Self Lifehacks

Bercakap Bersama Iqbaal Ramadhan: Arti Ketenaran

Suatu hari pada November 2019, kehidupan mendatangkan seorang teman baru. Pertama kali kami tatap muka adalah ketika suatu malam sebuah pintu lift terbuka. Dia memakai jaket dan celana hitam, begitu juga saya. Mungkin karena kesamaan ini kami spontan berbalas senyum geli kemudian bertukar peluk dan sapa. Obrolan dimulai dari yang paling sederhana hingga yang menyerempet filosofis. Salah satu poin obrolan kami yang saya ingat adalah pentingnya hidup di sini-kini (mindfulness) bukan tenggelam di masa lalu atau berlebihan mengkhawatirkan masa depan.

Saya bercakap bersama Iqbaal Ramadhan. Dia di Melbourne, saya di Jakarta. Tidak masalah, ada teknologi video call.  Di sini, kami mengulik ketenaran dan privasi, toxic positivity, dan pentingnya mendengarkan diri untuk mengenal diri sendiri.

Marissa Anita (M): Iqbaal, let’s talk about fame. Bagaimana kamu melihat ketenaranmu?

Iqbaal Ramadhan (I)Ketenaranku? Aku rasa cukup baik. Secara umum aku suka ketenaran ini. For the most part it’s awesome. Tapi tentu ada sisi-sisi nggak enaknya seperti profesi-profesi lainnya. Semakin aku dewasa, aku mulai melihat profesiku sekarang sebagai pekerjaan, bukan lagi sekadar hobi aja. Aku tadinya kayak, "Oh, ya ini hobi aku. Trus aku dibayar. Punya uang jajan. Yay!’" Sekarang aku semakin melihat sisi bisnisnya, lebih bagaimana cara mempertahankan eksistensi dengan karya-karya yang berkualitas dan punya idealisme karena nggak pengen termakan sama pasar. Dengan ketenaranku, aku bisa melakukan banyak hal: travel, ketemu orang baru, teman baru. Aku bisa melakukan banyak hal yang orang-orang seumurku atau bahkan yang lebih tua belum atau tidak lakukan. Tapi dengan ketenaranku pula aku kehilangan banyak hal.

M: Kehilangan hal seperti apa?

I: Setidaknya di Indonesia, aku nggak bisa kemana-mana. Aku merasa banyak orang nggak peduli sama perasaanku. Contohnya aku lagi menghabiskan waktu dan ngobrol sama mamaku, kemudian ada orang datang dan minta foto. Aku bilang "Oh, sorry, nggak bisa karena gue lagi ngobrol sama nyokap." Trus mereka bilang "Ah, sombong banget sih." Reaksiku bakal kayak "Lah, elo baru tahu?" 

M: Hahaha 

I: Maksudku, what do you expect, man? I was in the middle of talking to my mom. (Apa yang lo harapkan? Gue kan lagi ngobrol sama nyokap gue – red.) Aku rasa akhir-akhir ini aku mulai lebih mendengarkan diriku sendiri.

M: Mendengarkan diri sendiri maksudnya apa, Baal?

I: Lebih ngikutin apa yang aku mau. Dulu tuh aku sering banget berasa kayak people pleaser (arti: seseorang yang menekan kebutuhannya sendiri demi menyenangkan orang lain – red). Semua [orang] harus bahagia; semuanya harus gue turutin; semuanya harus bilang "iya". Aku dulu nggak enakan, begini dari kecil. Makin ke sini, makin sadar ketika aku berusaha membahagiakan orang-orang, ternyata orang-orang juga nggak peduli aku bahagia apa nggak. Waktu aku sedih atau marah, waktu ada banyak hal yang aku pikirin di kepalaku atau yang terjadi dalam hidup aku, aku tahu orang-orang ini juga nggak peduli. Mereka cuma tetep mau aku posting di Instagram, ngomong sesuatu di medsos. Ketika sadar ini, aku jadi lebih peduli dengan diri sendiri sekarang. Aku lebih dengerin apa yang aku mau dan apa yang harus aku lakukan.

M: Mengenal diri sendiri itu penting. Bagaimana kamu mengenal diri kamu sendiri?

