Self Art & Culture

Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Bulan Sekalipun

A. Fuadi

@afuadi

Penulis

Ilustrasi Oleh: Robby Garsia (Atreyu Moniaga Project)

Anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada kita sebagai manusia adalah kemampuan untuk belajar. Ini adalah kekuatan super yang harus kita manfaatkan. Belajar yang perlu kita yakini adalah bahwa belajar itu tidak ada batasnya. Waktu belajar kita adalah dari saat dilahirkan hingga wafat. Tidak ada batas waktu maupun tempat. Belajar bisa melintas batas, bangsa, budaya, geografi, kita berhak belajar di mana saja. Kalau di bulan ada sekolah, kita boleh belajar sampai sana. Kita berhak dan bisa kalau mau. Utamanya adalah kita berkehendak membebaskan diri untuk bermimpi yang tinggi karena mimpi memang harus tinggi, kan?

Anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada kita sebagai manusia adalah kemampuan untuk belajar.

Belajar juga bukan terbatas sekolah. Malah harusnya jangan pernah terjebak dengan prestasi atau fasilitas sebuah sekolah. Jauh lebih penting adanya haus akan ilmu dan keinginan belajar. Jangan menjadikan sekolah alasan untuk tidak ingin belajar seperti sekolahnya kecil berada di kampung dan sebagainya. Ini bukan alasan untuk tidak mendapatkan ilmu tinggi karena pintu untuk mendapatkan ilmu adalah keinginan belajar. Memang, kita kadang termotivasi dengan sekolahnya. Sekolah yang bergengsi membuat kita ingin mengejar formalitas sekolahnya atau ijazahnya. Padahal esensi belajar adalah memenuhi hati dan kepala kita dengan ilmu baru dan kebijakan baru. Cuma memang selama ini pengalaman saya yang paling tersistematisasi untuk belajar adalah sekolah. Walaupun sekolah bisa dilakukan di mana saja. Seperti pepatah orang Minang: “Alam terkembang jadi guru.” Alam ini adalah tempat kita belajar. Banyak orang sukses yang sekolah formalnya tidak tuntas. Mereka memaksimalkan belajarnya di luar sekolah. Ilmunya berasal dari luar sekolah. Ada juga orang sukses yang sekolah tuntas. Kuncinya sebenarnya terletak pada keinginan pribadi setiap orang untuk menambah ilmu dan kemampuan melalui proses atau jalur apapun.

Esensi belajar adalah memenuhi hati dan kepala kita dengan ilmu baru dan kebijakan baru.

Baik sekolah formal dan non-formal sebenarnya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pada sekolah formal terdapat sistem yang teratur dan kedisiplinan. Kita harus datang dari jam tertentu hingga jam tertentu sehingga kita bisa belajar teratur. Sedangkan sekolah non-formal tidak memiliki sistem tersebut sehingga seseorang harus punya motivasi tinggi untuk belajar. Juga terdapat silabus yang sudah disusun berjenjang di sekolah formal. Kelemahannya adalah kalau ada murid yang belajar lebih cepat dia bisa bosan dengan silabus tersebut. Inilah keuntungan dari sekolah non-formal sehingga dia bisa belajar lebih cepat. Kelebihan lainnya adalah sekolah formal juga menyediakan lingkungan, teman-teman, guru, kegiatan bersama. Kelengkapan itu tentu saja menyempurnakan proses belajar. Sekolah non-formal memang tidak selengkap itu tapi bisa membebaskan seseorang untuk belajar di berbagai tempat di luar ruang kelas. Contohnya meski tidak punya perpustakaan sendiri murid sekolah non-formal bisa pergi ke perpustakaan nasional dengan koleksi buku yang beraneka-ragam kapan saja dia mau. Fleksibilitas inilah yang menjadi kelebihan tersendiri sekolah non-formal.

Sejauh ini saya sudah kurang lebih pindah ke 10 sekolah. Termasuk sekolah-sekolah di mana saya mendapatkan berbagai beasiswa yang berbeda. Semua pengalaman tersebut memperkaya saya dalam memahami tentang belajar dan sekolah baik formal dan non-formal.

Terutama ketika saya menjalani proses pencarian beasiswa. Banyak orang berpikir saat pencarian beasiswa mereka tidak percaya diri karena merasa beasiswa hanya untuk orang terpilih. Yang ingin beasiswa banyak tapi banyak yang hanya sekadar ingin saja. Kalau bisa dianalogikan keinginan mendapat beasiswa itu seperti musim buah mangga. Saat sedang musim banyak sekali pohon mangga yang berbuah, sampai ada yang jatuh. Ada orang yang ingin manga tapi hanya ingin saja sehingga mereka membiarkan saja buah mangga bergelantungan di pohon. Namun ada orang yang ingin buah mangga hingga memanjat untuk mendapatkannya. Jadi beasiswa banyak yang mau dapat tapi tidak melakukan aksi lebih. Modal utama mendapatkan beasiswa adalah untuk meyakini diri sendiri bahwa beasiswa banyak tersedia dengan informasi yang bisa didapatkan di mana saja. Sayangnya memang tidak ada satu situs lengkap yang menawarkan informasi beasiswa di seluruh dunia. Sehingga proses pencarian beasiswa yang tepat untuk kita tidak bisa sebentar. Untuk mendapat beasiswa persiapannya butuh waktu yang panjang. Melalui proses riset yang panjang minimal satu tahun untuk benar-benar tahu semua kelengkapan dan persyaratannya. Tidak bisa sekadarnya.

