Self Health & Wellness

Dalam Bayang Penyakit Kritis

Steve Jobs, dalam suatu momen di mana ia berkesempatan memberikan pidato singkat untuk para wisudawan Standford University di tahun 2015, bercerita mengenai tiga kisah dalam hidupnya. Satu, mengenai bagaimana ia ‘menghubungkan titik’ atau menjabarkan suatu sebab akibat dalam runutan perjalanan karirnya, dua, mengenai cinta dan kehilangan, dan yang ketiga, mengenai kematian.  Pada siang hari tersebut, dalam balutan jubah berwarna hitam, ia berbicara dengan tenang dan tampak sehat menggulirkan satu per satu rentetan peristiwa yang membentuknya hingga saat ini – meskipun setahun yang lalu, ia baru saja didiagnosis menderita kanker.

Baginya, setahun yang lalu adalah waktu terdekatnya dalam menghadapi kematian. Para dokter mengatakan jenis kanker yang dideritanya tidak dapat disembuhkan, dan ia harus berharap hidup tidak lebih dari tiga hingga enam bulan ke depan. Dokter pun menyarankan ia untuk pulang, dan membereskan segala urusannya, yang merupakan kode baginya untuk bersiap mengucapkan selamat tinggal.

Ketika Jobs berusia 17 tahun, ia membaca sebuah kutipan yang berbunyi, ‘Jika Anda hidup setiap hari seolah-olah itu adalah hari terakhir Anda, suatu hari Anda pasti akan benar’. Kutipan ini membuatnya terkesan, dan semenjak itu selama 33 tahun terakhir, saat ia bercermin di pagi hari, ia bertanya pada diri sendiri, ‘Jika hari ini adalah hari terakhir dalam hidup saya, apakah saya ingin melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?’ Dan setiap kali jawabannya adalah ‘tidak’ selama beberapa hari berturut-turur, ia pun tahu, bila ia perlu mengubah sesuatu.

‘Jika hari ini adalah hari terakhir dalam hidup saya, apakah saya ingin melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?’

Menurutnya, dengan mengingat bahwa ia akan segera mati, adalah cara paling efektif yang pernah ia temui untuk membantunya membuat pilihan besar dalam hidup. Waktu yang kita miliki di dunia ini terbatas, jadi, tidak ada alasan untuk tidak mengikuti hati. ‘Stay hungry, stay foolish’, pesannya saat mengakhiri pidato singkatnya di hari itu.

Waktu yang kita miliki di dunia ini terbatas, jadi, tidak ada alasan untuk tidak mengikuti hati.

Tidak ada seorang pun yang ingin mati. Karena alasan ini pula, menurut National Institute of Mental Health, sebanyak 2,5% hingga 6,5% penduduk Amerika mengidap aviophobia, atau fobia naik pesawat. Padahal, berdasarkan data World Health Organization (WHO) tahun 2016, kecelakaan hanya menempati urutan kedelapan dari sepuluh penyebab umum kematian di dunia, dengan kesembilan faktor lainnya disebabkan oleh penyakit kritis. Dengan kata lain, lebih banyak mereka yang wafat di tempat tidur dibandingkan dengan kecelakaan pesawat.

Di Indonesia sendiri, angka penyakit kritis masih sangat tinggi. Menurut WHO, 35% kematian di Indonesia disebabkan oleh kardiovaskular dan 12% disebabkan oleh kanker. Yang selalu menjadi masalah dari penyakit kritis ini adalah, biaya perawatan medisnya, tergolong sangat mahal. Bahkan apabila dijumlah dan dirata-rata, angkanya akan berkisar di ratusan juta rupiah. Besarnya biaya medis penyakit kritis ini diperparah dengan tingginya inflasi biaya kesehatan di Indonesia yang mencapai 8% hingga 12% per tahun. Ditambah, di tengah kondisi pandemik COVID19, biaya perawatan rumah sakit mengalami lonjakan kenaikan..

Yang selalu menjadi masalah dari penyakit kritis ini adalah, biaya perawatan medisnya, tergolong sangat mahal.

