Self Lifehacks

Bercakap Bersama Aristiwidya Bramantika: Cuti Panjang

Aristiwidya Bramantika. Lama tak jumpa, tetiba dia sudah pindah kerja duduk di posisi berpengaruh, menikah, dan melahirkan anak lelaki bernama Bohdi. Dalam perjalanannya, ia juga melihat orang-orang yang ia kasihi jatuh sakit dan pergi meninggalkan dunia duluan. Semuanya terjadi dalam waktu berdekatan.

Perjalanan hidup memang berliku, namun yang tidak berubah dari Ika adalah energi yang besar, tawanya yang lepas, dan rangkaian ekpresi wajah yang menunjukkan ia tidak pernah berhenti berpikir. Dan saya selalu suka orang-orang yang berpikir. Mungkin karena itu, meski sudah bertahun-tahun tak bersua fisik, temu virtual pun tetap terasa penuh dan menyenangkan.

Kali ini ia bercerita tentang mengambil cuti panjang atau sabbatical sebagai salah satu cara untuk kembali menyukai diri, menyelaraskan apa yang perlu diselaraskan, untuk menemukan versi diri yang paling otentik. 

Marissa Anita (M): Apa yang waktu itu membuat elo memutuskan untuk mengambil cuti panjang?

Aristiwidya Bramantika (I): Ada momen dimana gue duduk di sofa dan nangis. I’m so tired (gue sangat lelah). Kita semua mungkin pernah mengalami momen seperti ini. Ini nggak sehat. Harus ada yang berubah. Pertama gue berpikir untuk berhenti bekerja. Karena tanggung jawab di kantor juga nggak kecil, gue ngerasa nggak adil juga [kalau gue nggak bisa memenuhi tuntutan kerja bersamaan dengan menjalani hal-hal pribadi]. Gue ngobrol dengan bos dan beberapa orang di perusahaan. Mereka bilang, ‘Cuti panjang saja. Ambilah waktu untuk kamu melakukan apa yang perlu kamu lakukan. Ketika kamu kembali bekerja, kita pastikan posisimu di kantor ini masih ada.’ It was very generous (murah hati sekali).

M: Berapa bulan dikasih cuti panjang?

I: Enam bulan. Mulainya pas Covid-19, bulan Maret. Berkah juga waktunya jadi nggak FOMO (perasaan takut ketinggalan).

M: Bagaimana seorang Ika yang dari dulu aktif kayak kutu loncat, selalu ada dimana-mana, tiba-tiba cuti panjang dan nggak FOMO?

I: Aku memutuskan cuti panjang dengan maksud yang kuat. Ketika aku cuti panjang, aku tanya ke diri niatnya untuk apa? Niatnya untuk reground, menyeimbangkan diri, untuk menjadi versi diri yang paling otentik.

M: Seperti apa hari-hari cuti panjangmu?

I: Dua minggu pertama, libur. Gue leyeh-leyeh; nonton dan santai; tidur 14 jam; janjian makan siang sama teman. Setelah dua minggu, waktunya ‘bekerja’.

Gue melakukan sebuah latihan namanya ‘life wheel’ (roda kehidupan). Kita memetakan hidup kita dalam delapan area — di antaranya keluarga dan pertemanan; kehidupan percintaan; karir; keuangan; kesehatan; pengembangan diri dan spiritualitas.

Dari setiap area, gue tanya diri, ‘dari 1 sampai 10, gue ada dimana?’ Ketika gue menjalankan latihan ini dari Desember 2019 hingga Januari 2020, gue galau, karena angkanya nggak berubah. Kesehatan di angka 5. Dan selama enam bulan itu ada di angka 5. Angkanya ngga ada yang naik. Ini nggak bener nih. Hidup itu nggak bisa kayak gini.

Gue juga lama-lama kok menjadi orang yang gue nggak sukai. Gue jadi toxic — gampang kepicu, banyak berpikir negatif tentang orang, gampang menghakimi, energi negatif. Terus gue sadar, ‘Ini bukan gue. Kalau cuma merasa negatif 10-20%, itu bagian dari hidup. Tapi kalau udah 80%, ini nggak benar’. 

Ini berarti gue harus bikin arah baru. Tapi memang setiap empat tahun, gue suka reinvent (menjalani proses menemukan diri) juga.

M: Maksudnya?