Pada dasarnya beasiswa itu tidak dibuat untuk orang yang pintar saja. Bukan hanya untuk orang yang pintar akademik. Banyak teman saya yang tergolong biasa-biasa saja akademiknya namun malah dapat beasiswa. Ada yang pintar sekali tapi tidak mendapat beasiswa. Karena bisa saja yang biasa-biasa itu, dia punya motivasi kuat, belajar terus, tidak dapat beasiswa lalu ikut lagi beasiswa yang lain. Coba lagi tahun depan, lama-lama dia bisa dapat juga karena perjuangannya kuat. Saat keinginan belajar sangat besar pasti ada jalan. Meski jalannya harus dengan usaha keras. Maka dari itu beasiswa kembali pada niat. Kalau ada seseorang yang ingin mendapatkan beasiswa pertanyaan pertama pada dirinya adalah mengapa. Mengapa dia ingin belajar, mengapa ilmu tersebut yang dipilih Memang harus menggali ke dalam diri sendiri. Niatnya apa? Karena niatnya itu akan digali oleh para pemberi beasiswa. Kalau niatnya kurang kuat, dalam proses aplikasi beasiswa niat tersebut akan ditemukan.

Saat keinginan belajar sangat besar pasti ada jalan.

Saya pernah berada di posisi keduanya di mana saya pernah menjadi pencari beasiswa dan pewawancara untuk menguji para pencari beasiswa. Saya menemukan bahwa yang dicari sebagai pewawancara adalah motivasi dasar pendaftar apa. Makin jelas motivasinya, semakin kuat keinginan untuk belajar semakin mudah prosesnya. Termasuk juga memperjelas mau belajar apa, kira-kira ilmu itu akan digunakan untuk apa. Logikanya adalah para pemberi beasiswa menginvestasikan sekian ratus juta bahkan hingga milyaran untuk satu orang selama 1-2 tahun. Artinya dia akan berinvestasi banyak pada orang yang tidak dikenal. Dari proses yang ketat itulah akan dicari mana yang paling tepat agar tidak merugikan investasi. Sehingga para pelamar harus memberikan jawaban yang meyakinkan di mana harus memberikan jawaban dari dalam hati. 

Penting juga dari niat dan motivasi tersebut untuk disalurkan pada negara nantinya. Sehingga ilmu yang kita pelajari nanti bukan hanya untuk kepentingan individu saja tapi kepentingan yang lebih luas lagi, untuk lingkungan bernegara misalnya. Sejatinya, setiap ilmu yang kita miliki bisa diperluas dampaknya. Tinggal kita mau berpikir dari ilmu ini akan memberikan dampak positif apa bagi orang lain. Seperti dulu saat saya mencari beasiswa ke Amerika untuk mengambil jurusan media. Saya meyakinkan dengan mengutarakan bahwa selain saya ingin mengembangkan diri menjadi jurnalis yang lebih baik saya juga meyakini ilmu jurnalisme yang saya dapat akan dibawa untuk memperkuat institusi media di Indonesia, membuat lingkungan media lebih baik, memberikan kesadaran pada wartawan sehubungannya dengan sila ke empat demokrasi dan pekerjaannya di bidang jurnalisme. Sehingga terlihat ada efek yang lebih luas. Itulah mengapa kita harus berpikir mendalam apa yang kita bisa berikan untuk melintasi batas pribadi sendiri. 

Related Articles

Card image
Self
Terus Berkembang di Masa Menantang

Secara kasat mata, tahun 2020 rasanya seperti “rumah hantu” versi nyata. Hanya saja rumah hantu ini tidak ada jalan keluarnya. Segala hal-hal menakutkan yang tidak pernah kita pikirkan, atau kita hindari untuk pikirkan terjadi di tahun ini.  Tahun 2020 bagi saya seperti terjebak di situasi yang stagnan tanpa tahu kapan akan selesai tapi di satu sisi lain saya merasa inner self saya “bergerak” maju.

By Stephany Josephine
28 November 2020
Card image
Self
Seni Refleksi Diri

Masing-masing orang punya caranya sendiri-sendiri dalam mengatasi benang kusut yang ada di dalam benaknya. Ada orang-orang yang menenangkan pikirannya lewat meditasi atau bahkan lewat memasak. Sementara aku, aku adalah orang yang sulit untuk menumpahkan pikiran atau perasaan dengan kata-kata. Cara yang paling membuatku nyaman adalah melukis. Seperti ketika aku kehilangan Bapak, aku tidak bisa mengutarakan perasaan dengan kata-kata atau dengan cara lainnya.

By Salvita De Corte
28 November 2020
Card image
Self
Belajar Beradaptasi

Dengan banyaknya orang yang selama di rumah saja ikut sejumlah kelas virtual, mendalami hobi baru, hingga mungkin mulai membuat usaha rumahan sendiri, aku sempat merasa diriku rasanya ‘begini-begini saja’ karena tidak melakukan hal yang sama dengan yang lain. Akan tetapi, pelan-pelan aku pun menyadari pengalaman demi pengalaman mengajariku untuk mengenal diriku sendiri – lebih baik dari sebelumnya. Bukankah ini juga berarti aku telah belajar suatu hal baru?

By Diyah Deviyanti
21 November 2020