Self Food For Thought

Bercakap Bersama Gita Savitri: Menjadi Perempuan

Lewat internet, dia menyuarakan pemikirannya secara kritis dan lugas atas apa yang dia anggap penting pada siapa pun. Meski kami berdua punya rekan kerja dan teman yang sama, kami baru benar-benar tatap muka ketika sama-sama menjadi tamu undangan makan siang di rumah duta besar Inggris Raya pada 2018. Bincang kami saat itu hanya sekilas, namun untuk saya berkesan. Saya bercakap bersama Gita Savitri Devi.

Suatu pagi waktu Hamburg dan siang waktu Jakarta, saya dan Gita duduk di depan komputer masing-masing menyambung cakap yang sempat terputus tentang tuntutan tak terlihat terhadap perempuan, keputusannya tidak punya anak, kesepian, dan kemandirian yang hakiki. 

Marissa Anita (M): Git, kamu pernah sekilas ngomong ke aku tentang ‘memerdekakan diri sebagai perempuan dari tuntutan yang tidak terlihat’. Apa maksudnya?

Gita Savitri (G): Pertama, jadi cewek, aku termasuk beruntung sih, mbak. Soalnya keluargaku bukan tipe yang patriarkat banget. Malah keluargaku tuh benar-benar yang: "Cewek itu harus berdikari (mandiri)." Pemikiran seperti ini bahkan sudah ditetapkan dari (jaman) nenek dan buyutku. Tuntutan-tuntutan yang aku alami malah datang dari luar keluarga.

M: Tuntutannya seperti apa?

G: Misal, cara aku berbicara. Aku bicara menggebu-gebu. Mungkin karena latar belakangku orang Sumatra.

M: Sama dong! Hahaha!

G: Iya! Makku dan Wak-wakku kalau ngomong udah kayak ngajak berantem!

M: Hahaha.

G: Mungkin karena orang-orang yang melihat aku latar belakang budayanya beda, dan mereka juga melihat contoh hijaber-hijaber lain yang lebih kalem, jadi ketika aku muncul, mereka menganggap aku galak atau sombong. Itu salah satu tuntutan yang aku rasakan.

Pakaian juga. Apalagi karena aku kerudungan, banyak followers aku yang ngira aku itu tipe-tipe muslimah yang 'gimana' gitu. Kalau aku lagi pakai jeans, ada yang bilang: "Pakai rok dong karena lebih cantik." Terus, make-up juga (dikomentari).

Sebetulnya hal-hal yang tidak penting, tapi maka dari itu bikin aku kesal, karena seperti "Kenapa sih elo harus menuntut sesuatu dari gue?" Sedangkan aku lihat figur publik cowok, mereka itu mau se-fuck boy apa (arti: laki-laki berperilaku menjengkelkan dan berbicara jorok demi usaha untuk tampil keren – red.) ya tetap saja mereka bisa lenggang-lenggang. Tidak ada tuntutan apa-apa dari masyarakat meski sebetulnya mereka sudah kelewat batas. Di Twitter, banyak 'selebtwit' cowok yang ngajak begituan cewek, lah; ada selebriti cowok yang masuk tahanan tapi setelah selesai masa tahanannya dia kembali berkarier dengan mudah. Masyarakat kebanyakan nggak hold men accountable enough (meminta pertanggungjawaban lebih dari laki-laki terhadap perilaku laki-laki – red.) Sementara kalau perempuan, dibilangin ini lah, dibilangan itu lah, terlalu banyak batasannya.

M: Menurutmu kenapa ada standar ganda seperti ini?

G: Menurutku karena selama ini masyarakat kita seakan menjadikan perempuan standar moral. Contohnya tuntutan keperawanan. Cowok tidak pernah ditanya, tapi cewek selalu ditanya.

Selama ini masyarakat kita seakan menjadikan perempuan standar moral.

M: Sebagai influencer dan vlogger, kamu tidak jarang menerima komentar-komentar tidak menyenangkan secara online, termasuk pelecehan seksual secara verbal. Apa pendapatmu tentang bentuk kekerasan online ini?

G: Awal-awal, orang banyak yang belum 'ngeh' bahwa pelecehan itu banyak jenisnya, bukan hanya pemerkosaan, tetapi microagression juga termasuk (arti: penghinaan secara verbal atau melalui perilaku dalam keseharian yang disengaja atau tidak disengaja untuk mengkomunikasikan permusuhan, penghinaan, prasangka negatif terhadap kelompok ras atau gender mana pun – red.).

Aku punya akun media sosial lain bernama @warganetbersabda dimana aku mengunggah screenshot DM (direct message) komentar pelecehan atau komentar bodoh secara umum yang pernah aku terima lewat medsos.

