Self Lifehacks

Bercakap Bersama Rahimah Abdulrahim: Arti Menjadi Perempuan

Marissa Anita

@

Jurnalis & Aktris

Rahimah Abdulrahim

@imaabdul

Praktisi Kebijakan Publik

Histerektomi = Operasi Pengangkatan Rahim. Kebanyakan perempuan menjalani hal ini karena alasan kesehatan. Meski demikian, terbayang menuju keputusan ini tidaklah mudah. Saya bicara tentang ini karena salah satu sahabat dekat saya, Ima Abdulrahim, baru-baru ini menjalaninya. Percakapan ini bermula dari brunch virtual kami bersama sejumlah sahabat perempuan. Selagi saya menyapa dari ruang kerja di rumah, Ima menyapa dari ranjang rumah sakit pasca operasi. Seperti biasa, saya banyak tanya. Bagaimana kondisi pasca operasi dan apa yang ia rasakan secara fisik dan mental setelah rahim tidak lagi menjadi bagian dari tubuhnya. Sepertinya kami berdua tergelitik mengupas topik di hadapan kami saat itu. Beberapa minggu kemudian, kami duduk bersama lagi di ruang virtual untuk bicara tentang tubuh, perempuan, dan otoritas perempuan terhadap tubuhnya sendiri. 

Marissa Anita (M): Ima, histerektomi (operasi pengangkatan rahim) seperti apa yang telah kamu jalani?

Ima Abdulrahim (I): Complete abdominal hysterectomy (operasi pengangkatan rahim/uterus termasuk serviks). Yang diambil semuanya, kecuali ovarium.

M: Apa alasanmu menjalani operasi besar ini?

I: Beberapa tahun terakhir gue merasa setiap kali menstruasi kok lebat banget. Lebatnya tuh yang banget, sampai bisa ganti pembalut setiap dua jam dan itu pun lebih sering bocor. Banyaknya menurut gue nggak normal.

Awalnya, gue periksa di dokter di Indonesia. Gue dapat dokter yang tidak menyenangkan. Dokternya cowok, sangat terkenal, praktik di sebuah klinik di daerah Wijaya, Jakarta. Ngantrinya edan. Gue nggak sukanya adalah dia sangat condescending (merendahkan). Ketika gue bilang, “Iya dok. Setiap kali saya mens, kok banyak banget.” Jawaban dia masa, “Hah? Banyak ya? Sebanyak apa sih? Harus pakai ember?”

M: Oh my God...

I: Gue setengah mati menahan diri untuk nggak langsung memaki dokter brengsek ini dan keluar dari ruangan. Nyebelin banget kan kayak gitu? Itu yang gue alami dan gue merasa mestinya nggak kayak gini. Beberapa kali setiap kali ada yang ngusulin obgyn, terus terang nggak pernah ada yang cocok di Indonesia.

Kakak gue Lisa (Nurkhalishah Abdulrahim), dia mengalami hal-hal yang sama di Indonesia. Dia akhirnya menyarankan obgyn dia di Singapura, dokter Choo Wan Ling. Dia obgyn perempuan yang menurut gue luar biasa. Gue suka dia karena dia bersedia menjawab semua pertanyaan gue.

Di awal, dia tanya sebanyak apa, dan dia ngukurnya dari seberapa sering harus ganti pembalut. Ketika gue tanya apa kira-kira penyebab kondisi gue, dia bilang bisa berbagai kemungkinan seperti endometriosisfibroid, kemungkinannya macam-macam. Kemudian dia periksa.

Sedangkan, sorry to say (maaf-maaf), kalau dokter di Jakarta, mereka selalu berasumsi. Seperti asumsi jika seorang perempuan statusnya belum menikah, berarti dokter memeriksa lewat ’belakang’ (anus/dubur). Karena status gue belum menikah, mereka sudah duluan berasumsi gue perawan. Kesannya perhatian utama dokter di Indonesia adalah mempertahankan keperawanan gue. Tentu memperhatikan keperawanan itu penting. Tapi mereka langsung berasumsi, “Ya udah. Lewat belakang aja.” (sambil langsung melanjutkan pemeriksaan pakai tangan lewat anus) dan seperti nggak dikasih opsi. Tindakan ini membuat gue merasa sangat, sangat tidak nyaman.

