Self Lifehacks

Bercakap Bersama: Muhammad Khan

Fotografi Oleh: RIOP

Kita berubah dengan berjalannya waktu. Itu pasti. Perjalanan waktu bisa menjadi ruang belajar untuk menerima diri sendiri apa adanya. Itulah setidaknya yang dirasakan Muhammad Khan. Sebagai aktor di layar lebar maupun individu di kehidupan nyata, ia selalu berusaha jujur, keterusterangan yang bagi saya menyegarkan, namun mungkin tidak selalu mudah diterima semua orang. Maklum, dulunya dia seorang anak lelaki dari Desa Semat, Jepara, Jawa Tengah yang tidak terlalu bisa banyak bicara. Kini dia mengekspresikan berbagai emosi manusia sebagai seorang aktor yang subtil namun ekspresif. Untuk peran Juno dalam film Kucumbu Tubuh Indahku (Memories of My Body) ia menerima nominasi aktor terbaik.

Suatu sore, saya ajak Khan duduk bercakap. Sambil menikmati donat kentang dan teh chai, dia berbagi tentang trauma, memori tubuh, dan bagaimana memori ini telah memperkaya dirinya sebagai manusia dan dalam bermain peran.

Marissa Anita (M): Bagaimana perjalanan waktu telah mengubahmu?

Muhammad Khan (K): Teater mengubah hidupku. Dari teater aku mulai bisa menyuarakan perasaan-perasaan. Ketika kita memerankan seorang tokoh, aku seperti mewakili suara dia. Menyuarakan ini ada kepuasan tersendiri karena (dulu) dalam kehidupan sehari-hari aku tidak punya kesempatan untuk menyuarakan pikiran dan perasaanku.

Aku dulu setiap kali main selalu seperti escape (melarikan diri) dari diriku sendiri dan aku lebih nyaman jadi orang lain, karena dengan menjadi orang lain ternyata banyak hal yang bisa aku lakukan. Ketika aku jadi diri sendiri, aku tidak bisa melakukan banyak hal. Ini jaman SMA tapi. Ketika masuk ISI (Institut Seni Indonesia, Yogyakarta), aku mulai belajar tentang [konsep keaktoran] “aku-diri” sebelum masuk ke “aku-aktor”. Dibedah banget sampai akhirnya aku bisa menerima diriku sendiri. Sekarang aku nyaman menjadi diri sendiri atau pun jadi orang lain.

M: Waktu membedah diri, apa yang kamu lakukan?

K: Setiap manusia itu punya trauma. Trauma itu tergantung bagaimana kita mengolahnya. Apakah efeknya kita tidak bisa memaafkan diri kita sendiri, menghakimi diri sendiri, atau kita memaafkan diri kita sendiri. Banyak sekali trauma dalam hidup. Ketika memakai konsep “aku-diri”, aku melihat trauma itu dengan pemikiran: "Apa pun yang terjadi padaku waktu itu, itu adalah bagian dari memori." Makanya filmnya Mas Garin (Nugroho) Kucumbu Tubuh Indahku, aku merasa relate (bisa memahami) sekali karena aku juga mengalami banyak trauma dalam hidupku sampai kemudian aku bisa menerima bahwa trauma itu adalah bagian dari memori dari tubuhku yang harus aku terima. Tidak aku salahkan dan aku tidak perlu menyalahkan itu.

Setiap manusia itu punya trauma. Trauma itu tergantung bagaimana kita mengolahnya.

Pikiranku mulai terbuka di jaman-jaman SMA. Dulu ada exchange students (pertukaran mahasiswa) dan aku selalu dekat dengan mahasiswa asing. Kemudian aku kenal sama seorang psikoterapis asing. Dia menjelaskan dalam diri kita itu selalu ada tiga hal:

“Kamu sebagai anak kecil, kamu sebagai orang dewasa, dan kamu sebagai orang tua. Kamu yang kecil selalu ingin dimanja, selalu merengek dan selalu meminta; Kamu sebagai orang dewasa itu yang selalu ada di tengah-tengah. Ketika lagi ada masalah, kamu ngomong sama diri sendiri, kamu di posisi netral; Kamu di posisi orang tua, kamu selalu menyalahkan diri sendiri dan selalu menjatuhkan dirimu sendiri.” Dia lanjut: “Kalau bisa, kamu harus ada di tengah-tengah.”