I: Selama cuti panjang, salah satu yang gue temukan ketika gue melihat ke dalam diri adalah gue bukan orang yang berani bermimpi besar. Sebelumnya, gue merasa hidup gue sejauh ini sudah sangat memuaskan. I live a very good life, an ‘enough’ life. Kalau orang lain pengen punya perusahaan besar atau menginspirasi jutaan orang, gue nggak merasa perlu untuk menginspirasi jutaan orang. Kalau bisa menginspirasi satu orang aja itu udah cukup. Itu gue dulu. Gue happy dengan versi gue yang dulu.

Tapi sekarang reinventing dan upgrading — apa versi Ika yang gue belum bisa lihat? Gimana kalau gue mengijinkan diri gue untuk mimpi lebih besar? Bermain aja dengan pemikiran ini.

M: Mimpi besarnya apa untuk Ika yang baru?

I: Visi dan mimpi gue sekarang membantu orang Indonesia untuk bisa mendobrak keyakinan yang sebetulnya membatasi mereka. Gue merasa orang Indonesia potensinya gede banget, tapi suka nggak sadar bahwa masa lalu kita dan cara berpikir kita bisa menghambat diri kita sendiri. Satu yang paling mengena: kultur nggak enakan.

Misal bicara boundaries (batasan-batasan). Atasan suka nelfon di atas jam kerja atau pas weekend.

Karyawan 1: ’Gimana cara ngomong ke atasan ya?’

Karyawan 2: ‘Kamu tahu cara bicara ke atasan kan? [Kalau terganggu] kenapa nggak bilang aja?

Karyawan 1: ‘Ya tapi kan nggak enak.’

Kita punya rasa rakut untuk menjadi assertive (percaya diri tanpa menjadi agresif). Kita terjebak di nice bukan kind. Kita pengen jadi orang ‘baik’, disukai, sangat ingin disukai.

Gue merasa orang Indonesia potensinya gede banget, tapi suka nggak sadar bahwa masa lalu kita dan cara berpikir kita bisa menghambat diri kita sendiri. Satu yang paling mengena: kultur nggak enakan.

M: Apa bedanya nice dan kind?

I: Nice itu niatnya untuk disukai. Kind itu niatnya melakukan hal yang benar. Misal elo melakukan suatu kesalahan dan menyakiti orang lain. Kalau gue nice gue akan bilang, ‘Oh nggak apa-apa kok Marissa. It’s okay. Semua orang melakukan kesalahan.’ Sementara menjadi kind adalah ketika gue bisa bilang ke elo, ‘Gue ngerti elo melakukan kesalahan secara tidak sengaja. Tapi gue harap elo juga ngerti dampaknya itu seperti apa.

M: Fungsi ambil cuti panjang itu buat elo apa?

I: To discover my depth of being (untuk menemukan kedalaman dari keberadaan gue). Gue suka punya keseimbangan antara ‘doing’ (melakukan) dan ‘being’ (berada).

Dalam keseharian kerjaan atau apa pun, kita fokus kepada doing, doing, doing (apa yang kita lakukan). Hidup jadi sederet prestasi dan progres. Selama 15 tahun terakhir, gue mencoba untuk menyeimbangkan antara ‘doing’ dan ‘being’. Tapi periode sebelum cuti panjang ini, gue terjebak dalam ‘doing’, dan tidak cukup menjalankan ‘being’.

M: Maksudnya ‘being’ itu apa?

I: Buat gue, sebuah perasaan kegembiraan, kekaguman, dan kedamaian yang terjadi secara bersamaan pada tingkatan yang tinggi. Titik dimana kalau elo berdoa, syukurnya itu kencang banget. Perasaan terkoneksi tingkat tinggi apakah itu dengan Tuhan atau Semesta. Sebuah perasaan keterpusatan yang penuh, menghormati jiwa. Sebuah momen dimana gue lupa gue punya tubuh dan ingat gue adalah jiwa. For me that’s being.

M: Elo meditasi?

I: Ya. Itu salah satu kebiasaan favorit gue. Awal-awal gue nggak ngerti apa itu meditasi, terus gue mencoba belajar paham. Ada yang meditasi mindfulness dimana elo duduk dan menyadari nafas elo. Ada juga jenis meditasi dengan visualisasi dan rasa. Gue suka menjalankan keduanya. Meditasi membantu gue mengatur ulang otak untuk menjadi versi gue yang baru. Meditasi membantu gue mempersiapkan diri menjadi orang yang gue inginkan — versi yang semakin dekat ke diri gue sesungguhnya. Diri gue yang paling otentik.