M: I’m sorry you had to go through that (turut sedih kamu mengalami hal seperti ini)

I: Untungnya akhirnya gue menemukan dokter Choo. Tahun lalu, waktu gue pindah kerja ke Singapura, perusahaan mengharuskan gue periksa kesehatan penuh termasuk ke obgyn. Waktu pemeriksaan di bulan November 2019, dokter menemukan fibroid. Dokter bilang, meski belum terlalu besar, ini mungkin salah satu penyebab mens gue banyak banget selama tiga tahun terakhir.

Dia kasih obat sambil monitor. Kalau nggak makan obat dari dokter, saat-saat mens bikin gue sangat nggak nyaman. Nggak nyaman bukan karena kram, tapi karena begitu banyaknya darah yang keluar, akhirnya gue jadi anemia dan kurang zat besi. 

Gue akhirnya dikasih opsi sama dia, (1) mengangkat fibriodnya saja (2) mengangkat rahim (uterus).

Januari 2020 jadi titik balik. Gue lagi di Perth sama ibu mengunjungi kakak [Lisa yang tinggal di sana]. Tiap kali kita traveling, gue sama ibu (Siti Amanah) tidur di kamar yang sama. Suatu hari, ibu menemukan gue ngepel lantai jam 2 pagi. Gue beranjak dari kasur, belum sampai ke kamar mandi, darah sudah berceceran di lantai saking banyaknya. Dan ini gue sudah pakai tampon yang paling tebal dan pembalut yang paling besar. Kalau tidur harus pakai, kalau nggak bocor. Ini kejadian dua kali dalam satu malam.

Enough is enough. Cukup sudah seperti ini.

Gue ceritakan kejadian ini ke dokter Choo. Dia periksa dan dia menemukan beberapa fibroid baru yang tumbuh. Yang paling besar ukuran 4 x 4 x 3 sentimeter. Ada beberapa yang kecil-kecil juga. (Ima memperlihatkan foto rahimnya yang telah diangkat, terlihat beberapa fibroid).

Dokter tanya apakah gue berencana mengandung. Gue bilang ke dia “Oh doctor, that ship has sailed a while ago.” (Dokter, saya sudah lama memutuskan untuk tidak punya anak).

Dia bilang, “Kamu yakin? Apakah butuh waktu lagi untuk memikirkan hal ini dulu? Karena kalau kamu tidak berencana untuk mengandung, saya merekomendasikan kamu untuk histerektomi (operasi pengangkatan rahim).”

M: Bagaimana ceritanya elo mantab dengan keputusan tidak punya anak?

I: Gue sudah memutuskan untuk tidak punya anak tiga atau empat tahun yang lalu. Pemicunya ketika gue mengikuti program Yale World Fellows selama lima bulan di Amerika

Serikat. Ada beberapa teman gue peserta fellowship yang memikirkan harus bawa anak. Gue merasa beruntung ketika dapat fellowship, gue nggak perlu terlalu banyak mikir. Gue tinggal mengunci apartemen dan pergi. Waktu itu, gue juga ada di titik karier di mana gue menerima banyak undangan konferensi, pertemuan, dan fellowship lain yang sangat memperluas wawasan gue. I loved it. Gue suka bagian itu dalam hidup gue di mana gue bisa travel, melihat dunia, berbagi dan ketemu banyak orang.

Banyak orang berpikir keliru tentang gue. Gue sebetulnya bukan orang yang ambisius dengan karir. Sejujurnya, gue nggak pernah menempatkan karir di atas yang lain. Salah satu alasan gue memutuskan nggak punya anak juga karena gue suka kebebasan gue. I love the fact that I can just pack and leave (bisa pergi kemana saja, kapan saja). Gue nggak harus punya rencana.

Sementara itu, sejak dulu gue suka sekali anak-anak dan berada di tengah-tengah mereka.

Gue menyadari gue punya ponakan and anak-anak dari sahabat-sahabat gue. Bahkan kadang co-parenting sama kakak-kakak perempuan gue, Lisa dan Saki (Sakinah Abdulrahim). Gue ada untuk anak-anak mereka dan ketika mereka butuh gue untuk apa pun.

Pemikiran menjadi ibu adalah sesuatu yang melekat pada banyak perempuan. Tetapi seorang perempuan tidak perlu menjadi ibu untuk bisa merawat atau mengasuh seseorang.

