Self Lifehacks

Berdamai Dalam Keterpurukan

Pertumbuhan jiwa selalu menghadapkan kita tak hanya pada hal-hal yang membawa bahagia, tapi juga yang membuat luka. Namun, setiap orang bisa memiliki kemampuan menyembuhkannya.

Dalam hidup, ada berbagai peristiwa yang datang, harus kita temui, dan jalani sebelum akhirnya bisa melaluinya. Kita semua berharap peristiwa-peristiwa itu membawa bahagia, meski nyatanya tidak. Ada kalanya, peristiwa-peristiwa yang kita temui dan jalani justru membawa kesedihan dan menorehkan luka hati. Kegagalan, rasa bersalah, penolakan, kehilangan, sakit hati, patah hati, adalah beberapa di antaranya.

Banyak dari kita yang menghadapi peristiwa tak menyenangkan itu dengan gusar dan penuh amarah, baik dilontarkan atau dipendam dalam-dalam dan dibiarkan mengendap menjadi pengganjal hati, hingga menyulitkan kita menerima dan memeluk peristiwa tersebut dengan hangat seperti kita menerima dan memeluk kebahagiaan.

Padahal, sama seperti kebahagiaan, luka hati adalah juga sarana untuk bertumbuh yang perlu diterima sebagai bagian dari perjalanan jiwa kita. Menerima, dan berdamai dengan berbagai peristiwa yang menyebabkan luka hati ini merupakan sebuah langkah penting yang perlu terus menerus dilakukan agar tak menumpuk dan menjadi preseden buruk bagi jiwa untuk terus tumbuh.

Hal pertama yang sangat penting untuk dilakukan adalah mencari tahu apa penyebab utama luka batin yang kita alami, dan apa pula penyebab utama tak kunjung pulihnya luka itu. Selanjutnya, menemukan cara apa yang paling nyaman, aman dan berkelanjutan yang bisa dilakukan sebagai pertolongan agar luka itu dapat sembuh dengan baik. Dalam hal ini, kita tak perlu memakai takaran waktu, sebab hal itu sangat relatif. Ada luka yang dapat disembuhkan dengan cepat, ada pula yang membutuhkan waktu lama, atau bahkan sangat lama untuk sembuh.

Luka hati adalah juga sarana untuk bertumbuh yang perlu diterima sebagai bagian dari perjalanan jiwa kita.

Mindfulness atau keadaan pikiran yang berfokus pada saat ini di sini, merupakan salah satu kondisi yang amat dibutuhkan dalam proses penyembuhan luka batin atau yang biasa dikenal pula dengan istilah emotional healing. Hanya saja, perlu dipahami terlebih dahulu makna mindfulness yang sesungguhnya. Seringkali orang berpandangan keliru tentang hal ini, seperti menganggapnya sebuagai sebuah cara untuk merasa rileks, atau bahkan yang lebih blunder lagi, mengira mindfulness sebagai sebuah ajaran agama hingga merasa khawatir melakukannya bisa melanggar ajaran agama yang ia anut. Bukan pula cara untuk mengubah pikiran, atau tak lagi peduli pada masa depan.

Berfokus pada saat ini di sini, sejatinya adalah merasakan dan mengalami segala apa pun yang terjadi sebagaimana adanya. Tidak menolak, juga tidak menggenggamnya. Hanya mengalami dan menjadi telapak tangan terbuka yang menerima apa pun yang diletakkan di atasnya. Perlu latihan yang tekun dan berkesinambungan untuk bisa memiliki kemampuan menghadirkan diri secara utuh di sini saat ini setiap saat.

Tentang pikiran, ada beberapa hal yang perlu kita sepakati, yakni bahwa pikiran yang berseliweran di kepala dan benak kita tak selalu atau bahkan bukan kenyataan dan fakta yang sesungguhnya. Pikiran akan selalu menciptakan drama dan plot ceritanya sendiri. Menghadapi kerja pikiran yang demikian, kita sebenarnya hanya perlu bertindak sebagai pengamat yang setia memperhatikan setiap lompatan pikiran tanpa tergoda untuk mengimbuhinya dengan tanggapan. Kita hanya perlu diam, mengamati tanpa perlu ikut terjebak dalam gerbong pikiran yang akan membawa kita berkelana ke mana-mana. Hanya saja, tak selamanya kita bisa menjadi pengamat pikiran yang baik. Ada kalanya kita malah memamah segala remah pikiran, lalu membiarkan kesadaran kita terlumuri olehnya.

Dalam proses emotional healing dan mindfulness, kita amat disarankan untuk memiliki “jangkar” untuk melabuhkan fokus manakala pikiran mulai berkelana ke mana-mana. Jangkar itu biasanya menggunakan sesuatu yang ada pada diri kita seperti napas, detak jantung, denyut nadi, atau mungkin bagian-bagian tubuh seperti hidung, jemari dan sebagainya. Bisa juga bila mau menjadikan benda-benda di luar tubuh seperti lilin, vas bunga, pigura foto dan benda lainnya sebagai jangkar pikiran. Namun benda-benda tersebut tak selalu ada dan tersedia buat kita. Jadi, akan lebih praktis bila jangkar itu dibuat dari sesuatu yang setiap saat selalu ada bersama kita.

Menautkan pikiran pada napas dan bagian-bagian tubuh merupakan cara yang mudah sekali dilakukan. Seperti menyala-matikan saklar lampu, kita bisa memindahkan fokus pikiran kapan pun kita perlukan. Saat amarah atau rasa kecewa datang, misalnya, alih-alih meluapkan kekesalan dengan melontarkan perkataan atau reaksi yang bisa membuat keadaan semakin memburuk, latihlah diri kita untuk diam dan mengalihkan perhatian pada napas atau bagian tubuh lain yang saat itu menarik perhatian. Fokus beberapa saat hingga rasa hati lebih tenang dan stabil. Hal tersebut merupakan satu dari beberapa latihan lain yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan emosi.

Saat amarah atau rasa kecewa datang, alih-alih meluapkan kekesalan dengan melontarkan reaksi yang bisa membuat keadaan semakin memburuk, latihlah diri untuk diam dan mengalihkan perhatian pada napas atau bagian tubuh lain yang saat itu menarik perhatian.

Related Articles

Card image
Self
Seni Melepas ala Rumi

Rumi adalah seorang penyair besar beraliran sufi yang hidup di abad ke-13. Ia banyak menulis syair yang dipercaya memiliki kekuatan kata-kata sebab tidak hanya indah, namun juga kedalaman. Salah satunya, adalah tentang melepaskan, dimana kita akan berbicara mengenai keberserahan, penerimaan, mengikhlaskan, dan memaafkan - yang semuanya adalah sifat yang dimiliki oleh hati.

By Pujiastuti Sindhu
23 May 2020
Card image
Self
Menemukan Keyakinan

Sebenarnya ketimbang dibilang religius saya lebih memilih untuk diingat sebagai seseorang yang toleran. Mengapa? Sebab saya besar dengan beragam pengalaman yang menuntun saya untuk menaruh nilai toleransi setinggi-tingginya.

By Narendra Pawaka
16 May 2020
Card image
Self
Belajar Mengenali Diri

Awal tahun ini banyak kejadian yang secara bertubi tubi seolah membebani diri. Baik pikiran maupun tubuh. Perlahan tapi pasti saya menerima segala kekurangan untuk menyadari sikap panik tidak akan berbuah apapun. Saya butuh dekat dengan diri dan mengenalinya. Sehingga apapun yang dirasakan dapat menjadi pembelajaran untuk dapat disikapi dengan tepat. 

By Nur Tejo
16 May 2020