Kata-kata seperti ‘possibilities’ (kemungkinan) and ‘limitless’ (tanpa batas) sangat beresonansi dengan gue yang sesungguhnya. Sekarang, bagaimana gue mempraktekan values (nilai-nilai) ini dalam kehidupan sehari-hari.

M: Bagaimana caranya?

I: Pertama, Kita harus bisa menterjemahkan values menjadi perilaku. Misal, value-nya = tanpa batas, perilakunya = melakukan hal-hal yang gue belum pernah gue lakukan sebelumnya.

Kedua, tiap kali gue di situasi yang gue ngga tahu mesti ngapain, gue akan cari tahu. Gue punya buku harian dimana gue tulis apa saja yang gue temukan hari ini. Yang tadinya nggak tahu, menjadi tahu.

M: Cuti panjang itu bukan artinya libur ya? Elo cuti panjang tapi kayaknya masih ngerjain proyek macam-macam. . . 

I:  Gue dari awal cuti panjang sudah punya kerangka pengambilan keputusan yang jelas. Gue hanya akan mengatakan ‘iya’ pada suatu proyek yang mendekatkan gue pada visi dan mimpi gue. Kalau nggak mendekatkan gue ke sana, ya nggak gue iya-kan. Sabbatical is my me-time (cuti panjang adalah waktu gue untuk diri gue). Gue hanya akan melakukan hal-hal yang mendekatkan gue ke diri gue yang paling otentik. 

Gue dari awal cuti panjang sudah punya kerangka pengambilan keputusan yang jelas. Gue hanya akan mengatakan ‘iya’ pada suatu proyek yang mendekatkan gue pada visi dan mimpi gue. Kalau nggak mendekatkan gue ke sana, ya nggak gue iya-kan. 

M: Cuti panjang elo masih sangat produktif ya, Ka . . .

I: Sangat produktif. Gue merasa ini yang paling produktif dalam hidup gue karena (1) gue bisa mendefinisikan ulang apa arti produktifitas buat gue (2) produktifitas adalah melakukan hal yang paling penting buat gue.

Semua yang gue lakukan selama cuti panjang ini, 100% hal yang penting buat gue. Untuk pertama kalinya dalam hidup gue, gue hanya melakukan hal yang paling penting buat gue dan itu saja.

M: Apa saja hal-hal itu?

I: (1) Diri gue sendiri (2) keluarga — gue akan tinggalkan semuanya demi keluarga (3) berusaha mewujudkan visi gue. Itu saja.

M: Tunggu. Apa bedanya elo yang dulu dan sekarang? Dulu elo juga kelihatannya menikmati apa yang elo kerjakan . . .

I: Ya memang. Tapi bedanya, dulu gue nggak punya visi dan mimpi seperti sekarang. Dulu gue selalu mengerjakan visi dan mimpi orang lain. Nggak salah, tapi nggak 100% jujur ke diri sendiri. Gue kerja dengan orang lain, gue harus banyak kompromi, terutama ketika kerja dalam organisasi besar. Dalam organisasi, ada keputusan yang gue mungkin nggak setuju, tapi harus gue jalankan. Beberapa keputusan nggak apa-apa, tapi kalau udah secara prinsip gue nggak setuju, itu berat. Itu yang mulai ngikis, ketika gue harus menjalankan sesuatu yang gue nggak percayai.

M: Sebelum memutuskan untuk cuti panjang, ada kekhawatiran nggak?

I: Gue selalu suka menyiapkan diri untuk skenario terburuk. Skenario terburuk dari cuti panjang ini: (1) gue nggak menemukan apa yang gue cari (2) gue menjadi lebih cemas (3) tabungan gue semakin menipis (4) di akhir cuti panjang, gue nggak punya kerjaan. Terus gue tanya ke diri sendiri, ‘Elo nggak apa-apa dengan semua kondisi ini?’ Dan gue jawab, ‘Ya.’

Karena gue mikirnya gini, kalau gue nggak kerja kantoran, gue bisa jual makanan. Meski pendapatan nggak seberapa, tapi gue bisa hidup. Tabungan gue masih bisalah [menopang hidup] sampai berapa lama.