 Pemikiran menjadi ibu adalah sesuatu yang melekat pada banyak perempuan. Tetapi seorang perempuan tidak perlu menjadi ibu untuk bias merawat atau mengasuh seseorang.

Gue suka merawat orang lain. Sifat ini melekat di gue. Gue merasa sudah bisa mengasuh dan merawat keluarga, teman-teman, serta anak-anak mereka. Gue sadar gue tidak harus melahirkan anak gue sendiri untuk bisa melakukan ini. Mungkin melahirkan dan punya anak bukan jalan gue. Gue senang aja menjalankan waktu dengan anak-anak, tapi ketika malam tiba, gue akan mengembalikan anak-anak ke orang tua mereka.

Jaman kuliah dulu, gue adalah perempuan yang ketika ditanya cita-citanya apa, gue ingin jadi seorang ibu. Salah satu mantan pacar gue bahkan mengaku bahwa dia semakin sayang sama gue ketika gue bilang gitu.

M: Ini kelihatannya dua hal yang sangat berbeda. Di satu sisi, elo ingin jadi seorang ibu tapi di sisi lain elo memutuskan untuk nggak punya anak. Apa yang saat itu membuat elo yakin dengan keputusan ini?  

I: Gue melihat hidup gue saat itu. Waktu itu, gue bekerja selama 19 tahun untuk sebuah organisasi nirlaba. Gue menerima gaji pekerja organisasi nirlaba, nggak banyak. Gue sangat beruntung punya keluarga yang sangat mendukung gue, punya kakak perempuan yang membantu secara finansial di kala gue membutuhkan.  

Memang, waktu itu gue bekerja untuk Pak Habibie. Tapi gue tidak menerima gaji sebanyak yang orang kira. Gue sangat beruntung dan bersyukur gue punya keluarga yang sangat mendukung, jadi kalau gue terlihat menggunakan tas bermerk ataupun berlibur keluar negeri, ya gue bersyukur mempunyai keluarga yang mendukung itu. Ditambah mereka juga lah yang memberikan gue confidence (kepercayaan diri) untuk bisa mengangkat kepala dengan bangga walaupun penghasilan yang gue terima ngga lah seberapa.

M: Fake it till you make it? (Berpura-puralah sampai kamu berhasil mencapainya?)

I: Fake it till you make it, right? Gue juga seringkali generous (tidak pelit) dengan orang lain karena kadang nggak mikirin diri sendiri juga. Gue nggak pernah punya tabungan yang besar. Dan kadang gue hidup dari gaji ke gaji. Gue sadar betul kalau gue mau punya anak, jadi seorang ibu, ini nggak murah. Dengan situasi finansial gue saat itu, akan nggak adil buat si anak. Gue nggak mau ada di posisi gue memenuhi keinginan gue jadi ibu, tapi gue nggak bisa bayar sekolah dan segala kebutuhan anak gue. Punya anak itu bukan cuma hamil dan melahirkan, tapi juga merawat dan memastikan gue bisa memenuhi kebutuhan dia.

Saat itu gue merasa tidak dalam posisi untuk memiliki anak karena secara finansial nggak stabil. Gue juga melewati berbagai hubungan yang tidak berhasil. Gue pernah juga sudah serius dengan seseorang dan hampir menikah, kemudian putus.

Tidak punya anak bukan lagi sebuah stigma (aib). Menurut gue, anggapan bahwa nggak punya anak itu aib harus dihapus dari pikiran orang-orang. Yes we are built with the equipment, but it doesn’t mean we have to have kids (Ya memang perempuan punya organ untuk mengandung, tapi ini bukan berarti perempuan harus punya anak).

 Tidak punya anak bukan lagi sebuah stigma (aib). Menurut gue, anggapan bahwa nggak punya anak itu aib harus dihapus dari pikiran orang-orang.

M: Stigma seperti apa yang pernah elo dengar?

I: Seperti “menyalahi kodrat”, “Kan kamu perempuan. Nggak mau kawin punya anak?” Gue merasa kita itu seperti terjebak dalam templat (format yang menjadi acuan) hidup. Bahwa jika kita sudah masuk usia tertentu, kita cari kerja. Setelah cari kerja, cari pasangan. Setelah itu menikah; lalu beli rumah; lalu punya anak. Urutannya bisa berubah tapi kira-kira templatnya begini. Dan sepertinya semua orang mengikuti templat ini dan bersedia begitu saja mengikuti templat ini.

