Self Lifehacks

The Pursuit Of A Meaningful Life

Andy F. Noya

@kickandyshow

Jurnalis

Ilustrasi Oleh: Mutualist Creative

Masih ingat cerita tentang Bill Gates yang berjudul “Who is Richer than Bill Gates?” Cerita yang entah benar ditulis oleh Bill Gates atau sekadar ilustrasi,  ini beredar dari grup WhatsApp satu ke grup WhatsApp yang lain. Hampir setahun sejak pertama kali saya menerima kiriman tulisan ini, minggu lalu ada teman yang mengirimkannya ke saya. Rupanya cerita ini masih beredar di media sosial.

Selang beberapa hari setelah membaca kembali cerita tentang Bill Gates itu, di YouTube secara tidak sengaja saya menemukan sebuah video kisah seorang anak muda asal Hongkong yang sejak usia empat tahun dibawa orangtuanya merantau ke Kanada. Setelah dewasa pemuda ini menggapai sukses dalam bisnisnya, bahkan dalam usia yang relatif masih sangat muda. Melalui channel YouTube-nya, pemuda bernama Dan Lok ini kemudian berbagi cerita perjalanan hidup dan kisah suksesnya.

Entah mengapa hari itu keinginan tahu saya luar biasa besar sehingga saya terus mengikuti kisah hidup Dan Lok ini. Boleh jadi karena di awal dia menceritakan perceraian orangtuanya – yang mirip dengan kisah hidup saya.

Titik awal perjuangan Dan Lok mengejar sukses terjadi ketika bisnis ayahnya --  yang setelah berpisah dari ibunya memutuskan kembali ke Hongkong – mengalami kebangkrutan. Adegan yang diceritakan Dan Lok dalam videonya, ketika ibunya menyampaikan kabar buruk tentang kebangkrutan ayahnya, membuat mata saya berkaca-kaca. Sebab kabar itu disampaikan sang ibu kepada Dan Lok dengan wajah yang oleh Dan Lok dideskripsikan sebagai, “Aku bersumpah tidak ingin melihat wajah ibu seperti itu lagi.”

Sejak saat itu, sang ibu – perempuan lugu yang tidak bisa berbahasa Inggris, harus berjuang untuk bertahan hidup bersama anaknya di negeri yang masih sangat asing baginya. Sekali lagi, cerita ini mirip dengan apa yang terjadi dalam hidup saya, bagaimana seorang ibu harus berjuang sendirian demi anak-anaknya.

Cerita Dan Lok dalam serial videonya yang lain, tentang bagaimana dia menggapai sukses, sudah tidak menarik lagi bagi saya. Apalagi dia lebih sering menunjukkan  keberhasilannya dengan pamer kekayaan materi. Tetapi dalam video pertama yang saya tonton itu, ada tahapan hidup Dan Lok yang sangat berkesan karena (lagi-lagi)  hampir sama dengan tahapan perjalanan hidup saya. Bedanya, selama ini saya hanya menjalani kehidupan seperti air yang mengalir, tanpa mampu menyimpulkannya, sementara Dan Lok mampu merumuskan perjalanan hidupnya dengan baik dalam “empat tahapan kehidupan”.  

Sejak kematian ayahnya, dan penyesalannya yang sangat dalam karena tidak sempat mengantarkan sang ayah dalam proses 'kepergian selama-lamanya', Dan Lok baru menyadari bahwa pencapaian 'sukses duniawi' yang selama ini dia peroleh, tidak memberikan makna dalam hidupnya. Ketenaran, uang, kekayaan, semuanya ternyata tidak mampu menggantikan perasaan kehilangan seorang ayah.

Sejak itu dia baru menyadari dalam kehidupan ini ada empat  tahapan yang  dia dilalui. Tahap pertama, oleh Dan Lok disebut "Survival'. Hal itu terjadi pada saat dia masih sangat muda. Masa di mana dia harus berjuang untuk dapat bertahan hidup. Bagaimana dia harus berjuang membantu sang ibu dengan segala cara. Termasuk jadi tukang potong rumput di rumah tetangga.

