

By Davy Linggar
04 May 2024