Setiap manusia selalu punya story besar dalam hidup. Misal: aku merasa selalu ditinggalkan. Dulu aku punya hubungan yang erat dengan ibu, tiba-tiba dipisah harus tinggal sama nenek dan sekolah di kota (Jepara). Itu menyisakan luka buat aku, seperti ditinggalkan.

Saat dewasa, ketika aku putus pertama kali dengan pacarku, rasa ditinggalkannya sebetulnya datang tidak murni dari pasanganku itu, tapi terpengaruh dari ketika aku ditinggal sama ibu. Psikoterapis itu membantu aku membongkar stories besar apa saja yang pernah terjadi dalam hidupku.

Sejak obrolanku sama dia, aku jadi selalu hati-hati untuk bereaksi terhadap emosi-emosi yang sedang aku alami. Misal: aku ketemu pasangan baru, terus dia membatalkan janji. Tiba-tiba aku bisa marah banget. Kemudian aku cek sendiri, sek sek sek (bahasa Jawa: tunggu, tunggu, tunggu), marahku ini sebetulnya tidak datang dari pasanganku ini, tapi datang dari masa laluku yang kemudian terpicu.

Sekarang aku bisa menentukan apakah aku ingin masuk ke dalam drama atau aku ingin keluar dari drama. Keduanya bisa aku ambil, yang penting disadari. Karena aku kadang sengaja masuk ke dalam drama. Aku ingin merasakan gimana sih rasanya (sakit hati) lagi karena (kebutuhan) keaktoran itu tadi. Hahaha.

Trauma itu adalah bagian dari memori dari tubuh yang harus aku terima. Tidak aku salahkan dan aku tidak perlu menyalahkan itu.

 M: Hahaha. 

 K: Tapi hal itu tidak menjadi masalah karena aku menyadari. Karena semua luka yang kita punya itu engga ada yang benar benar sembuh, cuma tersimpan saja dan suatu saat bisa muncul. Nah ketika dia muncul, kita bisa memutuskan, mau masuk ke dalam drama atau kita keluar dari drama?  Drama itu kan bahaya.

M: Kamu pernah kelepasan nggak? Maksudku tanpa disadari kamu sudah masuk ke dalam drama?

K: Nggak. Aku pernah ketemu seseorang. Dia ngejar-ngejar aku sampai akhirnya pada satu momen dia betul-betul meninggalkan aku. Aku sakit hati banget. Dan ketika aku ditinggalkan itu, aku menganalisa, perasaan sakit hatiku tidak datang dari dia. Kejadian ini mendatangkan lagi traumaku ditinggal ibu dan mantanku yang pertama. Sebetulnya, hal yang dilakukan orang itu adalah cara meninggalkan yang biasa, tapi aku seperti sakit hati banget. Nah, ketika aku menganalisa, aku ada di posisi netral, tetapi kemudian aku memutuskan untuk masuk ke dalam drama. Aku masuk saja ke emosi ini, aku benar-benar nangis tapi juga sambil aku sadari “Oh, gini toh rasanya sakit hati.”

M: Oh, wow...

K: Karena aku merasa “mumpung nih ada trigger untuk latihan keaktoran.” Gitu...

M: Hahaha. Wah, kamu sakit, sih, Khan! Hahaha.

K: Hahaha. Aku sempat trauma datang ke Jakarta karena dia tinggal di Jakarta. Sampai akhirnya aku ingin stop di drama itu. Aku bilang ke diriku sendiri: “Oke, kayaknya pengalaman sakit hatiku sama dia sudah cukup. Sudah cukup aku simpan. Sekarang aku mau melihat itu sebagai drama yang aku nggak mau terlibat.” Akhirnya aku mulai kontak dia lagi dan tanya kabar. Sekarang kita sudah berteman baik. Netral, tidak ada perasaan-perasaan.

M: Sekarang bicara film dan karakter yang kamu mainkan. Kamu berperan sebagai Juno dalam Kucumbu Tubuh Indahku. Untuk memainkan Juno, kamu harus meleburkan sisi maskulin dan feminin dalam satu tubuh. Kamu telah memainkan ini secara sangat meyakinkan. Bagaimana proses peleburan dua sisi ini?

K: Kalau ini sebetulnya ada hubungannya dengan masalah teknis. Mas Garin inginnya Juno itu pembawaannya ada femininnya tapi ada maskulinnya di waktu yang sama. Maskulin diwakilkan Mas Garin dengan kekerasan dan feminin dengan kelembutan. Sebetulnya aku nggak punya masalah tentang maskulin dan feminin karena ketika aku di ISI, semua peran sudah aku ambil. Selalu mencoba segala peran, anak-anak, orang tua, banci, atau androgini. Perjalananku menuju Juno itu nggak susah.