Tahap Kedua dalam kehidupan, oleh Dan Lok disebut tahap "Security". Ini merupakan tahapan ketika dia sudah mempunyai penghasilan yang layak, sudah bisa membayar semua tagihan, menghidupi keluarga, dan mampu membeli mobil. Pada tahapan ini Dan Lok menjalani kehidupan tanpa perasaan takut.

Tahap ketiga, disebut tahap “Success”. Hanya sebagian orang yang mampu melalui tahapan ini. Pada tahap ini seseorang mampu memiliki semua yang dia butuhkan dan inginkan. Dan Lok menceritakan betapa dia mampu mencapai tahapan ketiga ini hanya dalam waktu sepuluh tahun dalam karir usahanya. Waktu yang tergolong super cepat. Itu sebabnya dia menjadi salah satu pemuda yang tercatat sebagai orang terkaya dan paling sukses di Hong Kong dalam usia muda.

Bagi sebagian orang, sukses merupakan puncak pencapaian tertinggi. Pada tahap kehidupan ini, seseorang pada posisi memiliki semua yang dia butuhkan dan inginkan, terkenal, dipuja, diberitakan di berbagai media, dan pendapat dan pandangannya didengarkan serta memberi pengaruh bagi banyak orang. Kalau sudah sampai pada tahapan kehidupan seperti ini, lalu apa lagi yang harus dikejar?

Ternyata, setelah melalui tahapan itu semua, Dan Lok mengaku semua itu tidak lagi 'tentang aku'. Tidak lagi soal apa yang diinginkan. Tetapi sebagai anak imigran miskin dari Hong Kong  yang tidak fasih berbahasa Inggris, menurut Dan Lok ada yang lebih bermakna dari semua itu yakni, “apa legacy yang kamu wariskan. Apa dampak yang kamu berikan pada orang lain sebelum kamu meninggal.”

Dalam videonya Dan Lok mengajak kita 'slow down a bit', untuk bersyukur atas perjalanan hidup kita, mulai dari hal-hal yang sepertinya kecil, tentang keluarga, anak-anak, teman-teman, juga tentang kesalahan yang pernah kita buat, kepahitan hidup, termasuk tentang penderitaan yang mungkin kita sesali dalam hidup kita. “Sebab mungkin semua itu merupakan hal terbaik yang pernah terjadi dalam perjalanan hidup kita yang patut disyukuri,” kata Dan Lok.

Semua tahapan perjalanan kehidupan itu akhirnya tergantung pada bagaimana kita memaknainya. Itu sebabnya mengapa banyak orang yang selama ini terus-menerus  mengejar sesuatu dalam kehidupan mereka tetapi mereka tidak mendapatkannya. Mereka tidak bahagia.

Video berdurasi sekitar delapan menit  itu seakan membawa saya pada perjalanan hidup saya sendiri. Ketika lahir sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, kondisi ekonomi orangtua saya pada titik terendah. Begitu juga kondisi rumah tangga. Pada saat usia saya enam tahun, orangtua berpisah. Saya dan dua kakak perempuan ikut ibu, dua kakak lelaki ikut ayah. Sejak di bangku Sekolah Dasar saya kehilangan kasih sayang dan figur seorang ayah. Saya tumbuh dan besar dalam asuhan ibu yang berjuang untuk mempertahankan hidup dengan menjadi kasir di restoran, bekerja di toko aki mobil, hingga menerima jahitan baju di rumah. Kami juga pernah tinggal di garasi mobil orang.