Suatu hari gue bilang ke diri sendiri, ‘Kenapa gue harus mengikuti templat ini? Gue punya templat sendiri.” Gue memutuskan untuk nggak punya anak dengan kesadaran penuh. Gue nggak punya anak karena gue nggak harus punya anak. Gue mencintai ponakan-ponakan gue atau anak dari teman-teman gue seperti anak sendiri. Gue sudah bahagia dengan fakta bahwa gue bisa ikut merawat mereka, membanjiri mereka dengan cinta, kasih sayang, hadiah atau bimbingan apa pun yang bisa gue beri ke mereka.

Merasa lega gitu sih, Mar, ketika gue menyadari gue nggak harus punya anak.  Seperti ada beban yang terangkat dan gue suka perasaan itu.

Gue juga sempat diskusi sama Mamih (panggilan Ima untuk ibunya). Awalnya gara-gara bercanda. Kita lagi makan malam keluarga di restoran. Ada kakak-kakak gue dan ponakan.

Teman nyokap gue datang terus bilang, “Oh, Bu Am apa kabar? Oh, ini ya cucu-cucunya?”

Nyokap bilang, “Cucu dua laki-laki, dua perempuan. Wah aku udah seneng. Cukup kok.”

Terus gue bercanda, “Udah cukup kan, Mam?”

Nyokap melihat gue dan bilang, “Iya lah. Emang kamu mau punya anak?”

Gue bilang, “Nggak tahu juga sih, Mam. Tapi kalau aku nggak punya anak, nggak apa-apa kan, Mam?”

Dia bilang, “Ya kalau itu keputusan kamu, Mamih sih dukung-dukung aja kamu mau ngapain. Kan kamu juga sibuk dengan ini-itu.”

Mamih santai aja. I love that about her (itu yang aku suka sekali dari dia). Dia nggak pernah membebani gue dengan ini. Dari situ gue mantab betul dengan keputusan gue nggak punya anak.

Jadi ketika dokter tanya gue tentang kemungkinan ingin punya anak, gue bilang nggak ada. Gue bisa menjawab sesantai itu.

M: Bagaimana reaksi ibu waktu tahu elo akan menjalani histerektomi?

I: Gue nggak gugup kasih tahu Mamih bahwa gue akan menjalani pengangkatan rahim. Yang membuat gue gugup adalah gue tahu Mamih akan kesal karena dia nggak bisa datang ke di Singapura [karena Covid-19] untuk menemani gue waktu operasi dan setelahnya.

Beneran kejadian. Waktu gue bilang ke dia tentang operasi ini, reaksi dia, “Waduh. Sekarang? Mamih nggak bisa ke sana dong? Ya udah. Kamu segera aja. Yang penting kesehatan kamu.”

M: Wow…

I: Ketika orang dengar gue operasi pengangkatan rahim, reaksinya macam-macam.

M: Seperti apa reaksinya?

I: “Oh, aku turut sedih kamu harus menjalani ini.” Gue tahu ini bisa jadi keputusan yang sulit bagi siapa pun. Tapi buat gue, keputusan ini nggak sulit karena gue sudah memutuskan untuk nggak punya anak sejak lama.

Sebelum operasi, gue juga tanya ke beberapa orang yang sudah menjalani pengangkatan rahim. Gue tanya apakah operasi ini membuat mereka mereka merasa kehilangan sesuatu — kewanitaan mereka? Mereka semua bilang, “Nggak juga sih, Ma. Ya paling merasa emosional mendekat waktu operasi. Tapi lebih karena hormon. Dan gue nggak menyesal atau sedih.”

Gue juga merasakan hal yang sama. Nggak merasa sedih. Cuma bersyukur gue udah nggak akan punya pengalaman mens kayak dulu lagi. I was just like so happy for that.

M: Tiga minggu setelah operasi, apa yang elo rasakan secara fisik dan emosi?