M: Tokoh yang menjadi inspirasi karakter Juno adalah penari Lengger, Rianto. Mas Rianto pernah bilang ke kamu kalau menjadi Juno, kamu harus meyakini betul kalau kamu itu perempuan. Setelah yakin perempuan, baru bisa merasakan (menjadi perempuan). Kamu kan laki-laki, bagaimana merasakan menjadi perempuan?

K: Waktu aku dapat naskah itu, aku telepon seorang drag queen. Aku tanya: "Bang, bagaimana sih kalau kita mau lebih feminin?" Meski secara perasaan aku bisa memahami betul perasaan androgini itu seperti apa, tapi tubuhku belum punya memori itu, jalanku juga tidak gemulai. Secara psikologis, feminin dan maskulin itu sudah melebur dalam pikiran dan perasaanku, tapi belum melebur di dalam tubuhku. Sedangkan untuk keperluan film, peleburan itu tidak hanya terjadi di pikiran dan perasaan, juga di tubuh. Maka itu aku belajar Tari Lengger.

M: Ketika maskulin dan feminin secara psikologis melebur di pikiran dan perasaan itu seperti apa?

K: Kalau di teater ada pelajaran imajinasi. Aku bisa berimajinasi aku itu perempuan. Tapi ketika dipraktekan kok nggak kayak perempuan.

M: Kamu berimajinasi jadi perempuan itu seperti apa?

K: Misal ketika di-casting. Ceritanya aku diminta untuk memberikan tatapan mata jatuh cinta kepada seseorang. Kemudian lawan mainku seorang mas-mas yang tidak ganteng berbadan buncit. Aku bisa imajinasikan kalau dia itu ganteng.

Kemudian bagaimana aku merepresentasikan androgini ke dalam tubuh? Nada suara Juno aku bikin lembut, ketika menari menari agak ndengkek (dada dibusungkan) karena membayangkan punya dada, tatapan harus lembut, bibirnya harus mencep.

Ketika secara pikiran dan psikologis maskulin dan feminin buat aku belum melebur, pasti aku nggak akan pernah mau adegan nyium Randy (Pangalila). Aku pasti ngerasa jijik karena dalamnya kan belum selesai. Tapi aku dalamnya sudah selesai.

M: Menyelesaikan dalamnya itu seperti apa? Bahwa laki laki dan perempuan itu ujung-ujungnya sama. Sama-sama manusia?

K: Ya, maksudnya seperti itu. Aku secara konsep androgini sudah dapat.

M: Konsep androgini itu apa?

K: Bahwa maskulin dan feminin itu ada di setiap manusia, baik itu gendernya laki laki atau pun perempuan. Di film Kucumbu terwakili. Film ini juga memperlihatkan istri bupati yang terlihat lebih maskulin daripada bupatinya karena dia lebih punya kepemimpinan, dia bisa mengontrol, dia bisa menindas suaminya.

M: Istri bupati ini punya ajudan perempuan pula...

K: Iya, istri bupati itu lebih kuat maskulinnya daripada suaminya yang laki-laki. Aku pernah berdebat dengan seorang teman di Instagram. Dia punya standarisasi tertentu bahwa seseorang belum laki-laki kalau dia belum menikah. 

M: Seperti seseorang itu belum perempuan kalau dia belum pernah menjadi ibu?

K: Ya, kayak gitu. Mereka selalu punya standarisasi tertentu kemudian diidealkan kepada siapa saja. Misal standarisasi harus menikah. Ibuku dulu selalu bertanya kapan aku akan menikah dengan alasan ingin aku bahagia. Kemudian aku ajak ibu diskusi. Aku bilang ke dia aku sudah sangat bahagia sekali dengan hidupku yang sekarang. Aku menjalani kehidupan yang aku inginkan. Aku pengen jadi aktor dan aku sekarang menjalani itu. Aku bahagia. Aku sudah bahagia karena aku bisa menerima diriku sendiri apa adanya. Sejak itu dia tidak pernah tanya lagi kapan aku menikah.

Aku bisa menyebut diriku sebagai laki-laki ketika aku tidak pernah menyakiti perempuan. Ada beberapa laki laki yang kalau memaki menyebut alat kelamin perempuan. Aku nggak suka, karena dari lubang itu aku dilahirkan. Makian itu seperti menjatuhkan harga diri perempuan.

