Self Lifehacks

Berusaha Menemukan Arti Hidup

Diyah Deviyanti

@deey2

Koordinator Proyek Lingkungan Hidup

Pernah merasa berjalan tanpa tujuan?

Aku kira, setiap orang pasti pernah, termasuk aku. Rasanya waktu terus berputar dan aku hanya terus berjalan tanpa tahu kemana arah perjalananku.  Aku kerap bertanya dalam diri, sebenarnya tujuan hidupku apa? Aku masih tak tahu jawabannya. Hanya saja, aku terus melanjutkan perjalanan panjang ini meski terasa begitu tersesat. 

Aku kerap bertanya dalam diri, sebenarnya tujuan hidupku apa? Aku masih tak tahu jawabannya. Hanya saja, aku terus melanjutkan perjalanan panjang ini meski terasa begitu tersesat. 

Berat ya? Ya, inilah hidup. Kadang kita dipertemukan pada persimpangan yang tidak ada navigasinya, seperti sedang membaca maps lalu tiba-tiba sambungan internet terputus. Perasaan campur aduk seperti takut, kesal, marah, dan bertanya akan banyak hal muncul satu per satu. Untuk kamu yang sedang baca tulisan ini dan merasakan hal yang sama, di sini kamu tidak akan menemukan jawaban tentang arti hidup namun aku akan mencoba memperlihatkan arti hidup bagi sebagian orang yang aku temui akhir-akhir ini.

Aku baru saja pulang dari Sumba Timur. Di sana aku bertemu dengan beberapa orang dan takjub dengan perjuangan-perjuangan mereka. Menurutku mereka sudah tahu arah perjalanan hidupnya. Lalu kita? It’s okay santai aja dan baca sampai habis ya!

Pertama, Rambu Dai Mami yang akrab disapa Rambu Ami. Tujuan hidup menurutnya adalah menjadi menjadi penolong bagi semua orang. Ia membantu banyak orang dan melakukan banyak hal. Ia membantu pasangan yang terancam pernikahan dibawah umur, membantu anak-anak muda mendapatkan beasiswa pendidikan untuk kuliah, menyediakan rumahnya dan merawat orang yang sedang sakit jiwa.

Rambu Ami juga menyediakan rumahnya dan menjamu tamu seperti aku tanpa mau diganti dengan uang. Ia membentuk kelompok ibu-ibu penenun dan membantu menjual kain hasil tenun mereka, selain itu juga ikut membantu memperjuangkan hutan di Sumba Timur melalui komunitas Sabana Sumba. Jika kita perhatikan sekilas, berat sekali bebannya namun ketika aku bertanya, dia malah menjawab sebaliknya. Ia mengatakan, “ketika ada yang butuh bantuan dan saya tidak membantu, hati saya menjadi sakit, itulah alasan saya tetap membantu mereka”.

Lalu aku bertemu Pdt. Rambu Ana Maeri dan Pdt. Rambu Tamu Ina. Mereka adalah 2 pendeta perempuan yang pemberani yang berjuang untuk mengajak masyarakat setempat untuk menjaga hutan, tanah dan alam Sumba agar mata air terus ada. Katanya “bumi ini sudah sangat tua, jika hutan dan alam dirusak, kita manusia tidak selamat. Kalau hutan habis, mata air hilang, kami masyarakat mayoritas petani, bisa apa? Oleh sebab itu selesai ibadah kami sosialisasikan pentingnya menjaga alam kita, namun ini perjuangan panjang karena butuh proses agar semua masyarakat paham”. Demi memperjuangkan hutan, "kami sama-sama berdiri bersama masyarakat pada waktu itu, sekalipun kami berjuang sebagai gereja lokal", tambahnya. Kendatipun begitu, ia percaya apa yang ia lakukan akan berdampak baik atas izin Tuhan, hal ini yang membuatnya terus berjuang.

Terakhir aku ingin bercerita tentang Selia. Seorang anak yang awalnya pemalu tapi ceria dan energik setelah aku lebih mengenalnya. Berangkat dari keteguhannya untuk membantu teman-teman dengan latar belakang yang serupa dengannya, ia mendirikan taman baca Cahaya Anak Sumba.  Taman baca ini ia mulai sejak masih kuliah. Sejak tahun 2015 mendirikan 1 taman baca, sekarang ada 4 taman baca yang berada di 3 desa. Kini ia dibantu 11 relawan dan memiliki lebih dari 3000 buku.