I: Secara fisik, rasa sakit. Maklum operasi besar. Dokter mengistilahkan, karena dia mengambil organ dari tubuh gue, jadinya sekarang ada ruang kosong di situ. Tubuh gue sekarang harus menyesuaikan dengan ruang kosong itu. Bagian perut yang dibedah sama dengan operasi Caesar. Kalau duduk lama suka pegal, bagian otot yang kita pakai sering untuk berdiri. Kalau duduk sih nggak apa-apa. Kalau berdiri agak sakit tapi rasa sakitnya manageable (bisa diatasi). Makan pain killer (obat penghilang rasa sakit). 

M: Ada perubahan secara mental pasca operasi?

I: Nggak juga. Atau mungkin belum? Secara mental, gue masih sangat lega bahwa gue nggak lagi mens seperti dulu lagi. Having my period was debilitating (mens kayak dulu itu sangat mengganggu kemampuanku beraktifitas).

M: Menurut elo, apakah faktor umur memudahkan untuk membuat keputusan nggak punya anak. Logikanya, semakin nambah umur semakin mudah karena toh perempuan punya jam biologis?

I: Menurut gue, ini nggak secara spesifik ada hubungannya dengan umur. Gue percaya sekarang kita hidup di era yang berbeda. Dulu, seseorang harus punya anak di umur 20an karena dia mau melihat cucu-cucunya dan lain-lain. Harapan hidup manusia sekarang juga berbeda. Sekarang ada orang-orang yang punya anak di usia 40-50an. Siapa bilang kita tidak bisa punya anak di usia 45? Pintu belum tertutup bagi gue untuk punya anak. Punya anak nggak selalu berarti harus dari rahim gue. Gue masih bisa adopsi. Nggak ada yang menutup pintu itu. Atau kalau gue menikah dengan duda yang punya anak? Gue bisa banget mencintai anak-anak yang nggak dari kandungan gue.

Adopsi bisa jadi sesuatu yang luar biasa. Gue ingin menghapus stigma, “Oh dia itu anak adopsi”. Kalau memang adopsi cocok? Kalau memang seseorang nggak bisa mengandung anaknya sendiri, kenapa nggak?

 Adopsi bisa jadi sesuatu yang luar biasa. Gue ingin menghapus stigma, “Oh dia itu anak adopsi”. Kalau memang adopsi cocok? Kalau memang seseorang nggak bisa mengandung anaknya sendiri, kenapa nggak?

Banyak orang yang hatinya hancur karena nggak bisa punya anak. Gue kenal orang-orang yang mendambakan sekali punya anak, tapi nggak bisa. Gue tahu betul mereka akan menjadi orang tua yang luar biasa. Mereka sudah mencoba selama bertahun-tahun dan selalu keguguran. Hati gue ikut hancur untuk mereka.

M: Jadi apakah adopsi suatu hari jadi pilihan buat elo?

I: Who knows? (Siapa tahu?) Gue nggak tahu, Marissa. Tapi mungkin dalam waktu tiga atau empat tahun, mungkin gue akan adopsi anak?

M: Apalagi dengan kerjaan elo yang sekarang, nggak lagi terima gaji pas-pasan dong, Ma? Hahaha.  

I: Bener juga. Mungkin. Tapi siapa tahu mungkin gue akan adopsi anak usia 13 tahun? Ada banyak cara untuk kita membagi cinta. Untuk memiliki seseorang yang memanggil kita ibu, bukan berarti dia harus datang dari kandungan kita sendiri. Untuk sekarang, I’m perfectly content kids calling me Tante Ima, Te Ma, Aunty (aku sudah sangat puas anak-anak memanggilku Tante Ima, Te Ma, Tante).

M: Te Ma... Manis banget. Tapi elo sempat bilang, sekarang ada ruang kosong di tubuh elo. Bagi sebagian perempuan, ruang kosong ini menjadi pengingat mereka tidak lagi punya salah satu organ tubuh yang menjadikan mereka perempuan. Mungkin mirip dengan masktektomi (pengangkatan payudara). Apa pemikiran elo seputar ini?

I: Well, buat gue gender itu terlepas dari anatomi. Gue tidak pernah berpikir esensi gue sebagai perempuan itu tergantung organ gue. Gue tahu di luar sana ada orang-orang yang mengangkat rahimnya karena mereka lahir perempuan, secara biologis perempuan, tapi tidak merasa jiwanya perempuan. Esensi menjadi perempuan itu lebih dalam, tidak berwujud. Esensi menjadi perempuan itu lebih ke bagaimana kita merasa. Fakta bahwa dulu gue bisa mens, bukan berarti itu membuat gue lebih perempuan dari sekarang.