Aku bisa menyebut diriku sebagai laki-laki ketika aku tidak pernah menyakiti perempuan.

M: Kehadiran Juno dan film Kucumbu Tubuh Indahku sempat membuat sebagian orang tidak nyaman sehingga ada usaha-usaha dari orang-orang ini untuk memupuskan niat publik untuk mengenal Juno dan menonton film ini. Bagaimana kamu melihat ini?

K: Ini berkaitan dengan esensi keaktoran yang aku pelajari selama ini. Ketika kamu aktor yang baik, kamu adalah aktor yang bisa memaklumi apa saja. Misalnya aku nggak nyaman ada di ruang diskotik, aku nggak akan bisa memainkan ruang-ruang seperti itu karena aku sudah menolak duluan, merasa nggak nyaman duluan. Sedangkan tugas seorang aktor adalah mewakili perasaan setiap manusia. Semua peran yang ditawarkan ke aku, aku akan terima dan tidak akan pilih-pilih peran, kecuali berhubungan dengan kualitas, ya.

Ketika aku melihat peran Juno, aku tidak merasa takut dihujat karena aku mewakili satu perasaan manusia. Dalam keaktoran pun kita harus bersikap adil, kita tidak membeda-bedakan manusia karena esensinya di situ. 

Stanislavski juga bilang: “Teater itu belajar untuk memanusiakan manusia.”

Ketika kita sudah membeda-bedakan manusia, kita tidak memperlakukan mereka sebagai manusia. Aku tidak pernah takut memainkan karakter Juno karena aku mewakili perasaan mereka (yang seperti Juno). Mereka tidak punya ruang untuk mewakili itu dalam kehidupan sehari-hari, sehingga ketika mendapat ruang dalam bentuk audio visual dan ketika aku bisa membantu mereka dengan cara seperti itu, kenapa tidak?

Ketika kita sudah membeda-bedakan manusia, kita tidak memperlakukan mereka sebagai manusia.

Aku lebih takut ketika hidupku tidak bermanfaat buat orang lain. Aku tidak mau kehidupanku di dunia sia-sia terus nanti ketika ketemu Tuhan terus aku bilang ke Dia: “Yah, aku nggak ngapa-ngapain. Sorry.

M: Khan yang dulu dan sekarang bertransisi. Kalau kamu bisa bilang sesuatu ke Khan yang dulu, apa yang mau kamu katakan ke dia?

K: kalau aku bisa balik ke jaman remaja, aku akan bilang gini: “Nggak apa-apa. Yang sekarang kamu alami ini kamu jalani saja.”

Ketika kita ngerasain lapar, kita tahu rasanya kenyang. Ketika kita ngerasain sedih, kita tahu rasanya bahagia. Ketika dulu aku berada di posisi seperti itu yang introvert nggak punya suara, sekarang aku merasakan rasanya punya suara. Jalani saja proses dan nikmati yang ada. Tidak ada penyesalan.

Jalani saja proses dan nikmati yang ada.

Related Articles

Card image
Self
Mimpi Nan Mulia

Sejalan dengan waktu, mimpi yang kita punya akan berubah mengikuti perkembangan hidup dan prioritasnya. Kita kerap memimpikan sesuatu yang besar tanpa memahami apakah mimpi itu benar penting untuk hidup kita atau tidak. Sampai-sampai melupakan bahwa memimpikan sesuatu yang sederhana bisa membawa dampak yang lebih.

By Mikha Angelo
05 December 2020
Card image
Self
Kekayaan Sejati

Menjadi kaya adalah sebuah ujian untuk hidup kita. Terdengar klise kalau saya bilang kita harus bisa menggunakan kekayaan secara benar. Tapi begitulah adanya. Kita harus tahu bagaimana cara yang tepat untuk menggunakan uang yang dimiliki.

By Baim Wong
05 December 2020
Card image
Self
Terus Berkembang di Masa Menantang

Secara kasat mata, tahun 2020 rasanya seperti “rumah hantu” versi nyata. Hanya saja rumah hantu ini tidak ada jalan keluarnya. Segala hal-hal menakutkan yang tidak pernah kita pikirkan, atau kita hindari untuk pikirkan terjadi di tahun ini.  Tahun 2020 bagi saya seperti terjebak di situasi yang stagnan tanpa tahu kapan akan selesai tapi di satu sisi lain saya merasa inner self saya “bergerak” maju.

By Stephany Josephine
28 November 2020