Kemudian ada yang tanya ke aku, "Elo ngapain, sih, Git naruh-naruh kayak gini di medsos?" Padahal maksud aku mengunggah ini biar masyarakat lihat ada orang-orang di luar sana yang tiap hari dilecehkan kayak gini. Aku mungkin dilecehkan secara online, tapi ada juga perempuan-perempuan lain yang tiap hari dia keluar rumah 'disuit-suitin' sama tukang ojek, atau ketika di KRL pantatnya dipegang.

Ya, kita musti mulai ngomong. Sekarang-sekarang ini udah mulai banyak akun-akun komunitas yang ngomongin tentang perempuan, pelecehan dan lain-lain. Banyak orang menjadi SJW atau Social Justice Warrior (pejuang keadilan sosial – red.) dalam konteks positif. Kalau ada sesuatu yang tidak benar, ada yang ngelaporin. Bagus. Kesadaran ini sudah mulai banyak.   

M: Sebagai vlogger, kita tidak selalu bisa menyaring atau menghentikan komentar yang menghina kamu. Apa yang kamu lakukan agar bisa tetap hidup tenang di tengah komentar-komentar seperti ini?

G: Aku bisa dibilang kesal banget, banget, banget sama orang bodoh. Bukan berarti aku pintar. Tapi ada orang bodoh tertentu yang aku berharap punya vaksin agar aku bisa imun terhadap orang-orang ini. Aku dipertemukan dengan orang yang melakukan pelecehan dan orang yang complain atas cara aku menghadapi pelecehan ini. Dan karena aku berkerudung, (aku bertemu juga dengan) orang  konservatif yang ngeselin.

Biasanya aku ada rem dalam diri, "Git, you have been dealing with them too much. It’s time to ignore." (Git, kamu sudah terlalu banyak menanggapi mereka. Waktunya kamu untuk tidak menghiraukan mereka – red.) Kebetulan aku punya suami yang –nggak tahu bersedia atau terpaksa – mendengarkan keluhanku tentang ini. Sejauh ini suamiku menjadi ‘baskom’ yang sangat baik buat aku. Dia mau dengerin keluh kesah nggak penting ini. Sejauh ini, ya ini yang bikin aku waras.

M: Suamimu tipe seperti apa?

G: Dia unik. Dia orang Batak, anak pertama cowok, dan cucu pertama juga. Ini orang adalah cowok yang paling halus yang aku temui di dunia. Dia mau bantuin aku kerja dari mengedit video sampai masak. Aku jarang banget masak. Dia sering bersihin rumah. Dia nggak pernah perhitungan sama sekali. Unik banget.

M: Kamu bilang bahwa kamu dan suami, Paulus Andre Partohap, memutuskan untuk tidak punya anak. Apa alasan di balik keputusan itu?

G: Dari aku kecil sebenarnya aku nggak pernah ada bayangan akan menjadi seorang ibu atau akan menikah. Sepanjang hidupku, aku nggak pernah ketemu sama orang yang nggak mau nikah dan nggak mau punya anak. Karena kurangnya contoh orang-orang seperti ini, aku lama-lama jadi mempertanyakan hal ini. Pas sudah menikah, aku tanya ke diri apakah aku mau punya anak dan ternyata jawabannya nggak.

Aku menemukan bahwa aku dibesarkan oleh ibu yang narsistik. Dan ini pun bukan salah dia. Aku sampai sekarang masih merasa ibuku narsis karena pengalaman buruk yang ia alami di masa lalu. aku merasa sifat ini menurun ke aku juga tapi untungnya aku sadar diri, "Bahaya nih gue ada sisi-sisi yang sebenarnya gue nggak suka dari nyokap tapi entah kenapa gue serap itu." Nah, aku mikir bahwa manusia seperti aku kayaknya nggak ideal jadi seorang ibu. Secara mental kayaknya aku pun nggak bisa. Menurutku nggak bijak juga kalau aku gambling (untuk punya anak). Aku nggak tahu apakah aku akan berubah. Aku malah belum tahu apakah pas aku punya anak nanti aku akan lebih baik. Siapa tahu malah jadi lebih buruk karena tekanan sulitnya ngurus anak, capeknya, jadi stres dan bisa jadi aku makin parah. Itu sih sebetulnya intinya kenapa aku nggak mau punya anak.