I: Penting sekali. Sejak masuk ke umur 20, aku jadi banyak pertanyaan di kepala (ke diri sendiri) gitu lho, Mar. Kayak, "Emang ini yang mau elo lakuin, ya? Is it worth it what you’re studying or what you’re doing in your life and career? Apakah ini yang akan lo lakukan selama hidup lo?" Banyak banget pertanyaan dalam kepalaku akhirnya jadi kayak dialog dua arah. Kalau ditanya bagaimana aku menemukan diriku sendiri? Sekarang aku masih mencari. Aku rasa menulis itu ngebantu karena dengan menulis aku bisa track back (melihat kembali) perasaanku pada suatu momen.

M: Kamu pernah ngomong sekilas tentang self acceptance. Penerimaan diri menurut kamu itu seperti apa?

I: Menarik ketika ngomongin penerimaan diri karena menurutku di umur-umur segini (20-an – red.) adalah masa-masa di mana hidup itu jadi perjalanan. Kita mengeksplorasi, mencoba hal-hal baru, dan menemukan. Jaman sekarang banyak banget anak-anak seumuranku yang terekspos sama konsep self love (cinta diri), apakah itu dari musik, film atau bentuk-bentuk media lain. Misal waktu sesuatu nggak berjalan sesuai rencana, kemudian kita berpikir "Oh, semesta punya rencana yang lebih baik buat kita. Kita harus sabar," dan lain-lain. Kesannya harus jadi positif selalu. Kenapa gue jadi kayak nggak punya waktu untuk mempertanyakan ini dan harus langsung menerima aja?

Aku rasa di umur segini, nggak apa-apa untuk berpikir bahwa it’s okay not to be okay (nggak masalah kalau kita lagi nggak merasa baik-baik aja – red); nggak apa-apa meragukan diri sendiri atau orang lain; nggak apa-apa ketika kita nggak pasrah aja. Jangan sampai karena pengertian penerimaan diri yang nggak tepat, kita suatu hari tiba-tiba meledak. Itu nggak bagus juga. Aku percaya semua itu ada prosesnya. Ketika muncul pertanyaan-pertanyaan ke diri sendiri, secara proaktif cari jawabannya.

M: Jadi cinta diri dalam pengertianmu seperti apa?

I: Boundaries (batasan-batasan), I guess. Cinta diri buatku ketika kita bisa membuat batasan-batasan tertentu untuk (kebahagiaan) kita sendiri. Kayak, kita tahu apa yang kita suka dan nggak suka, dan bisa tanpa ragu bilang itu ke orang lain. Misalnya kita lagi hang out sama teman, trus kita ngerasa capek dan pengen pulang, atau harus pulang karena harus ngerjain tugas, ya kita bilang. Di Indonesia, kebanyakan orang nggak enakan dan akhirnya ngikut aja. Bentuk cinta diri aku adalah secara eksplisit bilang, "Cuy, gue mau pulang karena gue udah nggak mau lanjut nongkrong," dengan alasan yang valid.

Di Indonesia, kebanyakan orang nggak enakan dan akhirnya ngikut aja.

M: Jadi artinya jujur dengan diri sendiri? Karena jujur dengan diri sendiri akhirnya jujur dengan orang lain pula...

I: Iya. Bagaimana membuat batasan-batasan ini? Kita harus mulai memahami diri kita dan ngobrol sama diri kita sendiri. You learn how to know yourself (kita belajar bagaimana mengenal diri sendiri – red.)

M: Apa yang bikin kamu marah atau sebel, Baal? 

I: When people chew out loud, that’s one. (Ketika orang ngunyah makanan bunyi, itu salah satunya – red.)

M: Uh-oh. (Marissa kemudian mendemontrasikan ngunyah berbunyi)

I: Arrrrghh! Hahaha! 

M: Hahaha!

I: Aku juga nggak suka ketidakpastian. Tapi aku nggak masalah dengan sesuatu yang impromptu (mendadak – red)

M: Maksudnya?

I: Ketidakpastian misalnya aku butuh atau perlu sesuatu tapi aku nggak tahu cara mendapatkannya. Aku suka banget spontanitas karena aku ngerasa bebas. Aku cepat bosan, dan hal-hal spontan bikin hidup asik.

M: Kalau dalam hubungannya dengan manusia, apa yang memicu kamu?

