Self Health & Wellness

Bertumpu Pada Cinta

Greatmind

@greatmind.id

Redaksi

Ilustrasi Oleh: Salv Studio

Ketika seseorang diminta mengartikan kata cinta seringkali yang menjadi acuannya adalah hubungan antar manusia. Cinta pada pasangan, orang tua, anak, atau teman. Padahal arti cinta amatlah luas. Ya, seluas jagad raya ini. Mencintai kehidupan dengan seluruh isinya merupakan praktik nyata dalam mengartikan kata cinta itu sendiri. Sebab saat kita membagikan cinta kita tidak hanya pada orang-orang yang kita kenal bahkan pada lingkungan, benda mati, atau elemen apapun yang ada di semesta, energi positif akan bersemayam dalam diri. Mengapa menjadi penting untuk dapat menebarkan cinta kasih keluar dan ke dalam? Alasannya banyak sekali tapi satu yang pasti adalah untuk menjaga keharmonisan dalam diri, sekitar dan seluruh alam semesta. Mencapai kedamaian demi segala kebaikan di dunia.

Mencintai kehidupan dengan seluruh isinya merupakan praktik nyata dalam mengartikan kata cinta itu sendiri.

Sulit memang menerapkannya pada keseharian. Apalagi di tengah-tengah masyarakat modern yang penuh hiruk pikuk. Kepenatan akan kerusakan, ketidakstabilan, keributan serta kesenjangan sosial seringkali memunculkan percikan kebencian yang merebak di dalam hati.  Seringkali kita manusia meninggikan diri sendiri lebih dari individu atau makhluk lainnya yang justru bukannya menghasilkan kebaikan justru hidup yang tidak sehat. Hidup yang penuh dengan kebimbangan, keresahan dan berujung pada depresi.

Meditasi pun sudah lama telah menjadi mediator yang membantu kita berkonsentrasi pada pikiran serta menurunkan seluruh ketegangan dalam otak dan nadi di sekujur tubuh. Hasilnya? Banyak orang yang mengaku merasakan ketenangan jiwa dan raga. Namun apakah sudah cukup dengan bermeditasi demi kedamaian jiwa diri sendiri saja? Nah, ternyata bentuk meditasi pun mengalami evolusi yang dipercaya dapat membantu kita menggapai arti cinta yang sebenar-benarnya, menjadikan kita sebagai pribadi yang menyadari kehadiran dan keberadaan diri sendiri sebagai bagian dari alam semesta. Adalah meditasi Loving Kindness-Metta (meditasi cinta kasih).

Meditasi sudah lama menjadi mediator yang membantu kita berkonsentrasi pada pikiran serta menurunkan seluruh ketegangan dalam otak dan nadi di sekujur tubuh.

Mekanismenya pun sama saja dengan meditasi pada umumnya. Kita berusaha berkonsentrasi untuk beberapa lama dalam satu ruang nan tenang, memusatkan pikiran pada tubuh dan jiwa untuk bersatu dalam ruang dan waktu tersebut, mengesampingkan sejenak hal-hal duniawi di luar. Perbedaannya adalah pada meditasi Loving Kindness kita tinggal menambahkan afirmasi-afirmasi positif ketika melakukan meditasi. Membatin harapan atau keinginan yang tulus akan kebahagiaan semua makhluk. Menciptakan belas kasih yang seutuhnya di dalam diri untuk dapat disebarkan keluar, ke sekitar. Semisal mengucap berulang-ulang dalam hati: “Saya ingin menjadi orang baik,” “Semoga dunia dapat menjadi tentram,” atau ”Semoga semua orang bahagia”.

Nantinya rasa belas kasih inilah yang membentuk kebaikan dalam diri sehingga dalam melakukan sesuatu, memutuskan sesuatu, kita dapat mendasari kebaikan pada semua tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Perlahan kita akan melepaskan pikiran negatif dan belajar mengapresiasi kebahagiaan yang ada dalam hidup. Perlahan kita akan mulai memahami setiap sifat baik yang dimiliki orang lain pun yang kita miliki sendiri sehingga lama-kelamaan mencapai ketenangan batin. Dipercaya inilah langkah untuk meningkatkan kepuasan kita sebagai manusia di mana kita dapat mengurangi frekuensi negatif yang menyebabkan stres dan depresi.

Rasa belas kasih membentuk kebaikan dalam diri sehingga dalam melakukan sesuatu dan memutuskan sesuatu, kita dapat mendasari kebaikan pada semua tujuan-tujuan yang hendak dicapai.

Dengan adanya injeksi cinta kasih pada diri sendiri kita pun dapat lebih mencintai dan menghargai pribadi kita seutuhnya. Tapi bukan berarti meningkatkan narsisme sehingga menjadi angkuh dan mengedepankan ego. Input cinta kasih ini dapat memberikan kita kontrol untuk tidak selalu menyalahkan atau merendahkan diri di mana mengantar pada kesulitan menerima diri apa adanya dan justru merusak diri. Sama halnya sikap kita pada orang lain bahkan pada orang asing sekalipun. Kita dapat memunculkan emosi positif setiap kali berbicara dan bersinggungan dengan orang lain di mana secara tidak langsung kita membantu mereka menyentuh kutub positifnya. Dari sanalah koneksi sosial pun meningkat. Kita mengajak orang lain berpartisipasi dalam intervensi meditasi cinta kasih. Bersinergi dengan mereka dalam kubu berenergi positif.

Hanya saja perlu diingat bahwa sejatinya Meditasi Cinta Kasih seperti halnya meditasi lainnya memang harus dilakukan berulang-ulang. Berlatih terus menerus untuk menanamkan cinta kasih pada diri dan orang lain. Meski dampak langsung setelah melakukan meditasi cinta kasih dalam periode tertentu sudah dapat dirasakan tapi kita tetap harus memikirkan dampak jangka panjang. Penyebaran cinta kasih yang tahan lama sampai akhir hayat.

Dengan adanya injeksi cinta kasih pada diri sendiri kita pun dapat lebih mencintai dan menghargai pribadi kita seutuhnya.

Related Articles

Card image
Self
Perubahan Berasal dari Dalam

Jika diminta untuk mendefinisikan gaya hidup mindful, saya tidak bisa mengungkapkan secara singkat. Nyatanya, gaya hidup mindful tidak hanya berarti kita harus mengikuti arus – hidup di masa kini. Tidak hanya melakukan apa yang kita percaya karena orang lain berkata demikian.

By Ivana Atmojo
24 August 2019
Card image
Self
Menata Hidup Dari Rumah

Menurut sebagian orang, menata rumah bukanlah hal yang menyenangkan. Mungkin iya, ada benarnya. Menata rumah memang kadang terasa melelahkan dan memakan waktu. Tapi, justru dari kegiatan menata rumahlah saya mendapat ketenangan dan mindfulness meski tinggal di tengah hiruk pikuk kota Jakarta.

By Astri Puji Lestari
24 August 2019
Card image
Self
Menelisik Benak (Mantan) Teroris

Tidak ada seorang pun di dunia ini yang diciptakan untuk menjadi orang jahat. Pun seorang teroris. Tidak ada yang terlahir dibalut dengan bendera ISIS. Namun berkembangnya manusia identitas kita bisa berlipat ganda. Layaknya perubahan wujud zat air, manusia bisa berubah karena lingkungan, situasi atau kondisi tertentu. 

By Noor Huda Ismail
17 August 2019