Poin menarik dari taman baca ini adalah sistem rolling bukunya. Ketika 100 buku sudah selesai dibaca oleh satu taman baca, kemudian dipindahkan ke taman baca lainnya. Selia dulu sempat diremehkan orang terdekat karena ia merupakan seorang perempuan, namun kini orang-orang tersebut sudah menyadari dan melihat sendiri buah dari perjuangan yang Selia lakukan. Selia mengungkapkan “mendirikan taman baca untuk anak-anak agar bisa mengubah pola pikir mereka untuk lebih terbuka, menjaga alam Sumba yang indah ini, dan tentunya melihat dunia lebih luas”. Hal itulah yang membuatnya yakin akan apa yang ia jalani.

Setelah melalui rangkaian pertemuan ini aku mulai merenungkan kembali, tujuan hidupku apa ya? Apa aku sudah melakukan hal yang tepat untuk hidupku? Kenapa akhir-akhir ini aku merasa semua yang aku lakukan menjadi tidak berarti? Lantas aku harus bagaimana? Pertanyaan-pertanyaan ini membuatkan bersyukur sekaligus frustasi! Bersyukur karena aku memaksakan diri untuk mencari dan menemukan tujuan hidupku yang akhir-akhir ini terasa tak ada arah dan frustasi karena pertanyaan-pertanyaannya sulit ku jawab.

Apakah kalian yang sedang mengalami fase ini juga merasakan hal yang sama?

Di tengah pertanyaan dan arah hidup yang buram ini, aku terus berusaha bekerja dan beraktivitas dan melakukan hal biasanya yang aku lakukan. Syukurnya kegelisahanku saat ini tidak mempengaruhi profesionalitas dunia kerjaku karena aku mempunyai prinsip apa pun tantangan hidupku, tidak boleh mempengaruhi profesionalitasku dalam bekerja. Toh, setiap orang punya tantangannya masing-masingkan?

Di tengah pertanyaan dan arah hidup yang buram ini, aku terus berusaha bekerja dan beraktivitas dan melakukan hal biasanya yang aku lakukan.

Lalu aku terus memberikan afirmasi positif kepada diri sendiri, 3 kalimat pamungkas yang sering kupakai adalah “Alhamduilllah aku sehat, orangtuaku sehat, kucing-kucingku sehat, dan masih bisa makan makanan yang kuinginkan”, “Tetaplah berjalan dan kadang gpp istirahat meskipun langkahmu tertatih”, dan “Ingat kamu lahir ke dunia ini pasti ada tujuan dan maknanya”.

Kemudian aku juga menyibukkan diri dengan hal-hal yang kusukai, mendengarkan musik, berdoa jangan lupa! Lalu terakhir dikala seperti ini aku memilih ingin bertemu siapa karena aku sadar betul inner peaceku sedang rentan, jadi aku minimalisir hal-hal luar yang sekiranya bisa memberikan energi negatif terhadap inner peaceku.

Kali ini coba berdamai dengan diri karena belum menemukan jawaban apa arti hidup, barangkali ini adalah langkah awal dalam menemukan arti hidup. Selanjutnya serahkan pada Tuhan, Ia pasti akan menuntun kita untuk menemukannya. Biarkan semesta serta waktu yang memberikan jawabannya. Kita hanya perlu, jangan putus asa, terus melangkah. Bisa jadi apa yang kita lakukan hari ini sudah bagian dari arti hidup yang selama ini kita cari, who’s know right? Keep fighting and don’t forget to be happy!

Coba berdamai dengan diri karena belum menemukan jawaban apa arti hidup, barangkali ini adalah langkah awal dalam menemukan arti hidup. Selanjutnya serahkan pada Tuhan, Ia pasti akan menuntun kita untuk menemukannya. Biarkan semesta serta waktu yang memberikan jawabannya.

Related Articles

Card image
Self
Bertahan dengan Rutinitas dan Pilihan

Meski mungkin pada dasarnya kalau kita berbicara rutinitas dalam konteks pekerjaan mungkin jarang sekali ada orang yang begitu gemar bekerja setiap hari. Kembali lagi, mungkin memang kita tidak punya banyak pilihan, hingga mau tidak mau kita tetap harus menjalani rutinitas dan kesempatan yang ada.

By Rayhan Noor
26 November 2022
Card image
Self
Kebahagiaan Sederhana

Kalau aku hanya memiliki sedikit waktu bersama orang-orang yang aku sayang, mungkin aku akan berusaha menghabiskan waktu sebanyak yang aku bisa bersama mereka. Sejujurnya aku memang bukan orang yang bisa mengungkapkan rasa rindu atau sayang dengan kata-kata, tapi aku selalu merasa aku mendapat energi baru saat dikelilingi oleh orang-orang yang aku sayang.

By Nadine Fatiana
26 November 2022
Card image
Self
Pesona Awal Jumpa

Perkenalan kita satu sama lain sebenarnya punya pesonanya masing-masing. Kita sebenarnya sudah saling kenal satu sama lain sejak lama tapi belum punya banyak kesempatan untuk saling tegur sapa.

By Lomba Sihir
26 November 2022