Circle Health & Wellness

Bercakap Bersama Jiemi Ardian: Bipolar Disorder

Berawal dari sebuah pesan singkat seorang teman, ia bertanya “Bagaimana ya Mar, mengatasi gangguan bipolar?”. Sejak itu saya ingin mencari tahu lebih dalam mengenai gangguan psikologis satu ini. Suara orang-orang yang ahli di tengah limpahan informasi saat ini justru menjadi semakin penting. Untuk menjawab pertanyaan dan menggali lebih dalam mengenai bipolar, saya bercakap bersama dr. Jiemi Ardian. Seorang psikiater yang dalam kesehariannya bergelut dan juga mengadvokasi mengenai isu kesehatan mental.

Marissa Anita (M): Mari kita mulai dari apa itu gangguan bipolar?

Dr. Jiemi Ardian (J): Gangguan bipolar adalah gangguan kejiwaan, artinya bukan perubahan mood normal. Bipolar mengalami perubahan mood dengan durasi panjang hingga kemudian mengganggu aktivitas. Perubahan mood ini juga memiliki durasi, ini bukan tentang perubahan mood harian, ini terjadi dalam beberapa minggu hingga bulan. Dapat disimpulkan dengan tiga poin. Pertama, ini adalah sebuah gangguan kejiwaan. Kedua, bersifat periodik dengan durasi yang cukup panjang . Ketiga berdampak pada aktivitas harian.

M: Seperti apa gejala yang membedakan bipolar dengan gangguan mental lainnya? 

J: Mood swing sebenarnya banyak ditemukan dalam banyak diagnosis gangguan kejiwaan, tidak hanya bipolar. Mood swing belum tentu bipolar, tapi kalau bipolar memang akan mengalami mood swing. Terdapat 2 [jenis] mood swing dalam bipolar yakni depresi dan manik. Depresi adalah keadaan dimana seseorang tidak dapat merasakan bahagia. Yang terkenal memang sedih, tapi belum tentu sedih. Bisa saja tidak dapat merasakan kesenangan, kekurangan energi, mengurung diri, hilang nafsu makan, hingga pikiran untuk mengakhiri hidup. Pada kondisi bipolar, angka bunuh diri yang terjadi memang lebih tinggi dibandingkan gangguan psikologis yang unipolar berdasarkan statistik yang ada. 

Kondisi kedua adalah manik, yang sering disalahpahami sebagai bahagia. Manic is not happy. Manik adalah keadaan saat seseorang berpikir terlalu cepat, hingga mungkin pembicaraannya sulit dipahami. Bahayanya adalah apa yang dikerjakan tidak selesai padahal ada banyak ide yang muncul. Ada rasa bahwa saya lebih hebat dari orang lain yang di beberapa kasus orang yang memang memiliki intelektualitas tinggi jadi lebih sulit untuk dinilai. Secara umum dalam fase manik, orang akan lebih percaya diri dari biasanya tetapi irasional atau berlebihan. Hingga akhirnya rentan terjadi konflik, sehingga akan lebih rentan menjadi sensitif atau emosional. 

M: Apa penyebab dari bipolar?

J: Saya pun agak khawatir dalam menjawab pertanyaan ini. Karena saya tidak ingin teman-teman merasa tidak ada yang bisa diusahakan terhadap hal ini. Umumnya bipolar terjadi karena faktor genetik, ada gen yang kita bawa berpotensi mengalami bipolar. Bisa juga terjadi karena perubahan struktur di otak di berbagai lokasi. Atau terjadi masalah dalam zat kimia yang ada di dalam otak. Ada ketidakseimbangan yang membuat penderita bipolar mengalami perubahan mood yang terus-menerus. Teori lain mengatakan, bisa jadi memang kita memiliki gen yang berpotensi bipolar tetapi baru teraktivasi karena stress yang sangat besar muncul. Ini menjadi salah satu alasan, sering ditemukan kondisi bipolar setelah persalinan. 

M: Karena perubahan hormon yang naik turun?

