Self Lifehacks

Bijak Dalam Era Serba Instan

Kalau kamu adalah salah satu penggemar serial barat mungkin kamu pernah mendengar Black Mirror. Sebuah serial yang menceritakan sekumpulan kisah dalam tema teknologi super canggih. Pro dan kontra disajikan begitu indah dalam sinematografi yang juga memanjakan mata. Tapi selagi menyaksikan salah satu episode mungkin beberapa dari kita akan mempertanyakan apakah teknologi ini benar sudah ada atau akan ada ya? Lalu apa benar apa yang terjadi dalam kisah tersebut akan terjadi dalam hidup kita?

Terlepas sudah ada atau akan ada atau tidaknya berbagai perangkat elektronik super canggih tersebut, kita sekarang ini sebenarnya sudah bisa merasakan pro-kontra dari kecanggihan teknologi yang ada. Hidup dalam era digital yang semuanya serba instan memberikan banyak manfaat untuk kegiatan sehari-hari. Kita tidak lagi perlu mengetik panjang lebar di keyboard untuk menyampaikan pesan. Sekarang kita bisa menggunakan suara untuk mengetikkannya di smartphone. Tidak lagi perlu datang ke perpustakaan mencari referensi pelajaran cukup tanya mesin pencarian lalu ratusan hingga ribuan jawaban langsung muncul di layar komputer. Belum lagi dengan kemudahan berbelanja, bersosial sampai berkarya yang ditawarkan oleh dunia digital. Beragam industri, fashion, travel, sampai pendidikan ramai-ramai memanfaatkan dunia digital untuk memudahkan kita mengakses setiap ruang yang kita butuhkan. Mau beli baju tidak lagi perlu beli bensin untuk berkendara ke mal. Mau kursus tidak perlu beranjak dari tempat tidur. 

Hidup dalam era digital yang semuanya serba instan memberikan banyak manfaat untuk kegiatan sehari-hari.

Namun dari segala manfaat yang ada apakah segala yang instan ini bisa memengaruhi kemampuan otak kita bekerja ya? Menurut Betsy Sparrow seorang akademia dari Amerika yang meneliti tentang memori dan teknologi menemukan bahwa kemampuan otak kita ketika mengakses informasi secara online membuat kita sulit menyimpan informasi yang didapat dalam jangka waktu lama. Kebiasaan kita mengakses informasi secara instan membuat kita tergantung pada mesin pencari. Sehingga informasi yang tertinggal di otak hanyalah yang ada di permukaan saja. Bukan informasi yang mendalam dan kompleks. Selain itu sebuah korporasi teknologi Microsoft Corp juga menemukan bahwa dunia digital perlahan membuat kita mudah kehilangan konsentrasi setelah delapan detik. Ini pun disebabkan oleh gaya hidup digital yang sudah diolah oleh otak. Sehingga otak seperti ingin terus mencari sumber informasi baru ketimbang berada dalam satu halaman, membaca dan menyerapnya baik-baik. Mereka yang berada terlalu lama di dunia digital dapat lebih mudah terdistraksi dan memiliki indikasi untuk terus berupaya multitasking.

Mereka yang berada terlalu lama di dunia digital dapat lebih mudah terdistraksi dan memiliki indikasi untuk terus berupaya multitasking.

Di tahun 2007 ada seorang ahli saraf yang menguji 3.000 orang dalam kaitannya tentang memori dan teknologi. Dari orang-orang tersebut, mereka yang berusia muda ditemukan sulit mengingat informasi pribadi sesederhana mengingat ulang tahun salah satu anggota keluarga atau nomor telepon. Bahkan ada beberapa orang yang ditemukan sulit menavigasi arah tanpa bantuan GPS. Kebiasaan yang serba instan ternyata juga diperkirakan dapat memengaruhi kondisi emosi kita. Seorang peneliti User Experience, Merje Shaw menemukan bahwa semakin sering mesin membantu kita menentukan pilihan atau melakukan sesuatu semakin sulit kita membuat keputusan yang kompleks. Sebab dalam perspektif neurobiologis secara alamiah kita manusia akan bisa melakukan sesuatu dengan lebih baik jika lebih sering melakukannya. Jadi semakin sering kita menentukan sesuatu dari pilihan yang kompleks semakin kita mudah melewati masalah yang kompleks juga. Tapi kalau kita membiarkan semuanya dilakukan oleh ragam komponen yang memiliki Artificial Intelligence lambat laun kita jadi sulit mengolah sesuatu yang kompleks dalam diri. Sebab secara tidak sadar kita menggantungkan diri pada teknologi.