I: Ketika orang lain nggak bisa menjelaskan kenapa aku harus melakukan sesuatu. Ketika mereka bilang "Elo nggak boleh kayak begini atau begitu", terus ketika aku nanya kenapa, jawaban mereka hanya "Ya, harus aja." Buatku semua harus ada alasannya kenapa. I need to know why. Karena aku juga begini ke diriku sendiri. Ketika aku melakukan sesuatu, aku harus bisa menjelaskan ke diriku sendiri kenapa aku melakukannya.

Buatku semua harus ada alasannya kenapa. Ketika aku melakukan sesuatu, aku harus bisa menjelaskan ke diriku sendiri kenapa aku melakukannya.

Aku juga nggak suka disuruh, nggak suka banget. Disuruh bersikap seperti ini itu, selalu baik di depan kamera, dan lain lain.

M: Kenapa kamu jadi individu yang seperti ini menurutmu? 

I: Kayaknya ini mulai ketika aku mulai masuk industri (hiburan). Banyak orang yang minta aku harus aku melakukan ini itu demi kepentingan industri atau brand. Waktu kecil aku berpikir, "Aku harus melakukan ini dan itu kalau mau tetap ada di industri." Tapi makin gede, aku merasa penting untuk mulai lebih mendengarkan diri sendiri. Waktu aku kecil, kenapa aku jadi people pleaser, karena aku pikir menuruti apa yang orang lain haruskan untuk aku itu adalah hal yang benar selayaknya dilakukan seorang figur publik.

Apalagi sebagai role model, di umurku segini menjadi panutan? What?! Gini, aku sangat bersyukur ada banyak orang melihatku sebagai panutan. Tapi ini juga jadi tanggungjawab yang besar banget buat aku. Apa pun yang aku lakuin, dilihat dan dinilai publik. Padahal aku lagi dalam fase mengeksplor banyak hal. Aku punya ketakutan gimana jika aku melakukan sesuatu yang salah tapi orang lain masih menganggap itu nggak apa-apa atau betul?

M: Di posisi kamu sekarang, bagaimana kamu menjaga kewarasanmu?

I: Aku dulu sering berhenti melakukan sesuatu karena terlalu banyak memikirkan opini orang lain, "Kalau nge-post ini, orang mikir apa ya? Kalau gue bikin lagu ini, nanti orang mikir gimana ya?" Akhirnya aku jadi nggak berani ngapa-ngapain. Baru setelah selesai syuting Ali [dan Ratu-Ratu Queens] aku mikir, "You know what? I’m just gonna do it." Aku akan bilang apa pun yang ingin aku bilang. Intinya aku cuma pengen lebih stay true to myself (setia pada diri sendiri – red). Karena pada akhirnya aku sadar, segala kemungkinan yang ada di kepalaku ini nggak akan ada hentinya dan omongan orang juga nggak akan bisa dibungkam. Temen-temenku, keluargaku dan fansku nggak akan mempermasalahkan ini. Dan bagi mereka yang nggak suka sama aku, mereka juga nggak akan pernah percaya dengan apa pun yang aku katakan. So whatever, I guess (jadi ya, terserah lah – red). 

M: Kamu ngerasa punya privasi nggak?

I: Sekarang? Ya. Cara aku punya privasi adalah dengan tinggal dan belajar di luar negeri. Aku udah melakukan ini sejak aku umur 16 tahun and I’m loving it! (aku sangat menyukai ini! – red). Hidup di luar negeri tentu lebih usaha. Aku sadar di Indonesia aku sangat privileged (diberi hak istimewa – red) dalam banyak hal. Kayak aku nggak perlu mengantre. Bukannya aku nggak mau mengantre tapi pas orang lihat aku, mereka ngasih aku duluan, padahal aku juga nggak masalah antre. Banyak hal yang aku punya dan orang lain nggak punya. Being abroad makes me sane (berada di luar negeri membuatku waras – red). It brings me back to the ground as a human being. Ini keseimbangan yang bagus buatku. Selama aku di Australia, aku belajar menjadi manusia pada umumnya. A normal human being.

M: Manusia pada umumnya maksudnya?