J: Ya, karena itu stress besar bagi badan, diikuti perubahan hormon yang naik turun. Ini [persalinan] adalah situasi yang belum pernah dialami sebelumnya oleh manusia tersebut. Hal ini kemudian mengaktivasi gen yang sebelumnya sudah ada. Jadi apa penyebabnya? Sebanyak dan seluas penjelasan sebelumnya. Tidak ada alasan tunggal yang menyebabkan seseorang bisa mengalami bipolar. Ini memang sangat kompleks.

M: Jika bipolar sering kali ditemukan pasca persalinan, apakah bipolar lebih sering dialami oleh perempuan dibanding laki-laki?

J: Sebenarnya bukan artinya perempuan lebih rentan bipolar. Tetapi jika seorang manusia memiliki gen yang berpotensi bipolar kemudian dipicu stress besar seperti persalinan, hal ini yang dapat mengaktivasi gen tersebut. Saya tidak yakin apakah lebih banyak terjadi pada perempuan atau laki-laki. Walaupun di ruang praktik memang lebih sering ditemui perempuan, tapi saya curiga ini hanya karena perbedaan literasi, ya. Karena pada dasarnya perempuan cenderung lebih biasa pergi ke dokter dibanding laki-laki. 

M: Bagaimana cara yang benar mendiagnosa gangguan bipolar? Karena seringkali orang justru melakukan self-diagnose terhadap dirinya sendiri.

J: Memang butuh waktu dalam melakukan diagnosis bipolar. Ada pasien yang baru saya ketahui bipolar setelah enam bulan kontrol dengan saya. Pada beberapa kondisi bipolar, depresi lebih sering muncul daripada manik. Jangan bayangkan seseorang yang mengalami bipolar akan langsung berpindah dari depresi ke manik, bukan begitu polanya. Kita tidak dapat mengetahui ini kondisi bipolar sebelum saya melihat kondisi manik nya. 

Proses diagnosisnya sendiri biasanya berupa wawancara. Kita sebagai psikiater akan memberikan alat ukur atau kuesioner, biasanya digunakan untuk menguatkan hipotesis jika memang sudah terjadi kecurigaan. Karena diisi secara real time, maka yang tergambarkan hanyalah kondisi saat itu. Apa yang terjadi sebelumnya, pada akhirnya akan tidak terlalu kuat validitasnya. Maka, memang butuh waktu untuk bisa melakukan diagnosis. Artinya, akan sangat sulit melakukan self-diagnose. Sangat sulit membedakan kondisi manik atau hipo manik [fase manik yang lebih kecil] dalam perasaan sehari-hari. 

M: Sebelumnya sudah disinggung mengenai manik dan hipomanik yang juga bisa membedakan dua jenis bipolar. Bisa dijelaskan mengenai bipolar 1 dan 2 itu apa, dok?

J: Sebenarnya ada sangat banyak jenis dari bipolar, 1,2, ¼, dan lain-lain. Saya pun bingung kenapa dibagi dengan angka ¼, tetapi secara umum memang dibagi menjadi dua. Untuk teman-teman cukup anggap terbagi dua yakni bipolar tipe 1 dan 2. Bipolar tipe 1, ketika kita memiliki episode depresi dan manik yang sama kuat. Kalau bipolar tipe 2, depresinya berat tetapi manik tidak atau saya sebut sebagai mini manik. Manik itu bisa dibayangkan dengan orang yang berbicara dan berpikir sangat cepat mungkin saja melakukan tindakan-tindakan yang impulsif. Terkadang berupa tindakan yang berbahaya, ini bisa dicurigai sebagai manik. Kalau mini manik tidak sebesar itu, jadi memang ini sulit dibedakan butuh bantuan dari psikiater. Hipomanik bisa saja bukan sesuatu yang berbahaya, bisa saja berbentuk belanja online yang berlebihan atau memberikan uang disaat sedang kesulitan finansial. Bisa terlihat normal atau dermawan bagi orang awam. Sedangkan manik, akan lebih mudah terlihat. 

M: Antara bipolar jenis 1 dan 2 mana yang lebih mengganggu dalam keseharian?

J: Dua-duanya mengganggu sebenarnya. Bipolar 1 mengalami gejala yang [depresi] kuat dan [manic] kuat, jadi lebih sering terganggu. Bipolar tipe 2 sebenarnya juga terganggu dengan frekuensi yang berbeda. Saya tidak mau mengatakan lebih ringan, saya menyebutnya sebagai frekuensi yang berbeda. 

