Self Lifehacks

Cukup, Mampu, dan Mau

Trisa Triandesa

Pegiat Neurosains

Bertanya mengenai mana keinginan dan kebutuhan kepada diri sendiri bukan hal yang mudah. Apalagi mempertanyakan mengenai keputusan apa saja yang sudah kita ambil berdasarkan hasil perdebatan antara kedua hal tersebut. Yang sayangnya, bagi saya pribadi, seringkali dimenangkan oleh keinginan.

Di usia saya yang sudah 36 tahun, seharusnya sih prefrontal cortex, bagian otak yang berperan dalam pengambilan keputusan sudah berkembang optimal.  FYI, kalau perkembangan prefrontal cortex kurang optimal dapat berkaitan dengan gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, gangguan makan, schizophrenia, dan penggunaan obat terlarang.

Saya jadi mikir, jangan-jangan itu penyebab saya “ngaco” begini. Tapi, mari kita biasakan untuk tidak self-diagnose ya!

Bagi saya, sebelum mengambil keputusan setidaknya ada tiga hal yang menjadi bahan percekcokan dan sumber ketidaksepahaman dalam diri saya. Perkara cukup, mampu, dan mau.

Sebelum mengambil keputusan setidaknya ada tiga hal yang menjadi bahan percekcokan dan sumber ketidaksepahaman dalam diri saya. Perkara cukup, mampu, dan mau.

Cukup

Saya sering menantang diri sendiri untuk bisa menjawab pertanyaan, apakah yang saya lakukan, rasakan, dan/atau pikirkan akan mencukupi kebutuhan saya?

Kalau saya butuh bahagia, apakah dengan fokus pada pengalaman negatif akan membuat saya bahagia? Tentu tidak, justru itu salah satu gejala depresi.

Kalau saya perlu menyelesaikan disertasi, apakah dengan nonton video musik Twice, girlgroup KPop favorit saya, berulang kali akan membantu saya menyelesaikannya?

Lalu dalam mengerjakan disertasi, saya tipe orang yang senang menimbun materi referensi buku dan mengunduh jurnal penelitian sebanyak-banyaknya. Sampai-sampai saya kewalahan sendiri karena bingung mau memulai baca yang mana. Dan Sebenarnya semua itu bersumber dari kecemasan belaka.

“Sayang kalau tidak diunduh, takut nanti lupa”.

Tapi lebih disayangkan lagi kalau sudah diunduh dan tidak dibaca dan malah menambah kecemasan karena materi sudah menumpuk dan semakin membebani. Belum lagi ada banyak program online learning yang menarik.

Di sinilah saya harus berani berkata "cukup" pada diri saya sendiri karena semua ada batasan. Berani mengenali batasan diri sendiri ternyata akan memudahkan kita dalam melakukan apa yang mau kita lakukan. Dalam satu hari saja terbatas 24 jam. Dan dianjurkan sepertiganya kita gunakan untuk tidur kan?

Berani mengenali batasan diri sendiri ternyata akan memudahkan kita dalam melakukan apa yang mau kita lakukan.

Meskipun otak ini canggih tapi kemampuannya dalam memroses dan menyimpan informasi pun terbatas. Kemampuan menyerap informasi dan mengingatnya untuk jangka panjang, berkaitan dengan kuantitas dan kualitas tidur [1].

Dan kalau kita mau materi yang kita pelajari lebih mantap masuk ke otak, belajarnya sebelum tidur [2]. Mungkin itu penyebabnya saya bisa hapal melodi, lirik (yang sekenanya), bahkan koreografi lagu-lagu Twice karena sudah ratusan malam saya habiskan untuk nonton video music mereka sebelum tidur.

Kalau sudah seperti ini, saya benar-benar harus berkata "CUKUP" dengan sangat lantang. Saya butuh hiburan, tapi saya juga butuh menyelesaikan disertasi yang deadline-nya—pada saat itu—semakin mendekati.

 

Mampu

Apakah saya mampu mengerjakan apa yang butuh saya kerjakan?

Ketika saya memutuskan cukup menunda-nunda untuk melanjutkan studi di bidang yang saya sukai yaitu neurosains, pertanyaan berikutnya adalah:

Apakah saya mampu menghadapi tantangan dan standar pendidikan di Inggris?

Apakah saya mampu membiayai studi dan biaya hidup di Inggris?

Apakah saya mampu menghadapi dinginnya dan kelabunya langit Inggris?

Pertanyaan soal mampu ini, bisa jadi malah "menjatuhkan", karena self-doubt dan menjadi sumber kecemasan. Bagi saya pribadi, ini jadi ujian penting untuk mengukur seberapa besar tekad saya, menguji kejelasan tujuan hidup, dan menjawab apakah ini sekadar keinginan atau memang kebutuhan.