Gue juga percaya gue punya banyak akal sehingga bisa menghasilkan pemasukan yang memang nggak sebanyak waktu gue kerja kantor, tapi bisa menghidupi gue. Selama gue kerjain, hasilnya ada kok.

Fear (rasa takut) selalu ada. Tapi rasa takut itu malah memotivasi gue. Salah satu prinsip hidup gue adalah go into the direction of fear (pergilah ke arah dimana rasa takut itu berada). 

Fear (rasa takut) selalu ada. Tapi rasa takut itu malah memotivasi gue. Salah satu prinsip hidup gue adalah go into the direction of fear (pergilah ke arah dimana rasa takut itu berada). 

M: Kita manusia itu cenderung fight (bertarung) atau flight (lari) kalau sudah menghadapi rasa takut . . .

I: Courage is a muscle (keberanian itu otot). Kalau nggak pernah dipakai, kita nggak akan punya. Dari yang kecil-kecil saja. Misal ngasih webinar, gue selalu gugup, tapi gue tahu gue akan selalu bisa melewatinya.

Gue pernah bikin tantangan ke diri gue sendiri namanya 1000 kegagalan. Dalam setahun, gue catat ketakutan atau kegagalan apa yang gue hadapi setiap hari dan mana yang berhasil gue hadapi — besar atau kecil.

Misal, nolak teman yang ngajak makan malam. Gampang banget kalau gue mau bikin-bikin alasan. Tapi itu omong kosong. Beranikan diri. Gue bilang, ‘Nggak ah, gue lagi malas.’ Gue nggak perlu merasa bersalah dan minta maaf karena keputusan gue ini.

Praktekan keberanian dari hal-hal kecil. Ketika elo pengen bohong tapi elo nggak, itu sebuah momen keberanian.

Courage is a muscle (keberanian itu otot). Kalau nggak pernah dipakai, kita nggak akan punya.

M: Elo cuti panjang nggak ada rasa FOMO (takut ketinggalan)?

I: Mungkin karena gue sudah sejak lama berhenti membandingkan diri gue dengan orang lain. Seseorang merasa takut ketinggalan karena dia melihat orang lain hidupnya seperti apa, kemudian muncul rasa ada yang kurang dalam hidupnya.

Satu hal tentang fulfilment (merasa terpenuhi) adalah perasaan cukup itu. Bahwa gue cukup, yang gue lakukan dan yang gue punya itu sudah cukup. Ketika gue menjalani hidup dengan prinsip ini, gue nggak FOMO.

M: Tunggu. Elo merasa cukup itu cukup. Tapi di saat yang sama, elo masih melihat potensi diri elo yang tanpa batas [seakan Ika yang sekarang belum cukup]?

I: Pada dasarnya, lagi-lagi keseimbangan antara ‘being’ dan ‘doing’. Ketika gue tahu gue cukup, bukan berarti gue nggak boleh berjuang untuk tujuan besar di luar sana. Tapi niatnya bukan untuk mencapai rasa terpenuhi itu. Karena gue sudah full (terpenuhi), maka gue mau mencapai sesuatu itu. Bukannya gue mau mencapai sesuatu supaya merasa full.

Ini gue juga konflik karena kalau di Buddhism, hapiness comes from a place with zero desire (kebahagiaan datang ketika kita nol keinginan).

Dulu, gue kalau ditanya, ‘Apa keinginan elo, Ika?’. Gue jawab, ‘Gue merasa udah punya semua yang gue butuhkan. Gue perlu punya keinginan lain kah?

Lama-lama gue menyadari, ‘Tunggu dulu. Keinginan bisa menjadi sesuatu yang baik kalau tidak berdasarkan apa yang ego kita inginkan, tapi apa yang jiwa kita inginkan.’

Dan di sini gue merasa berani bermimpi. Nggak peduli kalau [mimpi] ini berhasil apa nggak. Kalau berhasil puji Tuhan alhamdulilah, kalau nggak berhasil gue tahu gue akan menikmati perjalanannya. Gue lebih menantikan perjalanannya dibandingkan hasilnya.

Hapiness comes from a place with zero desire (kebahagiaan datang ketika kita nol keinginan).

M: Apa yang harus kita pikirkan sebelum memutuskan untuk cuti panjang?