M: Bagaimana cara mengatasi gejala bipolar agar tidak mengganggu dalam keseharian?

J: Nah, ini penting. Pembahasan yang penting bukan pada bagaimana terjadinya atau kenapa ini terjadi, saya khawatir diagnosis yang terjadi hanya digunakan sebagai label “saya bipolar. Tidak, kamu bukan “si bipolar” kamu tetap orang yang sama yang kebetulan mengalami bipolar. Jangan mengecilkan dirimu. Sudah banyak obat-obatan yang dapat membantu agar kondisi bipolar tetap stabil. Ingat bahwa sebagian besar gangguan bipolar dipengaruhi genetik artinya ini ada dalam tubuh kita. Bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa. Kita perlu berusaha untuk tidak tenggelam dalam kesulitan atau diagnosis ini. Penggunaan obat-obatan mood stabilizer dapat digunakan dalam jangka panjang, and that’s okay!

M: Seberapa panjang, dok?

J: Nah, ini juga pertanyaan yang saya tidak suka tapi harus saya jawab. Karena saya khawatir kalimat ini juga akan mengecilkan, tapi harus dibahas. “Jangka panjang” adalah kalimat halus dari psikiater untuk menggantikan kalimat “saya nggak tahu kapan kamu akan berhenti minum obat”. Apakah mungkin berhenti? Mungkin tapi kami akan menyebutnya sebagai “drug holiday” atau libur minum obat. Syaratnya adalah kamu harus paham kondisimu, bukan sekedar hanya tahu mengalami bipolar melainkan kesadaran untuk mengetahui apakah kamu mengalami depresi bukan sedih atau manik bukan senang. Sehingga, sebelum gejalanya menjadi sangat berat kita bisa mulai minum obat lagi.

M: Bagaimana caranya, dok? Apakah dengan menulis jurnal?

J: Saya memang suka mengajak teman-teman yang mengalami bipolar untuk keep tracking [their] mood. Bisa lewat aplikasi, menulis jurnal, atau menggambar. Sayangnya ini pengetahuan yang tidak bisa dibahasakan, rasanya susah dijelaskan. Butuh kerjasama antara psikiater dan penyintas bipolar.

M: Kerjasama seperti apa?

J: Kerjasama untuk mengenali gejalanya. Jika memang bisa menjelaskan dengan benar dan gejalanya cukup stabil  “drug holiday” menjadi sesuatu yang mungkin untuk dilakukan. Karena dia bisa bertanggung jawab dan tahu apa yang harus dilakukan saat gejala bipolar tersebut muncul. Pada akhirnya target minum obat bukan berhenti tetapi libur.

M: Bagaimana cara berdamai dengan diri sendiri saat didiagnosa bipolar?

J: Ini bukan berdasarkan uji ilmiah, tapi berdasarkan apa yang saya temui saat praktik ketika seseorang menerima diagnosis gangguan mental perasaan yang kerap muncul adalah rasa bersalah dan malu. Seakan ini salahnya, padahal bukan kesalahanmu jika mengalami bipolar. Jadi, berhenti memarahi, memaki, dan merendahkan diri sendiri. Sayangnya ini bukan salah siapa-siapa. Tapi kamu perlu memperbaiki situasi ini. Menurut saya nggak masalah jika kamu marah atau sedih di awal. Ingat ini bukan salah siapa-siapa ini juga bukan hal memalukan, kamu tidak melakukan kejahatan. Sama dengan penyakit lainnya, kamu tidak perlu malu.

Bukan kesalahanmu jika mengalami bipolar. Jadi, berhenti memarahi, memaki, dan merendahkan diri sendiri. Sayangnya ini bukan salah siapa-siapa. 

M: Bagaimana cara kita membantu orang terkasih yang mengalami bipolar?

