Self Love & Relationship

Bercakap Bersama: Asmara Abigail

Fotografi Oleh: Bramsky untuk Lulu Lutfi Labibi

Mendengarnya bercerita tentang lingkungan ia tumbuh besar, mengingatkan saya pada Wonder Woman. Selama hidupnya, ia belajar menjadi bijaksana dari perempuan-perempuan pemberani di lingkarannya – mereka yang tidak ragu untuk menjadi dirinya sendiri. Saya bercakap bersama Asmara Abigail tentang menjadi perempuan, seks sebagai pengalaman spiritual, dan kebebasan. 

Marissa Anita (M): Tiap kali aku lihat kamu, aku suka pembawaan kamu. Buatku, energimu terasa bebas dan kamu terlihat nyaman dengan tubuhmu sendiri.

Asmara Abigail (A): Awww, thank you

M: Bagaimana ceritanya kamu bisa jadi Asmara yang sekarang?

A: I grew up with a lot of aunties (aku tumbuh besar dikelilingi banyak tante – red.) Aku jarang jalan-jalan sama keluarga inti karena papaku tinggal sama eyang kakung dan eyang putri yang waktu itu kondisi kesehatannya kurang baik. Belum lagi, waktu aku umur 12 tahun, adik aku lahir, Talula. Jadi orangtuaku selalu sama Talula. Di rumah juga sempat ada kuda-kuda banyak banget, sampai 30 ekor. Papaku jadi nggak mau pergi-pergi liburan. Aku selalu dititip sama tante-tante aku, dan mereka ‘gila’ semua. 

M: Hahaha. Maksudnya gila?

A: Ada tante Becky (Tumewu). Dia kerja di industri hiburan. Dari kecil aku udah belajar dari dia: kalau dia shooting aku ikut; kalau dia nge-mc aku ikut; tumbuh bareng tim dia juga. Aku sudah terbiasa dengan komunitas LGBT dari kecil. Dari penata rambut, make-up artist, orang yang ngurusin panggung, mereka semua menyenangkan dan percaya diri. 

Sepupu-sepupu semua dikumpulin. Semua perempuan kalau dari keluarga mama. Kita potong rambut di rumah Tante Beck sama seorang penata rambut yang aku nggak pernah pertanyakan kalau dia laki-laki atau perempuan. It’s just very normal for us. Jadi aku udah biasa dengan keberagaman di keluargaku. 

Ada juga tante Ade. Dia bisa dibilang mirip Beyonce – kulit gelap dan rambut keriting. Dia free banget dari aku kecil. Temannya orang asing semua. Buat aku itu cool banget. Gaya pakaiannya celana jeans robek-robek jamannya Tom Ford. Bajunya yang udel-nya keliatan jaman Britney Spears dan Christina Aguilera. Udel-nya ditindik, rambutnya dicat pirang. Tante Beck, Tante Riet, Tante Ade, semua udel-nya ditindik. Tiga-tiganya bertato. 

Tante Riet itu pramugari. Selama 35 tahun dia sudah keliling dunia, ke tempat-tempat yang pada jaman 90-an nggak kepikiran seperti Cappadocia, Kuba, Meksiko, Capri. Dia cerai karena mengalami KDRT (kekerasan dalam rumah tangga – red.) Dia bilangnya (suaminya) dia buang karena udah nggak ada gunanya.

I was growing up with women with balls around me, very strong powerful women with a lot of energy (Aku tumbuh besar dengan perempuan-perempuan pemberani, sangat kuat dan punya banyak energi – red.). Rata rata semuanya – mau ada yang nikah kek, mau nggak kek, mau divorce kek, mau punya anak kek, mau nggak punya anak – mereka tetap jujur menjadi diri mereka sendiri apa pun kondisinya.

Misal Tante Beck, punya keluarga, punya anak dua, tapi aktivitas dia sebagai ibu nggak pernah menghentikan dia menjadi dirinya sendiri. Tante Riet, meskipun dia cerai, meninggalkan suaminya yang kurang ajar itu, dia tetap meneruskan hidupnya dia. Malah dia terlihat lebih bahagia single. Dia bisa melakukan apa yang dia mau tanpa menghiraukan tuntutan sekitar seperti, “Nikah lagi, dong.” Dia selalu jadi tante yang keren buat anak-anak temannya atau anak-anak saudara perempuannya. Dari kecil aku tumbuh besar dengan mereka jadi mungkin karena itu aku paham nggak ada masalah ketika menjadi diri sendiri. 