Sebab dalam perspektif neurobiologis secara alamiah kita manusia akan bisa melakukan sesuatu dengan lebih baik jika lebih sering melakukannya. Jadi semakin sering kita menentukan sesuatu dari pilihan yang kompleks semakin kita mudah melewati masalah yang kompleks juga.

Peran media sosial juga ternyata berpengaruh pada cara kita mengolah emosi. Berbagai konten yang kita lihat secara tidak sadar berlomba-lomba menarik perhatian otak. Konten dengan tema dan narasi yang berbeda-beda tersebut memunculkan beragam emosi yang berlainan pula. Secara tidak sadar ragam emosi yang timbul ini seakan meminta otak kita untuk bereaksi secara instan karena kita sedang diajak berpikir cepat saat scrolling dan skimming puluhan atau bahkan ratusan postingan di sana. Sehingga terkadang reaksi yang kita keluarkan tidak relevan atau bahkan kurang etis. Untuk membuat sebuah keputusan yang baik memang diperlukan jeda dalam otak sebab di kepala kita kecepatan tidak selalu menjadi segalanya. Terkadang yang dibutuhkan otak kita adalah pengaturan waktu. Untuk dapat memperkuat kinerja otak ternyata bukanlah soal seberapa cepat kita membaca beberapa artikel sekaligus di beberapa tab komputer. Tapi tentang seberapa kita bisa mengatur waktu dalam satu halaman informasi sehingga bisa memberikan waktu pada otak untuk menelan segala informasi tersebut. 

Secara tidak sadar ragam emosi yang timbul ini seakan meminta otak kita untuk bereaksi secara instan karena kita sedang diajak berpikir cepat saat scrolling dan skimming puluhan atau bahkan ratusan postingan di sana. Sehingga terkadang reaksi yang kita keluarkan tidak relevan atau bahkan kurang etis.

Kalau kita tidak berhati-hati dalam mengolah percepatan informasi yang masuk ke dalam otak takutnya kita akan mengurangi kemampuan untuk membiarkan pikiran berproses dan menyesali reaksi atau respon instan karena hasrat proaktif tanpa mengantisipasi kondisi atau situasi yang ada. Jadilah kita bisa lebih sering bertindak dan berbicara terlebih dahulu sebelum memikirkan matang-matang tindakan tersebut. Bisa-bisa konsekuensi yang didapatkan malah membahayakan diri sendiri atau orang lain. Kuncinya bukanlah dengan menghilangkan aktivitas digital tapi mengurangi percepatan mendapatkan informasi. Sesederhana dengan tetap membaca informasi secara keseluruhan sebelum lompat ke tab berikutnya. Atau ketimbang hanya mencari jawaban di mesin pencari bisa juga dikombinasikan dengan mencarinya di buku atau koran.

Related Articles

Card image
Self
Ekspresi Diri dan Gaya Hidup

Saya juga setuju dengan ungkapan bahwa fashion adalah cara mengekspresikan diri. Kalau saya bertemu dengan orang, kita bisa melihat karakternya dari apa yang ia kenakan. Baju adalah salah satu medium kita bisa melihat dan “menilai” orang. Jadi bisa dikatakan bahwa baju yang kita kenakan sebenarnya bisa menjadi ungkapan bahwa kita ini adalah bagian dari komunitas tertentu. Mungkin komunitas skateboard, band, atau komunitas-komunitas lainnya. Urban Sneaker Society juga berusaha menggabungkan banyak komunitas agar bisa bertemu satu-sama lain.

By Jeffry Jouw
04 December 2021
Card image
Self
Merangkul Kegagalan

Kegagalan tentu bukan hasil yang diharapkan bagi semua orang yang sedang berjuang. Banyak diantara kita yang mungkin tengah atau telah melalui masa sulit, baik karena pandemi maupun karena masalah pribadi. Sayangnya kegagalan bukan hal yang bisa kita hindari. Kegagalan akan selalu hadir sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran hidup yang masih akan kita jalani hari ini dan seterusnya.

By Greatmind X Festival Pulih
04 December 2021
Card image
Self
Berjalan Untuk Berubah

Masing-masing manusia punya perjalanan yang berbeda-beda. Katanya, dalam perjalanan itu yang paling penting bukan destinasinya, melainkan proses dan cerita yang terjadi sepanjang perjalanan. Katanya juga, cerita dalam perjalanan lah yang menjadikan siapa kita sekarang ini. Tapi yang pasti, melalui perjalanan kita berubah dan bertumbuh.

By Greatmind x Festival Film 100% Manusia
04 December 2021