Kisah hidup Dan Lok banyak kemiripan dengan perjalanan hidup saya. Walau saya mungkin lebih beruntung ketimbang dia. Jika saat kematian ayahnya Dan Lok tidak sempat melihat hembusan nafas terakhir sang ayah, ayah saya justru meninggal di pangkuan saya. Dalam usianya yang sudah tua dan sakit-sakitan, Tuhan mempertemukan kembali saya dengan ayah. Ketika itu saya baru tamat SD dan diminta oleh ayah untuk menyusul dia ke Jayapura, Papua. Tuhan seakan ingin memberi saya waktu untuk mengenal ayah lebih dekat sebelum empat  tahun kemudian ajal menjemputnya.

Tiga tahapan dalam kehidupan yang diceritakan Dan Lok dalam videonya sudah saya lalui. Mulai dari tahapan “Survival” sampai “Success”. Walau ukuran sukses di sini tentu relatif. Saya tidak hendak mengukurnya dari ukuran materi. Setidaknya, setelah drop out dari kampus pada tahun ketiga, saya tetap bisa mencapai puncak karir dalam profesi saya. Begitu pula secara materi saya tidak kekurangan.

Karena itu saya bisa merasakan apa yang dirasakan Dan Lok. Sesudah mencapai puncak karir, what's next? Apa yang membuat hidup kita lebih bermakna setelah mencapai  tahapan “sukses” dalam perjalanan karir kita? Saya pribadi mencintai profesi saya sebagai jurnalis. Selama ini saya meyakini profesi sebagai jurnalis dapat memberikan dampak dan manfaat  bagi banyak orang.

Saya sudah mampu melewati tahap “Survival” lalau berlanjut ke tahapan “Security” dan kemudian sampai pada tahapan “Success”. Pada tahapan ini setidaknya saya sudah mampu menghidupi keluarga. Mampu memenuhi kebutuhan hidup saya, istri, anak-anak dan keluarga. Juga sesekali memenuhi keinginan untuk menikmati hidup.

Sampai kemudian saya menemukan tahapan berikut dalam hidup saya, di atas ukuran sukses materi dan jabatan. Pada tahapan ini saya mulai mempertanyakan tujuan hidup saya setelah semua yang sudah saya capai selama ini. Dari pemuda luluan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jurusan mesin produksi, mencoba mengejar ilmu di perguruan tinggi namun kandas di tingkat tiga, maka pencapaian saya saat ini sudah lebih dari apa yang saya bayangkan. Baik jabatan, materi, maupun kebahagiaan. Lalu what's next?

Titik awal kesadaran akan makna hidup terjadi pada saat saya mengundurkan diri di puncak karir sebagai Pemimpin Redaksi Metro TV. Saat itu saya juga baru saja mengawali program Kick Andy. Dalam proses pengunduran diri tersebut saya seakan tersadar betapa aktivitas yang kami lakukan di belakang layar Kick Andy  melalui Kick Andy Foundation memiliki makna yang sangat besar dalam perjalanan hidup saya.

Bertemu dengan orang-orang yang membutuhkan kaki palsu namun tak mampu membeli, juga anak-anak sekolah di desa-desa terpencil yang tidak mampu membeli sepatu, begitu pula dengan penyandang disabilitas dari keluarga tidak mampu, membuat saya semakin mengerti makna hidup yang sebenarnya. Kebahagiaan melihat wajah-wajah yang tampak berbahagia ketika mendapatkan kaki palsu, sepatu, buku-buku, bola, dan juga saat plester mata dibuka setelah operasi katarak atau bibir sumbing, sungguh sulit untuk dilukiskan. Apalagi saya juga pernah merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang atau anak-anak yang kami bantu melalui Kick Andy Foundation.

Pencarian akan makna hidup semakin menemukan bentuknya ketika saya bertemu para narasumber yang pernah berbagi cerita di Kick Andy. Terutama mereka yang dalam keterbatasannya sudah berbagi untuk orang lain. Karena mereka sudah lebih dulu menemukan makna hidup yang sebenarnya.  