Di tahap inilah saya mulai menimbang-nimbang apakah saya bisa melakukannya, bagaimana perasaan saya; juga apa yang terjadi kalau saya tidak melakukannya. Dan yang paling penting, apakah ini akan mendekatkan atau menjauhkan saya dari tujuan.

Merasa mampu atau memiliki keyakinan diri untuk dapat menghadapi suatu tantangan tugas tertentu, dalam psikologi dikenal dengan self-efficacy yang dirumuskan oleh Albert Bandura (1977). Dalam kasus saya, karena saya berhasil lulus sarjana psikologi lalu, bukan bermaksud sombong, saya diterima di beberapa universitas di Inggris; dan mendapatkan dukungan dari sekitar, membuat saya yakin untuk melanjutkan studi di bidang neurosains.

 

Mau

NAH! Pertanyaan berikutnya: mau atau tidak melakukan hal-hal atau cara untuk mencapai tujuan yang tidak selalu mulus dan mudah itu. Rutenya bisa berbelok-belok dan berputar-putar ngalor ngidul hingga kita tiba di titik di mana kita mempertanyakan, apakah semua keribetan ini sepadan?

Tapi dengan kita kembali memvisualisasikan tujuan dan kebutuhan akan membantu mengenyahkan perasaan negatif dan menumbuhkan semangat baru. Terlebih, ketika kita menghadapi rintangan dan tantangan, hal tersebut justru melatih kita menjadi lebih kuat atau resilien dalam menghadapi stress.

Berhubung cita-cita terpendam saya adalah menjadi neuroscientist, bagian dari prosesnya adalah menulis essay dan melawan rasa malas untuk mengerjakannya. Itu bagian paling sulit. Lucunya, meskipun saya mengeluh saat menulisnya, tapi itu tetap membuat saya bahagia and that what keeps me going.

Jadi kesimpulannya (bagian yang mungkin kamu tunggu-tunggu kalau kamu bertahan baca sampai sini), bagi saya menyempatkan waktu untuk berdialog secara intim, jujur, dan blak-blakan dengan diri sendiri versi masa kini, masa lalu dan masa depan membantu dalam memiliki kejelasan mengenai apa yang kita butuhkan dan siapa diri kita. Kita sendiri lah yang bisa dan boleh membuat deskripsi mengenai diri kita, bukan orang lain.

Kita sendiri lah yang bisa dan boleh membuat deskripsi mengenai diri kita, bukan orang lain.

Berani mengenali batasan diri sendiri ternyata akan memudahkan kita dalam melakukan apa yang mau kita lakukan. Tapi yang paling penting adalah kita harus cukup mencintai diri sendiri, mampu mengenali kelebihan dan kekurangan, dan mau mencari cara agar hal tersebut bisa membantu dalam mencapai tujuan dan membuat diri bahagia. I think it’s a lesson learned.

Kita harus cukup mencintai diri sendiri, mampu mengenali kelebihan dan kekurangan, dan mau mencari cara agar hal tersebut bisa membantu dalam mencapai tujuan dan membuat diri bahagia.

***

1 Walker, M. P., & Stickgold, R. (2006). Sleep, memory, and plasticity. Annual Review of Psychology, 57, 139–166. https://doi.org/10.1146/annurev.psych.56.091103.070307

2 Gais, S., Lucas, B., & Born, J. (2006). Sleep after learning aids memory recall. Learning and Memory, 13(3), 259–262. https://doi.org/10.1101/lm.132106

Related Articles

Card image
Self
Tinggal Dalam Pluralisme

Keberagaman berpotensi memiliki dampak negatif dan positif. Pertama, membuat masyarakat yang tinggal dalam keberagaman memiliki toleransi tinggi. Tapi di satu sisi lain bisa membuat sebagian menjadi etnosentris, atau masyarakat yang cenderung memiliki sikap dan pandangan yang berpangkal pada budayanya sendiri.

By Wisnu Ikhsantama
17 April 2021
Card image
Self
Menilai Kesalahan

Takaran kesalahan setiap orang pasti berbeda-beda. Akan tetapi, menurutku pribadi kesalahan bisa diartikan jika kita melakukan sesuatu yang merugikan orang lain atau diri sendiri. Sebuah tindakan yang melewati batas-batas aturan tertentu.

By Ghaniyya Ghazi
17 April 2021
Card image
Self
Microflow: Menikmati Hal-Hal Sederhana

Saat masa pandemi ini, banyak orang mengeluh betapa bosannya mereka. Banyak aktivitas dilakukan untuk mengurangi rasa bosan, mulai dari menonton drakor berseri, membaca buku, bahkan memiliki hobi baru. Bisa jadi aktivitas tersebut memang menghilangkan kejenuhan kita, di satu sisi bisa jadi hal tersebut hanya pengalihan sementara. Bagaimana sebenarnya berdamai dengan situasi seperti ini? 

By Dr. Clara Moningka
17 April 2021