Self Lifehacks

Berguru Ikhlas Pada Napas

Indah Ariani

@indahariani

Penulis

Ilustrasi Oleh: Mutualist Creative

Pada tubuh kita, ada sebuah modul pembelajaran keikhlasan yang acap terlupakan. Tapi tak ada kata terlambat untuk kembali berguru dan benar-benar belajar darinya.

Pernahkah menahan napas selama beberapa saat? 60 atau 30 detik misalnya? Rasanya pasti menyesakkan dan tidak nyaman. Napas keluar dan napas masuk adalah tanda kita hidup. Tak ada napas yang bisa kita pertahankan karena kita amat menyayanginya. Kita justru melepasnya, karena kita menyayangi hidup. Menerima dan melepaskan sejatinya hal paling alami yang bisa kita pelajari dari tubuh.

Bagaimana tubuh kita bisa mengikhlaskan setiap tarikan napas sesaat setelah menerimanya, adalah pelajaran keikhlasan paling berharga yang acap luput kita pelajari dengan sekasama. Kita menganggap napas sebagai sesuatu yang sudah built-in bersama dengan hidup sehingga tak perlu diperhatikan. Kita sering atau bahkan selalu 'take it for granted'. Bahkan ketika kita menyadari masih diberi napas pun, sedikit sekali dari kita yang belajar ikhlas darinya.

Belajar dan berusaha ikhlas memang tak semudah memperhatikan napas. Tak semua hal dalam hidup dapat kita terima dan lepaskan sesantai menerima dan melepas napas. Ada banyak hal yang kita cintai dan sayangi, yang berpisah dengannya menimbulkan rasa sedih dan duka mendalam. Beberapa bulan terakhir, kita semua menjadi saksi berbagai bencana alam dan kecelakaan yang merenggut begitu banyak nyawa, harta dan kebahagiaan yang tengah dirasakan oleh mereka yang tiba-tiba dipaksa berhadapan dengan kehilangan mendalam. Gempa Lombok, tsunami Palu, Donggala, dan Mamuju, juga jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di lepas pantai Karawang, Jawa Barat. Tak hanya itu. Setiap saat, siapa saja bisa juga mengalami kehilangan, dalam berbagai bentuk dan skalanya masing-masing.

Tentu saja, tak mudah mengikhlaskan kehilangan yang harus kita terima tanpa bisa berbuat apa-apa. Sebisa mungkin, kita akan berusaha mempertahankan apa yang ingin kita pertahankan. Nyatanya, kita kerap tak sanggup menahan apa yang tak lagi diizinkan untuk tetap kita miliki. Melepas dengan ikhlas segala yang kita cintai memang tak pernah mudah. Selalu ada rasa tidak terima yang membuat kita akan selalu bertanya “mengapa”.

Kita – saya, terutama – sulit sekali bersikap sebagai rongga napas yang dengan ikhlas menerima dan melepas udara yang dihirupnya. Sulit sekali bagi kita untuk menjadi telapak tangan terbuka yang takzim menerima segala yang diletakkan di atas permukaannya, rela tak menggenggam apa pun tanpa diperintah oleh otak manusia dan ikhlas melepas semua yang harus terlepas darinya. Kita memang bukan rongga napas dan bukan pula telapak tangan terbuka. Kita manusia, makhluk berpikir yang piawai menciptakan berbagai keinginan, juga memiliki perasaan yang menciptakan berbagai emosi yang seringkali mengelabui hati nurani.

Acapkali, kita menyimpan rasa kehilangan, kekecewaan, amarah, dukacita dan sebagainya seperti harta karun yang berharga, tanpa menyadari bahwa kita tengah digerogotinya. Kita juga biasanya tak mau melepaskan kemelekatan pada hal-hal yang membuat bahagia, sehingga manakala hal yang membuat bahagia itu pergi, hilang atau usai, kita akan serta merta merasa dunia kita pun runtuh bersama kepergiannya. Dalam banyak hal, kita justru menggenggamnya erat dan memelihara kemelekatan yang membuat kita enggan melepaskan segala yang kita miliki. Relasi, keluarga, karier, harta, persahabatan dan sebagainya. Ikhlas, sering hanya menjadi penghibur yang tak benar-benar kita resapi. Mudah diucap, tapi sulit dilaksanakan.

Penulis buku Quantum Ikhlas, Erbe Sentanu, menyebut bahwa ikhlas sebagai sebuah keterampilan sesungguhnya merupakan sebuah silent operation yang tak tampak dari kerja pikiran dan perasaan kita. Namun meski hening dan tak tampak, rasa ikhlas menurut Sentanu, memiliki daya yang sangat luar biasa membantu kita bisa melanjutkan hidup dengan penuh keyakinan setelah melalui berbagai kehilangan dan masa-masa penuh gelombang. Keikhlasan, dikatakannya, merupakan sebuah kerja yang terjadi di tataran kuantum energi manusia. Maka, semakin halus dan sunyi, akan semakin besar daya yang keikhlasan kita miliki.

Rasa percaya pada diri sendiri dan Tuhan, menurut Sentanu, merupakan salah satu elemen penting dalam rasa ikhlas. Dalam keadaan yakin dan percaya pada diri sendiri dan Tuhan, gelombang otak manusia umumnya akan berada pada frekuensi alfa yang membuat rasa tenang dan damai yang menjadi “tombol ikhlas” akan muncul. Latihannya sendiri, bisa kita lakukan secara mandiri. Caranya, tentu saja berpandu pada cara semua organ pernapasan kita menerima napas masuk dan napas keluar. Memperhatikan dan merasakan napas akan membantu kita berlatih menerima dan melepaskan. Sebab napas kita adalah guru ikhlas yang paling baik.  Kita bisa berguru padanya.

Related Articles

Card image
Self
Perbedaan dalam Kecantikan

Perempuan dan kecantikan adalah dua hal yang tidak akan pernah terpisahkan. Cantik kini bisa ditafsirkan dengan beragam cara, setiap orang bebas memiliki makna cantik yang berbeda-beda sesuai dengan hatinya. Berbeda justru jadi kekuatan terbesar kecantikan khas Indonesia yang seharusnya kita rayakan bersama.

By Greatmind x BeautyFest Asia 2024
01 June 2024
Card image
Self
Usaha Menciptakan Ruang Dengar Tanpa Batas

Aku terlahir dalam kondisi daun telinga kanan yang tidak sempurna. Semenjak aku tahu bahwa kelainan itu dinamai Microtia, aku tergerak untuk memberi penghiburan untuk orang-orang yang punya kasus lebih berat daripada aku, yaitu komunitas tuli. Hal ini aku lakukan berbarengan dengan niatku untuk membuat proyek sosial belalui bernyanyi di tahun ini.

By Idgitaf
19 May 2024
Card image
Self
Perjalanan Pendewasaan Melalui Musik

Menjalani pekerjaan yang berawal dari hobi memang bisa saja menantang. Menurutku, musik adalah salah satu medium yang mengajarkanku untuk menjadi lebih dewasa. Terutama, dari kompetisi aku belajar untuk mencari jalan keluar baru saat menemukan tantangan dalam hidup. Kecewa mungkin saja kita temui, tetapi selalu ada opsi jalan keluar kalau kita benar-benar berusaha berpikir dengan lebih jernih.

By Atya Faudina
11 May 2024