J: Pertama, terima kasih sudah berusaha, ya. Bohong kalau saya bilang saya paham perasaanmu. Tapi saya sangat mengapresiasi care giver, teman-teman yang merawat orang dengan bipolar. Semoga kebaikanmu dibalaskan, ya. Nah, kita bisa membantu teman-teman dengan bipolar untuk track emosi mereka. Terkadang di awal akan ada penolakan bahwa mereka baik-baik saja. Ini bisa saja menjadi sumber keributan antara care giver dengan teman-teman bipolar. Tetapi sesekali kita bisa mencoba membantu untuk mencatat perubahan mood yang terjadi, karena ini episodik dan terjadi berkali-kali penolakan tidak bisa dilakukan berulang. Kita perlu mengingatkan untuk minum obat, karena dalam kondisi yang berat obat lah penolongnya. Jangan anggap obat sebagai musuh, melainkan cara kita menyayangi diri sendiri. Menyayangi diri sendiri memang kadang tidak mudan dan enak, tapi perlu dilakukan. Dukungan dari keluarga dapat mengurangi kecendurangan untuk relaps [kambuh]. 

M: Terkadang ini rumit. Ketika menegur, intonasi yang berbeda juga akan menimbulkan rasa yang berbeda. Bentuk komunikasi apa yang perlu dilakukan saat ingin menegur orang terkasih yang mengalami bipolar?

J: Ya, benar. Pertama kita harus validasikan perasaannya. Oh, kamu sedang mengalami banyak energi atau ide. Bisa juga sebaliknya justru terlihat sedih dan lelah terus. Orang yang diajak bicara akan merasa kita memahami perasannya.Terkadang orang dengan bipolar justru tidak paham, saat dia depresi mungkin dia merasa dirinya pemalas atau bodoh. Mengutarakan kembali situasi yang dialaminya baru selanjutnya kita berikan feedback. Sampaikan usulmu. Seperti, bagaimana kalau kita jalan-jalan keluar atau mungkin makan dulu, dan sebagainya. 

M: Orang yang sedang merawat teman-teman dengan bipolar ini juga kan pasti bisa mengalami kelelahan. Bagaimana caranya untuk bisa tetap merawat diri saat kita juga harus memberikan dukungan kepada teman-teman dengan gangguan bipolar?

J: Kita tidak bisa memberikan apa yang kita tidak punya. Rawat dirimu agar kamu bisa merawat dengan baik. Kalau kamu tidak merawat dirimu, bisa saja output-nya menjadi marah, kesal, dan sebagainya. Aku pun juga rutin menemui psikolog. Terkadang yang kita butuhkan adalah interaksi, ketulusan. Terkadang saya butuh cermin untuk berkaca. Sesekali kita boleh bertemu dengan psikolog, atau minimal kita punya support system. Mungkin sesama care giver.

M: Komunitas mungkin ya, dok?

J: Iya, kadang melihat orang dengan penderitaan yang sama itu melegakan. Karena kita merasa tidak sendiri. Itu membahagiakan, loh.

M: Apakah bipolar disorder bisa sembuh?

J: Kita membayangkan konsep sembuh seperti flu, minum obat lalu hilang. Bipolar lebih mirip dengan darah tinggi atau diabetes yang butuh banyak hal dan pendekatan agar “sembuh”. Apakah artinya tidak bisa sembuh? Tidak, ia bisa sembuh namun perlu dikontrol. Yang dimaksud sembuh adalah kondisi mood yang stabil tapi memang ada beberapa syarat yang harus dipenuhi seperti olahraga rutin, minum obat, dan harus konsultasi jika ingin melakukan drug holiday.

M: Apakah bipolar bisa diturunkan pada anak kita nanti?

J: Saya ingin menebak latar belakang dari pertanyaan ini. Saya curiga bahwa diturunkan secara genetik dipahami sebagai jika saya bipolar maka anak saya bipolar, tidak. Genetik itu artinya kita menurunkan potensi. Contoh, jika saya darah tinggi maka anak saya akan memiliki potensi lebih besar untuk mengalami darah tinggi dibandingkan populasi lain. Tapi belum tentu terjadi. Orang lain juga memiliki potensi serupa tetapi lebih rendah. Kita bisa mencegahnya dengan hidup sehat, mengenalkan emosi, dan sebagainya. Dan yang lebih penting jika kamu mengalami bipolar, kamu tahu bipolar kita bisa deteksi lebih dini. Semakin cepat kita menerima diagnosis, “kesembuhannya” lebih tinggi. Jika diketahui lebih lama dampaknya akan lebih terasa. Pencegahan penting tapi deteksi dini juga penting.