Biasanya, penyakit kritis berkaitan dengan struktur genetis seseorang. Mereka yang memiliki orangtua dengan riwayat penyakit kritis, cenderung lebih rentan terserang penyakit yang sama. Meski demikian, belakangan ini, faktor genetis bukan lagi menjadi penyebab utama seseorang terkena penyakit kritis. Ada beberapa faktor lainnya yang mempengaruhi seperti:

  1.  Kurangnya asupan makanan yang sehat. Badan Pusat Statisik (BPS) mencatat, kebanyakan orang Indonesia hanya mengasup buah dan sayuran sebanyak 173 gram/hari. Jauh di bawah angka kecukupan gizi menurut WHO, yaitu sebesar 400 gram/hari. Selain itu kecenderungan mengonsumsi makanan olahan, kalengan dan junk food memperbesar risiko terkena penyakit kritis.
  2. Merokok dan polusi udara. Risiko penyakit kritis seperti jantung atau kanker paru-paru lebih tinggi dihadapi seorang perokok, baik yang aktif maupun pasif. Ditambah lagi, buruknya kualitas udara akibat polusi asap kendaraan, membuat risiko penyakit kritis semakin besar dihadapi, terutama oleh kalangan urban.
  3. Kurang olahraga atau beraktivitas fisik. Menurut data Kementrian Kesehatan tahun 2018, Penduduk Indonesia yang kurang melakukan aktivitas fisik jumlahnya meningkat dari 26,1% pada 2013 menjadi 33,5% pada 2018.

Memiliki asuransi yang menanggung risiko kerugian yang terjadi ketika si tertanggung divonis menderita penyakit kritis, menjadi sangat penting

Oleh karena alasan inilah, memiliki asuransi yang menanggung risiko kerugian yang terjadi ketika si tertanggung divonis menderita penyakit kritis, seperti jatung, stroke, kanker, dan gagal ginjal menjadi sangat penting. Untuk menjawab kebutuhan ini, asuransi AVA iPro Proteksi Dini pun memberikan manfaat sebagai berikut:

  1. Apabila Tertanggung terdiagnosa mengidap salah satu penyakit kritis tahap awal, tertanggung akan menerima 50% dari Uang Pertanggungan (UP). Kondisi penyakit kritis tahap awal yang ditanggung ialah serangan jantung, kanker, stroke, gagal ginjal, dan penyakit paru kronis.Kondisi penyakit kritis tahap awal ini hanya dapat dibayarkan maksimal hingga dua kali dengan kondisi penyakit yang berbeda pada kondisi Penyakit Kritis tahap awal. 
  2. Apabila Tertanggung terdiagnosa menderita salah satu kondisi penyakit kritis tahap lanjut, Tertanggung akan memperoleh 100% dari UP setelah dikurangi dengan UP yang telah dibayar ketika Tertanggung terdiagnosa penyakit kritis tahap awal. Kondisi penyakit kritis tahap lanjut yang ditanggung ialah serangan jantung, kanker, stroke, gagal ginjal, penyakit paru kronis, dan angioplasty.
  3. Apabila Tertanggung meninggal dunia, maka ahli waris akan menerima 100% dari Uang Pertanggungan (UP). Pengembalian Premi setiap tiga tahun sebesar 30% dari Total Premi yang telah dibayarkan

Dengan premi yang terjangkau, AVA iPro Proteksi Dini dapat diperoleh secara mudah dengan membelinya secara langsung melalui aplikasi PermataMobileX. Besar premi pada AVA iPro Proteksi Dini ditentukan oleh usia masuk tertanggung yang bisa diatur sesuai UP yang dipilih.

Cukup buka aplikasi mobile PermataMobileX, masuk ke Permata Store kemudian pilih menu perbankan di bagian bawah, lalu masuk ke menu asuransi jiwa. Pilih dan pahami produk yang diinginkan dan ikuti langkah-langkah selanjutnya. Hanya dalam lima menit proses pembelian, Anda dan keluarga telah dapat terlindungi. Urusnya gampang, masa depan tenang.

Related Articles

Card image
Self
Ketenangan Dalam Kesulitan

Ketenangan dan kedamaian itu bagaikan matahari. Ia selalu ada, tapi terkadang tidak nampak. Saat malam, bumi menutupinya hingga ia tidak terlihat. Begitu juga kala siang hari, ia sering tertutup awan. Akan tetapi ia tetap ada di sana, sama halnya seperti ketenangan.

By Reza Gunawan
26 September 2020
Card image
Self
On Marissa's Mind: Mindfulness

Saya pernah depresi. Lima tahun lalu, pada 2015, ada hari-hari dimana saya menangis tanpa mengerti apa alasannya. Saya juga pernah putus asa dan berpikir untuk mengakhiri semuanya. Akar derita? Trauma masa kecil yang terbawa hingga dewasa. Sekarang, saya masih di sini, merasa lebih baik. Untuk sampai di sini, saya melewati proses, salah satunya dengan mindfulness.

By Marissa Anita
26 September 2020
Card image
Self
Menghargai Pangan Seutuhnya

Pada dasarnya, kita harus berupaya untuk menghargai bahan pangan dan makanan karena kehidupan adalah sebuah berkah. Bumi ini memberikan kita pangan yang berkecukupan dan lengkap. Kita bisa tanam dan tumbuhkan sendiri. Bukankah ini sebuah berkah?

By Ivana Atmojo
26 September 2020