I was growing up with women with balls around me… Mungkin karena itu aku paham nggak ada masalah ketika menjadi diri sendiri. 

M: Sekarang bicara perempuan dan seks. Biasanya kalau bicara tentang seks, sepertinya di negara ini tabu sekali. Dan kalau pun ada pendidikan seks, pengalamanku waktu remaja dulu, jatuhnya lebih ke pendidikan biologi. Kamu pernah menjadi salah satu duta yang berbagi tentang pendidikan seks. Seperti apa pengalaman kamu?

A: Dari pengalamanku, kayaknya guru-guru (di sekolah) ngajar pendidikan seks lebih untuk mengarahkan remaja tidak melakukan hubungan seks, bukan untuk menjelaskan kehidupan seks yang sehat dan aman itu seperti apa.

M: Nah, apa pengalaman kamu saat berbagi?

A: Aku merasa mereka (siswa-siswi) buta tentang tubuhnya sendiri karena orang tuanya nggak ngajarin. Penting dari awal laki-laki mengenal tubuh perempuan dan perempuan juga mengenal tubuh laki-laki. Di sini (Indonesia) jarang banget anak kecil diajarin mengatakan bagian privatnya dengan kata biologisnya. Mereka nggak pernah bilang penis atau vagina. Bilangnya burung lah, nunu lah, wiwi, nona, atau nana. Dikasih nama gitu kesannya tabu banget. Penting anak-anak tahu nama biologis dari bagian-bagian privat ini.

M: Pendidikan seksual seperti apa yang kamu dapat waktu kecil? 

A: Aku dapat pendidikan seksual waktu kelas VI SD. Sama mama dijelaskan tentang menstruasi. Dia orangnya bersih banget. Waktu mulai punya pacar, mamaku tanya: “Apakah kamu sudah aktif secara seksual?” Kita ke rumah sakit buat pap smear bareng. Mamaku memang terbuka. 

M: Apa yang kamu bagi dengan anak-anak remaja ini? 

A: Bahwa sangat normal untuk mengalami perasaan-perasaan seperti gairah, keinginan untuk melakukan hubungan seks, karena kita sebagai manusia punya hormon untuk itu. Makin dewasa, seks menjadi kebutuhan buat kita juga. Seks adalah pilihan dan keputusan masing-masing. Dan itu normal. Kita tidak bisa menghakimi. Tapi aku juga hati-hati banget pakai kata-katanya. Takut diusir. Hahaha.

Sangat normal untuk mengalami perasaan-perasaan seperti gairah, keinginan untuk melakukan hubungan seks, karena kita sebagai manusia punya hormon untuk itu.

Karena nggak punya pendidikan seks yang sehat, kalau udah keburu hamil, pikirannya: “Ya tinggal nikah aja.” Pikirannya pendek sekali. Aku nggak ngerti bagaimana orang-orang bisa dengan gampangnya menghadirkan seorang anak di bumi ini padahal mereka belum yakin bisa merawat anak ini dengan baik. Karena ketika anak itu lahir harus diurusi terus dan nggak ada berhentinya.

Edukasi seks yang dikasih kebanyakan masih standar dan ujung-ujungnya bukan mengajarkan safe sex (hubungan seksual yang sehat dan aman – red.), tapi lebih mengajarkan don’t do sex (jangan melakukan hubungan seksual – red.). Kalau dilarang, mau sampai kapan nggak bakal mempan. Seks adalah kebutuhan kita sebagai homo sapiens. Seks bagian dari siklus hidup, seperti makan dan minum. Kita bisa melakukan hubungan seks dengan bijak, sebagaimana kita makan dengan bijak. 

M: Seks buat kamu itu apa?

A: It’s a passionate activity that enriches our soul, mind and body (sebuah aktifitas yang penuh gairah yang memperkaya jiwa, pikiran dan tubuh kita – red.). Pada dasarnya aktifitas yang menyenangkan untuk kita menjelajahi tubuh, jiwa kita, dan pasangan kita, terutama ketika kita punya pasangan yang punya ‘api’ yang sama dengan diri kita, pasangan yang menghargai diri kita apa adanya. A flame and another flame become a bigger flame! Hahaha. 