I: Mari kita fokus pada cuti panjang bukan dari kaca mata bentuk tapi dari kaca mata fungsi. Bentuknya = cuti panjang, fungsinya = apa yang mau kita capai dari cuti ini. Fungsinya buat gue supaya gue bisa reground dan recenter diri gue, supaya gue bisa lebih jejeg.

Kalau tiap empat tahun gue ambil cuti panjang juga nggak sustainable (berkelanjutan). Mungkin setiap tiga bulan, gue ambil satu minggu atau tiga hari untuk melakukan latihan-latihan yang gue lakukan saat cuti panjang. Pergi ke suatu tempat, masuk ke dalam diri dan menyelaraskan diri. Atau cari tahu bagaimana gue bisa melakukan latihan ini dalam keseharian gue. Cuti panjang itu membantu gue membangun kebiasaan-kebiasaan baru secara kuat.

M: Ada nggak kerugian dari ambil cuti panjang?

I: Gini, gue privileged.  Belum tentu semua orang bisa ambil cuti panjang. Kalau elo tulang punggung keluarga, elo sendirian punya anak empat, gaji loe pas-pas-an, can you really take a sabbatical? Gue tahu gue privileged.

Gue juga nggak berani bilang ke semua orang, elo harus ambil cuti panjang karena nggak semua orang mampu untuk bisa mengambil cuti panjang. Tapi gue berharap suatu hari perusahaan-perusahaan bisa menciptakan ruang-ruang seperti ini. Cuti dua minggu per tahun, nggak cukup, man.

Perusahaan-perusahaan itu nggak ada yang ngajarin atau mendorong karyawannya untuk berhenti sejenak. Misal, ‘OK guys, setiap tiga minggu kita akan ada tiga hari dimana kita pause (jeda), nggak ada yang boleh kerja. Tiga hari ini adalah waktu yang elo pakai untuk reallign (menyelaraskan diri)’.

Kembali lagi ke bentuk dan fungsi, terlepas dari bentuknya apa, gue berharap semua orang mulai bertanya pada diri sendiri: bagaimana saya menjalankan hidup yang optimal? Siapakah saya pada intinya?

Cuti panjang adalah cara gue mengokohkan diri gue lagi. Tapi mengokohkan diri nggak hanya lewat cuti panjang.

Cuti panjang adalah cara gue mengokohkan diri gue lagi. Tapi mengokohkan diri nggak hanya lewat cuti panjang.

Related Articles

Card image
Self
Terus Berkembang di Masa Menantang

Secara kasat mata, tahun 2020 rasanya seperti “rumah hantu” versi nyata. Hanya saja rumah hantu ini tidak ada jalan keluarnya. Segala hal-hal menakutkan yang tidak pernah kita pikirkan, atau kita hindari untuk pikirkan terjadi di tahun ini.  Tahun 2020 bagi saya seperti terjebak di situasi yang stagnan tanpa tahu kapan akan selesai tapi di satu sisi lain saya merasa inner self saya “bergerak” maju.

By Stephany Josephine
28 November 2020
Card image
Self
Seni Refleksi Diri

Masing-masing orang punya caranya sendiri-sendiri dalam mengatasi benang kusut yang ada di dalam benaknya. Ada orang-orang yang menenangkan pikirannya lewat meditasi atau bahkan lewat memasak. Sementara aku, aku adalah orang yang sulit untuk menumpahkan pikiran atau perasaan dengan kata-kata. Cara yang paling membuatku nyaman adalah melukis. Seperti ketika aku kehilangan Bapak, aku tidak bisa mengutarakan perasaan dengan kata-kata atau dengan cara lainnya.

By Salvita De Corte
28 November 2020
Card image
Self
Belajar Beradaptasi

Dengan banyaknya orang yang selama di rumah saja ikut sejumlah kelas virtual, mendalami hobi baru, hingga mungkin mulai membuat usaha rumahan sendiri, aku sempat merasa diriku rasanya ‘begini-begini saja’ karena tidak melakukan hal yang sama dengan yang lain. Akan tetapi, pelan-pelan aku pun menyadari pengalaman demi pengalaman mengajariku untuk mengenal diriku sendiri – lebih baik dari sebelumnya. Bukankah ini juga berarti aku telah belajar suatu hal baru?

By Diyah Deviyanti
21 November 2020