M: Pada anak biasanya sudah mulai terlihat dari umur berapa, dok?

J: Dari kecil sebenarnya. Pasien saya ada yang dari umur tujuh tahun. Kalau pada orang dewasa depresi mungkin lebih jelas. Tapi pada anak biasanya tantrum atau marah. Jika kita melihat tantrum pada anak, marah tanpa alasan jelas, berulang, serta fluktuatif dan berulang. Tidak ada salahnya untuk mencoba untuk konsultasi dengan psikolog anak. 

M: Apa perbedaan paling jelas antara Borderline Personality Disorder (BPD) dengan bipolar?  

J: Susah sekali membedakan bipolar dan BPD. Pada beberapa kasus bipolar dan BPD terjadi bersamaan, ini akan menjadi semakin rumit. Psikiater mungkin berpikir apakah ini bipolar atau BPD, ternyata ini bipolar dan BPD. BPD sendiri adalah gangguan kepribadian. Ada trigger kemudian baru muncul responsnya. Jadi, mood swing terjadi berdasarkan trigger entah itu perpisahan, kesedihan, atau kekecewaan. Responsnya bisa luar biasa. Fluktuasi mood dalam BPD biasanya singkat dalam menit atau jam sedangkan pada bipolar dalam beberapa minggu atau bulan. Perubahan mood yang terjadi pada bipolar tidak membutuhkan trigger, hanya berdasarkan waktu. 

M: Apa pesan untuk teman-teman yang mendengarkan terutama untuk topik hari ini?

J: Sekali lagi saya ingin menegaskan bipolar tidak menentukan siapa kamu. Kamu tetap orang yang sama, utuh, dan berharga yang kebetulan mengalami bipolar. Saya nggak tahu kenapa kamu mengalami bipolar, berhenti mempertanyakan kenapa kamu mengalami bipolar, berhenti menyalahkan dirimu sendiri karena bukan kamu yang salah. Kita perlu melakukan sesuatu untuk ini. Bukan untuk siapa-siapa, untuk kamu. Untuk kamu kembali pulih, bahagia, dan sejahtera. Karena kamu berhak hidup bahagia. Yuk, untuk teman-teman yang merasa mengalami bipolar yuk cari pertolongan. 

Bipolar tidak menentukan siapa kamu. Kamu tetap orang yang sama, utuh, dan berharga yang kebetulan mengalami bipolar.

Related Articles

Card image
Circle
Perbedaan Bukan Halangan

Kita perlu akui bahwa di Indonesia, hubungan beda agama masih menjadi masalah besar. Kalau kita tidak mampu menyelesaikan masalahnya, saling kompromi saat berproses, pasti ada sesuatu yang terjadi di depan.  Kami berdua sama-sama yakin dan percaya bahwa memang agama itu sebuah hal yang diturunkan di bumi untuk hal-hal yang positif. Tidak mungkin kemudian kita berdua ribut, ujungnya karena agama.

By Della Dartyan
04 December 2021
Card image
Circle
Perjalanan Melalui Kegagalan

Perasaan gagal dan ragu akan diri sendiri memang menjadi salah satu permasalahan yang sedang dihadapi oleh banyak orang, terlebih generasi Millennial dan Gen Z. Bagi mereka yang mungkin sudah memasuki tahun ke-5 atau 6 perjalanan karir mereka, mulai timbul pertanyaan apakah memang ini pilihan yang tepat untuk masa depan?. Merasa bahwa dirinya tidak berkembang, ditambah dengan segala potongan informasi semu yang terpampang di media sosial.

By Greatmind X Festival Pulih
27 November 2021
Card image
Circle
Keraguan Untuk Kembali Jatuh Cinta

Sebuah penelitian mengatakan bahwa komponen dari rasa cinta adalah rasa saling membutuhkan, saling percaya, optimisme, serta kegembiraan tetapi di sisi lain juga berhubungan dengan perasaan depresi, gelisah, serta kehilangan fokus dan sulit untuk berkonsentrasi. Fakta ini bisa terasa sangat kontradiktif. Jatuh cinta memang sering kali membuat kita bingung sebenarnya bagaimana kita menghadapi perasaan positif dan negatif yang datang bersamaan.

By Sivia Azizah
20 November 2021