Tidak hanya telanjang di luarnya saja, tetapi juga telanjang dalam jiwa – kita begitu terbuka dengan seorang manusia lain, menjadi diri sendiri, jiwa kita saling terhubung. Nggak semua pasangan kayak gitu. Mereka tidak memperlakukan seks sebagai sesuatu yang dijunjung, suci. Seks adalah pengalaman yang suci. Tantric. Rasanya seperti terbang. Seperti meditasi dengan pasangan. It’s very powerful. Setelahnya kita merasa segar, bahagia karena endorfin naik. It’s like my praying or meditation. Jadi pilih pasangan kita secara bijak.

Seks pada dasarnya adalah aktifitas yang menyenangkan untuk kita menjelajahi tubuh, jiwa kita, dan pasangan kita

M: Ketika kamu mendengar kata perempuan, seksualitas, dan kebebasan. Apa yang terpikir?

A: Biasanya perempuan selalu dikaitkan sebagai mother figure (figur ibu), nggak pernah dikaitkan sebagai sexual being (makhluk seksual). Perempuan kebanyakan dituntut (masyarakat) buat ini-itu tanpa dikasih ruang untuk punya suara. Trus kalau mau jadi makhluk seksual, dihakimi masyarakat sebagai perempuan nakal atau jalang. Padahal apa bedanya sama laki laki? Kan jadinya double standard (standar ganda). Menurutku perempuan yang kehidupan seksualnya bahagia, adalah perempuan yang bahagia. 

Aku merasa di kalangan masyarakat kita, perempuan itu hanya ada dua tipe: jadi seorang ibu atau jadi makhluk seksual.

Perempuan yang kehidupan seksualnya bahagia, adalah perempuan yang bahagia. 

M: Kadang kalau kita menikah, ketika istri menjadi figur ibu jadinya tidak lagi seksi…

A: Trus suaminya cari figur seksual (di luar pernikahan). Aku tahu beberapa kasus di mana suami-suami merasa sangat nggak apa-apa hidup seperti ini. Punya keluarga bagus buat dibawa pas acara keluarga, di luar kelihatannya bahagia, tapi sebetulnya nggak happy secara seksual dan akhirnya cari yang lain.

M: Jadi menurut kamu perempuan itu bisa menjadi nurturing (figur merawat) dan menjadi figur seksual juga? 

A: Monica Belucci bisa. Meskipun akhirnya cerai. Maksudku, aku melihat perceraian adalah bagian dari kehidupan manusia. Mungkin dalam perjalanan hidup kita, kita bisa punya banyak cinta. Tapi ketika cinta kita dengan seseorang berakhir, bukan berarti cinta itu bukan cinta sejati. Cinta itu sejati tapi mungkin jatahnya hanya lima tahun. Tapi kalau kita cukup beruntung, kita bisa menemukan satu orang untuk selamanya. Kita suka melihat perceraian sesuatu yang menakutkan. Menurutku itu hanya bagian dari kehidupan. It’s just life

M: Hubungan yang sehat atau bikin bahagia itu seperti apa dengan pasangan?

A: When you keep up with one another. Ketika kita berkembang bareng-bareng. Di setiap fase hidup, aku menjadi manusia yang berbeda. Aku yang di 2017 dengan sekarang beda banget. Gimana kita sama pasangan, waktu kita berubah, dia juga berubah, kita berevolusi, berubah bareng. Karena kalau yang satu ketinggalan… mungkin rata-rata hubungan harus berakhir ketika seseorang terjebak di periode di mana pasangannya tidak ada di periode itu lagi. Mereka nggak bisa keep up with the relationship. Kayak nyiram air ke tanaman, dua-duanya harus disiram. 

Sama Giancarlo (Giuri), aku menemukan seseorang yang aku bisa ajak ngobrol, komunikasi dan punya hubungan kayak aku sama teman-temanku. Aku aku bisa ngobrol sama dia tentang semuanya: karier, sesuatu yang personal, atau hal-hal kecil. Sama Giancarlo aku merasa dia serius. Meski kita masih sama-sama blur (belum jelas betul) tentang masa depan kita – kita akan suatu hari tinggal di mana, kalau pun salah satu pindah karier bagaimana – to still hang on to the blurriness together is also nice.

Rata-rata hubungan harus berakhir ketika seseorang terjebak di periode di mana pasangannya tidak ada di periode itu lagi. Mereka nggak bisa keep up with the relationship.