Berapa banyak orang yang sampai hari ini tidak merasa perlu mencari makna kehidupan? Berapa banyak yang sudah berusaha tetapi  belum juga menemukannya? Berapa banyak orang yang masih dalam proses pencarian? Berapa banyak orang yang sampai ajal menjemput belum juga menemukan arti hidup? Apakah Anda termasuk salah satu di antara mereka atau Anda sudah menemukan makna hidup Anda?

Lalu apa hubungannya semua cerita di atas dengan kisah Bill Gates yang saya sampaikan di awal tulisan ini? Bagi Anda yang belum membacanya, saya lampirkan kisah tersebut di bawah ini:

Who is Richer than Bill Gates?

Someone asked Bill Gates, is there any person richer than you?

He said, yes, only one.

Many years ago, I had been dismissed and I had gone to New York Airport. I read titles of newspaper there. I liked one of them and i want to buy it. But i dint’t have change (coin). So I abandoned the idea, but suddenly a black boy called me and told me, “This newspaper for you”.  I said, “But i don’t  have change”.  He said, ”No problem, Sir. I give you free”.

After three months, I went  there. Coincidentally, that story happened again and that same boy gave another free newspaper again. I said, “i can’t  accept it”.  But he said, “I give you from my profit.”

After 19 years, I had been rich and I decided to find that boy. I found him after one and half month’s searching. I asked him, “Do you know me?”. He said, “Yes, you are the famous Bill Gates.”

I said, “You gave me newspaper two times many years ago. Now I want to compensate it. I am going to give you everything that you want”. Black young man replied, “Sorry Sir, you can’t  compensate it.”

I said, “Why”. He said, “Because I gave you when I was poor. You want to give me when you are rich. So, how do you compensate?”

Bill Gates said to himself  ”I think that black young man is richer than me.”

So, the moral of this story “you don’t have to be rich or wait to be rich to give

Setelah membaca cerita di atas, mungkin Anda sepakat dengan saya, bahwa kisah di atas – sekali lagi entah benar ditulis oleh Bill Gates atau itu hanya karangan, akan membangkitkan kesadaran kita bahwa berbagi tidak harus menunggu kita sampai pada tahapan “Success” menurut ukuran Dan Lok.

Berbagi tidak harus menunggu Anda kaya. Berbagi juga tidak harus menunggu usia kita memasuki masa pensiun. Berbagilah sekarang juga. Buatlah hidup Anda bermakna dengan berbagi. Berbagi  juga menimbulkan rasa bahagia yang sulit dilukiskan selain kita harus merasakannya sendiri.  Bukankah tujuan hidup setiap manusia adalah mencari kebahagiaan?

 

Related Articles

Card image
Self
Perubahan Berasal dari Dalam

Jika diminta untuk mendefinisikan gaya hidup mindful, saya tidak bisa mengungkapkan secara singkat. Nyatanya, gaya hidup mindful tidak hanya berarti kita harus mengikuti arus – hidup di masa kini. Tidak hanya melakukan apa yang kita percaya karena orang lain berkata demikian.

By Ivana Atmojo
24 August 2019
Card image
Self
Menata Hidup Dari Rumah

Menurut sebagian orang, menata rumah bukanlah hal yang menyenangkan. Mungkin iya, ada benarnya. Menata rumah memang kadang terasa melelahkan dan memakan waktu. Tapi, justru dari kegiatan menata rumahlah saya mendapat ketenangan dan mindfulness meski tinggal di tengah hiruk pikuk kota Jakarta.

By Astri Puji Lestari
24 August 2019
Card image
Self
Menelisik Benak (Mantan) Teroris

Tidak ada seorang pun di dunia ini yang diciptakan untuk menjadi orang jahat. Pun seorang teroris. Tidak ada yang terlahir dibalut dengan bendera ISIS. Namun berkembangnya manusia identitas kita bisa berlipat ganda. Layaknya perubahan wujud zat air, manusia bisa berubah karena lingkungan, situasi atau kondisi tertentu. 

By Noor Huda Ismail
17 August 2019