I: Nggak ada orang yang ngeliatin. Di sini, nggak ada yang peduli. Orang-orang di sini individualis. Aku nggak kepikiran difoto candid sama orang; nggak kepikiran orang nguping obrolan aku sama temen; nggak khawatir kalau angkat tangan dan mengatakan sesuatu yang bodoh di kelas. Ini semua membuat aku merasa... aku sebetulnya selalu merasa I’m a pretty normal guy, merasa kayak aku biasa aja. Cuma pekerjaan aku yang istimewa, tapi aku sebagai manusia, I’m a pretty normal guy (aku itu cowok pada umumnya – red).

M: Apa itu cowok pada umumnya? 

I: Seseorang yang nongkrong sama temen-temennya waktu weekend, harus belajar tekun di hari biasa, menyelesaikan tugas sehari sebelum tenggat waktu, naik kendaraan umum, nggak punya uang jajan cukup karena kebanyakan party...

M: Hahaha 

I: Ya, cowok umur 20-an pada umumnya lah.

M: Semua ini membuat kamu happy?

I: Ya. Berada di sini (Australia) membuatku pengen bikin lebih banyak musik dan film. Dan ketika aku ada di Indonesia bermusik dan main film, ini membuat aku makin pengen belajar (di Australia) dan di sini aku tahu aku punya privasi. It’s a balance (keseimbangan).

M: Apa yang membuat kamu contented (hati senang dan puas)? 

I: Ketika aku mendengar bahwa aku cukup, that I’m enough. Ketika orang-orang yang aku sayangi mengapresiasi apa yang aku lakukan. Karena aku sering sekali meragukan diri...

M: Oh ya? 

I: Ya. Sering. Jadi ketika orang yang aku sayangi menganggap aku cukup dan bisa memberikan penilaian obyektif terhadap apa yang aku buat atau lakukan, itulah saat dimana aku contented. 

M: What is a good life according to you? Menurutmu hidup yang baik itu seperti apa?

I: Ketika merasa cukup sama apa yang kita punya sekecil apa pun itu. Sama ketika hidup masih ada tantangannya sih. Ini membuat hidup jadi menarik untuk dieksplor, nggak stagnan. Ketika kita ngerasa cukup, kita bersyukur. Bersyukur sebenarnya mudah cuma sering di-overlooked sama orang – bisa karena terlalu sibuk atau memang nggak disempetin untuk look back dan reflect. Aku juga sejujurnya kadang suka lupa. Tapi setiap ingat hal-hal kecil yang bisa disyukuri di hari itu aja misalnya, seketika bisa ngerasa cukup dan senang.

Related Articles

Card image
Self
Ekspresi Diri dan Gaya Hidup

Saya juga setuju dengan ungkapan bahwa fashion adalah cara mengekspresikan diri. Kalau saya bertemu dengan orang, kita bisa melihat karakternya dari apa yang ia kenakan. Baju adalah salah satu medium kita bisa melihat dan “menilai” orang. Jadi bisa dikatakan bahwa baju yang kita kenakan sebenarnya bisa menjadi ungkapan bahwa kita ini adalah bagian dari komunitas tertentu. Mungkin komunitas skateboard, band, atau komunitas-komunitas lainnya. Urban Sneaker Society juga berusaha menggabungkan banyak komunitas agar bisa bertemu satu-sama lain.

By Jeffry Jouw
04 December 2021
Card image
Self
Berjalan Untuk Berubah

Masing-masing manusia punya perjalanan yang berbeda-beda. Katanya, dalam perjalanan itu yang paling penting bukan destinasinya, melainkan proses dan cerita yang terjadi sepanjang perjalanan. Katanya juga, cerita dalam perjalanan lah yang menjadikan siapa kita sekarang ini. Tapi yang pasti, melalui perjalanan kita berubah dan bertumbuh.

By Greatmind x Festival Film 100% Manusia
04 December 2021
Card image
Self
Memaknai Perempuan Berdaya

Banyak pembahasan mengenai cara menyeimbangkan peran sebagai ibu yang juga pekerja, tapi kita terkadang lupa bahwa kita juga adalah individu yang punya identitas sendiri. Saya bukan hanya ibu dari si A, istri dari si B, atau karyawan kantor C. Saya juga adalah seorang individu yang memiliki minat dan keinginan tersendiri. Terkadang saya tetap butuh meluangkan waktu untuk diri sendiri, mungkin dengan olahraga, baking, menonton drama Korea, atau hobi-hobi lainnya.

By Ellyana Mayasari
27 November 2021