M: Berhubung kamu LDR (hubungan jarak jauh) bagaimana kalian membuat hubungan ini terus jalan?

A: Pekerjaan yang bagus. Kita berdua sama-sama punya pekerjaan yang bagus dan sama sama sibuk. Secara profesional, nggak ada yang iri. Aku rasa couples suka iri-irian deh. Misalnya suaminya ngiri istrinya lebih sukses, atau istrinya ngiri suaminya sukses. Dia di rumah doang ngurusin anak, sementara suaminya tur keliling dunia. Menurutku, kita harus punya sesuatu yang bisa memelihara dan memupuk diri kita sendiri, di luar apa yang pasangan kita kasih. A part of ourselves without them (bagian dari diri kita tanpa pasangan – red.). Bagian ini yang aku rasa bikin pasangan kita jatuh cinta dari awal. 

Kita harus punya sesuatu yang bisa memelihara dan memupuk diri kita sendiri, di luar apa yang pasangan kita kasih.

M: Kamu punya sesuatu yang jadi punyamu sendiri.

A: Itu poin utama kenapa mereka jatuh cinta pada kita. Faktor X yang bikin orang jatuh cinta sama kita jangan dilepas.

M: Aku pernah diskusi ini dengan seseorang. Double-income family (keluarga berpenghasilan ganda) ideal. Masing-masing punya pekerjaan. Masing-masing punya kontribusi ke kehidupan rumah tangga sehari hari, sehingga nggak ada ketimpangan power(kekuatan/kekuasaan). Nggak ada: “Gue lebih powerful jadi gue bisa semena-mena sama lo.” 

A: Bentuk keluarga jaman dulu kan kayak gitu. Perempuan di rumah ngurus anak, suami kasih duit. Suaminya capek, akhirnya cari hiburan, apakah itu cari pacar di luar lah, atau mabuk-mabukan sama teman-temannya dan nggak pulang. Istrinya juga udah capek ngurus anak tiga, nggak sempat dandan atau ngerawat badan.

M: Terus apa lagi tips untuk membuat LDR jalan?

A: Selain komunikasi, harus punya anggota keluarga yang bekerja buat perusahaan penerbangan. Itu harus.

M: Hahaha!

A: Kalau nggak aku pasti udah putus sama Giancarlo ha ha ha. Dan juga punya orang yang bisa bantu dengan visa. Visa Schengen-ku dapat lima tahun. Menurutku kalau nggak ada dua ini, lupakan saja LDR. Ya kalau mau having fun aja, bisalah setahun. Yang realistis aja. 

M: Intimacy itu apa buat kamu? 

A: Sesuatu yang kita bagi dengan seseorang. Saat ketika kita mau benar-benar membuka diri kita kepada seseorang sesuatu yang nggak banyak orang tahu.

M: Apa yang bikin kamu mau terbuka sama seseorang?

A: Trust. Kepercayaan. 

M: Bagaimana tahu kamu bisa percaya sama seseorang atau nggak?

A: The frequency, the energy… baby! (frekuensi dan energinya, sayang – red.). Energi tidak pernah bohong. Hahaha. Aku mendengarkan dan percaya pada intuisi.

Related Articles

Card image
Self
Yang Lalu Biarlah Berlalu

Seiring berjalannya waktu sesuatu atau sesorang yang kita kenal dulu mungkin saja sekarang sudah berubah. Apalagi jika hal tersebut memiliki dampak pada masa kini. Semuanya pasti tidak akan sama lagi dan sulit untuk kembali seperti semula.

By Nadin Amizah
15 February 2020
Card image
Self
Seni Memberi Harapan

Butuh perjalanan panjang dan kerja keras untuk akhirnya aku sadar bahwa ada yang salah dengan diriku. Butuh waktu yang panjang juga untuk aku sampai di titik ini. Naik turun kehidupanku terbilang cukup ekstrem. Jika ditanya dari mana sumber gangguan psikisku, rasanya terlalu banyak faktor pendukungnya hingga menjadi-jadi.

By Hana Madness
15 February 2020
Card image
Self
Apalah Arti Sebuah Gol

Siapa bilang jika kita mendapat sesuatu yang kita inginkan itu artinya kita akan fulfilled? Manusia tidak akan pernah puas. Walaupun bagus untuk memiliki semacam gol, menurutku seharusnya kita tidak terlalu terikat padanya.

By Gita Sjahrir
01 February 2020