 Esensi menjadi perempuan itu lebih dalam, tidak berwujud. Esensi menjadi perempuan itu lebih ke bagaimana kita merasa. Fakta bahwa dulu gue bisa mens, bukan berarti itu membuat gue lebih perempuan dari sekarang.

M: Menurut elo, apa yang menjadikan seseorang itu perempuan?

I: It’s part emotion, part embracing vulnerabilities (sebagian emosi, sebagian merangkul kerapuhan). Sebuah perasaan, emosi yang kita punya, yang kita perlihatkan, naluri merawat – semua ini berkontribusi membuat seseorang itu perempuan. (Ima kembali menunjukkan foto rahimnya sambil menunjuk) ini bukan satu-satunya hal yang membuat gue menjadi perempuan.

M: Hahaha! Oke, Ma. Apa saja yang harus dipikirkan sebelum memutuskan untuk menjalani histerektomi?

I: Yang gue jabarkan tadi kan untuk gue. Lagi-lagi, ini bukan template (acuan) satu-satunya karena setiap orang pasti beda. Buat gue, yang gue pikirkan waktu itu praktis banget: (1) Ada yang bisa jemput dari rumah sakitkah? (2) Siapa yang bakal merawat gue pasca operasi? (3) Major health concern (alasan kesehatan yang serius) dan (4) Sudah lama mantab memutuskan nggak akan mengandung anak.

Kita sudah harus menerima pertimbangan-pertimbangan kita sendiri dulu dan keputusan terakhir harus ada di tangan kita. Orang lain mungkin bakal mencoba untuk mempengaruhi keputusan kita tapi kita harus ingat, ini tubuh kita. Boleh ibu, suami, mertua atau keluarga secara umum memberikan pendapat mereka, tapi pada akhirnya, kita tidak pernah boleh lupa bahwa ini adalah tubuh kita. Apa yang tubuh kita katakan pada kita? Apakah keputusan ini benar untuk kita atau tidak? Hanya kita sendiri yang tahu.

Ini adalah pesan yang harus kita selalu ingat dan pegang setiap kali kita bicara tentang apa pun yang ada kaitannya dengan tubuh perempuan, mau itu bicara dalam ranah politik atau hukum, atau apa pun. Seorang perempuan harus bisa memutuskannya sendiri. Tidak ada yang boleh memaksanya.

Ini adalah pesan yang harus kita selalu ingat dan pegang setiap kali kita bicara tentang apa pun yang ada kaitannya dengan tubuh perempuan, mau itu bicara dalam ranah politik atau hukum, atau apa pun. Seorang perempuan harus bisa memutuskannya sendiri. Tidak ada yang boleh memaksanya.

Related Articles

Card image
Self
Ketenangan Dalam Kesulitan

Ketenangan dan kedamaian itu bagaikan matahari. Ia selalu ada, tapi terkadang tidak nampak. Saat malam, bumi menutupinya hingga ia tidak terlihat. Begitu juga kala siang hari, ia sering tertutup awan. Akan tetapi ia tetap ada di sana, sama halnya seperti ketenangan.

By Reza Gunawan
26 September 2020
Card image
Self
On Marissa's Mind: Mindfulness

Saya pernah depresi. Lima tahun lalu, pada 2015, ada hari-hari dimana saya menangis tanpa mengerti apa alasannya. Saya juga pernah putus asa dan berpikir untuk mengakhiri semuanya. Akar derita? Trauma masa kecil yang terbawa hingga dewasa. Sekarang, saya masih di sini, merasa lebih baik. Untuk sampai di sini, saya melewati proses, salah satunya dengan mindfulness.

By Marissa Anita
26 September 2020
Card image
Self
Menghargai Pangan Seutuhnya

Pada dasarnya, kita harus berupaya untuk menghargai bahan pangan dan makanan karena kehidupan adalah sebuah berkah. Bumi ini memberikan kita pangan yang berkecukupan dan lengkap. Kita bisa tanam dan tumbuhkan sendiri. Bukankah ini sebuah berkah?

By Ivana Atmojo
26 September 2020