Waktu aku diskusi sama Paul, dia juga setuju. Selama ini dia melihat banyak orang tua yang nggak siap punya anak, tapi tetap punya anak. Lucunya, masyarakat itu nanya ke orang-orang "Kapan punya anak?" tapi pertanyaan yang lebih penting nggak pernah ditanyakan, "Kenapa elo mau punya anak?" Aku suka nanya pertanyaan ini ke teman-teman seumuranku yang sudah menikah dan kebanyakan dari mereka rata-rata nggak bisa jawab pertanyaan ini. Mereka juga tidak menanyakan pertanyaan ini ke diri sendiri.

Dari mereka, ada yang menjawab dia ingin menebus diri karena mungkin selama ini rumahtangganya yang nggak sehat dan toxic, dan ingin membuktikan ke diri sendiri bahwa dia bisa jadi orang tua yang baik. Fair enough. Jawaban paling parah adalah ketika seseorang memutuskan punya anak hanya karena dia perempuan dan sudah kodratnya melahirkan. Menurutku jawaban seperti itu aneh aja.

Waktu aku dan Paul sadar akan kenyataan itu, kami berdua benar benar jadi sadar betul bahwa kita harus tanya ke diri sendiri kenapa mau atau nggak. Kalau kita punya jawaban yang kuat, silakan – apapun keputusannya.

Dari pengalamanku menjadi anak, banyak orangtua yang nggak sadar kalau anak itu nggak cuma butuh uang dan butuh sekolah saja. Seperti suamiku. Dia dan adik-adiknya selama hidup cuma disuruh melakukan dua hal yaitu selalu beribadah dan belajar, literally belajar. Tapi pas Paul keluar rumah, ke Jerman waktu umur 18 tahun, dia harus mulai dari nol lagi karena dia nggak tahu apa-apa terkait bagaimana caranya survive sendiri, kurang inisiatif, dan lain-lain. Kebetulan nyokapku juga nyuruh aku ibadah dan sekolah tapi aku bandel, masih mencoba untuk berontak. Nyokapku tipe orang yang cukup kritis dan dia juga menanamkan nilai-nilai lain di luar rajin ibadah dan pintar akademis. Jadi aku bisa functioning.

Kekurangan nyokapku itu adalah dia merasa harus selalu kuat dan merasa kalau dia rapuh di depan anak-anaknya, ini akan membuat anak-anak dia lemah. Dia begini karena dulu ngurus anak sendiri karena suaminya tinggal jauh di Amerika. Tapi akhirnya aku sekarang jadi terlalu sering menekan emosi diri sendiri karena aku tidak pernah boleh menangis di depan nyokap. Aku juga nggak pernah bisa sambat ke dia karena emosi aku sering dikerdilkan.

Nyokapku feminis sekali. Dia nyuruh aku harus bisa semua dan nggak tergantung sama orang lain. Bahkan soal nikah, dia bilang nggak usah buru-buru, kalau sudah sukses baru boleh nikah dan punya anak. Yang lebih keren lagi dari nyokap adalah dia sangat sangat menghormati keputusanku untuk nggak punya anak. Banyak orangtua di luar sana yang nggak menghormati anaknya dalam arti anak dewasa yang bisa membuat keputusannya sendiri dan berpikir sendiri. Anak akhirnya menjadi posession (barang milik – red.) Ini yang aku sayangkan. Mungkin ini terkait dengan budaya. Kalau di Jerman, anak umur 18 tahun kebanyakan sudah cabut dari rumah dan hidup mandiri atau sama teman-teman. Sementara di Indonesia, orang umur 30 atau 40 tahun bahkan masih ada yang tinggal sama orangtuanya. Anak-anak benar-benar digenggam sama orangtua dan jarang diberikan kebebasan supaya anak itu berdiri sendiri.

Anak-anak benar-benar digenggam sama orangtua dan jarang diberikan kebebasan supaya anak itu berdiri sendiri.

M: Banyak orang takut kesepian. Kamu?

G: Aku sebetulnya kurang suka sama manusia. Maksudnya, aku cuma suka sama orang-orang tertentu – manusia selayaknya – yang tahu cara menghormati orang lain dan punya pemikiran yang kurang lebih mirip. Aku sangat selektif memilih mereka yang ada di lingkaranku, maka itu aku nggak merasa sendirian dalam hidupku. Pas aku memutuskan nggak punya anak pun, nggak pernah terpikir kalau aku nantinya tua akan merasa kesepian. Aku cuma butuh satu orang dalam hidupku dan Paul sudah cukup buat aku.

Pas orang nanya siapa yang bakal mengurus aku di hari tua, aku nggak kepikiran karena aku tinggal di Jerman. Di luar negeri, tinggal di panti jompo itu bukan sesuatu yang buruk. Panti jomponya bagus, banyak sesama teman kakek-nenek, dan ada yang mengurus. Dalam kultur Indonesia terutama ada anggapan kalau tinggal di panti jompo kesannya diabaikan.

