Self Work & Money

Yang Baru Belum Tentu Spesial

Rene Suhardono

@renecc

Penulis & Penggiat Pendidikan

Yang baru itu belum tentu spesial? Mungkin Anda akan mengernyitkan dahi saat membacanya, heran dengan lontaran kalimat bernada sarkastik di atas. Bagaimana mungkin sesuatu yang selama ini mewakili hal-hal yang terkesan menyenangkan, menandai lompatan baru dalam hidup, atau sejenisnya, menjadi sesuatu yang banal? Sebelum ada mengatakan saya nyinyir, mari kita coba selami bersama sisi lain dari kebaruan yang ‘biasa saja’ tersebut.

Baru – atau lebih tepatnya kebaruan (baca: newness), memang memunculkan greget tersendiri baik bagi si pelaku atau penonton. Mulai dari pekerjaan baru, benda kecil seperti tiket pemutaran perdana sebuah film, hingga yang berharga miliaran seperti rumah, sudah pasti akan menimbulkan sensasi sendiri saat memperolehnya. Berapa banyak ditemukan pada linimasa media sosial kita unggahan yang mengusung perayaan suatu kebaruan? Unggahan unjuk cinta kasih pada pasangan dengan pose kreatif di tempat-tempat paling epik! Apakah kualitas hubungan percintaan berbanding lurus dengan jumlah unggahan, banyaknya likes, thumbs up, dan komentar? Dokumentasi anak yang baru dilahirkan, baru bisa merangkak, berjalan, memulai sekolah, kemudian lulus, dan seterusnya. Apakah setiap unggahan tersebut mengindikasikan kebahagiaan si anak atau orangtuanya?

Sesuatu hal yang baru bagi kita, sebenarnya adalah suatu hal yang biasa untuk yang lain. Sepatu yang baru saja yang anda dapatkan semenit lalu di toko, mungkin sudah diperoleh sekian lama oleh orang lain. Sepatu baru itu sendiri tidak lain hanyalah potongan dari kain, sol, kulit, dan tali temali yang menumpuk di gudang pabrik sebelum para pengrajin merangkainya menjadi satu. Bahkan ada kemungkinan juga jika sepatu baru anda itu, yang bisa jadi diperoleh dari hasil lama menabung, adalah benda yang biasa saja untuk para pengrajinnya. Bagaimana tidak, dalam kesehariannya mereka selalu melihat sepatu tersebut di ruang kerja mereka.

Seiring dengan berkembangnya era sosial media seperti sekarang ini, jebakan prestise diri yang terbungkus unggahan bertema kebaruan, seringkali membuat kita terlanjur terlampau asik merayakan apapun yang baru sebelum benar-benar menyadari, mendalami, dan memaknai kebaruan tersebut bagi proses tumbuh kembang diri. Sebagai suatu keniscayaan dalam hidup, merayakan kebaruan itu wajar. Saya pun tidak berbeda dengan anda yang turut merayakan suatu hal yang baru. Namun, lebih dari senda gurau yang dikesankan, kebaruan seharusnya merupakan gerbang ke suatu arah yang progresif. Ada makna lebih dalam dari segala selebrasi yang memercikan rasa suka cita tersendiri. Hidup memang hambar tanpa adanya perayaan, tapi akan jauh lebih hambar lagi bila esensi yang melekat dari perayaan tersebut tidak kita taburkan dalam keseharian. Layaknya masakan tanpa bumbu penyedap; mengenyangkan namun tidak menggugah selera.

Karena kebaruan tidak sama dengan kemajuan, bagaimana seseorang melakukan shifting progresif saat kebaruan itu datang, itulah yang menjadikan hidup dan kebaruan itu sendiri bermakna. Syukuri dan rayakan anugerah kebaruan yang kita miliki sekarang sewajarnya, serta kembangkan sayap esensi yang terselip di dalamnya untuk membuka pintu-pintu kebaikan dan kemajuan dalam senyap. Kemeja baru anda yang merupakan bagian kecil dari kain gelondongan biasa akan menjadi istimewa saat dikenakan dengan kerendahan hati di hadapan orang lain. Lebih istimewa lagi bila bisa menjadi selimut anak anda yang kedinginan, atau saat diterima dalam kondisi baik oleh orang yang tidak pernah memiliki kemeja. Kebaruan kemeja ini bisa digantikan dengan benda atau apapun yang lain – pekerjaan, jabatan, peran, dan sebagainya.

Terima saja setiap kebaruan dengan wajar tanpa harus berlebihan dalam menyikapinya. Jadikan kebaruan tersebut sebagai pengingat bagi anda untuk tidak lupa bergiat. Sambut pagi yang datang untuk mengingatkan anda akan semakin dekatnya jarak saat ini dengan tarikan nafas terakhir. Atau betapa di baik setiap nyala lilin kecil di atas kue yang tehembus mati oleh anak anda, terdapat tanggung jawab yang semakin menantang bagi anda untuk mempersiapkan masa depannya.

Tulisan ini adalah upaya refleksi diri yang ditujukan sebagai dialektika, untuk anda kritis memberi sikap akan kebaruan yang hadir setiap harinya. Sebab pada akhirnya, kehidupan di dunia ini tidak lain hanyalah ladang bergiat untuk kehidupan sejati kita nantinya.

Related Articles

Card image
Self
Belajar Menanti Cinta dan Keberkahan Hidup

Aku adalah salah satu orang yang dulu memiliki impian untuk menikah muda, tanpa alasan jelas sebetulnya. Pokoknya tujuannya menikah, namun ternyata aku perlu melalui momen penantian terlebih dahulu. Cinta biasanya dikaitkan dengan hal-hal indah, sedangkan momen menanti identik dengan hal-hal yang membosankan, bahkan menguji kesabaran.

By Siti Makkiah
06 April 2024
Card image
Self
Pendewasaan dalam Hubungan

Pendewasaan diri tidak hadir begitu saja seiring usia, melainkan hasil dari pengalaman dan kesediaan untuk belajar menjadi lebih baik. Hal yang sama juga berlaku saat membangun hubungan bersama pasangan.

By Melisa Putri
06 April 2024
Card image
Self
Berproses Menjadi Dewasa

Ada yang mengatakan usia hanyalah angka. Sebagian memahami hal ini dengan semangat untuk tetap muda, menjaga api dalam diri untuk terus menjalani hari dengan penuh harapan

By Greatmind
31 March 2024