Ketika aku sudah tua nanti, aku yakin bisa mandiri karena aku ada rencana tinggal di Jerman, negara yang memang memberikan kesempatan orang lanjut usia untuk mandiri. Di sini, aku sering lihat nenek-nenek pakai tongkat naik alat transportasi publik sendiri. Aku suka melihat keadaan seperti ini karena menurutku ini bentuk kesetaraan. Salah satu alasan kenapa aku suka tinggal di Jerman.

M: Perempuan yang merdeka itu seperti apa?

G: Kemerdekaan 100 persen itu utopia. Sekarang, ada perempuan yang masih nggak bisa pakai baju sesuai kemauan mereka, dituntut mengikuti ‘norma-norma’ yang ada, sementara nggak tahu juga norma apa yang dimaksud di sini. Ada juga perempuan yang mau ngapa-ngapain harus minta izin dulu mengikuti maunya orangtua, suami, atau orang-orang terdekat.

Jadi kalau mau ngomongin perempuan merdeka di hidup yang realistis bisa, tapi masyarakat nggak mau. Perempuan merdeka bisa dilihat dari hal-hal perintilan, sih – di mana perempuan entah dia mau di dapur atau berkarier di luar, nggak masalah; dia mau punya anak atau nggak, nggak masalah; nikah atau nggak, nggak masalah. Perempuan merdeka ketika dia bisa dapat ilmu tentang kesehatan reproduksi dia, dengan mudah mengakses barang-barang sanitary, dapat hak cuti yang manusiawi setelah melahirkan, dan punya suami yang bantu ngurus anak. Kemerdekaan nggak bisa diraih perempuan ketika perempuan dan laki-laki belum menjadi decent human beings (manusia selayaknya – red.).

Kemerdekaan nggak bisa diraih perempuan ketika perempuan dan laki-laki belum menjadi decent human beings.

M: Apa values atau nilai-nilai yang kamu pegang dalam hidupmu?

G: Pertama adalah untuk menjadi mandiri. Ini buat aku sangat berarti banget. Berdasarkan pengalamanku, aku sangat kesal kalau harus terikat sama apa pun itu. Aku bete banget kalau harus tunduk pada sesuatu – apakah itu norma, diatur-atur orang lain, atau hierarki. Pada akhirnya hidup ini akulah yang ngejalanin dan aku yang bertanggungjawab atas diriku sendiri. Aku terlahir sendiri dan mati juga akan sendiri.

Yang kedua, curiosity (rasa penasaran – red.) Ini sebenarnya yang menjadi pemacu aku untuk belajar menjadi orang yang lebih baik. Secara harafiah dan secara kiasan. Orang suka bilang, "Banyakin piknik, dong." Aku setuju. Jaman sekarang piknik bukan berarti harus gelar tikar atau booking tiket ke suatu tempat. Kita bisa piknik lewat internet dan buku. Intinya memperbanyak belajar untuk memperluas wawasan kita.

Aku terlahir sendiri dan mati juga akan sendiri.

Related Articles

Card image
Self
Perbedaan dalam Kecantikan

Perempuan dan kecantikan adalah dua hal yang tidak akan pernah terpisahkan. Cantik kini bisa ditafsirkan dengan beragam cara, setiap orang bebas memiliki makna cantik yang berbeda-beda sesuai dengan hatinya. Berbeda justru jadi kekuatan terbesar kecantikan khas Indonesia yang seharusnya kita rayakan bersama.

By Greatmind x BeautyFest Asia 2024
01 June 2024
Card image
Self
Usaha Menciptakan Ruang Dengar Tanpa Batas

Aku terlahir dalam kondisi daun telinga kanan yang tidak sempurna. Semenjak aku tahu bahwa kelainan itu dinamai Microtia, aku tergerak untuk memberi penghiburan untuk orang-orang yang punya kasus lebih berat daripada aku, yaitu komunitas tuli. Hal ini aku lakukan berbarengan dengan niatku untuk membuat proyek sosial belalui bernyanyi di tahun ini.

By Idgitaf
19 May 2024
Card image
Self
Perjalanan Pendewasaan Melalui Musik

Menjalani pekerjaan yang berawal dari hobi memang bisa saja menantang. Menurutku, musik adalah salah satu medium yang mengajarkanku untuk menjadi lebih dewasa. Terutama, dari kompetisi aku belajar untuk mencari jalan keluar baru saat menemukan tantangan dalam hidup. Kecewa mungkin saja kita temui, tetapi selalu ada opsi jalan keluar kalau kita benar-benar berusaha berpikir dengan lebih jernih.

By Atya Faudina
11 May 2024